[Part 1] My Dorky Crush

1452142155956[1]Author

Dee-kay

Cast(s)

Seventeen Woozi | Seventeen Mingyu | Han Hyosun (OC) | and others

Length

Chaptered

Genre

Romance | School Life | Teen

Rating

PG – 15

 “JH? Apa maksudnya?”

-Author POV-

Suara hujan bergemuruh membasahi atap halte tempat Hyosun meneduh. Gadis SMA yang hendak pulang ke rumahnya ini, terpaksa menghentikan langkahnya untuk meneduh di halte terdekat. Seragam yang ia kenakan sedikit basah akibat rintik hujan yang sempat membasahi saat ia berlari mencari tempat untuk meneduh.

-Hyosun’s POV-

Huft, sial. Kenapa tiba-tiba turun hujan? Dan kenapa aku bisa lupa membawa payung? Padahal rumahku sudah tak jauh dari sini. Tapi tak apalah, aku yakin hujan ini adalah suatu berkah dari Tuhan.

Hmm, dingin juga rupanya. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku pada kedua lenganku. Ya memang, seragamku sedikit basah. Oke, tidak apa-apa. Ini hanya basah sedikit. Aku masih bisa menahannya.

Tiba-tiba…

Splash!

Seorang laki-laki baru saja berlari di depanku. Dan buruknya, ia baru saja menginjak sebuah genangan air. Sekarang rok ku kotor terciprat oleh air genangan yang baru saja diinjak oleh seorang laki-laki yang kini berdiri di halte yang sama denganku. Oh, Tuhan. Cobaan apa lagi ini?

Aku menatap laki-laki berhoodie merah itu seraya mendesis kesal. Laki-laki mungil–yang tingginya setara denganku–itu menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda maaf. Ah, sudahlah. Untuk apa kau minta maaf? Ini sudah terjadi. Kalau saja kalimat itu bisa terucap dari mulut si pengecut seperti aku.

Tak lama setelah aku mengalihkan pandangan darinya, ia berdiri tepat di sampingku dan memberikan sebuah saputangan kepadaku. Aku sedikit terlonjak, namun aku mencoba mengontrol ekspresiku.

G-gomawoyo,” ucapku sedikit terbata seraya menerima saputangan itu. Kau tau? Situasi ini sangat canggung.

Aku melihat laki-laki itu tersenyum tipis, kemudian ia menjauh lagi memberikan jarak antara kami. Aku membersihkan noda pada rok ku menggunakan saputangan itu.

Aku dan laki-laki itu terlarut dalam diam di sela-sela gemuruh rintik hujan. Hingga akhirnya hujan mulai reda dan aku baru menyadari bahwa laki-laki itu sudah pergi seusai aku membersihkan rok ku. Ya, itu berarti ia meninggalkan saputangannya padaku. Ketika aku ingin melipat saputangan ke arah sebaliknya, disana terdapat sebuah bordiran kecil bertuliskan ‘JH’. JH? Apa maksudnya?


~My Dorky Crush~


“Ya ampun! Kamu kehujanan pasti,” Eomma segera menghampiri aku dengan membawa handuk kecil ketika aku baru saja menginjakkan satu langkah ke dalam rumah. Aku mengangguk, sembari aku mengambil handuk itu dan mengeringkan rambut ku yang agak lepek.

“Rokmu kenapa?” Eomma menatap heran ke arah rok ku yang masih tersisa sedikit noda disana.

“Itu…saputangan siapa?” sambungnya setelah melihat saputangan yang kugenggam sejak tadi.

“Panjang ceritanya,” jawabku sambil berlalu menuju kamarku. “Aku mau mandi dulu, Eomma. Nanti malam akan aku ceritakan.”

“Air panasnya sudah Eomma siapkan, ya,” sahutnya padaku yang kini telah masuk ke dalam kamar.

Ah, hari ini cukup melelahkan. Terimakasih, Eomma. Aku telah disambut dengan baik sore ini. Ditambah kau telah membuatkan air panas untukku. Aku menyesal sempat berpikir bahwa Eomma akan marah karena aku pulang terlambat.

Seusai mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang cukup hangat, aku menghampiri Eomma yang sedang menyiapkan makan malam. Aku duduk di meja makan kemudian menuangkan susu hangat yang telah Eomma siapkan di sebuah jar ke dalam sebuah gelas.

Eomma membawa mangkuk terakhir yang berisi sup rumput laut ke atas meja makan, kemudian ia duduk berhadapan denganku.

Mwoya, Eomma. Aku kan tidak berulang tahun, kenapa Eomma memasak sup rumput laut?”

“Haish, memangnya kenapa? Apa makan rumput laut hanya untuk yang berulang tahun?” jawabnya yang kemudian disusul dengan kekehan ku.

“Kamu belum cerita pada Eomma,” katanya sambil menuangkan beberapa sendok sup ke dalam dua mangkuk kecil.

Mworeul?” tanyaku sambil menuang susu ke gelas untuk yang kedua kalinya.

“Rokmu yang kotor. Saputangan itu,”

“Ah, itu,” aku memotong ucapanku dengan menyeruput susu yang baru saja selesai aku tuangkan. “Ada laki-laki yang menginjak genangan air dan mengenai rok ku selagi aku meneduh di halte tadi. Dia memberi aku saputangannya sebagai tanda maaf.”

“Kamu berkenalan dengannya?” aku menggeleng sambil meraih satu mangkuk kecil berisi sup rumput laut yang tadi Eomma tuangkan.

“Ah, jadi kamu belum tahu namanya? Lalu bagaimana kamu mau mengembalikan saputangan itu?”

“Di saputangan itu ada sebuah bordiran kecil bertuliskan ‘JH’. Mungkin itu inisial namanya,” lagi lagi ucapanku terpotong karena aku menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutku. “Mungkin aku akan kembali lagi ke halte itu besok. Barangkali ia ada di sekitar sana.”

Aku dan Eomma menyelesaikan makan malam sambil berbincang-bincang mengenai apapun. Mulai dari apa yang terjadi hari ini, sampai hal-hal konyol yang tidak masuk akal. Malam pun berlalu begitu cepat. Aku dan Eomma menyudahi makan malam kami kemudian pergi tidur.


~My Dorky Crush~


Sial! Jam berapa ini? Kenapa aku kesiangan?

Aku keluar rumah dengan berlari tergopoh-gopoh, bahkan tanpa mengikat tali sepatuku. Aku terus berlari bahkan melewati halte. Ya, tak ada waktu lagi untuk menunggu bus tiba. Aku terus berlari tanpa memperhatikan langkahku dan…

Bruk!

Ah, benar-benar sial! Kenapa aku menginjak tali sepatuku sendiri?

“Auw!” Pekikku saat melihat tempurung lututku yang terluka.

Ah. Masa bodoh. Aku tidak boleh melewatkan jam Bahasa Inggris hanya karena luka bodoh ini. Akupun mencoba untuk bangun walaupun terasa sedikit perih.

Gwenchanayo?” Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mencoba membantuku berdiri dengan mengangkat lenganku.

Aku menatap laki-laki itu. Laki-laki yang kemarin aku temui di halte. Laki-laki yang menciprat genangan air pada rok ku. Laki-laki yang memberikan saputangan padaku. Tapi, mengapa ia mengenakan seragam yang sama denganku? Aku belum pernah melihat dia di sekolah sebelumnya.

Ah, sudahlah. Aku tak ada waktu untuk memikirkan hal itu saat ini. Yang terpenting adalah aku harus sampai di sekolah sebelum bel berbunyi. Aku melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. Hah? 5 menit lagi!

Nae, gwenchanayo. Gomawoyo,” aku segera melepas tangan laki-laki itu dan mencoba untuk melanjutkan berlari. Tapi ia kembali meraih lenganku sehingga langkahku terhenti lagi.

“Kakimu berdarah,”

Arayo. Aku buru-buru, joesonghaeyo,” aku melepas genggamannya lagi, kemudian melanjutkan berlari menuju sekolahku.

Aneh. Jika ia benar bersekolah di sekolah yang sama denganku, kenapa ia tidak terburu-buru seperti aku? Ah, siapa peduli. Aku terus berlari menuju sekolah tanpa peduli luka yang sedari tadi terasa perih.

Beruntung, gerbang sekolah belum ditutup. Aku masih bisa masuk sekolah walau dengan sedikit teguran dari Ahjussi penjaga sekolah. Namun sialnya, Mr.Jay, guru bahasa Inggrisku, telah masuk kelas. Aku bisa melihatnya dari jendela kelas paling ujung.

“Ah, eotteokhae!” gerutuku pelan pada diriku sendiri. Aku tak mau masuk kelas. Semua murid tau bahwa Mr.Jay itu bukan guru yang ramah pada murid yang terlambat. Bisa habis aku jika aku berani masuk saat ia ada sudah ada di dalam terlebih dahulu.

Akupun berbalik arah dan melangkahkan kakiku dengan gontai menuju perpustakaan. Bagus. Perpustakaan sepi. Tentu saja. Semua murid ada di kelas. Hanya murid bodoh seperti aku yang pergi dari kelas untuk pergi ke perpustakaan.

Ya! Hyosun-ah!” panggil Ahjussi penjaga perpustakaan yang sudah mengenalku. “Kau tak masuk kelas?”

Aku menggeleng. “Mr. Jay. Ahjussi tau dia kan?”

“Ah, manusia killer itu,” gumamnya yang kemudian disambut oleh tawaku. “Itu pilihan yang bagus bila kau datang ke sini.”

Aku berjalan melewati rak-rak buku yang menjulang. Kakiku melangkah menuju rak yang berisi buku-buku sastra dan bahasa. Tanganku kemudian meraih sebuah kamus Oxford dan sebuah buku untuk latihan bahasa Inggris yang tak begitu tebal. Kemudian aku duduk di salah satu bangku yang berjejer di dalam perpustakaan dan menaruh buku-buku yang tadi kuambil di atas meja.

Sekitar tiga halaman telah kubuka, aku merasakan ada yang berjalan mendekat. Aku menoleh, dan benar saja. Laki-laki itu lagi. Senyum tersungging dari mulutnya yang sedang mengemut lollipop. Ia kemudian duduk di sampingku.

“Kau suka bahasa Inggris rupanya,”

N-nae,” jawabku singkat.

Aku mengalihkan pandanganku dan kembali membaca kamus. Sebenarnya, aku berpura-pura membaca kamus. Kini di otakku penuh tanda tanya, kenapa aku terus bertemu dengannya. Apa jangan-jangan, ia seorang penguntit?

“Apa kau…menguntitku?” Tanyaku hati-hati.

Aku melihatnya mengernyitkan dahi. Ya, aku tahu ia bingung dengan perkataanku. Akupun tak tahu kenapa pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku.

“Ah, gwenchanayo. Lupakan saja,” aku kembali mengalihkan pandanganku kepada kamus. Bodoh. Aku pasti terlihat sangat kikuk sekarang. Benar saja, kini aku bisa melihatnya tertawa kecil walau hanya dari ujung mataku.

“Ah, jamkamanyo,” aku teringat untuk mengembalikan saputangannya yang ia berikan padaku kemarin. Aku segera merogoh tasku untuk mengambil saputangan itu.

Ja. Gomawoyo,” kataku sambil menyodorkan saputangan itu kepadanya.

Ia tertawa. Hey, apa yang lucu?

“Berhentilah berbicara formal,” ujarnya. “Kita ada di angkatan yang sama.”

Hah? Yang benar saja. Aku bahkan belum pernah melihatnya di sekolah ini. Dan apa yang ia bilang barusan?

J-jinjjayo?” Ah bodoh. Hilangkan –yo! “Eh, jinjja?

Ia tertawa lagi. Ah, apakah aku ini terlihat seperti komedian atau apa?

Sebentar. Aku melihat name tag yang terpasang di rompinya.

“Jadi namamu Lee Jihoon?”

To be continued…

Iklan

16 pemikiran pada “[Part 1] My Dorky Crush

  1. Kyaaa Dorky Jihoon >< wakaka akhirnya nemu fanfic chaptered yang main castnya Jihoon.. huhu /lap ingus/
    Btw ku izin menjelajah my Dorky crush yaa ^^
    Dan aku suka bangett posternya, menggemaskan sekali😍😍

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s