[Part 2] My Dorky Crush

 

1452142155956[1]

Author

Dee-kay

Cast(s)

Seventeen Woozi | Seventeen Mingyu | Han Hyosun (OC) | and others

Length

Chaptered

Genre

Romance | School Life | Teen

Rating

PG – 15

[Read Part 1]

“Kecurigaanmu itu teralu berlebihan”

“Jadi namamu Lee Jihoon?”

Ia menjawabnya dengan senyuman yang kuanggap sebagai ‘iya’. Baiklah, aku akui senyuman itu yang membuatnya tampak lucu dan menggemaskan. Aku pun kemudian meresponnya dengan sebuah anggukan, “ah, geureohke.

Aku melihatnya merogoh sesuatu dari saku celananya. “Kau mau?” Tanyanya sambil menyodorkan satu lollipop yang masih terbungkus dengan plastik berwarna merah muda.

Ani, gwenchana,” aku tersenyum dan menolaknya dengan sopan. Namun kemudian ia membukakan plastik merah muda itu, dan menyodorkan lollipop yang sudah tak berbalut itu ke depan mulutku.

“Makanlah,”

Aku menoleh ke arahnya. Ia menatapku dengan tatapan ‘tidak apa-apa, makanlah’. Perlahan aku membuka mulutku dan melahap lolipop tersebut. Aku melihat senyum merekah dari bibirnya, dan juga eyesmile yang terbentuk dari mata sipitnya. Oh, Tuhan. Dia lucu sekali.

“Aku belum pernah melihatmu disini sebelumnya,” ujarku memberanikan diri untuk menguak segala ke-ingin tahu-an ku.

Ia tak menjawab. Tidak pula menoleh ke arahku.

“Apa kau murid baru?”

“Kenapa kau tak masuk kelas?” Ia balik bertanya kepadaku, terlihat seperti mengalihkan pembicaraan.

“Ah, itu, aku terlambat. Guruku sudah ada di dalam setelah aku sampai. Dan aku takut ia akan menghukumku jika ia tahu aku datang terlambat,” jelasku.

“Pelajaran apa yang kau lewatkan?”

“Bahasa Inggris,”

“Kukira kau suka bahasa Inggris,”

“Tentu saja aku suka,” aku menghela nafas. “Tapi kau tau kan, Mr. Jay?”

Kulihat Jihoon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah ia mengerti maksudku atau tidak. Ah, bodoh. Tentu saja ia tidak tahu Mr. Jay. Dia kan murid baru.

“Ah, mian. Aku lupa kalau kau murid baru,” aku cengengesan di depannya. Ya, tepat seperti orang bodoh.

Ia hanya tersenyum simpul tanpa melihat ke arahku.

“Lalu, kau juga, kenapa kau disini? Kau tidak ke kelas?” Aku balik bertanya.

Geunyang…

Geunyang?” Hanya saja? Hanya saja apanya?

Ia berdiri kemudian berjalan keluar perpustakaan tanpa menjawab pertanyaanku. Huh, kenapa dia? Aneh sekali.


-My Dorky Crush-


-Author POV-

Sepulang sekolah, Hyosun menunggu bus di halte yang terdapat di depan sekolahnya. Beberapa murid lainnya juga menunggu di halte yang sama. Bus akhirnya datang setelah lima menit Hyosun menunggu. Hyosun naik ke bus tersebut dan mencari kursi yang kosong. Ia pun memilih kursi rangkap dua yang kosong di belakang dan duduk di dekat jendela. Hyosun memasang earphone dan memutar lagu favoritnya.

Tak lama kemudian, bus berjalan meninggalkan halte. Namun, bahkan belum sejauh 200 meter, bus berhenti lagi. Orang-orang di dalam bus, termasuk Hyosun, heran dengan apa yang terjadi. Terdengar suara derap kaki seseorang yang sedang berlari mendekati bus. Benar saja, pintu bus terbuka, dan seseorang masuk ke dalam bus.

-Hyosun’s POV-

Jihoon?

Aku menatapnya dari tempat dudukku. Ia menangkap pandanganku dari depan pintu bus. Kemudian ia berjalan mendekat ke arahku dan duduk di sebelahku. Mataku belum pergi dari wajahnya. Entah mengapa terus menatapnya seperti ini.

Ia menoleh. Dan entah mengapa, aku sontak membuang pandangan dari wajahnya. Oh, ayolah. Apa yang salah denganku.

“Han Hyosun?” Pasti dia telah membaca name tag di bajuku.

Nae,

Aah,” ia mengangguk-angukkan kepalanya.

Aku mengalihkan pandanganku pada jalanan melalui jendela. Canggung. Sempat terjadi hening sesaat antara kami, hingga Jihoon mengambil sebelah earphone-ku dan memasangkan ke telinganya.

“Lagu favoritmu?” pertanyaan yang hanya kujawab dengan sebuah anggukan.

Aku dan Jihoon larut dalam lagu yang diputar dari ponselku. Lagi-lagi hening. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua.

Hingga akhirnya bus sampai di halte yang dekat dengan rumahku. Refleks, aku berdiri dan sebelah earphone-ku yang terpaut di telinga Jihoon terlepas.

Mianhae,” ucapku. “Aku duluan ya.”

Aku bangun dari bangku yang aku duduki selama 10 menit itu, kemudian turun dari bus. Kemudian aku berjalan menuju rumahku yang sudah tak jauh dari sini.

Ya! Hyosun!” Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah suara yang memanggilku dari belakang.

“Jihoon?”

Wae?

“Ah, ani. I-itu, kenapa…kau turun juga?”

“Memangnya kenapa?”

Memangnya kenapa? Ya, tentu saja. Apa yang salah jika ia turun dari bus? Mungkin rumahnya di sekitar sini. Aish, jinjja! Sudah berapa banyak hal bodoh yang aku katakan hari ini.

Aku tak menjawab pertanyaannya dan melanjutkan berjalan. Jihoon pun ikut berjalan di sampingku.

“Apa rumahmu di dekat sini?” Aku melontarkan pertanyaan selagi kami berjalan.

“Hmm, tidak juga,”

Tidak? Lalu kenapa ia turun dari bus? Kenapa aku selalu bertemu dengannya? Kenapa ia mengikutiku? Ah, benar! Dia mengikutiku! Dia pasti punya maksud tersembunyi.

Ya! Lee Jihoon!” Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah Jihoon yang juga ikut berhenti.

“Aku ini Han Hyosun. Hanya Han Hyosun. Aku bukan anak selebriti, pejabat, atau pemegang tahta. Aku hanya Han Hyosun. Tolong, berhenti memata-matai aku! Jika kau mengancam atau membunuhku, kau akan menyesal karena kau tidak akan mendapat apa-apa!” Ya, aku meluapkan semuanya. Kalimatku seperti berapi-api, bukan begitu?

Sialnya, Jihoon tertawa. Apa lagi ini? Amarahku dianggap sebagai lelucon?

“Han Hyosun, kecurigaanmu itu terlalu berlebihan,” ucapnya setelah ia selesai dengan tawanya. “Bagaimana bisa kata ‘mata-mata’ itu terlintas di otakmu?”

Baiklah. Ini sangat memalukan. Jika bisa, aku ingin melepas wajahku saat ini.

“Lupakan saja,” aku berjalan lebih cepat dan meninggalkan Jihoon di belakang. Namun tetap saja, ia kembali menyamai langkahku dan kembali berjalan sejajar denganku.

Aku–dan Jihoon yang mengikutiku–akhirnya sampai di depan rumahku. Aku melihat Jihoon dengan tatapan ‘mau sampai kapan kau disini?’, sedangkan Jihoon menatap lurus ke arah rumahku.

“Jadi ini rumahmu?”

“Iya. Lebih baik kau juga cepat pulang. Kurasa hujan akan segera turun,”

Geurae,” kemudian ia tersenyum. “Masuklah,”

“Kau tidak pulang?”

“Aku akan pulang setelah kau masuk,”

Aku menatapnya aneh. Benar kan? Bukankah dia aneh?

“Kalau begitu aku duluan ya,” aku melemparkan senyum, kemudian masuk ke dalam rumahku.

Hah, aneh sekali Jihoon itu. Aku tak mengerti harus menggunakan kata yang mana untuk mendeskripsikannya. Sudahlah.

Aku masuk kamar, dan melempar tasku ke sembarang arah. Aku menghempas tubuhku di atas kasur untuk mengistirahatkan diri. Seketika, aku jadi penasaran dimana sebenarnya Jihoon tinggal. Ah, barangkali ia belum jauh dari sini.

Aku berlari menuju jendela kamarku untuk melihat ke arah mana Jihoon pergi. Aku segera membuka gorden jendelaku yang menghadap langsung ke arah pintu pagar rumahku. Mengejutkan, Jihoon belum pergi dari sana.

Aku melihatnya heran. Ia melihatku dan tersenyum kepadaku. Aku segera membuka jendelaku.

Mwohaneungeoya?” Tanyaku. Ia hanya menjawab dengan sebuah gelengan.

“Kau tak mau pulang?” Ia tak menjawab apapun.

“Kau…mau masuk dulu?” Ia bukan hanya tak menjawab, namun juga membalikkan badan kemudian pergi.

“Haish, kenapa dia begitu aneh,” gumamku pada diriku sendiri.


-My Dorky Crush-


Eomma,” aku menghampiri Eomma yang sedang duduk di sofa dengan majalah di tangannya.

“Hm?” Jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

“Laki-laki yang kemarin itu,” aku duduk di sebelah Eomma. “Namanya Jihoon.”

Ah, geureohke?

“Dia ternyata murid baru di sekolahku, Eomma. Tadi pagi aku bertemu dia mengenakan seragam yang sama denganku. Bahkan ia membantuku berdiri setelah aku jatuh tadi,”

“Kamu jatuh?” Eomma yang terlihat terkejut dengan ucapanku sontak menutup majalahnya.

Nae. Igeobwayo, Eomma,” ucapku manja sambil menunjuk luka yang ada di lututku.

Aigoo, Eomma memperhatikan lukaku dengan wajah penuh iba. Ya, Eomma selalu berlebihan seperti ini. “Cepat obati lukamu.”

Aku mengangguk kemudian berjalan menuju kotak p3k yang tersimpan di atas meja sebelah televisi. Aku membuka kotak p3k dan mencari yang kubutuhkan. Namun, aku tak melihat ada perban dan alkohol disana.

Eomma, apa eomma sudah belanja bulanan?” Tanyaku sambil tetap mencari barang-barang itu yang mungkin saja tak terlihat olehku.

Eomma baru saja belanja bulanan minggu kemarin. Wae?”

Aku menutup kotak p3k dan kembali menghampiri Eomma. “Perban dan alkohol, apa Eomma lupa membelinya?”

Ahh! Geurae!” sahutnya dengan setengah teriak. “Eomma lupa membelinya, mianhae.

Aish, eomma!” Aku berpura-pura merengek untuk meledeknya. “Gwenchana, aku akan ke apotek.”

Gwenchana?” Eomma mencoba memastikan.

Eung, gwenchana,

Aku mengenakan sweater abu-abu untuk pergi ke apotek berhubung cuaca malam ini mulai dingin. Belum jauh aku melangkah, tiba-tiba ada suara yang kukenal memanggilku dari seberang jalan.

Han Hyosun!” Ya, benar. Itu Jihoon. Ia terlihat seperti membawa sesuatu, tapi entah apa. Ia berlari menyebrangi jalan dan menghampiriku.

“Oh, JihoonWae?

Ja,” dengan nafas yang tersengal-sengal, ia menyerahkan paper bag kecil berwarna coklat yang ia genggam sedari tadi.

Ige mwoya?” Aku mengambil paper bag itu dan melihat isinya.

to be continued

Iklan

7 thoughts on “[Part 2] My Dorky Crush

  1. aelah udah end aje-_- penasaran itu si uji napa jadi aneh gitu ye? next dong, eh tapi authornya mw UN *gue juga sih* yodah yg penting tunggu aje dah. aduh jihoon bantet

    Suka

  2. jihoon gausah sok-sok misterius gitu deh -_- kamu ga pantes jadi sosok misterius gitu dek/? /abaikan/
    ini udah ada lanjutannya belom? kalo belom lanjutin yaa hehe ._.

    Suka

    • ini udah selesai sebenernya tapi berhubung dari kemaren gaada yang respon jadi males juga lanjutinnya hehe:” tapi nanti dilanjutin kok berhubung udah ada yang nungguin kayak gini X”D wkwk. makasih udah baca, ditunggu aja ya^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s