[Ficlet] Alone in Winter

Alone in winter

Alone in Winter

 a fiction by ettaeminho

 [Seventeen] Kim Mingyu & [OC] Yoon Eunri

Genre : Sad, Romance, Hurt/Comfort | Length : Ficlet (500++ words) | Rating : General

Disclaimer : Just own the story belongs to my stupid imagination. So, don’t copy or re-publish without any credit or permission !!

 

_ _ _

Andaikan perasaan manusia berputar sejelas rotasi bumi, mungkin kesangsian ini tak akan pernah terpatri.

_ _ _

Kerlipan lampu menerawang jalan, beriringan dengan mentari yang beringsut ke tanah peraduan. Misai keemasan semakin memudar, digantikan guratan pekat yang berpendar. Sang bayu mulai menjalankan tugas. Menyelusup pada setiap celah, mengantarkan hawa dingin ke seluruh penjuru arah. Butiran halus nan suci dari langit masih menghujami tanah. Menyisakan tapak putih yang tak musnah.

Sepasang tungkai tepaku erat, mencoba bersikukuh. Tak peduli berapa kali sang waktu datang menghampiri dan pergi berlalu. Intuisi hati masih tak mengijinkannya untuk pulang. Ia masih ingin berdiam diri, dalam rentang jarak tanpa pandang.

Lalu lalang pejalan kaki terlihat tidak menghargai eksistensinya sama sekali. Seakan lupa jika mereka masih berada dalam satu dimensi. Diabaikannya tatapan asing yang memandangnya seperti orang bodoh. Tidak, ia memang bodoh. Siapapun akan memilih berada di dalam ruangan hangat daripada berada di luar, berperang melawan udara dingin yang menyerang. Bergumul dengan selimut tebal serta secangkir cokelat panas terdengar lebih menjanjikan, ketimbang berdiam dalam suhu yang membekukan.

Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Entah apa yang membuat seluruh sarafnya seolah lumpuh oleh kesesakan hati. Ia mencoba peduli, kendati berusaha memanggil sang peri untuk kembali. Memekik sekeras hati. Namun, nyatanya ia hanya akan semakin terjerumus dalam jurang sepi.

Obsidian hitam itu menangkap butir salju yang mendarat di ujung sepatu. Ia mencoba meringis dalam tangis. Salju itu bagai menarik tabir kehampaan. Terlihat indah, sebelum akhirnya lenyap disesap tanah. Membuka bendungan air matanya yang sedari tadi mati-matian ia tahan. Mengesahkan diri dalam sebuah penyesalan. Secuil memori pada akhirnya meninggalkan raganya menangis sendirian.

 

“Aku mohon Mingyu, jangan seperti ini. Aku tidak bisa.”

“Tapi aku mencintaimu, Eunri.”

Monolog-monolog kembali mengalun perlahan. Bagai bisik kecil yang mengisyaratkan tentang kerinduan.

“Sungguh sulit bagiku. Kau tahu, aku hanya memiliki satu hati. Tak pantas rasanya jika aku jatuh pada dua hati yang berbeda. Ini menyakitkan.”

“Kau hanya perlu mengatakan kalau kau juga mencintaiku, Yoon Eunri.”

 

Sejuta angan mengembara perlahan, menariknya pada suatu kefanaan. Kotak kenangan membawanya pada beberapa saat lalu. Waktu pahit yang ingin ia hancurkan melulu.

“Maaf, kurasa aku memerlukan waktu untuk memikirkannya.”

Bayang-bayang gadis itu masih menari dengan anggun memenuhi iris laki-laki yang sedari tadi enggan bergeming. Ada sakit lain yang terasa begitu hebat. Bukan tentang sebuah penolakan—tidak, gadis itu bahkan belum memberikan jawaban atas perasaannya selama ini—melainkan tentang dua laki-laki yang mencintai satu orang perempuan.

Kim Mingyu—begitu ia dikenal—tidak pernah tahu. Atau lebih tepatnya tidak ada seorang pun yang pernah tahu. Ada cinta yang sama tumbuh untuk perempuan yang sama, di atas persahabatan indah bertahun-tahun. Cinta yang amat sangat klasik.

Mingyu menghela napas dalam, dan membaurkannya dengan udara malam. Gamang kini menggelimangi. Andaikan perasaan manusia berputar sejelas rotasi bumi, mungkin kesangsian ini tak akan pernah terpatri.

Uap dingin mengiringi hembusan napas berat yang terlontar dari bibirnya yang kelu. Lantas kedua ujung bibirnya membentuh sebuah kurva. Serta merta Mingyu menyeringai hambar, dengan keraguan yang membayang angan semu. Gemuruh angin bermain di telinga, menggeser sunyi yang sempat berkuasa.

Lama dirungut waktu, sepasang pengampu itupun segera melonjak. Menyisir rasa dingin yang bergelung sepanjang ia menapak. Salju melingsir kian deras, memadati ruas jalan secara acak. Dalam hati, Mingyu hanya mencoba kuat. Mencoba memahami meski sebenarnya ia hanya menenangkan asa yang rapuh dan mulai berkarat.

Kesenyapan, dinding hati yang perlahan memudar, jatuh dan luruh oleh waktu. Meninggalkan pedih yang tak bisa ditinggalkan.

 

 

fin.

 

 

A/N :

Nah loh apa ini? Fiksi macam apa ini?

Kutak tau gimana ceritanya si Mingyu berakhir semi-tragis seperti ini. Padahal kan kuingin buat happy ending (?). hah ya sudahlah :”))

Kunjungi juga blog ku ya http://serumpunaksara.wordpress.com 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “[Ficlet] Alone in Winter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s