[Twooshoot] I’m Fine Thank You Love You part 2

1453893303829.jpg

>>>>>>   Part sebelumnya  <<<<<<

.               .               .

“sepertinya oppa menyukaimu.”  Ucapan Sophia yang dia ucapkan dengan nada lembut dan serius itu terus terngiang di telinga dan pikiran Seungkwan. Dadanya terus berdebar mengingat kata-kata anak kecil itu sampai membuat dirinya sering melamun dan susah tidur. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya perkataan anak kecil seperti Sophia mempengaruhinya beberapa hari ini.

“hey!” kejut Hansol pada Seungkwan yang duduk di atas tumpukan kayu yang ada di lahan kosong tempat mereka biasa bertemu. Reflex Seungkwan melemparnya dengan buku yang ada di tangannya. “bisa tidak untuk tidak mengejutkanku?” omel Seungkwan membuat Hansol terkekeh geli dan mengambil tempat duduk di samping Seungkwan.

 

“habis daritadi aku memanggilmu, kau tidak dengar malah asik melamun, sedang memikirkan apa sampai seserius itu?” tanya Hansol. Seungkwan menoleh dan menatap wajah Hansol. Ia terdiam sejenak menatap lurus mata coklat kehijauan itu. semakin ia menatapnya, jantungnya semakin berdetak kencang seolah ada aliran listrik yang di alirkan dari sana sehingga membuatnya tersetrum dengan tegangan tinggi.

Seungkwan menggeleng cepat lalu berdehem. Ia tidak tau lagi apakah wajahnya memerah atau tidak. “tidak, tidak ada apa-apa, aku tidak sedang memikirkan apa-apa,” ucap Seungkwan cepat. Hansol terkekeh lagi kemudian tersenyum jahil. “jangan-jangan.. kau sedang memikirkan aku ya?” tanya Hansol menoel lengan Seungkwan dengan jahil. Seungkwan membulatkan matanya dan wajahnya semakin memerah.

Seungkwan meraih bukunya lagi dan memukulkannya pada Hansol berkali-kali membuat Hansol meringis sakit. “yak!yak! sakit! Ahaha ampun! Aku hanya bercanda!” ucap Hansol sambil mencoba menhentikan pukulan dari Seungkwan. Sang pelaku memberengut kesal dan menatap Hansol tajam.

“candaanmu tidak lucu.” Gumam Seungkwan memutar bola matanya malas. Sementara Hansol hanya tertawa pelan.  Seungkwan tidak menghiraukan tawanya Hansol yang menyebalkan itu, ia lebih memilih membuka bukunya lagi dan kembali membaca. “menurutmu..” ucap Hansol buka suara membuat Seungkwan gagal membaca lagi. “eum?” gumamnya menunggu Hansol melanjutkan kata-katanya.

“ada seseorang yang akhir-akhir ini yang membuatku terus ingin melihatnya, senyumannya cerah, wajahnya manis dan cantik dalam waktu yang bersamaan, tingkahnya pun menggemaskan, dan setiap aku berhadapan atau berdekatan dengannya… jantungku terus berdebar cepat, apa ini namanya…” dia mulai membicarakan wanita. Batin Seungkwan. Entah kenapa sebagian dirinya terasa bergores mendengar Hansol bercerita tentang wanita dan dia sedang berbicara kalau ia sedang…

“jatuh cinta.” Sahut Seungkwan tanpa menatap Hansol.

“jatuh cinta?” ulang Hansol. Seungkwan mengangguk cepat dan berusaha menguasai ekspresinya dengan tersenyum tipis. “ya, kau sedang jatuh cinta, siapa wanita tidak beruntung itu? ahahaha.” Ucap Seungkwan merangkul pundak Hansol sebagai sahabat seperti yang ia biasa lakukan. Hansol hanya tersenyum lebar.

“tidak mau mengatakannya? Yak! Kau anggap apa aku ini??” tanya sengkwan menoyor Hansol.

Hansol menahan tangan Seungkwan, “bukannya aku tidak mau mengatakan hanya saja kau belum boleh tau.” Ucap Hansol dengan wajah berseri-seri.

“terserahmu.” Ucap Seungkwan melepas kasar tangan Hansol yang menahan tangannya. Dengan langkah besar-besar ia meninggalkan lahan itu meninggalkan Hansol sendirian di sana. Hansol menghela nafasnya berat sambil memandang punggung Seungkwan yang lama-lama menghilang dari pandangannya.

Sekarang ia malah membuat Seungkwan merajuk dan marah? Hansol tidak tau. Hansol hendak beranjak dari tumpukan kayu itu karena matahari mulai menyembunyikan dirinya dan langit berubah kelabu. Tetapi ia menemukan buku Seungkwan tertinggal. Hansol memungut buku itu, ia ingin mengembalikannya pada Seungkwan tapi ia tahu saat ini bukan saat yang tepat. Karena Seungkwan sedang marah padanya.

.               .               .

Seungkwan tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia semakin tidak mengerti ketika ia berlari masuk ke dalam kamarnya dengan meneteskan air mata. Kenapa ia menangis? Kenapa ia menangis hanya karena Hansol bercerita tentang dirinya yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita? Bukankah itu bagus? Kenapa sebagai sahabat Seungkwan malah marah dan menangis?

Ia menelungkupkan kepalanya di atas lengan yang tertumpu di meja belajarnya. Disana ia mengeluarkan semua rasa sakitnya. Menangis tersedu-sedu seperti perempuan, ia merasa malu terhadap dirinya sendiri. Perasaannya campur aduk, ia tidak tahu harus bagaimana. Seungkwan yang selalu ceria, banyak ide, dan jenius menguap begitu saja malam ini.

Malam ini hanya ada Seungkwan bodoh yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Padahal ia tahu itu adalah hal yang salah dan terlarang. Tetapi siapa yang tahu cinta kapan akan datang?

 

.               .               .

 

Siang itu, di sekolah, Seungkwan duduk di perpustakaan dan memandang ke arah luar jendela di mana bulir-bulir air dengan deras turun membasahi permukaan kaca jendelanya. Pandangannya kosong, akhir-akhir ini ia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada makan siang di kafetaria. Hanya satu alasannya, ia ingin menghindari Hansol.

Sebenarnya setelah malam itu, Seungkwan hendak membuang perasaannya jauh-jauh karena ia sadar, perasaannya terhadap Hansol itu salah dan terlarang. Selamanya Hansol akan menjadi sahabatnya, ia tahu itu walaupun menyakitkan, Seungkwan mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. tetapi siang harinya di sekolah, Seungkwan memergoki Hansol yang sedang berbincang dengan seorang gadis berparas cantik , berambut coklat, senyuman yang manis. Hansol terlihat tersipu-sipu berbincang dengan gadis itu dan Seungkwan yakin pasti gadis itu lah yang di bicarakan oleh Hansol.

Seungkwan sudah berjuang sekuat tenaga untuk bersikap normal dan biasa saja. tetapi Seungkwan bukan tipe orang yang mudah membohongi perasaannya sendiri. Bukannya ia menghampiri Hansol, ia malah berbalik ke arah yang berlawanan. ia kembali merasa dadanya tertusuk dan yang bisa ia lakukan hanya menangis.

Sekarang ia tidak mau menangis lagi, sebelum ia kembali menangis, Seungkwan memutuskan untuk menghindari Hansol saja. Hansol memang beberapa kali berusaha mendatanginya dan mencegatnya. Tetapi selalu saja gagal. Seungkwan rela pergi kesekolah lebih pagi , dan lari secepatnya menuju perpustakaan dan pulang lebih lama dari biasanya.

Karena aksi menghindarnya Seungkwan, Hansol menyadari sesuatu. Ternyata Seungkwan benar-benar marah padanya hanya karena tidak memberi tahu siapa orang yang telah membuatnya jatuh cinta. Tapi? Haruskah ia menghindari Hansol?

Hansol merasa kesepian selama seminggu ini di hindari oleh Seungkwan. Tidak ada yang pagi-pagi menggedor kamarnya, menjemputnya di kelas untuk makan siang, bercerita panjang lebar sedetail mungkin tentang apa saja yang terjadi pada dirinya hari ini, bermain bersamanya, saling melempar candaan.. bukan hanya Hansol, Sophia juga merasakan kehilangan sesuatu dari Seungkwan. Senyuman cerianya yang biasanya menyilaukan kini hanya sebuah senyum palsu yang di paksakan.

Hansol tidak tahan lagi, ia harus meminta penjelasan mengapa Seungkwan tiba-tiba berubah dan menghindarinya. Ia merasa dirinya harus bertindak.

.               .               .

 

Sebelum Seungkwan melarikan diri, Hansol rela bangun lebih pagi dan menunggu Seungkwan di ruang tengah rumah Seungkwan. Sebenarnya ia mau menunggu di depan rumah tetapi ibu Seungkwan yang biasa menyapu halaman pada pagi hari melihatnya berdiri di depan pagar dan menyuruhnya untuk masuk dan menunggu Seungkwan di dalam.

Betapa terkejutnya Seungkwan saat ia menuruni tangga dan mendapati Hansol duduk di tengah ruangan. Tatapan mata keduanya bertemu, Hansol mengembangkan senyumannya tetapi ada keterkejutan di mata Seungkwan. Seungkwan mulai berjalan mundur dan kembali masuk kekamarnya. Tetapi Hansol mengejarnya sebelumnya ia meminta izin pada ibu Seungkwan.

Sebelum Seungkwan mengunci pintu, Hansol mengganjal pintu itu dengan kakinya. “Boo Seungkwan!!” serunya. Tetapi Seungkwan terus berusaha menjauhkan kaki Hansol dan menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Nafas Hansol terengah-engah sehabis berlari menaiki tangga begitu juga Seungkwan yang menyenderkan tubuhnya di balik pintu.

“ayolah boo Seungkwan… buka pintunya.” Pinta Hansol masih setia berdiri didepan pintu. Tetapi Seungkwan hanya diam tidak menyahut ataupun membuka pintu. “ada yang ingin ku bicarakan padamu.” Ucap Hansol lagi.

“kalau itu soal kau jatuh cinta dengan wanita itu, aku tidak mau mendengarkannya.” Sahut Seungkwan tegas membuat Hansol mendongakkan kepalanya dan menatap pintu kamar yang di tempeli berbagai macam poster juga sticker itu dengan bingung. “k-kenapa? Jangan bilang.. astaga, boo, kau cemburu?” tanya Hansol sambil tekekeh dengan menumpukan satu tangannya di pintu kamar Seungkwan.

“cemburu?! S-siapa yang cemburu?! Aku hanya tidak suka mendengarmu berbicara soal wanita.” Sahut Seungkwan dengan tergagap-gagap.

“iya, kau cemburu.”

“Tidak!”

“cemburu.”

“Tidak!!”

“kalau kau tidak cemburu , kenapa kau harus marah padaku dan menghindar?” ucap Hansol mengakhiri perdebatan mereka. Seungkwan tidak menyahut lagi, yang terdengar hanya bunyi suara kunci terbuka dan knop pintu yang di Tarik kedalam.

Hansol tersenyum mendapati Seungkwan di hadapannya dengan wajah tertunduk dan mata merah berkaca-kaca. “kau menangis..?” tanya Hansol lembut sambil mendekati Seungkwan.

Seungkwan tidak menjawab, ia malah terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mata Hansol membulat, ia panik, ini pertama kalinya ia melihat Seungkwan menangis terisak sesedih ini, melihat Seungkwan seperti ini ia menjadi tidak berdaya dan merasa ia harus melindungi sosok Seungkwan.

Hansol menarik pelan Seungkwan ke pelukannya. Ia mendekap Seungkwan dengan lembut membiarkan Seungkwan menangis terisak di pundaknya. Seungkwan menangis cukup lama dan membuat seragam Hansol basah di bagian pundak. Setelah puas menangis ia melepaskan dirinya dari pelukan Hansol.

“kau cemburu..” gumam Hansol sambil menangkup kedua pipi Seungkwan.

Seungkwan kembali memberengut dan wajahnya memerah. “baiklah kau menang!” sahutnya dengan kesal. “lalu untuk apa kau kesini? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Seungkwan menatap lurus mata Hansol dengan penuh amarah.

“sebelumnya aku ingin meminta penjelasan kenapa kau menghindariku selama seminggu penuh, aku tidak tau di mana letak kesalahanku, aku mengira kau marah karena tidak memberi tahumu siapa orang yang kusuka, tapi sekarang sudah jelas kenapa kau kau marah dan sebab kau menghindariku..” ucap Hansol sambil tersenyum manis yang menurut Seungkwan menyebalkan.

“memang apa?”

“kau cemburu karena aku jatuh cinta dengan seseorang kan?” tanya Hansol dengan senyum jahilnya. Seungkwan mendengus dan mendorong Hansol tetapi Hansol menahan tangannya dan kembali mendekap tubuh Seungkwan yang sekarang lebih kecil dari tubuhnya. “akui saja aku tidak akan marah.” Bisiknya. Tetapi Seungkwan hanya diam tidak menjawab.

“lagi pula aku tidak sedang jatuh cinta dengan seorang wanita.” Lanjut Hansol membuat Seungkwan melepaskan pelukkannya lagi dan menatap Hansol dengan bingung. “apa maksudmu?” tanyanya dengan suara serak. “aku..” wajah Hansol mulai memerah. “aku..” ucapnya lagi tergugup-gugup kemudian berdehem.

“apa??” tanya Seungkwan tidak sabar dan mengguncang tubuh Hansol. “aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki.” Ucap Hansol pelan membuat Seungkwan membelalakan matanya tidak percaya. “kau.. apa?” tanya Seungkwan lagi semakin tidak mengerti.

“dan kau tau siapa laki-laki tidak beruntung itu?” Hansol berbalik bertanya dan memegang kedua pundak Seungkwan. “siapa?” tanya Seungkwan pelan. Tetapi Hansol malah mendekati wajahnya dan menempelkan bibirnya di atas bibir Seungkwan. Tidak terjadi apa-apa, Hansol hanya menaruh bibir itu di sana dan mendiamkannya selama beberapa detik lalu melepasnya.

Ia melihat reaksi Seungkwan terkejut dengan wajah merah padam seperti tomat dengan kedua pipi bulatnya. “boo Seungkwan.” Ucapnya menjawab pertanyaan Seungkwan membuat Seungkwan menahan nafasnya selama beberapa saat. “oh sial.” Umpat Seungkwan kemudian tertawa lepas lalu diikuti Hansol tertawa lepas.

“dan kau tau laki-laki beruntung itu akan berkata apa kalau seorang ‘Hansol’ menyatakan cinta padanya?” tanya Seungkwan ketika tawa mereka mereda. Hansol mengerenyitkan keningnya dan menatap Seungkwan penuh tanya.

“aku juga cinta padamu.” Kalimat itu, sukses mengukir senyuman dan menimbulkan rona di pipi seorang Hansol Vernon Chwe.

 

.               .               .

END

 

.               .               .

 

Kalian tau gak ini ngetiknya sambil gemeteran dan mules. Verkwan terlalu cute. Agh sial.

 

Read and Review juseyo?

Vomment??

 

_Lady ChulHee_

Iklan

5 pemikiran pada “[Twooshoot] I’m Fine Thank You Love You part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s