[Oneshoot] All Over

ALL-OVER.jpg

Author

harimingyu

Cast

Jeonghan | Seungcheol | Jisoo | Baekho | and others

Genre

Romance | Hurt | Action

Rating

PG-17

Note: Jeonghan, Minki, Doyoon di fanfiction ini adalah seorang perempuan.

“IT’S ALL OVER”

 “Kau bukan orang yang lemah Jeonghan-ah. Kau adalah hadiah terindah untuk keluarga kami” ucapan ibunya terus berputar dikepalanya. Jeonghan kini menatap dirinya didepan kaca. Kemudian menyibakkan beberapa helai rambutnya yang menutupi wajahnya. Ia menyentuh pipinya yang terlihat membiru karena sebuah pukulan melayang ke pipinya semalam.

“Akh!” erang Jeonghan. Tangannya meraih salep yang ia letakkan sembarangan di mejanya kemudian mengoleskan salep itu pada wajahnya. Jeonghan kembali menatap dirinya dikaca. Pandangannya terhenti pada gelang tali yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya.

“Ini untukmu. Jangan lepas gelang ini. Karena ini gelang couple kita hehe” kalimat itu terngiang dikepalanya. Ia tersenyum sekilas mengingat kenangannya tentang gelang itu.

“Apa kabar kau si bodoh” gumam Jeonghan.

Drrrrt drrtt. Ponselnya bergetar. Segera ia merogoh kantongnya dan meletakkan ponsel di telinganya.

“Ya, aku mengerti” ujar Jeoghan kemudian menarik jaket kulitnya dan memasang masker berikut topinya. Ia berjalan keluar dari apartemennya menuju sebuah bangunan tua yang jaraknya tak terlalu jauh.

“Jeonghan-ah, akhirnya kau datang juga” ujar seorang laki-laki dengan sebuah bekas luka memanjang di pipi kirinya yang kini duduk disebuah kursi besar dikelilingi anak buahnya dan seseorang yang tampak tak berdaya dengan banyak luka pukul diwajahnya.

“Ada apa Baekho hyung-nim” tanya Jeonghan sambil menurunkan masker ke dagunya.

“Kenapa? Memangnya saat aku memanggilmu aku pasti akan memberikanmu tugas? Hahahaha” jawab Baekho.

“Katakan saja apa yang harus kulakukan?” tanya Jeonghan lagi.

“Hmmm ya ya okey, kau memang pintar Jeonghan-ah. Kau lanjutkanlah tugas si brengsek ini” jawab Baekho sambil menunjuk laki-laki dengan luka pukul diwajahnya tadi itu dengan tongkat yang ia pegang.

“Baiklah, aku mengerti” jawab Jeonghan.

“Bawa si brengsek ini ke ruang bawah tanah” ujar Baekho pada anak buahnya.

“Hyung-nim tidak. Jangan bawa aku kesana hyung-nim kumohon” teriak laki-laki dengan luka pukul itu. Jeonghan hanya melirik sekilas kearah laki-laki itu kemudian berjalan menuju pintu.

“Hyung-nim, tolong. Aku akan lakukan dengan baik. Beri aku kesempatan hyung-nim” suara laki-laki itu masih terdengar di telinga Jeonghan yang kini berjalan semakin menjauhi rumah tua itu. Ia terus berjalan hingga kini ia terhenti didepan sebuah gereja. Sebuah gereja yang begitu banyak menyimpan kenangannya bersama teman-temannya dulu. Ia memandang gereja itu sesaat kemudian kembali berjalan.

“Yoon Jeonghan”, panggil seseorang dari belakang yang membuat Jeonghan menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

“Yoon Jeonghan, benarkan? Ini kau?”, tanya laki-laki dengan tubuh semampai yang mengenakan jas berwarna peach itu.

“Kau…”, ujar Jeonghan pelan.

“Hey ini aku. Hong Jisoo. Jisoo. Kau ingatkan? Kita sering bernyanyi di gereja saat kecil”, jawab laki-laki itu.

“Jisoo?”, gumam Jeonghan.

“Iya ini aku. Kau ingat?”, tanya Jisoo.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya Jeonghan balik sambil mengerutkan dahinya.

“Aku? Tentu saja aku ke gereja. Kau tidak ke gereja eoh? Aku tidak pernah melihatmu di setiap…”

“Aku duluan. Aku ada urusan”, potong Jeonghan pada jawaban yang Jisoo lontarkan.

“Hey, tunggu dulu”, cegah Jisoo sambil menahan tangan Jeonghan.

“Lepaskan tanganku, Jisoo. Aku sudah bilang padamukan kalau aku ada urusan”, bentak Jeonghan sambil menarik tangannya.

“Tidak boleh. Kau. Ikut aku. Sekarang. Kau harus ikut aku. Tidak peduli apa alasanmu, kau harus ikut”, ujar Jisoo sambil menarik tangan Jeonghan dan berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Jeonghan begitu malas untuk melawan Jisoo karena ia tahu Jisoo tidak akan pernah menyerah jika ia sudah berkata “harus” padanya.

“Kau mau membawaku kemana?”, tanya Jeonghan ketus.

“Temani aku makan. Aku lapar”, jawab Jisoo sambil menyalakan mobilnya. Jeonghan hanya terdiam sambil memandang keluar jendela selama perjalanan.

“Apa kau tidak terganggu dengan topi dan maskermu itu eoh?”, tanya Jisoo ditengah perjalanan.

“Tidak”, jawab Jeonghan datar.

“Kau seperti seorang penjahat Jeonghan-ah jika berpakaian seperti itu”, ujar Jisoo yang sontak membuat Jeonghan menoleh kearah Jisoo.

“Kenapa? Tapi memang benar kau seperti seorang buronan hahaha”, lanjut Jisoo. Jeonghan kembali menghindari tatapan Jisoo dengan memandang keluar jendela.

“Apa pekerjaanmu, Jeonghan-ah?”, tanya Jisoo lagi.

“Kau tidak perlu tahu”, jawab Jeonghan singkat.

“Kenapa aku tidak perlu tahu?”, Jisoo mengerutkan dahinya.

“Kau akan terkejut jika kau tahu”, tanpa menatap Jisoo, Jeonghan hanya menjawab pertanyaan Jisoo singkat.

“Memangnya apa pekerjaanmu sampai-sampai kau bisa berkata seperti itu?”, tanya Jisoo sambil sesekali menoleh kearah Jeonghan.

“Pembunuh bayaran”, jawab Jeonghan pelan sambil menatap kakinya.

“Hahahahahahahaha Yoon Jeonghan aku tidak sedang bercanda. Aku tahu kita suka bermain mafia-mafiaan saat kecil dan kaulah pembunuhnya. Ah iya, dan Seungcheol yang selalu menjadi orang yang dibunuh hahahaha lucu sekali jika aku mengingat saat itu”, Jisoo tertawa mendengar jawaban Jeonghan.

“Seungcheol….”, gumam Jeonghan.

“Ah iya kudengar kau dan Seungcheol berpacaran ya? Wahhh kalian keterluan. Aku bahkan tahu info itu dari Minki. Kau masih berpacaran dengannya? Oh gelang apa itu? Apa itu gelang couplemu? Hehehe”, ujar Jisoo sambil melirik gelang dipergelangan tangan Jeonghan.

“Hentikan, Hong Jisoo”, ujar Jeonghan.

“Kudengar sekarang Seungcheol seorang CEO Mall ya? Kau masih berhubungan dengannya?”, tanya Jisoo lagi.

“STOP HONG JISOO”, teriak Jeonghan yang membuat Jisoo sontak menghentikan mobilnya. Untung saja kondisi jalanan sedang dalam keadaan sepi.

“Ada apa?”, tanya Jisoo sambil memandang Jeonghan.

“Pergi makanlah sendiri”, ujar Jeonghan kemudian berjalan keluar dari mobil Jisoo.

“Jeonghan-ah”,panggil Jisoo. Jeonghan terus berjalan tanpa menanggapi panggilan Jisoo.

-ALL OVER-

Jeonghan merapatkan topinya dengan sebuah kotak ditangannya. Ia memencet bel apartement nomor 148.

“Kiriman paket tuan”, ujar Jeonghan saat seseorang bertanya melalui interkom. Tak lama pintu pun terbuka dan munculah seorang laki-laki dengan beberapa helai rambutnya yang terlihat memutih.

“Bawa masuk saja”, ujar laki-laki itu kemudian Jeonghan masuk kedalam apartement. Ia menatap tajam laki-laki yang berdiri didepannya. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah pisau dari ujung lengan jaketnya, namun tak disangka-sangka laki-laki itu dapat menahan tangan Jeonghan.

“Siapa kau?”, ujar laki-laki itu sambil menahan tangan Jeonghan.

“Kau lebih baik mati”, ujar Jeonghan sambil memutarkan tangannya dan terjadilah adu hatam diantara mereka. Hingga tanpa Jeonghan sadari laki-laki itu mengambil sebuah cutter dan menodongkannya ke arah Jeonghan.

“Katakan, siapa yang menyuruhmu”, tanya laki-laki itu. Jeonghan menyembulkan senyum liciknya dari balik maskernya kemudian maju melawan laki-laki itu. Namun laki-laki itu dengan cepat mendorong Jeonghan hingga menghantam dinding apartementnya.

“Aaakh”, ringis Jeonghan sambil memegang lengannya yang ternyata mengeluarkan darah karena terkena cutter yang dipegang oleh laki-laki itu.

“Hahaha kau mau apa lagi?”, tanya laki-laki itu. Jeonghan menghela nafasnya kemudian memukul laki-laki itu keras hingga tak lama ia menghunuskan pisaunya pada perut laki-laki itu dan menariknya lagi. Kini laki-laki itu terbaring dilantai sambil memegang perutnya. Terakhir Jeonghan melayangkan sebuah tendangan pada perut laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan apartement.

“Hyung-nim, sudah aku bereskan. Bawa anak buahmu untuk mengurusnya sekarang sebelum polisi datang”, ujar Jeonghan pada sambungan teleponnya dengan Baekho. Jeonghan berjalan dengan kondisi tubuhnya yang tidak stabil sambil memegang lengannya. Tangannya penuh dengan darah. Dan lagi sekarang sudah tengah malam yang tak terlalu banyak orang berada di luar. Jeonghan terus berjalan pelan menuju apartementnya. Namun lama-kelamaan pandangannya semakin kabur, hingga akhirnya ia terjatuh pingsan.

-ALL OVER-

Jeonghan mengernyitkan dahinya saat sinar matahari mengenai wajahnya dari balik tirai. Ia memegang lengannya yang terluka dan menyadari jika lukanya kini sudah terbalut perban. Jeonghan seketika membelalakan matanya dan terbangun. Ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya.

“Ini bukan kamarku”, ujar Jeonghan. Kemudian ia berjalan ke depan kaca dan memandang dirinya. Ia hanya memakai kaos dengan lengan sebahu yang memang ia pakai dan melihat jaketnya kini bertengger manis di ujung tempat tidur. Ia memandang lengannya yang terbalut perban.

“Kuncirku sejak kapan terlepas”, ujar Jeonghan sambil menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.

“Kau sudah bangun?”, sebuah suara mengagetkan Jeonghan.

“Seung.. Seuncheol?”, ujar Jeonghan.

“Kau sudah baikan?”, tanya Seungcheol.

“Ba..Bagaimana kau..”, Jeonghan terbata saat melihat Seungcheol didepannya.

“Aku menemukanmu pingsan dijalan semalam. Kupikir kau sudah mati. Tapi sekretarisku bilang kau hanya pingsan karena lukamu itu. Jadi semalam aku memanggil dokter untuk mengobati lukamu”, ujar Seungcheol sambil mendekati Jeonghan.

“Bagaimana kau…”, Jeonghan melangkahkan kakinya mundur menjauhi Seungcheol yang semakin mendekatinya.

“Semalam saat aku pulang dari Mall aku melihat seorang gadis berjalan sempoyongan dan kemudian jatuh pingsan. Aku juga terkejut saat tahu itu kau. Tapi syukurlah lukamu tidak terlalu dalam”, Seungcheol tersenyum.

“Kenapa kau menolongku?”, tanya Jeonghan dengan matanya yang berbinar.

“He?”, Seungcheol menaikan sebelah alisnya.

“Kenapa kau menolongku, Choi Seungcheol? Kenapaaa?”, teriak Jeonghan.

“Apa yang salah jika aku menolongmu?”, tanya Seungcheol sambil menjulurkan tangannya kearah Jeonghan.

“Jangan sentuh aku! Seharusnya kau biarkan aku mati saja bodoh!!!”, bentak Jeonghan sambil menepis tangan Seungcheol.

“Ada apa, Jeonghan-ah”, tanya Seungcheol tak mengerti dengan reaksi Jeonghan terhadapnya.

“Tidak seharusnya aku disini. Seharusnya kau tidak menolongku”, ujar Jeonghan kemudian menarik jaketnya dan berjalan keluar.

“Berhenti disitu, Yoon Jeonghan”, cegah Seungcheol. Namun, Jeonghan tidak memperdulikan panggilan Seungcheol dan terus berjalan.

“Yoon Jeonghan”, ujar Seungcheol sambil menahan tangan Jeonghan.

“Jangan dekati aku. Atau kau harus bersiap untuk mati Seungcheol-ah”, ujar Jeonghan sambil menepis tangan Seungcheol dan berjalan meninggalkan rumah mewah Seungcheol.

-ALL OVER-

Jeonghan memeluk kakinya sambil memandang kosong acara televisi didepannya.

“Jeonghan-ah, makanlah”, ujar Minki sambil memberikan semangkuk bubur pada Jeonghan.

“Kau saja”, tolak Jeonghan.

“Hahhh yasudah”, ujar Minki kemudian memakan bubur itu. Jeonghan memegang lengannya yang kini sudah tidak terbalut perban.

“Cari saja pekerjaan lain”, ujar Minki tiba-tiba. Jeonghan menoleh menatap Minki.

“Baekho oppa itu benar-benar kejam. Kau tahu tidak kemarin Jonghyun oppa mati karena tidak bisa menjalankan tugasnya”, lanjut Minki. Jeonghan meneguk air dingin didepannya.

“Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu”, ujar Minki lagi.

“Aku tidak punya pilihan lain”, jawab Jeonghan.

“Kau itu perempuan. Sangat berbahaya jika kau menjadi seperti ini. Lihat saja tubuhmu. Penuh dengan luka. Hahhhh banyak perempuan yang sangat menjaga tubuhnya, kau malah merusaknya”, ujar Minki sambil melahap bubur didepannya.

“Orang tuaku bisa mati jika aku tidak menurutinya”, sahut Jeonghan sambil menyandarkan tubuhnya dan memandang langit-langit atap.

“Orang tuamu pasti akan sedih jika tahu ini”, ujar Minki.

“Aron oppa. Aku hanya menggantikan Aron oppa. Aron oppa juga bekerja seperti ini untuk mendapatkan uang pengobatan ibu.”, jawab Jeonghan kemudian memejamkan matanya.

“Tapi Aron oppa itu laki-laki. Sedangkan kau itu perempuan, Jeonghan-ah. Sadarlah”, ujar Minki sambil memandang Jeonghan khawatir.

“Aron oppa tidak bisa menjalankan tugasnya saat itu. Kalau aku tidak menggantikannya, mungkin sekarang ia sudah….”, Jeonghan menggantungkan ucapannya.

“Tapi Jeonghan-ah, kau bisa saja mati saat melakukan perintah-perintah bodoh dari Baekho oppa”, ujar Minki dengan nada yang agak meninggi.

“Tidak apa-apa, selama ayah ibu dan Aron oppa baik-baik saja”, jawab Jeonghan pelan.

Drrrt drrrt. Ponsel Jeonghan bergetar.

“Jangan diangkat. Kumohon berhentilah Jeonghan-ah”, cegah Minki.

“Maafkan aku, Minki-ya. Aku tidak bisa”, ujar Jeonghan kemudian masuk kekamarnya dan mengangkat panggilan diponselnya. Setelah selesai menerima panggilan itu ia segera memakai jaket dan topinya.

“Mau kemana?”, tanya Minki saat Jeonghan keluar dari kamarnya.

“Keluar sebentar”, jawab Jeonghan.

“Jangan pulang terlalu larut. Aku akan memasak makan malam dan kita makan bersama”, ujar Minki.

“Okey”, jawab Jeonghan kemudian keluar dari apartementnya. Jeonghan berjalan menuju sebuah cafe danmduduk didepan seseorang berjas hitam yang rupanya sudah menunggu di cafe itu. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop besar dari tasnya dan menyodorkannya pada Jeonghan.

“Dia saingan bisnisku”, ujar laki-laki itu. Jeonghan memandang laki-laki itu datar. “Lakukan perintahku dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan. Uang. Mobil. Rumah. Apa saja”

“Baekho hyung-nim yang akan membayarku. Tidak perlu seperti itu, Hwang Minhyun-ssi”, jawab Jeonghan.

“Hmm tidak-tidak. Anggap saja ini upah dariku atas kerjamu. Lakukan saja. Aku akan mengabarimu lewat telepon”, ujar laki-laki yang dipanggil Hwang Minhyun itu kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari cafe. Jeonghan pun segera mengambil amplop itu dan memasukkan kedalam jaketnya.

“Jeonghan-ah”, panggil seseorang.

“Jisoo?”, ujar Jeonghan saat melihat Jisoo melambaikan tangan kearahnya. “Aish mau apa lagi dia”, gerutu Jeonghan.

“Jeonghan-ah”, panggil Jisoo sambil menepuk bahu Jeonghan.

“Berhenti menemuiku, Jisoo-ya”, ujar Jeonghan sambil menyingkirkan tangan Jisoo dari bahunya.

“Ayo kita bicara”, ujar Jisoo dengan raut wajah serius.

“Aku tidak ada waktu untuk pergi denganmu”, tolak Jeonghan.

“Kita harus bicara. Sekarang”, ujar Jisoo tegas kemudian menarik Jeonghan menuju mobilnya dan melesat menuju tepi sungai Han.

“Ada apa?”, tanya Jeonghan saat mereka sampai di tepi sungai Han.

“Aku tahu tentang Aron hyung. Juga tentang eomonim”, jawab Jisoo sambil menatap Jeonghan lamat.

“Lalu? Kau mau mengasihaniku?”, tanya Jeonghan sambil memandang lurus kedepan.

“Bukan itu maksudku”, jawab Jisoo sambil menyandarkan tubuhnya ke jok.

“Berhenti bersikap baik padaku, Jisoo-ya. Kau tidak tahu siapa aku sekarang”, ujar Jeonghan datar.

“Berhentilah dari pekerjaanmu itu”, ujar Jisoo.

“Apa maksudmu”, tanya Jeonghan sambil menoleh menatap Jisoo.

“Tuhan bisa marah”, jawab Jisoo tanpa menatap Jeonghan.

“Berhenti membawa-bawa Tuhan, Jisoo-ya”, ujar Jeonghan dengan nada suaranya yang mulai meninggi.

“Kau tidak akan masuk Surga”, ujar Jisoo.

“Tidak usah menceramahiku. Kau bukan siapa-siapaku”, omel Jeonghan yang mulai malas dengan ceramahan Jisoo.

“Aku peduli denganmu”, ujar Jisoo sambil menatap Jeonghan.

“Hahaha kau lucu sekali”, Jeonghan tertawa hambar.

“Aku peduli padamu. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu”, ujar Jisoo.

“Aku tahu. Pasti Minki yang memberitahumu”, ujar Jeonghan sambil menarik sebelah bibirnya.

“Kau itu perempuan. Berhenti dari pekerjaan seperti itu. Aku bisa memberimu pekerjaan kalau kau mau”, tawar Jisoo.

“Tidak usah sok pamer padaku, Hong Jisoo”, jawab Jeonghan malas.

“Aku tidak sedang pamer”, ujar Jisoo.

“Lalu apa kalau tidak pamer hah?”, tanya Jeonghan.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi”, ujar Jisoo yang membuat Jeonghan menoleh kearahnya.

“Aku tahu tentang Seungcheol yang meninggalkanmu dan menikah dengan Jang Doyoon anak dari rekan bisnis Choi abeonim itu”, lanjut Jisoo.

“Berhenti membahasnya”, ujar Jeonghan sambil membuang pandangannya dari Jisoo.

“Aku tahu alasan lain kau melakukan ini. Kau sakit hati dengan Seungcheol”, ujar Jisoo.

“HENTIKANNNNNN!!!”, teriak Jeonghan kemudian setetes air mata mengalir di pipinya.

“Berhentilah melakukan ini Jeonghan-ah. Aku akan melindungimu”, ujar Jisoo sambil meraih tangan Jeonghan.

“Jangan sentuh aku”, ujar Jeonghan sambil menarik tangannya.

“Percayalah padaku, Jeonghan-ah. Aku akan memberikanmu pekerjaan yang lebih baik”, ujar Jisoo lagi. Jeonghan menangis. Ia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak percaya siapapun. Bahkan aku tidak mempercayai diriku sendiri. Aku tidak bisa lagi percaya pada siapapun. Semua yang kupercayai menghianatiku dalam diam”, ujar Jeonghan dengan pandangan kosong.

“Jeonghan-ah”, panggil Jisoo.

“Oh tidak. Aku hanya mempercayai eomma dan Aron oppa di dunia ini. Aku tidak percaya siapapun selain mereka”, sambung Jeonghan.

“Jeonghan-ah aku mencintaimu Aku tidak bisa melihatmu seperti ini”, ujar Jisoo kemudian mendekati wajah Jeonghan namun Jeonghan membuang wajah kearah lain.

“Jauhi aku jika kau tidak ingin mati, Jisoo-ya”, ujar Jeonghan kemudian keluar dari mobil Jisoo.

-ALL OVER-

Suara musik DJ begitu menggema saat Jeonghan memasuki salah satu pub di daerah Gangnam itu dengan pemandangan yang sama seperti biasanya. Jeonghan berjalan menuju meja bartender.

“Jeonghanie whatsup?”, sapa Hoshi salah satu bartender di pub itu.

“Hai”, jawab Jeonghan sambil tersenyum hambar.

“Eishhh senyummu itu sungguh dipaksakan ya haha”, ujar Hoshi sambil tertawa.

“Kwon Hoshi”, panggil seseorang.

“Aku kesana dulu. Kalau butuh sesuatu panggil saja aku okey”, ujar Hoshi saat namanya dipanggil oleh seseorang.

“Iya aku tahu”, jawab Jeonghan. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.

To: Minki

Minki-ya, maaf aku tidak bisa pulang cepat malam ini. Pergilah makan duluan. Aku makan diluar.

Ia mengirim sebuah pesan singkat pada Minki. Kemudian ia teringat pada amplop yang tadi siang diberikan Minhyun padanya. Ia mengeluarkan amplop itu dan membuka segelnya. Jeonghan membelalakan matanya saat melihat isi amplop itu.

“Seungcheol”, ujarnya dengan tubuh bergetar. Isi amplop itu berisi beberapa foto dari orang-orang yang merupakan saingan bisnis Minhyun. Choi Seungcheol adalah salah satu dari 5 orang dalam daftar.

“Bagaimana aku bisa melakukannya”, batin Jeonghan dengan tubuh bergetar. Dengan cepat ia memasukkan foto itu ke amplop dan memasukkan ke dalam jaketnya.

“Hoshi-ya”, panggil Jeonghan. “Berikan aku Schorschbock (*salah satu minuman beralkohol tinggi dari Jerman)”, lanjutnya yang dibalas acungan jempol dari Hoshi.

“Bagaimana ini bagaimana aku melakukannya”, gumam Jeonghan. Hoshi meletakkan sebuah botol dan gelas kecil didepan Jeonghan.

“Ada apa? Apa ada masalah? Tidak seperti biasanya kau meminta minuman seperti ini”, tanya Hoshi.

“Aku hanya sedang bingung, Hoshi-ya”, ujar Jeonghan kemudian menuang minuman itu dan meneguknya.

“Siapa kali ini? Baekho hyung memberikan tugas yang berat eoh?”, tanya Hoshi yang notabene adalah salah satu mata-mata suruhan Baekho.

“Begitulah. Aku hanya ingin mati saja kalau seperti ini”, jawab Jeonghan sambil terus menegak minumannya.

“Heish bodoh! Berhenti bicara seperti itu”, omel Hoshi yang dibalas kekehan Jeonghan.

“Hahhhh sepertinya kau sudah mulai mabuk Jeonghan-ah”, ujar Hoshi menghela nafasnya kemudian meninggalkan Jeonghan yang terus menegak minumannya hingga habis. Kini ia mulai kehilangan kesadarannya dan terus saja meracau.

“Choi Seungcheol bodoh bodoh hahaha”, racau Jeonghan. Ia berusaha untuk berdiri namun badannya terhuyung hingga seseorang menahannya.

“Kau tidak apa-apa?”, tanya orang itu.

“Hmm, suaramu aku sepertinya kenal”, ujar Jeonghan pelan sambil mendongak menatap orang itu.

“Jeonghan?”, tanya orang itu.

“Ah iya benar. Kau Seungcheol si bodoh hahaha”, racau Jeonghan.

“Kau mabuk Jeonghan-ah. Akan ku antar kau pulang”, ujar Seungcheol sambil memapah Jeonghan keluar dari pub. Seungcheol masuk mobilnya dan meletakkan Jeonghan di samping kursi kemudianya.

“Ah iya, aku tidak tahu rumahnya”, ujar Seungcheol sambil menepuk dahinya. Ia memandang Jeonghan yang tertidur disampingnya.

“Apa yang membuatmu seperti ini Jeonghan-ah”, ujar Seungcheol kemudian melesatkan mobilnya ke rumahnya. Ia memapah Jeonghan menuju kamarnya dan merebahkannya di tempat tidur kemudian menyelimutinya. Seungcheol memandang wajah Jeonghan yang kini tertidur.

“Salahku. Semua ini salahku kau jadi seperti ini, Jeonghan-ah”, gumam Seungcheol.

“Choi Seungcheol, bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku harus melakukannya padamu Seungcheol bodoh”, racau Jeonghan dalam tidurnya. Seungcheol hanya memandang Jeonghan dengan tatapan tidak mengerti. Hingga tak lama Jeonghan membuka matanya dan menatap Seungcheol didepannya.

“Seungcheol-ah”, panggil Jeonghan.

“Tidurlah, kau masih dibawah pengaruh alkohol”, ujar Seungcheol sambil merapikan selimut yang menyelimuti tubuh Jeonghan.

“Aku merindukanmu Seungcheol-ah”, racau Jeonghan.

“Tidurlah Jeonghan-ah. Kau perlu istirahat”, ujar Seungcheol.

“Tidak. Aku hanya perlu dirimu”, tolak Jeonghan sambil mengalungkan tangannya keleher Seungcheol.

“Tidurlah”, ujar Seungcheol sambil melepaskan tangan Jeonghan dari lehernya.

“Tidak mau”, tolak Jeonghan kemudian menarik kerah kemeja Seungcheol dan melahap habis bibir Seungcheol. Seungcheol terkejut dengan perlakuan Jeonghan padanya. Sejujurnya di dalam hatinya ia begitu merindukan sentuhan Jeonghan padanya. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Kemudian Jeonghan menariknya hingga ia terjatuh di tempat tidur. Jeonghan beranjak menindih Seungcheol dengan tubuhnya dan menatap Seungcheol.

“Aku hanya butuh dirimu, Seungcheol-ah. Aku merindukanmu”, racau Jeonghan kemudian kembali menciumi bibir Seungcheol kasar.

 -ALL OVER-

Seungcheol membuka matanya dan menatap Jeonghan yang kini tertidur dipelukannya. Menghirup aroma rambut Jeonghan yang masih tetap sama seperti kala itu mereka masih berpacaran. Seungcheol merindukannya. Sangat merindukannya.

Dengan langkah perlahan ia melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur. Kemudian Seungcheol mengenakan jubah tidurnya dan pandangannya terhenti pada sebuah amplop yang terselip didalam jaket kulit milik Jeonghan. Ia mengambil amplop itu kemudian melirik Jeonghan.

“Apa ini?”, tanya Seungcheol kemudian membuka amplop itu dan merogoh isi amplop itu. Ia menemukan beberapa foto yang salah satunya adalah foto dirinya.

“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan,Jeonghan-ah”, gumam Seungcheol.

 -ALL OVER-

 Jeonghan merapatkan selimutnya, ia kedinginan. Mungkin karena musim dingin sudah semakin dekat, sehingga ia begitu kedinginan dengan suhu saat ini. Perlahan ia membuka matanya dan terkejut. Ia kembali berada di tempat yang asing baginya.

“Ini bukan kamarku”, ujar Jeonghan kemudian bangun dari posisi tidurnya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAA”, teriak Jeonghan saat melihat tubuh polosnya dibalik selimut.

“Apa yang terjadi? Dimana aku?”, lanjutnya sambil mendekap selimut ditubuhnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan munculah seorang wanita berpakaian pelayan.

“Nona, anda baik-baik saja?”, tanya pelayan itu. “Tuan Choi menyampaikan jika terjadi sesuatu pada nona kami harus membantu”

“Tuan Choi? Choi Seungcheol?”, tanya Jeonghan.

“Iya nona”, jawab si pelayan.

“Aish”,gerutu Jeonghan sambil merebahkan tubuhnya kasar ke tempat tidur.

“Nona ada yang bisa kami bantu?”, tanya si pelayan.

“Tidak untuk sekarang. Terima kasih”, jawab Jeonghan sambil menatap langit-langit kamar.

“Jadi sebenarnya apa yang terjadi?”, gumam Jeonghan sambil berusaha mengingat kejadian semalam.

“Ah benar. Aku mabuk dan…. Aaaaaakkkh kenapa harus bertemu dengan Seungcheol”, omel Jeonghan pada dirinya sendiri. Jeonghan kemudian beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai ia menatap dirinya di kaca dan menguncir rambutnya.

Drrrt drrrt. Ponselnya bergetar.

“Sudah lakukan tugasmu?”, tanya Baekho dari seberang telepon.

“Ya?”, tanya Jeonghan.

“AKU BERTANYA APA KAU SUDAH LAKUKAN TUGASMU? DASAR BODOH”, bentak Baekho yang membuat Jeonghan menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Maaf hyung. Ada sesuatu yang membuatnya terhambat”, ujar Jeonghan.

“CEPAT SELESAIKAN BODOH! KAU PIKIR DARIMANA KAU BISA DAPAT UPAHMU KALAU TIDAK KAU KERJAKAN TUGASMU HAH??”, bentak Baekho lagi.

“Iya aku mengerti hyung. Akan aku kerjakan lebih cepat”, jawab Jeonghan.

“Jeonghan-ah”, panggil Seungcheol yang tiba-tiba muncul dari arah pintu, membuat Jeonghan terkejut dan langsung memutus sambungan telepon dari Baekho.

“Jeonghan-ah, sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan?”, tanya Seungcheol.

“He?”, jawab Jeonghan gugup.

“Kau bilang kau akan kerjakan lebih cepat. Ya mungkin saja aku bisa membantumu”, tawar Seungcheol.

“Itu bukan urusanmu”, sahut Jeonghan kasar kemudian membenarkan jaket dan memakai topinya.

“Mau kemana?”, tanya Seungcheol pada Jeonghan yang kini berjalan kearah pintu.

“Kau tidak perlu tahu”, jawab Jeonghan. Dengan cepat Seungcheol menutup pintu itu yang membuat Jeonghan menatapnya.

“Siapa kau sebenarnya Yoon Jeonghan?”, tanya Seungcheol.

“Kubilang kau tidak perlu tahu”, jawab Jeonghan datar.

“Kemana Yoon Jeonghan yang ku kenal?”, tanya Seungcheol sambil menatap sepasang manik mata Jeonghan.

“Dia sudah mati”, jawab Jeonghan sambil membuang wajahnya dari pandangan Seungcheol.

“Sudah mati katamu? Bahkan semalam kau menangis dipelukanku. Kau itu hanya memakai topeng Jeonghan-ah”, ujar Seungcheol.

“Aku mabuk. Itu bukan diriku”, elak Jeonghan.

“Saat mabuk, alam bawah sadar kita akan muncul. Saat mabuk kau akan berkata jujur Jeonghan-ah. Aku masih ingat itu”, ujar Seungcheol.

“Hentikan Choi Seungcheol. Aku bukan Jeonghan yang dulu kau kenal”, ujar Jeonghan sambil berjalan menuju pintu dan memegang kenopnya.

“Berhenti bersikap baik padaku Choi Seungcheol. Kau sedang dalam bahaya”, lanjutnya kemudian memutar kenop pintu namun Seungcheol kembali menghentikannya. Seungcheol mendorong Jeonghan ke sisi pintu dan mengunci tubuh Jeonghan dengan kedua tangan.

“Kau bohong padaku Jeonghan-ah”, ujar Seungcheol dengan jarak wajahnya dan Jeonghan yang hanya terpaut satu jengkal.

“Apa lagi sekarang?”, tanya Jeonghan.

“Kau tidak benar-benar melupakanku dan juga kenangan kita”, jawab Seungcheol,

“Apa maksudmu? Jangan terlalu percaya diri”, bantah Jeonghan.

“Kau masih memakai gelang couple kita”, ujar Seungcheol sambil menarik tangan Jeonghan dan menunjukkan gelang tali yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

“Lepaskan tanganku! Baiklah akan aku lepaskan”, ujar Jeonghan sambil melepas gelang di pergelangan tangannya dan melemparnya sembarangan. “Lihat? Aku sudah melepasnya. Kau puas?”, lanjut Jeonghan. Seungcheol memandang Jeonghan lamat kemudian menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku”, ujar Seungcheol pelan. “Tidak seharusnya aku meninggalkanmu”

“Hentikan Choi Seungcheol. Istrimu bisa mengetahui ini. Tidak seharusnya aku disini”, ujar Jeonghan sambil mendorong Seungcheol menjauh dari tubuhnya dan keluar dari kamar.

“Kami sudah bercerai”, ujar Seungcheol kemudian yang membuat Jeonghan menghentikan langkahnya.

“Aku dan Doyoon sudah bercerai”, ujar Seungcheol lagi.

“Hentikan Choi Seungcheol. Jeonghan yang kau kenal sudah lama mati”, ujar Jeonghan kemudian merapatkan topinya dan meninggalkan rumah Seungcheol.

 -ALL OVER-

“DASAR KAU TIDAK TAHU DIRI! BOCAH BODOH!”, umpat Baekho sambil menendang perut Jeonghan yang kini terkapar lemah di lantai.

“Kau pikir kau siapa berani-beraninya menutup pembicaraan di telepon HAHHHH?”, ujar Baekho lagi sambil menoyor kepala Jeonghan dengan tongkatnya. Kemudian ia berjongkok didepan Jeonghan.

“Lakukan tugasmu dengan benar, jika kau tidak ingin bernasib sama seperti si brengsek Jonghyun. Kau mengerti”, ujar Baekho pelan.

“Iya aku mengerti hyung-nim”, jawab Jeonghan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.

“Okey, baguslah. Jangan sampai kau kehilangan orang tuamu okey Jeonghanie”, ujar Baekho dengan nada yang di lembut-lembutkan kemudian berdiri dan kembali duduk di singgahsananya.

“Bawa dia pergi”, suruh Baekho pada anak buahnya.

“Baik, hyung-nim”, jawab para anak buah Baekho yang kemudian memapah Jeonghan menuju mobil.

“Ahhhh”, rintih Jeonghan saat merasakan nyeri diperutnya. Tak terlalu lama hingga mereka sampai di bangunan apartement Jeonghan. Para anak buah Baekho itu kemudian mendorong Jeonghan keluar dari mobil dan dengan cepat menghilang diujung jalan. Membiarkan Jeonghan yang kini merintih kesakitan dipinggir jalan.

“Jeonghan-ah”, seseorang berlari mendekati Jeonghan yang kini bersandar pada tiang listrik dipinggir jalan.

“Jeonghan-ah apa yang terjadi?”, tanya orang itu.

“Jisoo-ya”, ujar Jeonghan pelan.

“Ayo kita masuk kerumahmu”, ujar Jisoo sambil membopong Jeonghan menuju lantai 2 dimana apartement milik Jeonghan dan Minki berada.

“Oh my God! Apa yang terjadi??”, tanya Minki saat baru saja membuka pintu.

“Aku juga tidak tahu. Aku menemukannya diseberang jalan”, jawab Jisoo sambil masuk kedalam. “Mana kamarnya?”

“Ah iya disini”, ujar Minki sambil membuka salah satu pintu yang berhadapan dengan ruang tengah. Jisoo merebahkan Jeonghan kemudian melepaskan jaket yang dikenakan Jeonghan.

“Minki-ya tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil ya”, ujar Jisoo sambil merapikan posisi Jeonghan.

“Ya?”, tanya Minki.

“Tolong ya”, ujar Jisoo sambil tersenyum pada Minki.

“Ah iya tunggu sebentar oppa”, jawab Minki kemudian keluar dari kamar Jeonghan.

“Sudah kubilang padamu untuk berhenti Jeonghan-ah”, ujar Jisoo sambil memadang Jeonghan lembut.

“Tidak perlu menceramahiku lagi. Aku sudah sering seperti ini”, jawab Jeonghan pelan.

“Berhenti menyiksa dirimu”, ujar Jisoo. Jeonghan terkekeh.

“Kan kubilang, jangan terlalu baik padaku. Yang kau lihat bukan Jeonghan yang dulu kau kenal. Jeonghan yang lemah sudah lama mati”, ujar Jeonghan.

“Tutup mulutmu Yoon Jeonghan. Berhenti berbicara macam-macam. Untukku kau hanya Yoon Jeonghan yang sangat menyukai lollipop dan ice cream oke”, omel Jisoo. Jeonghan hanya terkekeh mendengar ucapan Jisoo.

“Oppa ini air dan handuknya”, ujar Minki yang tergopoh-gopoh masuk kekamar sambil membawa baskom berisikan air hangat dan sebuah handuk kecil.

“Gomawo Minki-ya”, ujar Jisoo sambil tersenyum. Jisoo merendam handuk itu kedalam baskom kemudian memerasnya dan membersihkan luka diwajah Jeonghan.

“Aku bisa sen..”

“Kau diam saja”, ujar Jisoo ketus sambil menepis tangan Jeonghan dari handuk yang dipegangnya. Jeonghan terdiam memandang Jisoo yang dengan hati-hati membersihkan lukanya. Dimatanya Jisoo adalah seorang oppa yang selalu menolongnya kapan pun itu. Sejak mereka kecil Jisoolah yang selalu berada di sisi Jeonghan disaat Jeonghan dalam kesulitan, sesulit apapun masalah itu.

“Ekhem sepertinya aku keluar saja ya hehe. Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan bilang saja. Aku ada diruang tengah”, ujar Minki kemudian keluar dari kamar Jeonghan dan menutup pintu. Jisoo tersenyum kemudian kembali membersihkan luka ditangan Jeonghan.

“Kau ingat saat kau jatuh dari sepeda? Hahaha kau terjatuh dan kau berantakan sekali. Tanganmu juga mendapat banyak luka”, hibur Jisoo sambil tertawa kecil.

“Aaakh”, erang Jeonghan saat Jisoo menyentuh dahinya.

“Dahimu robek”, ujar Jisoo.

“Benarkah? Biarkan saja”, ujar Jeonghan.

“Aku akan menjahitnya ya”, ujar Jisoo.

“Hah? Kau gila? Kau bahkan bukan dok..akh”, ujar Jeonghan saat merasakan nyeri diperutnya.

“Aku sempat belajar kedokteran saat aku diluar negeri. Jadi aku akan menjahitnya okey. Kemudian kau ganti baju dan obati luka di perutmu”, ujar Jisoo kemudian menyiapkan alat-alatnya yang sengaja ia bawa ditas gemblok yang ia kenakan.

“Tahan sedikit ya”, ujar Jisoo kemudian perlahan menjahit dahi Jeonghan yang robek. Setelah beberapa saat Jisoo pun selesai menjahit dahi Jeonghan.

“Sudah selesai. Kau ganti bajulah, aku akan keluar. Panggil aku jika sudah selesai ya”, ujar Jisoo sambil merapikan alat-alatnya. “Ah iya aku hampir lupa”, lanjut Jisoo kemudian menarik sebuah karet dari pergelangan tangannya dan menguncir rambut Jeonghan. Jeonghan hanya terdiam mendapat perlakuan seperti itu dari Jisoo.

“Nah seperti ini lebih rapi. Panggil aku jika sudah berganti pakaian”, ujar Jisoo sambil tersenyum kemudian keluar dari kamar Jeonghan. Selepas Jisoo keluar dari kamarnya, Jeonghan perlahan duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia tersenyum melihat perlakuan Jisoo padanya.

“You didn’t change, Hong jisoo”, gumam Jeonghan. Kemudian ia mengganti kaosnya yang penuh dengan bercak darah. Jeonghan memandang pantulan tubuhnya di kaca dan menyentuh permukaan perutnya yang membiru.

“Tidak apa-apa, Yoon Jeonghan. Kau itu bukan orang yang lemah”, ujar Jeonghan menyemangati dirinya sendiri.

-ALL OVER-

“Kau hanya memakai topeng Jeonghan-ah”

“Jangan sampai kau kehilangan orang tuamu okey Jeonghanie”

“Bahkan semalam kau menangis dipelukanku”

“Lakukan perintahku dan kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan”

“Tidak seharusnya aku meninggalkanmu”

“Aku dan Doyoon sudah bercerai”

“Berhenti menyiksa dirimu”

“Dia saingan bisnisku”

“Maafkan aku”

“DASAR KAU TIDAK TAHU DIRI! BOCAH BODOH”

Jeonghan membuka matanya saat kepalanya begitu penuh dengan kalimat dari orang-orang disekitarnya. Nafasnya memburu dengan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar untuk menghilangkan dahaganya dan mengambil sebotol air minum dikulkas. Pandangannya terhenti saat melihat Jisoo tertidur di sofa ruang tengah. Ia menghampiri Jisoo yang tampak begitu tenang. Jeonghan tersenyum memandang Jisoo. Tak lama ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut dan bantal. Ia menyelimuti Jisoo dan menyelipkan bantal dibawah kepala Jisoo kemudian ia duduk dibawah sofa sambil memandang Jisoo.

“Jisoo-ya, terima kasih”, gumam Jeonghan kemudian menyandarkan kepalanya di sisi sofa.

-ALL OVER-

Seminggu kemudian.

“Aku senang melihatmu tersenyum lagi”, ujar Jisoo pada Jeonghan yang kini duduk disampingnya. Jeonghan menoleh kearah Jisoo yang tersenyum kearahnya.

“Berhentilah Jisoo-ya. Kau jelek hahaha”, ledek Jeonghan.

“Hahahaha”, Jisoo tertawa mendengar ledekan Jeonghan.

“Jisoo-ya”, panggil Jeonghan.

“Hmm”, jawab Jisoo yang fokus menonton acara televisi didepannya.

“Bisa aku minta tolong sesuatu?”, tanya Jeonghan.

“Tentu saja. Katakan saja. Kau tidak ingat aku adalah santamu? Hahaha”, jawab Jisoo kemudian tertawa.

“Saat tugas ini berakhir aku ingin mengakhiri semuanya”, ujar Jeonghan pelan.

“Apa maksudmu?”, tanya Jisoo yang sontak menoleh kearah Jeonghan.

 -ALL OVER-

 Jeonghan menundukkan wajahnya dari tatapan dua orang yang kini menatapnya tajam. Mereka kini berada di sebuah gedung apartement milik Hwang Minhyun yang pembangunannya masih setengah jadi.

“Bagaimana? Apa semuanya lancar?”, tanya Minhyun pada Jeonghan yang terus menundukkan wajahnya.

“Hey kau angkat kepalamu”, ujar Baekho kasar.

“Maaf hyung-nim”, sahut Jeonghan kemudian perlahan mengangkat wajahnya.

“Semuanya berjalan lancar?”, tanya Minhyun lagi.

“Ya semuanya berjalan lancar Hwang Minhyun-ssi”, jawab Jeonghan.

“Okey. Bagus sekali”, ujar Minhyun. “Ku harap kau bisa menyelesaikan hari ini juga”

“Ya? Hari ini? Apa itu tidak terlalu cepat?”, tanya Minhyun sambil mengeluarkan senyum liciknya.

“Emmm itu, aku hanya ada sedikit…”

“Kenapa? Karena dia pacarmu?”, Minhyun memotong ucapan Jeonghan yang membuat Jeonghan terkejut begitupun dengan Baekho.

“Apa-apaan ini? Kau punya pacar hah? Sudah kubilang kau..”, emosi Baekho tiba-tiba tersulut.

“Sudah-sudah tenanglah”, Minhyun menahan emosi Baekho pada Jeonghan.

“Heish si brengsek ini”, umpat Baekho.

“Bukankah kalian sudah lama putus? Kalian saling mengenal, bukankah itu lebih mudah untuk menghabisinya?”, lanjut Minhyun.

“Itu…”, ujar Jeonghan pelan.

“Kenapa? Kau masih mencintainya? Hahahahaha. Kau masih mempercayai cinta? Hahahaha”, tanya Minhyun kemudian tertawa.

“Maafkan saya, Hwang Minhyun-ssi”, ujar Jeonghan kembali menundukkan kepalanya.

“Okey kalau seperti itu”, sahut Minhyun.

“He?”, Jeonghan bertanya-tanya apa maksud perkataan Minhyun.

“Baekho-ya”, panggil Minhyun.

“Ya ada apa Hwang Minhyun-ssi?”, jawab Baekho.

“Kita lakukan rencana B”, ujar Minhyun.

“Baik”, sahut Baekho kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuat sebuah panggilan.

“Rencana B?”, tanya Jeonghan.

“Ya rencana B. Aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri”, jawab Minhyun sambil menyungingkan senyum liciknya. Pada waktu yang bersamaan beberapa anak buah Baekho menyekap Jeonghan.

“Apa yang akan kau lakukan, Hwang Minhyun-ssi?”, teriak Jeonghan.

“Bawa dia”, ujar Baekho yang dibalas anggukan dari para anakbuahnya.

“Lepaskan! Lepaskan aku!”, pinta Jeonghan namun seseorang mendekap mulutnya dengan sapu tangan dan membuatnya pingsan.

 -ALL OVER-

“Jeonghan noona. Yoon Jeonghan noona”, Jeonghan mendengar seseorang memanggil-manggil namanya diujung telinganya.

“Jeonghan. Yak! Aish Jeonghan noona bangunlah”, suara itu kembali memanggilnya. Jeonghan merasakan kepalanya begitu pening kemudian perlahan membuka matanya.

“Akhirnya kau bangun. Yak! Noona. Ah tidak-tidak hyung. Jeonghan hyung”, panggil suara itu lagi.

“Jeon Wonwoo?”, gumam Jeonghan saat mendengar suara seseorang yang ia kenal.

“Iya benar. Ini aku. Noona liat aku ah maaf maksudku hyung”, sahut Wonwoo. Jeonghan mendongakkan kepalanya dan mencari keberadaan Wonwoo diruangan gelap dengan cahaya seadanya dari lampu neon berwarna kuning itu. Ia memicingkan matanya saat melihat sesuatu bergerak disampingnya.

“Noon.. Eh hyung. Lihat sini hyung disini”, panggil Wonwoo lagi.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya Jeonghan terkejut saat melihat Wonwoo terikat disebuah kursi disampingnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

“Aku ini polisi noon eh hyung maksudku”, jawab Wonwoo pelan.

“Kau sudah gila ya? Apa yang dilakukan seorang polisi ditempat buronan mafia seperti ini?”, tanya Jeonghan.

“Spy hyung. Aku ini spy”, bisik Wonwoo.

“Siapa yang menyuruhmu?”, tanya Jeonghan.

“Tentu saja atasanku”, jawab Wonwoo.

“Kau sudah masuk ke kandang macan, Jeon Wonwoo”, ujar Jeonghan.

“Hahahahaha”, Wonwoo tertawa.

“Hey kalian! Berisik sekali”, bentak seorang penjaga dari depan pintu sambil menendang pintu besi.

“Emmm tuan muka jelek, bisa tolong kencangkan taliku? Kau ini payah sekalisih mengikat tali seperti ini saja tidak becus”, ledek Wonwoo.

“Yak! Kau sudah gila Jeon Wonwoo”, omel Jeonghan. Pintu besi itu pun terbuka diiringi derap langkah si penjaga pintu.

“Hey sini benarkan ikatanku tuan muka jelek”, ledek Wonwoo.

“Apa kau bilang tadi?”, tanya si penjaga pintu itu yang kini berada di depan Wonwoo.

“Wahhh kau semakin jelek jika dilihat dari dekat ternyata”, ujar Wonwoo lagi.

“Kau jangan macam-macam ya”, bentak penjaga pintu itu yang sudah bersiap untuk memukul Wonwoo namun tiba-tiba Wonwoo melemparkan kursi yang tadi didudukinya hingga membentur penjaga pintu itu.

“Oops taliku terlepas. Bagaimana ini?”, ujar Wonwoo dengan ekspresi polos.

“Hey kau kemarilah”, ujar si penjaga pintu sambil berusaha berdiri. Dengan cepat Wonwoo melayangkan momtong jireugi(*pukulan lurus ke ulu hati dalam taekwondo) pada si penjaga pintu. Kemudian ia berlari kearah Jeonghan dan melepaskan tali yang mengikat tubuh Jeonghan di kursi.

“Kita harus cepat”, ujar Wonwoo kemudian berlari menuju pintu.

“Tunggu. Jeon Wonwoo apa yang kau lakukan? Kenapa kau menolongku?”, tanya Jeonghan yang masih berdiri di posisinya.

“Haduhhh nanti saja ceritanya. Kau tidak lupa dengan jurus-jurus taekwondo saat kita belajar dulukan? Karena itu sangat dibutuhkan untuk menghabisi tuan-tuan muka jelek diluar sana”, jawab Wonwoo.

“Cepatlah. Kau mau mati disini hah?”, tanya Wonwoo pada Jeonghan yang masih terdiam. Wonwoo dan Jeonghan pun berlari keluar dari ruang bawah tanah dan benar saja, para anak buah Baekho sedang berkumpul.

“Hey mau kemana kalian!”, ujar salah satu dari anak buah Baekho.

“Hai tuan muka jelek”, ledek Wonwoo sambil melambaikan tangannya. Para anak buah Baekho itu pun langsung mengepung Wonwoo dan Jeonghan.

“Noon ah tidak maksudku Jeonghan hyung kau siap?”, tanya Wonwoo sambil mengepalkan kedua tangan didepan wajahnya.

“Aku selalu siap bodoh”, jawab Jeonghan.

“HYAAAAAAAKKKKKKKK”, para anak buah Baekho mengerang sambil bersiap melayangkan serangannya pada Jeonghan dan Wonwoo. Pukulan. Tendangan. Tangkisan. Jeonghan dan Wonwoo mengeluarkan jurus-jurus taekwondonya.

“Hahaha kau tidak berubah hyung”, ujar Wonwoo sambil terus melayangkan pukulannya pada setiap anak buah Baekho.

“Tentu saja”, jawab Jeonghan kemudian melayangkan tendangannya pada perut salah satu anak buah Baekho.

“Tidak salah jika kau menang pada final waktu itu melawan Seungcheol hyung”, lanjut Wonwoo sambil terus melawan anak buah Baekho yang tidak ada hentinya. Jeonghan dan Wonwoo saling membenturkan punggungnya. Kini mereka benar-benar terkepung.

“Hyung cepatlah pergi”, ujar Wonwoo.

“Apa maksudmu?”, tanya Jeonghan.

“Bukankah kau harus menyelamatkan Seungcheol hyung?”, tanya Wonwoo.

“Bagaimana denganmu?”, tanya Jeonghan balik.

“Tenang saja sebentar lagi bantuanku akan datang”, jawab Wonwoo santai.

“Hooiiii dasar payah kalian semua. Kenapa harus mengkroyok dua orang bersama-sama? Satu lawan satu jika kalian memang laki-laki”, teriak seseorang dari arah pintu.

“Lihat? Bantuanku sudah datang haha”, ujar Wonwoo.

“Wonwoo hyung, maaf ya aku telat”, ujar Mingyu sambil terkekeh.

“Hey kalian pria jelek cepat sini lawan kami saja. Dasar payah”, ujar Junhui sambil berlari mendekati para anak buah Baekho diikuti Mingyu dan teman-temannya.

“Hyung sekarang!”, ujar Wonwoo yang dibalas anggukan dari Jeonghan.

 -ALL OVER-

“Tuan sepertinya ada yang mengikuti kita sejak tadi”, ujar sekretaris Kim pada Seungcheol.

“Tambah saja kecepatan mobilnya”, ujar Seungcheol yang tak melepaskan pandangannya dari tab digenggamannya.

“Tuan, mereka benar-benar mengikuti kita”, ujar sekretaris Kim lagi. Hingga tiba-tiba sebuah mobil menghadang didepan mobil yang ditumpangi Seungcheol.

“Ada apa?”, tanya Seungcheol yang terkejut dengan rem mendadak yang dilakukan sekretaris Kim.

“Mobil itu menghadang kita tuan”, jawab sekretaris Kim. “Saya akan mengeceknya”

“Tidak usah. Biar aku saja”, ujar Seungcheol kemudian keluar dari mobil.

“Hey ada ap…”

BUKKKK sebuah pukulan mengenai tengkuk Seungcheol hingga membuatnya tak sadarkan diri.

“Tuan Choi”, ujar sekretaris Kim yang baru saja keluar dari mobil.

“Kau! Jangan lakukan apapun jika tak ingin mati”, ujar salah satu dari pria bermasker hitam yang turun dari mobil. Beberapa pria itu kemudian memapah Seungcheol memasuki mobil mereka dan melesat dengan kecepatan penuh hingga menghilang diujung jalan.

“Presdir.. Tuan muda Choi dalam bahaya”, ujar sekretaris Kim pada sambungan teleponnya dengan Presdir Choi. Ayah Seungcheol.

 -ALL OVER-

“Dia akan diapakan?”, tanya seseorang.

“Sudahlah kita tunggu saja hyung-nim”, jawab yang lainnya.

“Bukankah dia terlihat seperti sunbae kita saat kita belajar taekwondo?”, pertanyaan kembali muncul dari laki-laki itu.

“Heish Lee Chan sudahlah. Kita inikan harus mengikuti perintah hyung-nim. Kau mau kita mati hah?”, omel yang lainnya.

“Okey okey. Aku akan mengikuti perintah hyung-nim, Chwe Hansol”, jawab laki-laki itu.

“Hey sudah hentikan. Hyung-nim datang”, laki-laki yang lainnya pun berbicara.

“Okey kerja bagus. Kalian bisa pergi”, ujar seseorang bersuara berat.

“Ne hyung-nim”

“Jadi akan kita apakan dia?”, tanya si laki-laki bersuara berat itu.

“Tunggu saja sampai dia sadar. Baekho berjaga-jaga saja disana. Biar aku yang menyelesaikannya”, jawab laki-laki bersuara lembut yang datang bersamanya.

Seungcheol mendengar percakapan beberapa orang disekitarnya samar. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan merasakan tubuhnya yang terikat kencang disebuah kursi dengan lakban yang menempel di mulutnya.

“Sudah bangun tuan Choi Seungcheol”, ujar Minhyun saat Seungcheol membuka matanya.

“Terkejut melihatku? Hahaha”, lanjut Minhyun ketika Seungcheol terkejut melihat dirinya.

“Sesak ya? Bagaimana rasanya tidak berdaya seperti ini? Kau bisa merasakannya bagaimana aku saat kau membullyku sewaktu SMA?”, ujar Minhyun kemudian menendang tulang kering kaki Seungcheol.

“Ugh”, gumam Seungcheol.

“Ah iya maaf, aku lupa melepasnya”, Minhyun pun menarik kasar lakban di mulut Seungcheol. “Sudah lebih baik?”

“Apa yang kau inginkan Hwang Minhyun?”, tanya Seungcheol.

“Aku? Yang ku inginkan? Hahahahahahahahaha”, Minhyun tertawa mendengar pertanyaan Seungcheol. “Tentu saja yang kuinginkan kau segera pergi ke neraka”

“Kau yang seharusnya pergi ke neraka Hwang Minhyun”, bentak Seungcheol.

“Hahahahaha”, Minhyun tertawa.

“HENTIKAN HWANG MINHYUN”, sebuah bentakan muncul dari arah belakang Minhyun yang membuatnya dan Seungcheol menoleh. Minhyun terkekeh saat melihat Jeonghan muncul.

“Yak! Apa yang kau disini bocah bodoh”, bentak Baekho.

“Aku bukan kaki tanganmu lagi Baekho-ssi. Aku akan menjalani hidupku sendiri. Bukan kau yang mengatur hidupku lagi”, jawab Jeonghan dengan sebuah tongkat besi di tangannya.

“Baekho-ssi katamu? Wahhhh kau cari masalah ya?”, ujar Baekho kemudian memberi kode kepada anak buahnya. Dengan perintah Baekho, para anak buah Baekho pun segera mengepung Jeonghan. Bukan hal yang sulit bagi Jeonghan untuk melawan anak buah Baekho ya notabene hanyalah orang-orang yang tidak terlalu pintar berkelahi, mereka hanya pintar menggertak. Begitu menurut Jeonghan. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk menghabisi anak buah Baekho yag mengepungnya.

“Heish si brengsek ini”, ujar Baekho kemudian melawan Jeonghan dengan tangannya sendiri.

“Kau akan berakhir disini Yoon Jeonghan”, ujar Baekho disela serangannya pada Jeonghan.

“Kau yang akan berakhir Baekho-ssi”, ujar Jeonghan kemudian memberikan pukulan keras ke kepala Baekho hingga Baekho terhuyung kelantai. Setelah menghabisi Baekho, Jeonghan beranjak mendekati Minhyun.

“Wahhh apa ini? Apakah ini yang dinamakan pengorbanan cinta? Hahaha lucu sekali”, ujar Minhyun sambil menatap Jeonghan tajam.

“Lepaskan dia, Hwang Minhyun-ssi”, ujar Jeonghan sambil menodongkan pistol yang ia sembunyikan didalam jaketnya. Minhyun terkekeh kemudian berjalan mendekati Jeonghan.

“Kau sudah bosan hidup ya Yoon Jeonghan?”, tanya Minhyun.

“Lepaskan dia atau aku akan menembakmu”, ancam Jeonghan.

“Kau lupa siapa yang menyuruhmu untuk membunuhnya? Dan sekarang kau malah melawan balik? Hahaha”, ujar Minhyun.

“Jeonghan-ah”, panggil Seungcheol. “Jadi ini maksud dari amplop di jaketmu itu?”

“Kau mengetahuinya?”, tanya Jeonghan dengan tatapan terkejut.

“Wahhh kau bahkan mengetahuinya Seungcheol-ssi?”, tanya Minhyun.

“Sudah cukup Hwang Minhyun-ssi”, teriak Jeonghan kemudian melepaskan peluru dari pistolnya kearah Minhyun.

“Aaagh”, erang Minhyun saat sebuah peluru menembak pahanya. Jeonghan langsung berlari mendekati Seungcheol dan melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.

“Dasar bodoh. Untuk apa sabuk hitam taekwondomu itu”, ujar Jeonghan.

“Jeonghan-ah”, panggil Seungcheol.

“Cepat pergi dari sini Seungcheol-ah”, suruh Jeonghan.

“Tapi..”

“Cepat pergi”, bentak Jeonghan. Tanpa mereka sadari, Minhyun meraih pistol yang ada di saku jasnya kemudian menarik pelatuknya.

“Kau harus mati!!!!”, teriak Minhyun. Jeonghan dan Seungcheol sontak menoleh kearah Minhyun. Dengan cepat Jeonghan mendekap Seungcheol hingga sebuah peluru tertembak ke punggungnya.

“Cepat.. Pergi dari sini.. Choi Seungcheol”, rintih Jeonghan.

“Jeonghan-ah kau.. Tidak aku harus membawamu pergi juga”

“Tidak. Kau yang harus pergi. Sebentar lagi polisi akan datang”

“Tapi Jeonghan-ah”, ujar Seungcheol sambil menahan tubuh Jeonghan.

“Aku mencintaimu. Hiduplah sebagai laki-laki kuat yang kukenal. Terima kasih untuk semuanya, Seungcheol-ah”, ujar Jeonghan sambil tersenyum. “Cepatlah pergi”

“Jeonghan-ah maafkan aku”, ujar Seungcheol kemudian berlari keluar dari gedung tua itu.

Jeonghan meraih pistolnya kemudian berjalan pelan mendekati Minhyun.

“Kau yang harusnya mati, Hwang Minhyun-ssi”, ujar Jeonghan yang kembali menembak Minhyun hingga ia tak sadarkan diri. Jeonghan berjalan sambil menahan sakitnya keluar dari gedung dan menghempaskan tubuhnya di sebuah gang sempit yang sepi.

“Hong Jisoo”, Jeonghan menyambungkan panggilan pada Jisoo.

“Jeonghan-ah kau baik-baik saja?”, tanya Jisoo diujung telepon.

“Aku.. Aku akan mengakhiri semuanya sekarang. Trima kasih Jisoo-ya”, rintih Jeonghan yang tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

-ALL OVER-

 Beberapa jam sebelum kejadian.

“Tuan Hong”, panggil sekretaris Lee saat memasuki ruang kerja Jisoo.

“Ya sekretaris Lee? Sudah selesai?”, tanya Jisoo yang sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya.

“Sudah tuan. Ini identitas, passport, visa, rekening tabungan, dokumen rumah dan mobil yang tuan pesan. Jika ada lagi yang anda butuhkan saya ada didepan”, ujar sekretaris Lee kemudian sedikit membungkukkan punggungnya dan keluar dari ruangan Jisoo. Jisoo membuka amplop yang diberikan sekretaris Lee dan membacanya.

“Yoon Cheonsa”, gumamnya kemudian tersenyum. Ia meraih ponselnya dan menyambungkan sebuah panggilan.

“Jeon Wonwoo”, panggil Jisoo.

“Ya Jisoo hyung. Ada apa?”, tanya Wonwoo dari seberang telepon.

“Aku ada pekerjaan untukmu”, ujar Jisoo.

“Pekerjaan apa hyung?”, tanya Wonwoo.

“Kau tahu Baekho?”, tanya Jisoo balik.

“Baekho? Aaaaaah ya aku tahu. Dia buronan hyung. Sulit sekali untuk menangkapnya. Kenapa? Kau ada info tentangnya?”, jawab Wonwoo bersemangat.

“Tentu saja”, ujar Jisoo sambil tersenyum.

“Benarkah?”, tanya Wonwoo antusias.

“Iya. Kau ingat Jeonghan? Yoon Jeonghan?”, tanya Jisoo.

“Jeonghan noona? Eh tidak maksudku Jeonghan hyung? Aku kenal dia. Dia sunbaeku saat taekwondo dulu. Apa hubungan hyung dengannya?”, tanya Wonwoo balik.

“Selamatkan Jeonghan, maka kau akan bertemu Baekho”, ujar Jisoo.

“Wahhh kau serius hyung?”, tanya Wonwoo.

“Aku serius. Aku sudah memang GPS pada pakaian Jeonghan. Akan kukirimkan sambungan GPSnya padamu dan lakukan tugasmu sebagai polisi. Kau bisa?”, ujar Jisoo sambil menyalakan PC diruangannya.

“Tentu saja. Ngomong-ngomong terima kasih hyung”, ujar Wonwoo.

“Okey, akan kukirimkan padamu sekarang”, ujar Jisoo kemudian memutus panggilan teleponnya dengan Wonwoo. Jisoo kemudian berjalan keluar dari ruangannya untuk menghampiri sekretaris Lee.

“Sekretaris Lee”, panggil Jisoo sambil memunculkan kepalanya dari balik pintu.

“Ah iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?”, jawab sekretaris Lee.

“Bisa masuk sebentar kedalam?”, tanya Jisoo sambil memamerkan deretan gigi rapinya.

 –ALL OVER-

5 tahun kemudian.

“Ibu, aku berangkat ya”, ujar seorang gadis dengan seragam kantornya yang kini sedang berlari ditangga rumahnya.

“Makan sarapanmu dulu”, ujar laki-laki yang biasa ia panggil oppa yang kini sedang asik mengolesi roti tawarnya dengan selai cokelat.

“Malaikat kecil eomma kenapa terburu-buru, ayo makan sarapanmu dulu”, ujar sang ibu pada anaknya itu.

“Okey okey. Terima kasih oppa hihi”, ujar si gadis itu sambil menyomot roti tawar yang sedang dipegang oppanya itu.

“Yak!”

“Sampai jumpa nanti sore”, ujar si gadis itu kemudian berjalan keluar dari rumahnya. Ia memacu mobilnya dalam kecepatan sedang menuju gedung salah satu rekan perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan dimana ia bekerja.

“Aish aku bisa terlambat. Dasar Hong Jisoo payah kenapa baru mengabari pagi ini jika jadwalnya dimajukan”, gerutu gadis itu. Ia berjalan memasuki lobby kantor dan memencet tombol lift. Berkali-kali ia melirik jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Tak terlalu lama pintu lift terbuka dan ia bergegas memencet tombol lantai 5.

“Selamat pagi, bisa saya bertemu dengan Presdir?”, sapa gadis itu pada seorang yang berada di meja customer service.

“Ah dari Hotel King Crown ya?”, tanya orang itu.

“Ya benar”, jawab gadis itu.

“Baiklah. Silahkan ikuti saya. Presdir sudah menunggu”, jawab seseorang staff yang berada dibalik meja customer service itu.

“Ah benarkah? Apa dia orang yang baik?”, tanya gadis itu.

“Tenang saja. Presdir orang yang santai nona”, jawab staff itu.

“Ah baguslah hehe”, ujar gadis itu.

“Presdir, directur dari Hotel King Crown sudah datang. Silahkan masuk nona”, ujar staff itu mempersilahkan masuk.

“Terima kasih”, ujar gadis itu kemudian masuk keruangan.

“Selamat pagi. Maaf sebelumnya saya agak terlambat” sapa gadis itu.

“Tidak apa-apa. Silah…. Yoon Jeonghan?” ujar sang presdir yang terkejut saat melihat gadis itu masuk ke ruangannya.

“Lama tidak bertemu, presdir Choi” sapa Jeonghan sambil tersenyum.

“Kau.. Kau ternyata masih hidup?” ujar Seungcheol sambil berjalan mendekati Jeonghan.

“Ah maaf sebelumnya aku belum memperkenalkan diri. Perkenalkan saya Yoon Cheonsa, executive directur dari Hotel Clown King. Senang bertemu dengan anda Presdir Choi Seungcheol” sapa Jeonghan yang memperkenalkan diri dengan identitas baru di kehidupan barunya,Yoon Cheonsa.

END

Haloooo hehehe ini first ff ya yang di post disini ^^

Don’t be a silent reader ya gaessss ^^

Ditunggu buat kritik dan sarannya. Gomawo ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshoot] All Over

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s