[Chapter 3] Hey Puppy

Hey Puppy

Storyline & Poster by Harimingyu

Main Cast Seventeen Mingyu | Vernon | Yoo Gangjin (OC)

Other Cast Seventeen Wonwoo | Hoshi | Woozi | Yoo Gangmi (OC)

Lenght Chaptered

Genre School Life | Romance | Friendship | Family

Rating PG-15

“..dia sangat mirip denganmu”

.

WARNING!! TYPO BERTEBARAN HARAP DIMAKLUMI hehe

.

“Kau belum melupakannya?”, tanya orang itu. Mingyu mendongakkan wajahnya.

“Mau apa lagi? Bukannya kemarin sudah kuusir. Pergi saja kembali ke Amerika”, ujar Mingyu kasar. Hansol terkekeh dan duduk di ayunan sebelah Mingyu. Ia mendongakkan wajahnya menatap langit malam.

“Gangmi…”

“Berhenti menyebut namanya”, potong Mingyu.

“Dia pasti akan memukulmu jika melihatmu seperti ini”, ujar Hansol tak menggubris perkataan Mingyu.

*****

-Flashback-

“Hahahahaha paboya! Kim Mingyu kauu bodoh sekali”, ujar Hoshi sambil tertawa.

“Waeeee?? Laki-laki juga manusia kan? Memangnya salah kalau menangis?”, gerutu Mingyu.

“Berhenti menangis anjingmu itu bodoh. Ku bisa cari anjing baru hahaha”, ujar Woozi sambil tertawa juga.

“Lagipula dia juga sudah sakit-sakitan. Lebih baik dia mati saja. Daripada tersiksa”, ujar Wonwoo.

“Huweeee Gung Gung kenapa kau meninggalkankuuu”, ujar Mingyu sambil menangis.

“Paboya! Berisik! Diamlah kau bodoh!!”, omel Gangmi yang tiba-tiba mendekati Mingyu kemudian memukulnya dengan tas punggungnya.

“Akkk aakk sakittt”, teriak Mingyu.

“Diamlah bodoh! Dasar cengeng cengenggg”, omel Gangmi sambil terus memukul Mingyu.

“Yakk yakk sudah sudah berhenti”, lerai Hansol.

“Huweeee sakittt Gangmi-ah”, ujar Mingyu.

“Rasakan! Salah sendiri kau bodoh yang menangisi Gung Gung. Kau bisa adopsi anjing lagi yang masih sehat”, omel Gangmi.

“Arraseo arraseo. Sudah kau diam. Dasar kau anjing liar. Aku benci anjing liar”, jawab Mingyu.

“Mwo?? Kau bilang apa???”, teriak Gangmi sambil bersiap memukul Mingyu.

“Annio”, jawab Mingyu kemudian berlari menjauhi Gangmi.

“Yakk kesini kau tiang bodohhhh”, teriak Gangmi sambil berlari mengejar Mingyu.

-Flashback End-

*****

Hansol terkekeh mengingat masa kecilnya bersama kelima temannya.

“Aku merindukan masa-masa kecil kita”, ujar Hansol.

“Ini semua salahmu?”, ujar Mingyu geram.

“Kau tidak tahu penyebabnya Mingyu-ah. Kau tidak pernah mendengarkan perkataanku”, ujar Hansol.

“Kau bodoh! Karena kau mengajaknya pergi. Kau menyukainya kan? Ah iya kalian berpacarankan? Berpacaran dibelakangku!!”, ujar Mingyu sambil menarik kerah baju Hansol.

“Neo paboya!! Yoo Gangmi menyukaimu bodoh! Kau yg bodoh bukan aku!”, ujar Hansol sambil mendorong bahu Mingyu.

“Shut up! You just a liar Choi Hansol”, umpat Mingyu sambil melayangkan tinju ke rahang Hansol. Bruk! Hansol terkapar dengan bibirnya yang sobek.

“Kau! Semua ini salahmu! Gangmi pergi juga karenamu, bangsat! Kau merebutnya setelah kau tau aku menyukainya. Hahaha kau ini tidak tau diri. Kau pikir kau bisa pergi ke Amerika karena kau dapat beasiswa? Annio. Aku yang menyuruh anak buah ayahku untuk membuat skenario itu! Agar apa? Agar kau menjauhi Gangmi. Tapi apa? Kau malah mengajaknya pergi? Mau membuat pesta perpisahan karena kalian pacaran iya?”, ujar Mingyu sambil menarik kerah baju Hansol yg masih terkapar di rumput.

Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!

“Kau! Aku sudah menganggapku saudaraku tapi kenapa kau melakukannya ha?”, ujar Mingyu sambil menitikkan air matanya dan mendorong tubuhnya ke rumput hingga terlentang. Begitu pun dengan Hansol.

“Kim Mingyu kau! Hahaha”, Hansol terkekeh. “Kau benar-benar anjing cengeng. Belum berubah. Masih seperti dulu”, lanjutnya. Mingyu diam, hanya suara nafasnya yg terdengar.

“Kau seharusnya sadar kalau Gangmi sangat menyukaimu, Kim Mingyu”, ujar Hansol.

*****

“Aish jinjja, dimana aku letakan buku Calculuskuuuuu”, gerutu Gangjin sambil membuka laci-laci lemari buku yg ada dirumahnya. Hingga ia, tiba-tiba menemukan sebuah foto didalam laci di meja ruang tengahnya.

“Mwoya”, gumamnya saat melihat sebuah foto yg didalamnya terpampang sebuah keluarga kecil. Appa. Eomma. Dan sepasang anak kembar perempuan dengan satu kuncir di kanan dan kiri.

“Ini appa. Ini aku. Eomonim difoto ini siapa?”, ujar Gangjin sambil memperhatikan seorang Perempuan di foto itu.

“Ah tunggu. Gadis disebelahku, tidakkah dia sangat mirip denganku. Mereka siapa?”, ujar Gangjin tidak mengerti.

“Yoo Gangmi. Dan dia sangat mirip denganmu”, kata-kata itu berputar di kepala Gangjin.

“Apa dia Yoo Gangmi? Apakah mungkin…”, ujar Gangjin menggantung kalimatnya.

“Aku pulang”, suara Hansol terdengar dari pintu. Gangjin sontak menoleh kearah pintu dan langsung membelalakan matanya saat melihat wajah Hansol yang babak belur.

“OMG! What happen????”, tanya Gangjin bergegas mendekati Hansol. “Are you okay?”

“I’m okay. Hanya luka kecil. Aku mandi dulu”, jawab Hansol.

“No. Wait, aku harus mengobati lukamu dulu”, cegah Gangmi sambil berlari mendapatkan kotak p3k dan kembali ke ruang tengah dan duduk disebelah Hansol.

“Liat aku”, ujar Gangjin sambil memegang kapas yang sudah ia teteskan alkohol. Hansol pun menghadapkan tubuhnya ke arah Gangjin.

“Tahan sedikit okay”, ujar Gangjin sambil membersihkan luka pada wajah Hansol.

“Aakkk”, Hansol meringis. Gangjin membersihkan dan membubuhi obat merah pada luka Hansol dengan sentuhan terakhir ia menempelkan hansaplast.

“Sudah”, ujar Gangjin sambil tersenyum.

“Apa yang terjadi?”, tanyanya kemudian.

“Annia. Hanya masalah kecil kok. Tidak usah dipikirkan”, ujar Hansol kemudian mengacak rambut Gangjin. “Gomawo”

“Untuk apa?”, tanya Gangjin sambil membereskan kotak p3k.

“Sudah mengobatiku”, ujar Hansol. Gangjin tersenyum dan berdiri untuk mengembalikan kotak p3k.

*****

Gangjin duduk kursi di taman belakang sekolah. Tempat itu begitu sepi dan tenang, karena kebanyak murid-murid lebih menyukai berada di taman depan sekolah. Ia memakai earphonenya dan memejamkan matanya. Menikmati udara siang dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Ia membuka matanya dan menemukan sepasang mata yang jaraknya hanya beberapa inchi didepan matanya.

“Annyeong”, ujar pemilik sepasang mata itu. Gangjin mendorong bahu orang itu hingga menjauhinya.

“Mau apa kau kesini, Kim Mingyu”, tanya Gangjin.

“Tidak. Aku hanya sedang berjalan-jalan kemudian menemukan sebuah anak anjing disini”, jawab Mingyu sambil duduk disebelah Gangjin. Gangjin hanya diam.

“Tidak usah pura-pura mendengarkan musik. Aku tau ini hanya kau pakai untuk hiasan”, lanjut Mingyu sambil menarik earphone Gangjin.

“Yak!”, teriak Gangjin. Mingyu terkekeh kemudian mengeluarkan dua botol soda dari sakunya dan menyodorkannya pada Gangjin.

“Untukmu”, tawarnya.

“Gomawo”, ujar Gangjin sambil menerima botol soda itu dan meminumnya.

“Kau.. Sejak kapan kenal dengan Hansol?”, tanya Mingyu kemudian.

“Ah Vernon ya..”

“Vernon?”

“Choi Vernon. Itu namanya saat sekolah di Amerika”

“Iya dia. Kau kenal dengannya?”

“Dia satu-satunya temanku saat aku masih di Amerika”

“Kau sekolah di Amerika?”

“Kau tidak ingat saat pertama kali aku datang kesini? Bukankah songsaenim bilang kalau aku pindahan dari Amerika?”

“Ah iya aku lupa”

“Iya. Dulu aku tidak punya teman. Sama seperti disini. Tapi saat itu aku menemukan orang yang mau berteman denganku. Dia bilang dia pergi ke Amerika karena mendapat beasiswa jadi dia juga belum mempunyai teman. Dia adalah teman pertamaku sejak aku sekolah”

“Maksudmu? Kau belum pernah punya teman? Haha don’t lie”

“Aku tidak bohong. Sejak kecil aku homeschoolig jadi aku tidak punya teman. Hingga saat aku SMP aku memaksa untuk pergi kesekolah. Dan di tahun ketigaku Vernon datang.”

“Hmm”, dehem Mingyu.

“Kau kenal Vernon? Bagaimana kau kenal dia?”

“Ha? Oh anu hmm itu kemarin…”

“Ah aku ingat!”, potong Gangjin.

“Mwo?”

“Kau teman Vernon jugakan saat SMP? Kemarin teman-temanmu menyebut namamu saat mereka makan bersamaku dan Vernon. Dan hmmm, mereka bilang kau masih tidak bisa melupakan kejadian 3th yang lalu. Apa maksudnya kecelakaan mobil itu? Dan Yoo Gangmi. Dia siapa?”, Mingyu terdiam mendengar hujanan pertanyaan Gangjin.

“Hey Kim Mingyu jawab aku”, ujar Gangjin lagi.

“Tidak ada apa-apa 3th yg lalu. Jgn dipikirkan. Itu tidak penting. Kau lebih makan pergi makan sana. Anak anjing terlihat jelek kalau kurus”, ujar Mingyu kemudian berjalan meninggalkan Gangjin dengan kedua tangan didalam saku celananya.

“Yakk! Jawab dulu pertanyaanku”, teriak Gangjin, namun Mingyu tak menggubrisnya.

*****

Hansol menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia baru saja sampai dirumah, tentu saja rumah Gangjin. Ia melihat kesekeliling hingga ia menemukan sebuah ujung foto terjepit laci yang menarik perhatiannya. Ia mendekati laci itu dan mengambil foto ini.

“Ini”, ujar Hansol dengan membelalakan matanya.

“Gangmi? Ini Gangmi? Benar. Ini persis seperti foto kecil Gangmi. Dan ini.. Gangjin?”, lanjutnya dengan mengerutkan dahinya. Tangannya pun bergetar memegang fotonya.

“Benar. Ini benar. Ini Gangmi lalu ini Cho eomonim. Dan laki-laki ini.. Yoo abeonim? Benar. Ini Yoo abeonim. Bagaimana bisa? Cho eomonim dan Yoo abeonim? Dan Gangjin Gangmi? Mereka kembar?”, bertumpuk-tumpuk pertanyaan muncul dikepala Hansol.

*****

“Vernon where are you? Aku lapar, ayo kita makan diluar. Eomma baru saja datang dan dia bilang dia lelah. Kau kemana saja sih? Pergi tidak bilang-bilang padaku”, Hansol membaca pesan dari Gangjin dalam hati kemudiam membalasnya.

“Aku dalam perjalanan. Sebentar lagi aku sampai”, balas Hansol kemudian memasukkan ponselnya ke saku jaketnya.

“Ada apa mencariku?”, tanya Mingyu yang kini duduk didepannya.

“Apa tidak ada tempat lain selain kedai ramen ini ha? Aku sudah bosan dengan wajahmu, ditambah bosan dengan tempat ini”

“Lihat ini. Perhatikan foto ini baik-baik”, ujar Hansol sambil meletakkan selembar foto di meja. Mingyu memicingkan matanya dan mengambil foto itu.

“Ini Gangmi?”

“Benar itu Gangmi”

“Jadi maksudmu Gangmi dan Gangjin…”

“Ya. Sepertinya mereka kembar”

“Andwae. Bagaimana bisa mereka kembar tapi tidak mengenal satu sama lain. Kau bercanda ya? Sudahlah aku tidak ada waktu untuk bertemu denganmu”

“Perhatikan foto itu lagi bodoh!!! Disitu ada siapa”, ujar Hansol kesal sambil menendang kaki Mingyu.

“Cho eomonim dan siapa laki-laki ini?”

“Yoo abeonim. Ayah Gangjin”

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja. Dia rekan kerja abeojiku”

“Mereka ini suami istri?”

“Aku tidak tau. Itu hanya perkiraanku saja. Cho eomonim dan Yoo abeonim menikah dan lahirlah Gangmi dan Gangjin”

“Wahhh tidak bisa dipercaya”

“Kau pikir aku bisa percaya ini? Pasti ada sesuatu yang membuat mereka tidak saling mengenalkan?”

“Benar. Gangmi tidak pernah bercerita apa-apa”

“Hmm yasudah aku pergi. Gangjin sudah mencariku”, ujar Hansol sambil beranjak dari tempatnya.

“Kemana?”, tanya Mingyu.

TBC

Iklan

Satu pemikiran pada “[Chapter 3] Hey Puppy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s