[Oneshot] Maybe

Maybe

Maybe

(Sequel Never Be)

 

By : Febby Fatma

Drama, Family, Romance,

PG-13

Oneshot

 

Main Cast :

Jeon Wonwoo SEVENTEEN

Lee Yoon (OC)

Jung Younghee (OC)

Other Cast :

SEVENTEEN Member

OC

 

 

 

Disclaimer : Alur dan OC punyaku. Seventeen punya kita bersama. Mohon untuk tidak Copy-Paste atau Plagiat. Sebelumnya, terima kasih dan selamat baca~

 

 

 

“Yoon, kau sudah siap?”

“Ssst! Nanti ibuku dengar. Kau pergi duluan saja. Aku menyusul sebentar lagi.”

“Yoon!”

Dua gadis muda itu langsung menoleh ke arah suara berasal. Pintu kamar Yoon masih tertutup tapi ibu gadis pasti sedang mendekat ke kamarnya sekarang.

“Jin, kau duluan saja. Kita bertemu di halte, okeh?”

Jin, temannya itu, membuat bentuk huruf O dengan jarinya sebelum menyelinap pergi dari halaman samping kamar Yoon.

Klek.

“Yoon?”

“Ya, Bu? Ibu memanggilku?”

“Hari ini kau tidak pergikan?”

“Ah itu, aku ada janji dengan Jin untuk pergi ke perpustakaan kota. Kenapa memangnya? Ibu mau mengajakku pergi?”

“Tidak.”

Yoon menoleh mengikuti arah pandang ibunya. Takut ibunya sadar kalau dia sedang berbohong.

“Mau pergi jam berapa?”

“Sekarang. Aku baru saja selesai siap-siap.”

Yoon mengambil tasnya dan langsung berjalan menuju pintu kamarnya. Mendekati ibunya. “Jin dan teman-teman yang lain pasti sudah menunggu di halte.”

“Kalau begitu hati-hati. Jangan pulang malam-malam, ya?”

“Beres.”

Setelah mengecup pipi ibunya singkat Yoon langsung pergi secepatnya. Sebelum ibunya curiga, akan lebih baik jika dia cepat-cepat.

 

 

Suara riuh penggemar yang menonton konser Seventeen hari itu membuat Wonwoo melupakan rasa sepinya sesaat. Bernyanyi, menari, melompat dan berlari menghampiri beberapa penggemar di barisan depan tidak membuat Wonwoo merasa lelah. Dia justru senang melakukan ini.

“Terima kasih sudah datang. Terima kasih karena tetap bersama kami. Aku mencintai kalian semua!”

Teriakan riuh penggemar kembali terdengar menyambut pernyataan cinta Wonwoo di tengan panggung sore itu.

Setelah lagu terakhir mereka, konser untuk merayakan ulang tahun Seventeen yang kesepuluh berakhir. Waktu tiga jam terasa begitu cepat berlalu dengan kebersamaan mereka.

“Kalian berhasil. Selamat ya?”

Ucapan dari CEO Pledis yang datang hari itu seperti hadiah tambahan yang bukan main mahalnya.

“Terima kasih banyak.”

Mereka langsung masuk ruang ganti. Acara mereka masih belum berakhir. Masih ada satu acara lagi untuk beberapa penggemar yang hari ini siap membayar mahal untuk bertemu langsung mereka di belakang panggung.

“Lima belas menit lagi kalian harus sudah siap.”

Pesan menejer mereka itu disambut dengan sahutan keras. Satu persatu dari mereka bahkan langsung menemui penggemar yang sudah menunggu di ruang lain.

Ruang khusus untuk dua puluh penggemar beruntung yang sangggup membayar lebih demi ini.

 

 

“Uh, aku sudah sangat gugup.”

Yoon mempererat kaitan tangannya pada Jin. Dia terus menatap ke arah pintu masuk di ruangan itu. Berharap orang yang dia tunggu lekas datang.

“Sore.”

Seorang pria dengan rambut panjang masuk bersama dengan dua pria lain.

“Oh mereka datang.” Jin berjingkrak senang melihat kedatangan Jeonghan, Joshua dan Jun.

“Ayo.”

“Kau duluan saja. Aku menunggu Wonwoo samcheon.”

“Ah ya sudah.”

Jin meninggalkannya dan bergabung dengan yang lain mendekati Jeonghan, Joshua dan Jun.

Empat laki-laki lain masuk. Mereka adalah S.Coups, Dino, Woozi dan Mingyu. Tapi Yoon masih berdiri memisahkan diri dari dua puluh penggemar lain.

Bahkan ketikan Hoshi, Seungkwan, Dokyeom dan The8 datang.

“Kau menunggu seseorang?”

Yoon menoleh dan mendapati Jeonghan ada di dekatnya sekarang. Pria yang masih mempertahankan imejnya dengan rambut panjang selama sepuluh tahun ini tersenyum pada Yoon.

“Aku menunggu Wonwoo sam-”

“Oh itu dia datang.” Benar, Wonwoo dan Vernon adalah yang terakhir bergabung di sana. “Wonwoo-ya!”

Jeonghan menggerakan tangannya agar Wonwoo langsung mendekati mereka di salah satu pojok ruangan.

“Gadis ini datang untuk menunggumu.”

“Oh benarkah?”

Yoon mengangguk kaku. Untung saat itu Jin langsung mendekatinya. Paling tidak Yoon tahu kalau dia pingsan ada sahabat baiknya yang akan menangkap.

Jeonghan dan Vernon pergi menghampiri penggemar yang lain. Meninggalkan Yoon dan Jin bersama Wonwoo.

“Jadi?”

“Ah itu,” Yoon langsung menyodorkan sebuah buku dan spidol. Meminta tanda tangan Wonwoo. “Boleh foto bersama?”

“Tentu saja.” Setelah menerima kembali bukunya, Yoon meminta Jin untuk mengambilkan gambarnya berdua dengan Wonwoo.

“Terima kasih banyak, samcheon.”

Samcheon? Apa aku tampak begitu tua bagimu?”

Yoon menunduk malu. Jin di sebelahnya bahkan langsung menyenggol tangan Yoon. Memberi isyarat agar Yoon minta maaf dan menjelaskan.

“Itu.. sebenarnya, dari kecil aku sudah memanggil anda samcheon.”

“Oh.” Ada raut kecewa yang Yoon tangkap dari pria di hadapannya.

“Tapi,” Yoon menoleh pada Jin. Dia ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“Katakan saja.” Dorong Jin.

“Apa samcheon..”

Samcheon lagi?” Tegur Jin berbisik.

Wonwoo di hadapan mereka tersenyum menahan tawanya. Dan itu justru membuat Yoon semakin gugup.

“Apa? Katakan saja.”

Oppa tidak mengenaliku?”

Wonwoo tampak berpikir. Untuk beberapa detik dia terlihat untuk mengingat tapi kemudian dia menggeleng. “Maaf, sepertinya tidak.”

“Tidak apa-apa. Sudah lama juga sejak terakhir kali kita video call. Mungkin sudah sembilan tahun lalu..”

Video call?”

Yoon mengangguk. “Dulu kita sering video call. Aku Yoon, Lee Yoon. Samcheon.. oh maksuku Oppa ingat nama itu?”

Wonwoo diam dan terlihat mengingat sesuatu lagi. Tapi Yoon sudah tidak sabar lagi. Dia ingin Wonwoo langsung mengenalinya.

“Ibuku Jung Younghee. Kalian dulu berteman-”

“Jung Younghee? Kau putri Jung Younghee?”

Yoon mengangguk kaku. Kaget karena tiba-tiba saja Wonwoo memegang kedua bahunya. Pria itu bahkan mendekatkan wajahnya untuk melihat Yoon lebih dekat.

“Maaf aku tidak langsung mengenalimu. Kau tumbuh jadi gadis yang sangat cantik, sulit untuk mengenalimu karena itu.”

Yoon tersenyum malu. Dia menatap pada Jin sebentar dan keduanya langsung senang bukan main. Kalau boleh berjingkrak, Yoon mau langsung berjingkrak.

“Kalian datang berdua saja?” Yoon mengangguk. “Ibumu?”

“Ah itu, sebenarnya ibu tidak tahu aku datang ke sini. Dia tidak pernah mengijinkan aku untuk pergi jauh tanpanya sebelum ini.”

Lagi, ada raut wajah kecewa yang tertangkap di wajah Wonwoo.

“Dasar nakal!” Wonwoo mengusap kepala Yoon dan Jin bersamaan. Raut wajah kecewa tadi hilang dan berganti dengan senyum tampan seorang Jeon Wonwoo.

“Ibumu baikkan?” Yoon mengangguk. “Kau tinggal dengan siapa sekarang?”

“Hanya bertiga. Aku, ibu dan nenek. Lain kali samcheon, ah maksudku oppa, mainlah ke sana.”

Wonwoo terkekeh. “Panggil samcheon saja juga tidak apa-apa. Kalau aku tahu di mana kalian tinggal aku pasti akan mengujungi kalian dari dulu.”

“Ibu tidak memberi tahu pada samcheon?”

Wonwoo menggeleng. “Memang kalian tinggal di mana sekarang?”

“Donghae. Dari dulu kami tinggal di Donghae.”

“Ah, kalau begitu boleh samcheon minta nomor telponmu?”

Wonwoo memberikan ponselnya pada Yoon. Membuat gadis itu tampak bingung.

“Nanti jika samcheon mampir ke Donghae, samcheon akan menghubungimu agar kita bisa bertemu.”

Yoon mengangguk dan mengetikkan beberapa angka di layar ponsel Wonwoo. Setelah memberikan lagi ponsel itu pada sang pemilik kini ponselnya yang bergetar.

“Itu nomorku.” Cepat-cepat Yoon menyimpannya. “Tapi tolong rahasiakan nomor itu ya?”

“Tentu.”

“Dari ibumu juga. Kalau sampai dia tahu kau bertemu denganku, kau pasti dapat masalah.”

“Benar juga.”

Yoon menarik tangan Jin senang. Dia benar-benar ingin berjingkrak, tapi itu pasti bukan tindakan yang benar saat ini. Dia harus menahan rasa senangnya.

“Oh ya,” Wonwoo melepas sebuah kalung rantai kecil yang dia jadikan penghias di kerah kemejanya. “Ini untukmu. Kenang-kenangan dariku karena mau jauh-jauh datang ke sini.”

“Terima kasih banyak, samcheon.”

 

 

Wonwoo tersenyum menatap layar ponselnya. Tadi dia berhasil mendapat foto orang yang hampir sepuluh tahun ini menghilang, meninggalkannya.

Noona, kau semakin cantik.”

Foto Yoon dan ibu gadis itu terus Wonwoo tatap sejak dia sampai di apartemennya malam ini. Ada rasa tidak sabar untuk menemui wanita itu lagi.

Hal yang lebih menyenangkan lagi bagi Wonwoo adalah kenyataan kalau wanita itu masih belum menikah lagi. Itu artinya Wonwoo masih punya kesempatan.

Sebelum terlambat, lebih baik Wonwoo cepat-cepat mencari waktu untuk menemui wanita itu. Yoon juga terlihat akan membantunya. Jadi Wonwoo akan menggunakan kesempatan ini.

 

 

“Yoon, hari ini langsung pulang, ya?”

Yoon kembali menoleh begitu ibunya mengejar sampai pintu depan.

“Kenapa memangnya? Ibu mau pergi?”

“Tidak. Hanya, rasanya kau belakangan ini sering menghindar saat kita harus membersihkan rumah bersama.”

“Baiklah. Aku berangkat.”

Yoon melambai saat berjalan keluar pagar. Rumahnya termasuk besar jika dibandingkan dengan rumah lain di sekitar sana. Karena mendiang ayah Yoon meninggalkan beberapa tunjangan untuk Yoon, sekarang Yoon, ibu dan neneknya bisa hidup nyaman.

Belum lagi uang tabungan ibunya sebelum memutuskan kembali ke Donghae. Dengan semua itu ibu Yoon sekarang sudah menjadi seorang menejer retoran.

“Jin-ah, pulang sekolah nanti mau temani aku?”

“Kemana? Ibuku bilang kita harus langsung pulang. Ada sesuatu yang harus kita siapkan sebelum Chuseok.”

“Sebentar saja. Wonwoo samcheon semalam menelponku, dia memintaku menemuinya di pantai.”

“Kau mau menyusuri sepanjang pantai untuk bertemu dengannya?”

“Tentu saja tidak.”

Yoon dan Jin sampai di halte dan langsung naik bus yang akan membawa mereka ke halte terdekat dari sekolah.

“Temani ya?”

“Baiklah.”

 

 

Wonwoo menjalankan mobilnya pelan. Matanya mengawasi sepanjang jalan. Berharap menemukan seorang gadis yang berjanji akan menemuinya siang ini.

Kemarin malam Wonwoo meminta ijin pada manejernya untuk pergi dua-tiga hari. Untuk liburan, katanya. Tapi inilah yang Wonwoo lakukan di hari keduanya mendapat hari libur. Mencari gadis kecil yang bulan lalu datang menemuinya setelah konser.

“Yoon-ah, kau di sebelah mana? Aku sudah di dekat toko yang kau katakan.”

“Oh, samcheon tunggu saja. Mobil samcheon berwarna putih, kan?”

“Iya. Kau melihatku?”

“Aku akan menghampiri samcheon.”

Setelah pembicaraan singkat itu berakhir, Wonwoo langsung menyiapkan kaca mata hitamnya.

Tok-tok.

Seseorang mengetuk jendela sebelah kirinya, dan Wonwoo tahu itu adalah gadis yang dia cari sejak tadi.

Yoon tersenyum padanya. “Siang, samcheon.”

“Siang.” Wonwoo menggerakan tangannya meminta Yoon dan temannya masuk ke dalam mobilnya. “Kalian baru pulang?”

“Iya. Samcheon juga baru datang?”

Wonwoo mengangguk.

Sebenarnya dia bohong. Dia sudah ada di Donghae sejak kemarin malam, mencoba mencari ibu gadis sendiri.

Samcheon mau bertemu ibuku, kan?”

“Tentu saja. Tapi sebelum itu, ayo makan siang dulu.”

“Ah itu,” Wonwoo melihat Yoon yang duduk berdua dengan temannya di belakang dengan bantuan spion. “Hari ini aku dan Jin harus pulang cepat. Kami janji pada ibu kami untuk membantu persiapan Chuseok.”

“Oh. Kalau begitu aku akan mengatar kalian sampai dekat rumah.”

Wajah bingung Yoon yang balik menatapnya lewat spion membuat segaris senyum merekah di wajah Wonwoo.

“Kenapa tidak sekalian mampir?”

“Lebih baik aku datang nanti sore. Kalian berdua juga jangan bilang kalau kalian tahu aku akan datang. Younghee noona pasti akan sangat marah jika tahu kalian menemiku bulan lalu.”

“Ah ya, samcheon benar.”

Yoon adalah gadis yang terlihat aktif dari cara bicaranya. Tapi gadis itu cukup pemalu di lain waktu. Wonwoo merasa gadis itu seperti dirinya.

“Nanti aku akan datang dan bilang aku tahu rumahmu dari orang lain. Jadi beraktinglah saat aku datang nanti.”

“Oke.”

Sekali lagi Wonwoo tersenyum melihat bagaimana gadis itu menunjukan rasa senangnya.

 

 

Ting-tong.

“Bu, tolong bukakan pintunya. Aku sedang tanggung.”

Younghee melepas celemek yang dia kenakan di dapur sebelum membukakan pintu pada tamunya. Dari yang dia lihat melalui layar di dekat pintu itu adalah pria. Tapi wajahnya tidak terlihat karena karena orang itu berbalik badan.

Sampai di dekat pintu Yoon mendekatinya. Putrinya itu bertanya siapa yang datang.

“Tidak tahu.” Kemudian Younghee membukanya. Pintu itu terbuka dan pria di depan pintu rumahnya itu berbalik. Menunjukan wajahnya yang lengkap dengan senyum.

“Wonwoo samcheon!”

Yoon di belakangnya langsung menerobos melewati Younghee. Mendekati Wonwoo dan berjingkrak senang. “Bu, kenapa tidak bilang kalau Wonwoo samcheon mau datang?”

“Sore, noona?”

“Sore.” Younghee masih berdiri kaku menatap pria itu. “Wonwoo-ya,”

Panggilan itu membuat Yoon dan Wonwoo menoleh padanya. Sungguh, Younghee tidak tahu kalau pria itu akan menemukannya sekarang.

“Kau tahu aku di sini dari siapa?”

Sambil tersenyum misterius Wonwoo hanya bilang. “Seseorang yang mau membantuku mencarimu.”

“Siapa?”

“Apa itu penting? Aku hanya ingin bertemu noona dan Yoon.”

Younghee tidak bisa berbuat apa-apa saat Yoon memaksa Wonwoo untuk masuk ke dalam rumah mereka. Pria itu bahkan tampak tidak ingin menolak ajakan putrinya.

Noona, apa kabar?”

“Aku baik. Kau juga pasti baikkan?”

Wonwoo mengangguk. Pria itu terus memamerkan senyumnya. Dia membuat Younghee tidak bisa berbuat apa-apa.

“Maaf kalau kedatanganku mengganggu. Tapi harusnya noona tahu kalau aku terus mencari noona selama ini.”

“Kenapa kau mencariku?”

“Apa noona masih butuh penjelasanku? Waktu sembilan tahu membuat noona lupa semuanya?”

Saat itu Yoon datang membawakan minuman dan beberapa suguhan. Putrinya juga tidak bisa berhenti tersenyum melihat Wonwoo ada di sana.

“Yoon, kau bantu nenek di dapur ya? Ada yang harus ibu bicarakan dengan Wonwoo samcheon.”

Anak itu tampak kecewa tapi dia tetap menurut. Meninggalkan lagi Younghee berdua dengan Wonwoo di sana.

“Kau pasti tahu alasan kenapa aku pergi.”

“Tidak.” Sahut Wonwoo cepat. “Aku tidak tahu dan tidak pernah ingin tahu.”

“Wonwoo-ya, ini tidak benar.”

“Apanya yang tidak benar? Niatku hanya ingin menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Apa yang tidak benar dari hal itu?”

Younghee mendesah. Menundukkan kepalanya karena sudah tidak tahu harus bagaimana lagi caranya dia membuat Wonwoo mengerti maksudnya.

“Sekeras apapun usahamu, aku tidak bisa menerimamu.”

“Tapi kenapa?”

“Alasanku tidak akan berubah. Aku tidak ingin Yoon terluka nantinya.”

Wonwoo meraih tangannya. Pria itu memberi tatapan yang seolah berkata semua akan baik-baik saja. “Noona cukup percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya. Tidak walau hanya sehelai rambut yang terluka darinya.”

“Bu.”

Mereka berdua langsung menoleh saat mendengar panggilan Yoon barusan. Younghee juga langsung menarik tangannya dari Wonwoo. Entah sejak kapan, tapi gadis itu kini berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang tampak sendu menatap Younghee.

“Maaf kalau aku selalu membuat ibu khawatir.” Gadis itu mendekati mereka. Dia duduk di antara Younghee dan Wonwoo. “Tapi aku tidak ingin menjadi alasan ibu menyakiti diri ibu sendiri.”

“Apa yang kau bicarakan?”

Yoon tersenyum padanya. “Bu, aku memang masih kecil. Tidak tahu apa itu perasaan cinta, tapi aku tahu kalau inilah yang namanya cinta.” Yoon meraih tangannya dan tangan Wonwoo. Menyatukan tangan mereka berdua.

“Yoon-ah.”

Yoon melepas tangannya dari Younghee dan Wonwoo. Gadis itu memeluk Wonwoo senang dan bilang, “Aku mau kok punya ayah seperti Wonwoo samcheon.”

Senyum senang gadis itu saat memeluk Wonwoo adalah alasan Younghee terdiam sekarang. Putrinya belum pernah terlihat sesenang ini sebelumnya.

Yoon memang gadis yang ceria. Semua hal yang Younghee berikan pasti membuatnya senang. Walau itu hal kecil, dia akan tampak sangat senang. Tapi kali ini, senyum senang itu tampak sedikit berbeda dari yang sebelumnya.

Ada sesuatu dalam senyum senang Yoon kali ini yang membuat Younghee tidak ingin kehilangan momennya.

“Bu? Bagaimana?”

“Apa?”

“Ibu maukan menjadikan Wonwoo samcheon sebagai ayahku?”

Wonwoo yang masih Yoon peluk menunjukan senyum kemenangan yang membuat Younghee mendengus kesal.

“Sayang, ibu sudah tidak pernah bertemu dengan samcheon-mu yang satu ini hampir sepuluh tahun. Butuh waktu untuk saling kenal lagi.”

“Tidak apa-apa. Aku siap menunggu sampai ibu dan samcheon saling kenal.”

Younghee dan Wonwoo saling pandang sesaat sebelum mereka terkekeh mendengar itu.

“Kenapa kau menunggunya? Bukannya samcheon yang harusnya bilang seperti itu?”

“Karena aku sudah tidak sabar untuk punya ayah lagi.”

Tangan Younghee terangkat mengusap rambut hitam kecoklatan putrinya.

“Oh iya, kalian tahu kalau member kami ada yang akan menikah?”

“Hoshi samcheon, kan?”

Wonwoo mengiyakan. “Bulan depan aku akan ajak kalian untuk ke pernikahan Hoshi dan Sohyun. Kalian maukan?”

“Aku tentu saja mau. Tapi ibu…”

Yoon dan Wonwoo sama-sama menoleh pada Younghee yang sejak tadi hanya menjadi penikmat kebersamaan mereka.

“Tentu saja kita akan datang. Aku pernah berjanji pasa Hoshi akan menjadi pengisi acara di pernikahannya.”

Yoon langsung bersorak senang mendengar itu. Dia membuat Wonwoo dan Younghee kaget tapi menjadi sumber tawa juga untuk kedua orang dewasa di sana.

 

 

Mata Yoon terus mengarah pada Younghee dan Wonwoo yang mengobrol di ruang tamu. Dia ada di ruang keluarga bersama neneknya, sengaja meninggalkan ibunya dengan pria yang akan menjadi ayahnya suatu hari nanti.

“Nek, menurut nenek apa Wonwoo samcheon adalah orang yang tepat untuk ibu?”

“Nenek tidak bisa memberi penilaian seperti itu.”

Yoon sama sekali tidak menoleh pada neneknya. Matanya masih menatap ke arah ibunya dan Wonwoo di ruang lain.

Yoon penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Yoon tahu jika dia di sana, dia akan jadi penghalang untuk dua orang itu.

“Kenapa?”

“Bagi nenek, asalkan kau dan ibumu bahagia, maka pria itu adalah pria yang tepat untuk kalian.”

Kali ini Yoon menoleh pada neneknya. Yoon memeluk wanita yang umurnya sudah lewat dari setengah abad itu.

“Apa dulu nenek juga seperti ibu, punya kekhawatiran saat akan menikah?”

“Nenek tidak mengalami apa yang ibumu alami. Jadi nenek tidak pernah merasa seperti itu. Tapi nenek paham bagaimana perasaan ibumu.”

“Bagaimana?”

“Dia tidak ingin kau yang menjadi korban jika dia gagal nanti. Menikah lagi bagi seorang ibu yang sudah punya anak adalah keputusan yang sulit diambil.”

Yoon dalam pelukan neneknya mengangguk-angguk. Matanya kembali melirik ke arah ruang tamu.

Ibunya dan Wonwoo tidak terlihat aneh jika bersama. Walau umur mereka terpaut tujuh tahun, wajah awet muda ibunya membuat itu tidak tampak.

Yoon lah yang akan membuat itu menjadi sesuatu yang jelas. Kehadiran Yoon lah yang akan menjadikan itu sebuah masalah.

“Nek, kalau aku tidak ada, ibu pasti sudah menikah lagi dari dulu. Iyakan?”

“Apa yang kau bicarakan? Menikah itu sebuah pilihan.”

“Tapi aku merasa seperti akulah yang membuat ibu kabur ke sini dan pergi meninggalkan Wonwoo samcheon dulu.”

Neneknya mempererat pelukan mereka.

“Itu hanya perasaanmu.”

 

Tapi aku yakin akan itu, nek..

 

 

Dua tahun lalu.

 

 

“Wonwoo-ya, lalu bagaimana denganmu? Wanita seperti apa yang akan kau nikahi suatu hari nanti?”

Ada jeda yang lumayan sebelum jawabannya.

“Seorang wanita dengan satu putri yang cantik.”

“Seorang janda?”

“Hem. Dia yang lebih tua beberapa tahun dariku.”

“Waw, kau punya selera yang berbeda. Tapi apa alasanmu ingin wanita seperti itu yang kau nikahi? Kebanyakan pria lebih suka gadis yang lebih muda dan cantik.”

“Karena kurasa aku akan belajar menjadi suami yang baik jika bersama dengan wanita seperti itu. Seorang putri darinya akan membuatku belajar menjadi seorang ayah yang baik juga.”

Suara tepuk tangan santer terdengar di studio acara live itu.

“Waw, kau sangat dewasa.”

“Memang seperti itu. Wonwoo hyung, adalah yang paling dewasa di antara kami bertiga belas sejak dulu.”

“Ah benarkah? Lalu bagaimana denganmu Mingyu-ya?”

….

 

 

 

“Bu, Wonwoo samcheon semakin tampan ya?”

“Hem.”

“Teman-temanku di sekolah banyak yang menyukai Wonwoo samcheon.”

“Itu bagus.”

“Suatu hari nanti, bisakah aku benar-benar pergi ke pantai dengannya?”

“…”

“Bu?”

“Ibu tidak tahu, sayang. Ibu bahkan sudah tidak tahu cara menghubunginya.”

“Tapi dia sering menghubungi ibu dulu.”

“Dulu berarti bukan sekarang.”

“Ah ibu!”

“Ke pantai dengan nenek dan ibu saja masih kurang bagimu?”

“Bukan seperti itu. Aku hanya merasa akan menyenangkan jika ada pria yang ikut. Dia bisa mengisi tempat ayah.”

“…”

“Wonwoo samcheon itu baikkan, Bu?”

“Eum, dia baik.”

“Ah andai saja dia ayahku. Aku bisa memarekannya pada teman-teman di sekolah.”

“Menjadi putri dari seorang idol itu bukan hal yang menyenangkan. Kau tahu?”

“Kenapa?”

“Banyak orang yang akan iri padamu. Itu berarti banyak yang akan membencimu.”

“Tidak apa-apa. Biarpun seorang idol, dia akan tetap menjadi ayahku.”

“Sudahlah, kenapa justru membicarakan itu?”

“Hah? Aku hanya mengandai-andai jika itu sungguhan. Seorang Jeon Wonwoo akan jadi ayahku. Pasti menyenangkan.”

“Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Sudah sana tidur, besok kau akan ada darma wisata ke Seoul, kan?”

“Siap, Bu.”

Setelah mengecup pipi ibuku, aku melangkah ke arah kamar. Tapi aku tidak benar-benar masuk kamar. Aku ingin melihat ibuku sekali lagi.

Mata ibu terus menatap tv itu sejak awal acara. Dia tidak tertawa saat sesuatu yang lucu terjadi di sana. Hanya segaris senyum yang muncul di wajahnya. Dan setiap kali wajah pria itu memenuhi layar, maka akan ada kilau yang aneh di mata ibuku.

Aku tahu aku masih terlalu muda untuk memahami ini, tapi aku tahu, aku bisa mersakan kalau ibuku merindukan pria itu.

Aku tidak pernah bisa berhenti membicarakan pria itu. Tidak bisa. Entah karena apa, aku hanya merasa tidak bisa.

Ibu kembali ke rumah ini karena dia ingin bersama denganku. Tapi karena itu juga dia tidak bisa bersama dengan pria itu.

Aku merasa seperti pagar yang membatasinya untuk bersama seseorang. Aku merasa kehadiranku justru membuatnya semakin sulit menjalani hidup.

Menjadi putri seorang idol itu pasti akan sulit. Tapi bagiku lebih sulit terus melihat ibu merasa bersalah setiap kali melihat pria itu di tv.

Aku harus melakukan sesuatu.

Sebelum terlambar aku harus melakukan sesuatu untuk mereka berdua. Akan aku buat hal yang bagi ibuku tidak mungkin terjadi, menjadi hal yang mungkin terjadi.

 

 

Curhat Dikit :

Ini dia Sequelnya Never Be.. bagi yang belom baca, pasti rada bingung ya? Saran aja, sekarang baca Never Be, biar gak bingung lagi.. hehe/promosi/heheh

Aku mau jujur ya, di FF ini ada beberapa harapanku untuk Seventeen nantinya. Kaya yang Konser ngerayain sepuluh tahun Seventeen debut. Aku harap mereka bisa terus bertiga belas sampai sepuluh tahun yang akan datang, sepuluh tahun berikutnya juga dan seterusnya sampai alam yang memisahkan mereka.

Bisa jadi bintang besar kaya senior-seniornya yang udah bertahan lama juga. Dan yang paling-paling adalah Jeonghan bakal bertahan dengan imej rambut panjangnya.

Walau Jeonghan tetep ganteng dengan rambut pendeknya, tapi rambut panjangnya itu kaya sesuatu yang bikin dia berbeda dari yang lain. /cantikbo/cantikbanget/hehe

Kalo bagian Hoshi nikah sama Sohyun, atau Wonwoo nikah sama janda, liat nanti deh.. sebagai Fans yang baik aku cuma bisa berdoa semoga mereka bisa dapet jodoh yang baik buat mereka. /alahsokbijaklo/gakpapa/

Okeh, sekian dari saya, Febby pamit. Bye–

2 pemikiran pada “[Oneshot] Maybe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s