[Chapter 7] Hey Puppy

Hey Puppy

Storyline & Poster by Harimingyu

Main Cast Seventeen Mingyu | Vernon | Yoo Gangjin (OC)

Other Cast Seventeen Wonwoo | Hoshi | Woozi | Yoo Gangmi(OC)

Lenght Chaptered

Genre School Life | Romance | Friendship | Family

Rating PG-15

“Rasanya begitu nyaman saat aku disampingmu”

Chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

MOHON MAAF JIKA TYPO BERTEBARAN HEHEHE

ENJOY~

Gangjin menghentikan langkahnya dan berhenti di sebuah taman. Ia melangkah dan duduk diatas ayunan.

Matanya sembab, sedaritadi ia menangis. Entah apa yang membuat ia menangis. Ia sendiri bahkan tidak tau apa yang membuatnya menangis. Ia menyandarkan kepalanya pada rantai ayunan dengan tatapan kosong hingga tiba-tiba ia merasa hangat. Sebuah jaket bertengger manis di bahunya.

Ia menoleh dan melihat Hansol yang kini berdiri disampingnya.

“Jangan liat aku. Wajahku sedang tidak bagus. Jangan menatapku seperti itu”, ujar Gangjin sambil mengusap pipinya. Hansol terkekeh kemudian mengacak pelan rambut Gangjin.

“Dasar anak anjing”, ujar Hansol. “Anak anjing yang cengeng”, lanjutnya.

“Aku sudah bilang, jangan melihatku. Lihat saja yang lain. Mataku sembab seperti kan jelek sekali. Kau selalu bilang aku jelek saat menangis”, ujar Gangjin sambil memainkan ujung jaket Hansol yang bertengger di bahunya. Hansol terkekeh lagi kemudian berjongkok didepan Gangjin. Gangjin tetap saja menyembunyika wajahnya.

“Lihat aku”, ujar Hansol sambil memandang Gangjin. Gangjin menggelengkan kepalanya.

“Lihat aku, puppy-ya”, ujar Hansol lagi. Gangjin menegakkan wajahnya perlahan menghadap Hansol.

“Tsk kau ini harus kupanggil seperti itu dulu baru kau menurut”, ujar Hansol kemudian tertawa kecil.

“Jangan melihatku”, ujar Gangjin.

“Wae?”

“Jangan melihatku. Aku jelek”

“Kata siapa?”

“Katamu. Saat kita di Amerika”

“Hmm, benarkah?”

“Iya”

“Tapi aku suka gadis yang jelek. Apalagi anak anjing yang jelek sepertimu”

“Diamlah. Jangan bercanda”

“Aku tidak bercanda, bodoh”

“Lalu?”

“Lalu aku ingin menciummu”, ujar Hansol sambil menatap Gangjin lekat.

“Mwoya”, ujar Gangjin sambil mendorong Hansol. Hansol tertawa kemudian berdiri.

“Kkaja(Ayo). Sudah malam, tidak baik perempuan ada diluar seperti ini”, ajak Hansol sambil mengulurkan tangannya didepam wajah Gangmi. Gangmi tersenyum dan menggapai tangan Hansol.

“Kkaja”, ujar Gangjin kemudian mereka berjalan menuju rumah Gangjin.

*****

“Woozi-ya andwae andwae! Jangan kesitu disitu banyak terorisnya”, omel Hoshi pada Woozi yang kini sedang bermain Counter Strike di pcnya.

“Kesitu kesitu aniya kanan kanan Woozi-ya”, ujar Wonwoo.

“Heish chakkaman(sebentar)”, ujar Woozi sambil memainkan jarinya pada keyboard. Mata mereka bertiga terfokus LCD. Suara keyboard pun terdengar ramai. Hingga akhirnya muncul kalimat “YOU’RE DEAD. TERORIST WIN”

“MWOYAAAAAA”, ujar Woozi, Wonwoo dan Hoshi bersamaan.

“Paboya Woozi”, omel Hoshi sambil menjitak kepala Woozi.

“YAKK!! INI SALAHMU KENAPA MENYURUHKU MASUK KESITU”, balas Woozi.

“YAKKK!!!! SHUT UP!!!”, teriak Mingyu pada ketiga temannya itu. Seketika Wonwoo, Hoshi, Woozi terdiam dan saling bertukar pandang.

“Si bocah bodoh itu kenapasih?”, bisik Hoshi.

“Molla”, jawab Wonwoo sambil menggelengkan kepalanya.

“Daritadi marah-marah. Sepertinya bocah itu sedang kesal”, ujar Hoshi dengan nada yang dibuat-buat.

“Apa kencannya tidak berjalan mulus?”, tanya Woozi.

“Sepertinya begitu”, jawab Wonwoo yang dibalas dengan bulatan di mulut Woozi dan Hoshi.

“Aku keluar sebentar. Jangan hancurkan rumahku”, ujar Mingyu sambil menarik sweaternya dan berjalan keluar rumah.

“Mau kemana dia?”, bisik Hoshi lagi.

“Sudahlah ayo kita main lagi”, ujar Woozi kemudian kembali terfokus pada gamenya.

*****

Gangjin meringkukkan tubuhnya dikasur dengan balutan selimut. Matahari mulai memunculkan sosoknya dibalik tirai kamarnya.

TOK! Sebuah batu kecil mendarat dijendelanya. TOK! Jendelanya kembali dilempari batu kecil.

“Ah mwoya”, gerutu Gangjin kemudian membuka jendelanya dan menemukan Hansol, Woozi, Hoshi, Wonwoo dan juga Mingyu yang kini sibuk dan ponselnya berada didepan rumahnya dengan setelan jas hitam.

“Cepat turun dan pakai baju hitam yang bagus, Gangjin-ah”, teriak Hoshi.

“Ada apa? Siapa yang meninggal?”, tanya Gangjin bingung.

“Sudah cepat turun”, ujar Wonwoo.

“Arraseo”, jawab Gangjin kemudian berlari menuju kamar mandi.

*****

Gangjin, Mingyu, Hansol, Hoshi, Wonwoo, dan Woozi kini berada didepan pohon Yoo Gangmi. Gangjin hanya diam sepanjang perjalanan.

“Jadi kalian ingin mengajakku kesini”, ujar Gangjin sambil menatap pohon Gangmi yang ada didepannya.

“5 November. Hari ini ulang tahun kaliankan”, ujar Woozi. Hansol melangkahkan kakinya kemudian meletakkan bucket bunga yang ia bawa dibawah pohon Gangmi.

“Happy birthday, Wild Puppy-ya. Sorry, aku baru mengunjungimu sekarang. Kau merindukanku? Aku merindukanmu Gangmi-ah”, ujarnya kemudian.

“Gangmi-ah, ini kali pertama kami datang dengan lengkap bukan? Hehe akhirnya kami datang berlima dengan lengkap”, ujar Hoshi.

“Hari ini, kami juga datang bersama saudara kembarmu Gangmi-ah”, ujar Wonwoo.

“Kenapa kau tidak pernah bercerita jika kau punya saudara kembar? Kau ini keterlaluan Gangmi-ah. Kupikir kau hidup kembali saat melihatnya hahaha”, ujar Hoshi sambil tertawa hambar. Gangjin melangkahkan kakinya dan mendekati pohon Gangmi. Tangannya menyusuri dahan pohon.

“Eonnie annyeong”, ujar Gangjin pelan. “Sudah lama kita tidak bertemu ya. Mian, aku sempat melupakan masa kecil kita. Aku.. Aku sempat mengalami benturan dikepalaku saat di Amerika yang membuatku kehilangan beberapa memoriku. Mianhae eonnie. Tapi… Sekarang aku sudah mengingatmu”, ujar Gangjin sambil tersenyum. Setetes air mata kluar dari matanya.

“Aku.. merindukanmu Gangmi eonnie. Apa kau baik-baik saja? Kau tetap mengawasi kamikan dari sana?”, lanjutnya. Hansol mendekati Gangjin kemudian merangkulnya.

“Tenang saja Gangmi-ah. Gangjin tidak se brutal dirimu, jadi kami pasti akan melindunginya dengan baik”, ujar Hansol sambil terkekeh.

“Saengil Chukkae Gangmi-ah. Bahagialah disana”, ujar Wonwoo. Kemudian ia, Woozi, Hoshi meninggalkan pohon Gangmi.

“Gangjin-ah, kkaja”, ujar Hansol sambil mengusap bahu Gangjin. Gangjin mengangguk dan mengikuti Hansol meninggalkan pohon Gangmi. Kini hanya tertinggal Mingyu yang masih berdiri memandang pohon Gangmi.

*****

“Gangjin-ah”, panggil Hansol.

“Ne?”, ujar Gangjin sambil menoleh kearah Hansol dan melihat sebuah cake ditangan Hansol.

“Happy Birthday, puppy-ya”, ujarnya. Gangjin menyunggingkan bibirnya.

“Make your wish and blow a candles, Gangjin-ah”, ujar Hansol. Gangjin memejamkan matanya beberapa saat kemudian ia meniup lilinya.

“Yeaayyyy”, ujar Hansol yang membuat Gangjin kembali tersenyum. Hansol kemudian meletakkan cake itu di kursi taman kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.

“Mwoya?”, tanya Gangjin.

“Tadaaaa”, ajar Hansol sambil menampilkan sebuah kalung yang menjuntai di tangannya. Kalung berliontin bintang dengan huruf G ditengahnya.

“Wow it’s cute, Vernon”, ujar Gangjin.

“This is your birthday gift from me”, ujar Hansol.

“Oh really?”, tanya Gangjin antusias. Hansol mengangguk kemudian berjalan ke belakang Gangjin dan memakaikan kalung itu di leher Gangjin.

“OMG! I’m so touched”, ujar Gangjin menunjukkan rasa senangnya. Hansol tersenyum.

Gangjin menarik liontin dikalungnya untuk melihatnya. Ia sangat menyukai bintang sama seperti Vernon yang sangat menyukai bintang. Saat ia sedang memandangi liontin kalungnya, tiba-tiba punggungnya terasa berat. Hansol memangku kepalanya di bahu Gangjin, menghirup aroma bunga dari rambut Gangjin sambil memejamkan matanya.

“Vernon”, panggil Gangjin.

“Begini saja. Biarkan seperti ini sebentar”, ujar Hansol sambil memeluk perut Gangjin dari belakang. Gangjin hanya diam.

“Kau tau apa yang aku rasakan?”, tanya Hansol.

“Mwohae?”, tanya Gangjin.

“Rasanya begitu nyaman saat aku disampingmu”

“Maksudmu?”

“Aku mencintaimu”

“Ne?”, Gangjin tidak dapat mencerna dengan baik perkataan Hansol. Ia melepas tangan Hansol dan berbalik memandang Hansol.

“Apa maksudmu?”, tanya Gangjin sambil berjalan mundur sedikit. Hansol menatap Gangjin lamat.

“Yoo Gangjin”, ujar Hansol sambil melangkah pelan mendekati Gangjin. Hansol mendekati wajah Gangjin sambil memejamkan matanya perlahan.

“Saranghae”, lanjutnya dan bibirnya bertemu dengan bibir Gangjin. Gangjin membelalakkan matanya saat bibir mereka bertemu. Hingga beberapa detik kemudian ia pun memejamkan matanya. Dan merasakan hembusan nafas Hansol menerpa wajahnya.

*****

Mingyu menyandarkan tubuhnya pada pohon Gangjin kemudian memejamkan matanya hingga akhirnya ia tertidur diantara semilir angin yang menerpa pohon.

“Yak! Kim Mingyu! Mingyu! Kim Mingyu cengeng bangunnn”, bisik seseorang di telinga Mingyu. Ia membuka matanya dan melihat seseorang berada disampingnya.

“Gangjin?”, tanya Mingyu. Orang itu tertawa.

“Mwoya? Ini aku Yoo Gangmi”, ujar orang itu.

“Gangmi? Kau….”, ujar Mingyu sambil menatap lamat gadis berdress putih bersinar disampingnya.

“Kau merindukanku? Ekekekek. Aku merindukanmu. Merindukan Hansol, Hoshi, Woozi dan Wonwoo”, ujar Gangmi.

“Gangmi kau masih hidup?”, tanya Mingyu. Gangmi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Aku selalu disini Mingyu-ah. Selalu disisi kalian semua. Aku mengawasi kalian semua”

“Gangmi-ah aku merindukanmu”

“Aku tahu hehe. Ah iya kau sudah bertemu Gangjin? Wahh Hansol memang keterlaluan. Apa katanya? Tidak sebrutal diriku? Dia pikir aku apa? Ah iya aku anjing liarnya dan Gangjin anjing jinaknya”

“Yoo Gangjin…”

“Wae? Kau menyukainya?”, tanya Gangmi sambil tersenyum.

“Aku… Aniya. Ini semua karena ia mirip denganmu”, jawab Mingyu. Gangmi kembali tertawa.

“Mingyu-ah”

“Ne?”

“Gomawo kau telah menyukaiku. Aku sekarang mengetahuinya. Kau sering datang menemuiku disini hihi. Kau ini tetap saja cengeng. Dasar payah dasar lemah hahahahaha”

“Kejar dia Mingyu-ah. Kau harus tetap bahagia. Jangan pikirkan aku. Kita memiliki dunia yang berbeda Mingyu-ah”, ujar Gangmi kemudian berdiri.

“Kau mau kemana?”, tanya Mingyu sambil berdiri mengikuti Gangmi. Gangmi tersenyum dan menghilang diterpa angin.

“Yoo Gangmi!!”, panggil Mingyu terbangun dari tidurnya. Mingyu mengedarkan pandangannya kesekeliling dan menghela nafasnya.

“Aku bermimpi”, gumamnya.

“Kejar dia Mingyu-ah. Kau harus tetap bahagia. Jangan pikirkan aku. Kita memiliki dunia yang berbeda Mingyu-ah”, kalimat itu terus berputar dipikirannya.

“Yoo Gangjin”, ujarnya kemudian berlari meninggalkan pohon Gangmi. Ia berjalan kesana kemari mencari Gangjin, hingga akhirnya ia menemukan Gangjin.

“Yoo Gang…”, kalimatnya tercekat saat Hansol mencium Gangmi didepan matanya.

“Choi Hansol. Kau benar-benar”, ujar Mingyu sambil mengepalkan tangannya.

*****

“Thank you, vernon”, ujar Gangjin saat ia dan Hansol sampai dirumahnya. Hansol tersenyum dan mengusap kepala Gangjin.

“Tidur yang nyenyak, Puppy-ya”, ujarnya. Gangjin terseyum kemudian memasuki rumahnya. Sesampainya dikamar ia segera menarik handuk dan melangkah menuju kamar mandi. Air shower mengalir ke tubuhnya. Kemudian ia menyentuh bibirnya, mengingat apa yang telah terjadi padanya tadi siang.

“Jatuh cinta itu.. Apakah seperti ini? Tapi, kenapa jantungku tidak berdebar-debar seperti yang banyak orang katakan saat jatuh cinta”, batinnya. Ia menyelesaikan mandinya dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.

Gangjin menyelimuti tubuhnya dan memandang keluar jendela. Siluet Mingyu tiba-tiba muncul dipikirannya.

“Aaakkkhh kenapa aku jadi seperti ini”, ujarnya sambil menendang kakinya ke udara dan memandang langit-langit kamarnya.

*****

Mingyu mendribble bola basketnya kemudian melakukan lay up. Mendribble kesana kemari seorang diri hingga keringat membasahi tubuhnya.

“Hhhhh hhhhh hhhh”, deru nafasnya berat. Sudah tiga jam ia bermain basket tanpa henti. Pikirannya kacau. Hatinya kacau.

“AAAKKKHH”, erangnya sambil memantulkan bolanya keras. Kemudian ia menelentangkan tubuhnya di lapangan memandang langit malam yang tak berbintang.

“Yoo Gangjin, apa benar aku jatuh cinta?”, gumamnya. Kemudian ia memukul dadanya.

“Kenapa hatiku begitu sakit. Ada apa sebenarnya”, lanjutnya kemudian memejamkan matanya.

*****

Vernon menyesap teh hangatnya sambil memandang keluar jendela apartementnya. Pandangannya kosong.

“Benar. Aku tidak salah lihat. Itu memang Mingyu”, ujarnya.

“Kalau memang dia sudah melihatnya, baguslah. Aku tidak perlu memberitahukannya”, lanjutnya.

TBC

Haeeee gaesss xD

Next chapter udah last chapter wkwkwk :V

Rencananya buat next chapter mau author protect aja wkwk :V

Yang mau minta passwordnya bisa line author di harimingyu_ atau bisa dm di ig harimingyu hehehe

Tengkyu banyakkkk ^^ Jangan lupa ditunggu comment dan likenya lhohhh hihi

Iklan

Satu pemikiran pada “[Chapter 7] Hey Puppy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s