[Chapter 1] Mistake

MISTAKE.jpg

Previous Chapter

Prologue

 

Jeonghan menatap Seungcheol yang ada disebelahnya. Sengcheol tengah duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru Matematika mereka. Sesekali Seungcheol menulis hal yang menurutnya penting. Dan Jeonghan, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sengcheol. Seakan ada magnet yang menariknya untuk terus menatap pemuda itu.

 

“Ada apa, Jeonghan? Kenapa terus – terusan menatapku?”

 

Jeonghan tersentak, ia segera mengalihkan pandangannya. “Tidak, hanya saja aku belum begitu terbiasa denganmu yang duduk disebelahku.”

 

Jeonghan sebelumnya tidak sebangku dengan Seungcheol, namun dengan seenaknya Seungcheol meminta teman sebangku Jeonghan untuk pindah tempat dengan teman sebangku Seungcheol. Jeonghan tentu saja merasa tidak enak hati, namun Seungcheol selalu berkata tidak apa – apa. Namun, tetap saja Jeonghan meminta maaf kepada teman sebangkunya tersebut.

 

“Jeonghan, kita sudah 3 minggu bersama. Kau belum terbiasa juga?”

 

Jeonghan mengangguk, “Maaf. Kau tahu bukan bahwa aku tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya.”

 

Seungcheol tersenyum tipis. Ia menggapai tangan Jeonghan yang berada dibawah meja, menggenggamnya pelan. Seungcheol berbisik, “Biasakanlah, karena aku sekarang kekasihmu.”

 

Jeonghan bersemu merah mendengar perkataan Seungcheol. Melihat hal itu membuat Seungcheol tersenyum tipis. Ia kemudian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jeonghan. Seungcheol kembali fokus pada pengajar Matematika yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Sedangkan Jeonghan melirik kearah Seungcheol sekilas, sembari menetralkan detakan jantungnya.

.

.

MISTAKE

Storyline by Sannihyun

Choi Seungcheol & Yoon Jeonghan

.

.

Seungcheol adalah murid yang populer di sekolah itu. Namun, Seungcheol adalah pemuda yang suka membuat onar. Dulu sebelum ia berpacaran dengan Jeonghan, Sengcheol merupakan murid yang jarang masuk kelas. Presensi masuknya hanya bisa dihitung jari. Seungcheol lebih senang menghabiskan waktu sekolahnya untuk menemui Doyoon—sang mantan kekasih yang bersekolah di sekolah seni dan gedungnya bersebelahan dengan sekolah Seungcheol. Selain itu, ia juga suka berkelahi dengan sekolah lain bahkan temannya sendiri. Sudah berpuluh – puluh kali Seungcheol di skors, di bawa ke ruang konseling, bahkan sampai orang tuanya dipanggil. Namun, Seungcheol tak pernah jera. Satu – satunya hal yang membuat Seungcheol masih bisa bertahan adalah karena dia adalah namja yang pintar. Ya, dibalik semua kelakuan buruknya, Seungcheol adalah pemuda yang pintar.

 

Semenjak Seungcheol memiliki Jeonghan sebagai kekasihnya, Seungcheol menjadi sangat rajin mencatat dan masuk kelas. Pada awalnya karena Jeonghan yang meminta Seungcheol untuk lebih giat belajar karena mereka sudah memasuki tingkat akhir. Seungcheol—tanpa berpikir panjang menyetujui perkataan Jeonghan. Semua orang mengenal Seungcheol sebagai pemuda bebal dan susah diatur, namun semenjak kehadiran Jeonghan, Seungcheol tak pernah lagi membolos atau berkelahi.

 

Ya, karena Jeonghan.

 

“Sepertinya Seungcheol benar – benar serius denganmu.” Jeonghan menatap Jisoo—teman terdekatnya. Jisoo bersekolah di sekolah yang sama dengan Doyoon—mantan pacar Seungcheol.

 

Jeonghan dan Jisoo kini tengah berbincang di kamar Jisoo. Rumah keduanya bersebelahan, mudah bagi Jeonghan untuk sekedar bermain di rumah sahabatnya tersebut. Jeonghan menatap Jisoo yang tengah bermain dengan gitarnya.

 

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” tanya Jeonghan.

 

Jisoo tersenyum, “Saat bersama Doyoon bahkan dia sering membolos. Padahal Doyoon sudah memarahinya berkali – kali.”

 

Jisoo dan Doyoon memang cukup dekat. Keduanya berada dalam kelas yang sama. Jadi, Jeonghan tidak kaget ketika Jisoo tahu tentang Seungcheol.

 

“Itu karena ia ingin melihat Doyoon dan menemaninya. Karena sekarang Seungcheol dan aku satu sekolah dan satu kelas, jadi dia harus masuk kelas jika ingin bertemu denganku.”

 

Jisoo menganggukkan kepalanya, “Masuk akal juga. Tapi bisakah kita mengambil segi positifnya disini, Han? Saat dua minggu pertama kalian berpacaran, bahkan Seungcheol absen 10 hari. Baru saat kau memintanya untuk lebih rajin masuk kelas, dia melakukannya. Bahkan perkataan Doyoon tak diindahkan oleh Seungcheol.”

 

“Jangan membuatku melayang.” ujar Jeonghan bercanda. “Kau sedang membuat sebuah lagu?”

 

“Tidak, aku hanya mengaransemen beberapa lagu untuk weekly report nanti.” jawab Jisoo sambil tersenyum. “Kau tidak memiliki tugas, Han?”

 

“Aku sudah mengerjakan semuanya.”

 

“Kau tidak bersiap – siap berangkat? Sekarang sudah pukul 4 sore, Han.”

 

Mendengarnya Jeonghan segera bangkit, ia menatap jam dinding yang berada di kamar Jisoo. Mata Jeonghan membulat, “Kenapa kau baru bilang?!”

 

Jisoo hanya tertawa melihat Jeonghan yang panik. “Selamat berkencan, Yoon Jeonghan.”

.

.

Jeonghan menatap tangannya dan tangan Seungcheol yang sedari tadi bertautan erat. Jeonghan dan Seungcheol kali ini memutuskan untuk berkencan di dekat Sungai Han. Bukan tempat yang mewah memang, namun Jeonghan sangat menyukainya.

 

“Apa kau kedingingan, Han?”

 

Jeonghan menatap Seungcheol, kemudian menggeleng pelan. “Tidak, sepertinya kau yang kedinginan. Kau tidak membawa jaketmu.”

 

“Aku baik – baik saja.” Seungcheol tersenyum kearah Jeonghan. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Kau ingin membeli coklat panas?”

 

Jeonghan mengangguk mendengar tawaran Seungcheol. Seungcheol menyuruh Jeonghan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di samping sungai Han. Jeonghan nmenyetujuinya. Seungcheol menyempatkan untuk mengusap kepala Jeonghan lembut. Ia kemudian berlari untuk membeli coklat panas untuknya dan Jeonghan.

 

Sembari menunggu Seungcheol, Jeonghan mengeluarkan ponselnya. Banyak sekali notifikasi pesan yang masuk. Salah satunya adalah dari Jisoo. Pemuda itu menanyakan tentang keberadaan Jeonghan, apakah Jeonghan sudah bersama Seungcheol atau belum. Jeonghan membalasnya. Ia menceritakan semuanya, termasuk apa yang sedang ia lakukan. Jeonghan dan Jisoo terus bertukar pesan hingga Seungcheol datang. Ia memberikan satu gelas coklat panas untuk Jeonghan.

 

“Menunggu lama?”

 

Jeonghan menggeleng sembari tersenyum, “Tidak. Aku ditemani oleh Jisoo, ia menanyakan apa yang sedang kulakukan.”

 

“Ah, Hong Jisoo?” tanya Seungcheol. Jeonghan kembali mengangguk. “Aku sedikit mengenalnya, aku sering bertemu dengannya.”

 

“Ya, karena kau sering pergi ke sekolah Jisoo dan yang pasti kelasnya.” ujar Jeonghan.

 

Seungcheol menatap Jeonghan, “Jisoo bercerita banyak tentangku saat aku masih bersama Doyoon?”

 

“Yah, lumayan banyak. Dia bercerita bahwa kau sering membolos untuk menemani Doyoon, aku mengerti sekarang. Karena kau suka sekali melewatkan jam sekolahmu, aku kira kau malas sekolah. Lalu Jisoo juga bercerita tentang kau yang pandai rapping dan membuat lirik rap untuk tugas Doyoon.”

 

Jeonghan melihat wajah Seungcheol, namun ia tak bisa membaca ekspresi wajah pemuda tersebut. Jeonghan mengalihkan pandangannya pada sungai Han yang terhempas dihadapannya. Jeonghan meminum sedikit coklat panas yang ada di dalam gelas yang ia pegang.

 

“Kau pasti benar – benar mencintai Doyoon. Kau bahkan rela membolos hanya untuknya.” lirih Jeonghan.

 

“Hei, kau sadar siapa dirimu sekarang Jeonghan?” tanya Seungcheol.

 

Jeonghan menatap pemuda yang ada disebelahnya dengan pandangan bertanya, “Apa maksudmu?”

 

“Kau sekarang kekasihku. Dan Doyoon hanya bagian dari masa laluku.”

.

.

Seungcheol memarkirkan motornya di tempat yang kosong. Saat ia hendak berjalan menuju gedung sekolahnya, seseorang menarik tangannya. Seungcheol menatap nyalang kepada sosok yang menariknya, namun Seungcheol tak memberontak. Keduanya sampai disebuah gedung sekolah yang takdigunakan. Sosok itu melepaskan cengkraman tangannya pada Seungcheol.

 

“Choi Seungcheol. Hentikan sandiwaramu itu.”

 

Seungcheol memandang seorang pemuda yang ada didepannya, “Apa maksudmu?”

 

“Lepaskan pemuda itu.” ujar sosok itu dingin. “Aku tahu kau tak bersungguh – sungguh menyukainya. Sadarkah kau telah melukainya?”

 

“Jeonghan maksudmu?” tanya Seungcheol memastikan, “Aku tak akan melepaskannya.”

 

Pemuda didepan Seungcheol menggeram marah. “Tak kan kubiarkan kau melukainya. Jika kau melakukannya aku benar – benar akan membunuhmu, Choi.”

 

Seungcheol tertawa. Ia menatap remeh pada pemuda itu, “Siapa kau? Apa yang kau punya? Aku kekasih Jeong—“

 

BUGH! Si pemuda itu memukul wajah Seungcheol telak. Membuat Seungcheol terselungkur ke tanah. Seungcheol tertawa meremehkan, membuat amarah si pemuda memuncak hingga ia memukul Seungcheol berkali – kali. Tangannya terus memukul wajah Seungcheol hingga wajah tersebut membiru dan berdarah, namun si pemuda tak berhenti. Ia mulai menendang Seungcheol, wajah hingga peru Seungcheol tak luput dari tendangannya.

 

“Brengsek! Kau tak pantas memanggil dirimu sebagai kekasihnya!”

 

Seungcheol tak melawan sama sekali, yang ia lakukan hanya diam menerima pukulan dan tendangan dari pemuda tersebut.

 

“Bangsat! Kenapa kau diam saja!”

 

Pemuda itu menendang perut Seungcheol dengan keras, setelah itu ia berhenti. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Ia menatap Seungcheol dengan mata elang yang menukik tajam. Sedangkan Seungcheol terkapar dengan darah yang memenuhi wajahnya dan jangan lupakan rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.

 

“Ap—apahhh kauhh su—sudaa—ahh puashh?” Seungcheol bertanya dengan terbata – bata. Ia menatap pemuda yang masih mengatur nafasnya.

 

Pemuda itu tak menjawab pertanyaan Seungcheol, ia malah mengambil ponselnya dari saku seragamnya. Ia mencari kontak seseorang dan menelponnya. “Jeon Wonwoo, datanglah ke gedung sekolah yang tak digunakan. Sekarang.” Ia memutuskan sambungan tersebut secara sepihak. Kemudian matanya beralih pada Seungcheol yang tergeletak dan meringis di lantai yang kotor. “Kau tahu, dia tidak sama dengan mantan kekasihmu.” ujarnya dengan intonasi dingin kemudian meninggalkan Seungcheol sendiri.

.

.

Jeonghan mulai khawatir. Bel masuk akan berbunyi 3 menit lagi dan Jeonghan belum melihat Seungcheol. Saat kekhawatiran Jeonghan mencapai puncak, ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Seungcheol. Namun taka da jawaban.

 

Jeonghan menghela nafas pelan, “Apakah dia bolos?”

 

Sebuah notifikasi pesan masuk. Jeonghan membukanya, matanya membulat karena terkejut. Jeonghan segera bangun dan berlari sekencang mungkin. Ia berlari menuju sebuah gedung yang tak digunakan di sekolah. Seseorang mengirim pesan padanya dengan melampirkan foto Seungcheol yang tergeletak dengan luka lebam di wajahnya. Melihat foto tersebut membuat Jeonghan khawatir—sangat khawatir.

 

Saat Jeonghan sampai disana, ia segera masuk. Ia menemukan Seungcheol tengah tertidur, menggunakan paha seorang pemuda lain sebagai alasnya. Pemuda itu melihat Jeonghan, ia adalah Jeon Wonwoo anak kelas 2.

 

“Kau sudah datang.” ujarnya. “Kemarilah, gantikan aku.”

 

Jeonghan mengangguk. Ia menghampiri Wonwoo tersebut. Kini Seungcheol tertidur dengan paha Jeonghan sebagai alasnya. Jeonghan menatap wajah Seungcheol. Wajah tampan tersebut penuh dnegan luka, lebam membiru yang sangat kentara.

 

“Ah, aku belum mengenalkan diri, Jeonghan—ssi.” Wonwoo angkat bicara, “Aku adalah Jeon Wonwoo, kelas 2.”

 

Jeonghan tersenyum, “Aku tahu. Aku sering melihatmu bersama Seungcheol.”

 

Ya, Jeonghan memang sering melihat Wonwoo berbicara dan berjalan bersama Seungcheol. Namun, ia tak pernah tahu Seungcheol dan Wonwoo memiliki hubungan apa. Apa mereka adalah sekedar sunbae dan hoobae, atau bersaudara, Jeonghan tak tahu.

 

“Aku adalah adik angkat Seungcheol—hyung.” ujar Wonwoo.

 

Wonwoo seakaan dapat membaca pikiran Jeonghan. Jeonghan menatap Wonwoo, ia sama sekali tak mengetahui fakta tersebut. Seungcheol cukup populer di sekolah mereka, namun sama sekali tak ada orang yang tahu hal tersebut. Wonwoo mengulas senyum tipis kearah Jeonghan.

 

“Hampir semua orang tidak mengetahuinya.” ucap Wonwoo. “Aku yang meminta Seungcheol—hyung untuk merahasiakannya. Kau tahu bukan Seungcheol—hyung memiliki banyak fangirl aku tak ingin diikuti mereka juga.”

 

Jeonghan terkekeh, “Kau benar. Seungcheol memiliki banyak orang yang menyukainya.”

 

Wonwoo melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya. “Sepertinya aku harus kembali ke kelas, karena setelah ini aku ada ulangan Fisika. Apakah baik – baik saja aku meninggalkan kalian berdua?”

 

Jeonghan menangguk, “Serahkan Seungcheol padaku. Aku akan menjaganya.”

 

“Terima kasih, Jeonghan—ssi.”

 

“Kau bisa memanggilku, hyung jika kau mau. Mendengarmu memanggilku terlalu formal seperti itu menggelikan.”

 

Wonwoo mengangguk. Kemudian ia berpamitan meninggalkan Jeonghan dan Seungcheol. Mata Jeonghan kini melihat kearah Seungcheol yang masih terlelap di atas pahanya. Jeonghan mengusap rambut Seungcheol dengan lembut, berusaha untuk tidak membangunkan Seungcheol. Jeonghan menatap kekasihnya dengan pandangan miris, bagaimana tidak? Lihat saja wajah tampan Seungcheol kini dihiasi oleh luka – luka dan bercak darah yang mulai mengering. Seharusnya Jeonghan membawa obat – obatan kemari jika ia tahu keadaan Seungcheol.

 

“Sebenarnya ada apa denganmu, Seungcheol—ah?”

.

.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, hal itu membuat Seungcheol terbangun. Ia terkejut ketika ia membuka matanya, bukan Jeon Wonwoo yang ada bersamanya namun Jeonghan—kekasihnya. Seungcheol perlahan bangkit dari paha Jeonghan, ia menatap pemuda dengan rambut panjang sebahu itu. Tak berapa lama kemudian Jeonghan ikut terbangun. Ia tersentak ketika melihat Seungcheol sudah duduk disebelahnya dengan senyuman manis terhias dibibirnya.

 

“Kau sudah bangun?” tanya Jeonghan. “Apa kau baik – baik saja? Bagian tubuhmu yang mana saja yang terasa sakit? Atau kau membutuhkan sesuatu? Aku—“

 

“Diamlah, Yoon Jeonghan.” ujar Seungcheol sembari menggenggam tangan Jeonghan. Seungcheol mengecup punggung tangan Jeonghan sekilas. “Kenapa kau bisa ada disini?”

 

“Wonwoo mengirim pesan padaku. Ia juga melampirkan fotomu tergeletak dengan semua luka ini disini. Tanpa berpikir dua kali aku segera kemari.”

 

Seungcheol tersenyum, “Terima kasih kau sudah datang, Han.”

 

Jeonghan membalas senyuman Seungcheol. “Jeon Wonwoo ternyata adalah adik angkatmu, aku baru mengetahuinya.”

 

“Wonwoo yang memberitahumu?”

 

Jeonghan mengangguk, “Ya, dia memberitahuku. Aku kira kalian berdua adalah sahabat dekat, atau mungkin tetangga. Aku tidak menyangkanya.”

 

“Wonwoo menyuruhku untuk tutup mulut.” ujar Seungcheol. “Kau tidak marah kan karena aku tidak memberitahumu hal itu?”

 

Jeonghan terkekeh pelan, “Untuk apa aku marah? Wonwoo sudah menjelaskannya padaku, aku tidak marah padamu. Aku mengerti.”

 

Seungcheol kembali tersenyum. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Jeonghan. “Kau tidak ingin bertanya kenapa aku bisa babak belur seperti ini?”

 

Jeonghan menatap Seungcheol. “Aku ingin mengetahuinyaa. Akan tetapi aku tidak memaksamu untuk bercerita.”

 

“Ada seseorang yang menyukaimu, dia memukulku karena merebutmu darinya. Jangan bertanya siapa dia Jeonghan, kumohon.”

 

Jeonghan terkejut.

 

“Aku tidak ingin memberi tahumu, kau pasti akan berubah canggung dengannya. Karena aku pikir dia dekat denganmu. Tak apa, Jeonghan. Dia tidak akan melakukan hal ini lagi.”

 

.

.

Seungcheol membuka matanya perlahan. Setelah kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya, ia bangkit dan berjalan menu kamar mandi. 15 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan memakai seragam sekolahnya. Ia menyambar tas ransel yang ada di meja belajarnya dan beranjak keluar. Ia melihat Wonwoo juga baru saja keluar dari kamarnya.

 

“Bagaimana keadaanmu, hyung?”

 

Seungcheol tersenyum, ia mengusap pundan Wonwoo. “Baik – baik saja. Sepertinya kau pulang larut tadi malam.”

 

Wonwoo mengangguk, “Aku menegur orang yang memukulmu kemari.”

 

Seungcheol menatap adiknya terkejut. “Ya! Kau bodoh atau apa, Wonwoo? Apa yang ia lakukan padamu? Kau seharusnya tak menemuinya.”

 

“Dia memperlakukanku seperti biasanya, hyung.” ujar Wonwoo, “Sudahlah, hyung. Sebaiknya kita berangkat sekolah sebelum terlambat.”

 

Seungcheol menghela nafas pelan. Ia melirik kearah jam yang tergantung di dinding, ini masih terlalu pagi dan jarak sekolah mereka hanya 10 menit ditempuh dengan motor. Jelas saja Wonwoo hanya beralasan. Seungcheol memilih untuk mengalah, ia memilih mengangguk dan berjalan mendahului adiknya. Kedua orangtua mereka tengah melakukan business trip dengan rekan satu perusahaan Ayahnya. Jadi, hanya ada Seungcheol dan Wonwoo dan beberapa maid dirumah besar itu. Seungcheol mengambil kunci mobilnya, namun Wonwoo mencegahya.

 

“Untuk apa memakai mobil, hyung?”

 

Seungcheol menatap Wonwoo, “Kita berangkat bersama.”

 

“Hyung, kau tahu bukan aku—“

 

“Tidak ada bantahan, Wonwoo.” ujar Seungcheol final. “Kita sudah 3 tahun menjadi saudara, dan sampai kapan kau akan menyembunyikan fakta ini? Kenapa? Aku tahu alasanmu bukan karena perempuan – perempuan itu.”

 

Wonwoo menghela nafas, “Sudahlah, hyung. Aku tidak ingin membahasnya.”

 

“Kenapa? Katakan padaku.”

 

“Hyung, sudahlah. Aku benar – benar tidak ingin membahasnya.”

 

Wonwoo menatap Seungcheol dingin. Ia segera mengambil kunci motor miliknya dan keluar dari rumah itu. Seungcheol menghela nafasnya kasar. Ia mengembalikan kunci mobilnya dan mengambil kunci motor yang biasa ia gunakan. Saat ia keluar dan mengunci pintu, ia dapat melihat Wonwoo sudah keluar dari gerbang rumah mereka tanpa melihat kearah Seungcheol lagi.

 

Seungcheol membiarkannya. Ia berjalan menuju garasi rumah itu, ia menaikki motornya keluar dari halaman rumahnya. Belum sampai 10 meter ia keluar dari rumah, sebuah mobil menghadang jalannya. Hal itu membuat Seungcheol menghentikan motornya secara mendadak, ia membuka helm yang dipakai olehnya. Seungcheol sangat mengenal mobil siapa itu. Seseorang keluar dari mobil berwarna hitam itu, memandang kearah Seungcheol.

 

“Jang Doyoon.”

.

.

Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, namun Jeonghan belum melihat Seungcheol sama sekali. Ia merasa seperti déjà vu. Apakah sesuatu terjadi pada Seungcheol lagi? Apakah ada yang memukul Seungcheol lagi? Jeonghan mengegelengkan kepalanya. Ia membuang pikiran buruknya tentang apa yang terjadi pada Seungcheol. Hei, Seungcheol bisa berkelahi, pasti ia bisa melawan orang itu. Jeonghan mengambil ponselnya, ia mengirim pesan pada Seungcheol untuk berhati – hati.

 

Seseorang menghampiri Jeonghan. Dia adalah Kim Taehyung salah satu teman satu kelasnya. Jeonghan menatap Taehyung yang mendekat kearahnya.

 

Taehyung tersenyum kearah Jeonghan, “Jeonghan, aada seorang adik kelas yang mencarimu. Dia memanggilmu sedari tadi, tapi sepertinya kau tak mendengarnya.”

 

“Ah, maaf aku terlalu fokus.” sesal Jeonghan. “Dia siapa?”

 

“Kim Mingyu, dia menunggumu diluar.”

 

Jeonghan mengangguk, ia berterima kasih kepada Taehyung dan kemudian ia berjalan keluar kelasnya. Mingyu sedang bersandar pada tembok, Jeonghan menghampiri pemuda tinggi tersebut. Jeonghan menepuk pundaknya.

 

“Jeonghan—hyung!” sapa Mingyu dengan senangnya. “Aku mengembalikan bukumu, hyung. Aku sudah membaca semuanya.”

 

“Benarkah? Cepat sekali.” Jeonghan mengambil buku yang disodorkan oleh Mingyu. “Kau menyukainya?”

 

Mingyu mengangguk antusias, “Tentu saja aku sangat menyukainya. Ceritanya menengangkan, hyung.”

 

Jeonghan tersenyum melihat respon adik kelasnya tersebut. Mingyu merupakan adik kelasnya sewaktu menengah pertama dulu. Tanpa sengaja Mingyu menabrak Jeonghan yang tengah membawa tumpukan buku yang tinggi. Sebagai permintaan maaf Mingyu menemani Jeonghan dan membantunya membawa tumpukan buku – buku itu. Dan keduanya sama – sama gemar membaca, membuat Jeonghan dan Mingyu menjadi dekat.

 

“Lain kali aku akan merekomendasikan buku yang lain untukmu.”

 

Mingyu mengangguk, menyetujui perkataan Jeonghan. “Baiklah, aku permisi Jeonghan—hyung.”

 

Jenghan mengangguk sembari tersnyum, “Baiklah.”

 

Jeonghan menatap punggung Mingyu yang sudah tak terlihat lagi. Jeonghan kembali masuk dikelasnya, saat ia ingin duduk di bangkunya kembali, ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Lagi – lagi Jeonghan merasakan déjà vu. Namun, pemuda dengan rambut sebahu tersebut segera membuka pesan itu. Ia terdiam ketika isi pesan itu terpampang jelas di ponselnya.

 

‘Choi Seungcheol tengah berciuman dengan Jang Doyoon.’

.

.

Ketika bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu, dan seluruh teman sekelas Jeonghan sudah keluar dari ruang kelas, Jeonghan masih tetap disana. Seungcheol? Mengingat nama itu membuat Jeonghan menghela nafas. Ia marah tentu saja, melihat sebuah foto kekasihmu dengan mantan kekasihnya tengah berciuman pasti membuatmu marah. Dan Seungcheol pun tak masuk sekolah, bahkan pemuda itu tidak memberikan kabar apapun pada Jeonghan.

 

Jeonghan berpikir, kenapa ia bodoh sekali ketika ia menerima pernyataan cinta Seungcheol. Ia tidak mengetahui apa – apa tentang perasaan Seungcheol. Seungcheol bahkan baru berpisah dengan mantan kekasihnya, namun ia sudah meminta Jeonghan menjadi kekasihnya. Kenapa Jeonghan tidak pernah bertanya, ‘Apa kau sudah melupakan Doyoon?’ ‘Apa kau mencintaiku?’

 

Jeonghan terseyum miris. “Ia bahkan tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku.”

 

Ya, selama Seungcheol menjadi kekasihnya, ia tak pernah menyatakan bahwa ia mencintai Jeonghan seperti Jeonghan mencintai Seungcheol. Memang rasa cinta itu harus ada perwujudannya, semua perlakuan Seungcheol padanya sangat lembut dan indah. Namun, bisakah ia mendengar pernyataan cinta Seungcheol padanya?

 

“Bodoh.”

 

Jeonghan mendongak ketika mendengar seseorang berkata bodoh. Jeonghan sedikit tersentak ketika ia melihat Seungcheol sudah berjalan kearahnya. Nafas pemuda itu tersenggal – senggal, keringat mengucur deras. Jeonghan berdiri, ia menatap Seungcheol yang juga menatapnya.

 

“Apa yang kau lakukan disini, Yoon Jeonghan?”

 

Kini Seungcheol sudah berada dihadapan Jeonghan. Betapa Jeonghan ingin bertanya tentang apa yang terjadi pagi ini, bisakah ia menjelaskan foto yang Jeonghan terima dari nomor yang tak dikenal, dan Jeonghan juga ingin bertanya apakah Seungcheol mencintainya. Namun, Jeonghan tak bisa mengeluarkan semua itu. Jeonghan hanya tersenyum pada Seungcheol, dan menggeleng pelan.

 

“Aku hanya malas pulang, karena dirumahku taka da siapapun.” ujar Jeonghan. “Kau bisa tahu aku ada disini?”

 

Seungcheol mengangkat tangannya, mengusap rambut Jeonghan. “Aku kehilangan ponselku. Aku menggunakan ponsel Wonwoo dan menghubungi semua orang yang mungkin mengenalmu, karena ponselmu tidak aktif. Dan aku tadi menghubungi Taehyung yang kebetulan nomornya aku tulis disalah satu makalahku karena ia sekelompok denganku, dan dia berkata bahwa kau ada disini. Dan aku langsung saja menaikki motorku, setelah sampai aku berlari kemari.”

 

Jeonghan terkekeh, “Bicaralah pelan – pelan, Choi.”

 

“Kau bisa tertawa sedangkan aku mengkhawatirkanmu setengah mati?”

 

“Maafkan aku, Seungcheol. Aku mematikan ponselku karena baterainya sudah sekarat.”—tidak, aku hanya tidak ingin mendapat pesan tentangmu dan Doyoon lagi.

 

Seungcheol menghela nafas. Ia menarik tubuh Jeonghan kedalam rengkuhannya. Hal itu sontak membuat Jeonghan terkejut, namun ia tak memberontak. Jujur saja, ia dan Seungcheol tak pernah melakukan kontak fisik apapun selain berpegangan tangan dan Seungcheol yang mengecup punggung tangannya. Ia tak pernah berpelukan dengan Seungcheol, namun hal itu membuat Jeonghan merasa nyaman dan hangat.

 

“Maafkan aku, Jeonghan.”

 

Jeonghan diam, ia tidak bertanya untuk apa Seungcheol meminta maaf padanya. Namun perasaannya bertanya – tanya, apakah Seungcheol meminta maaf karena ia sudah mencium Doyoon yang notabene adalah mantan kekasihnya?

TO BE CONTINUED

Iklan

10 pemikiran pada “[Chapter 1] Mistake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s