[Oneshoot] Can I?

vernondo98.jpg

[Harimingyu FF Contest Finalist] : HFFC-11

Storyline by vernondo98

Seventeen Woozi & Cho Inha(OC) | Sad, Romance | General

“bukankah ini seperti deja vu?”

.

Dengan balutan sweeter hangat berwarna biru muda dan syal berwarna merah tua berbahan wol itu yang kini menemai malamnya diatas bukit sambil memandang kunang kunang kota Seoul dari ketinggian.

Tak ada suara, birai mereka seakan mati hanya untuk bertukar sapa. Ini bukanlah pertama kalinya mereka bersua, hanya saja kecanggungan masih menyelimuti dan kian terasa.

Sunyi, tak ada suara yang keluar dari buah bibir kedua orang yang sedari tadi berdiam diatas bukit, hanyalah suara ranting ranting yang silih berganti bertumbrukan dengan semilir angin yang sesekali lewat hanya untuk mengabsen kehadirannya, dan beberapa suara serangga kecil yag kini ikut serta dalam keheningan.

“Jihoonie, kita akhiri saja sampai sini” inilah kali pertama kata kata yang keluar dari mulut yeoja yang membut atensi pria disebelahnya yang sedari tadi memandangi kunang kunang kota Seoul itu mengubah posisinya berhadapan untuk sekedar memandang yeoja yang menemaninya sedari tadi.

Berbanding terbalik dengan kenyataan, bukannya terkejut ataupun marah, namja disebrangnya hanya tersungging manis membentuk senyuman khasnya, seakan sudah tau apa yang akan dikatakannya sedari tadi.

mianhae Jihoonie” lirih Inha penuh penyesalan

“aku tau, berhentilah berkata maaf padaku karna kau tak salah, ini hal yang terbaik untuk kita berdua bukan? Dan maaf karna selama ini aku telah membuatmu menangis-“ kata katanya terhenti tatkala butiran putih dan basah jatuh diatas pipinya, Jihoon menengadah keatas sambil tersenyum manis

“Inha-ya, lihatlah turun salju” ucap Jihoon membuat gadis disebrangnya ikut menengadah keatas melihat butiran butiran kristal yang jatuh dari langit dan menapakkan kakinya ditanah bumi

“bukankah ini seperti deja vu?” ucap Jihoon lalu kembali menatap gadisnya

“hmm…” dengungnya singkat ditambah senyumannya yang mewakili tiap pernyataan yang Jihoon lontarkan

“tempat ini, dan salju ini, pemndangan ini mengingatkanku pada pertama kali kau mengatakannya padaku, tempat ini adalah saksi bisu awal kisah kita. Aku benar bukan?” ucapnya merasa bangga.

“kau benar, aku senang kau tak melupakan hal yang satu ini” Jihoon segera menatap arloji berwarna hitam yang biasa ia pakai, seakan mengetahui sesuatu sehingga ia ingin sekali mengakhiri pembicaraan yang begitu serius ini.

“Inha-ya ini sudah larut, bukankah seharusnya kita pulang? Aku tak mau diomeli orang tuamu karna sudah membawa anaknya sangat lama”

“sepertinya begitu”

“aku akan mengantarmu”

“itu sudah kewajibanmu Jihoonie, memang sudah kewajibanmu membawaku pulang bukan? Kau yang sudah membawau kesini dan kaulah yang harus membawaku pulang” canda Inha ditambah tawanya yang masih setia menjadi sifatnya sejak dulu

“kalau begitu, kajja kita pulang” ucap Jihoon gembira seakan tak terjadi apa apa sebelumnya. Ia mulai mendorong kursi roda milik Inha hingga menuju parkiran.

Suasana kembali hening, Jihoon masih tetap fokus pada jalanannya, sedangkan Inha ia hanya menatap bingkai kecil yang terpajang pada mobil milik Jihoon. Sadar akan hal itu Jihoon menatap Inha sekedar mencuri pandangan selagi jalanan masih sangat kosong

“ada yang ingin kau katakan Inha-ya?” Tanya Jihoon yang kembali fokus pada jalannya

“mengapa kau masih memajang foto ini?” Tanyanya, Jihoon menatap fotonya dan Inha yang tersenyum manis dan terlihat sangat bahagia yang membuat ia tersenyum tipis memandangnya

“haruskah aku melepasnya?” Tanya Jihoon menanyakan pendapat

“tentulah kau harus melepaskan foto ini. Bagaimana jika kekasihmu melihat foto ini? Bukankah ia akan cemburu karna kau memajang foto gadis lain dimobilnya?”

“baiklah jika kau yang menyuruhku aku akan melepaskannya” ucapnya dengan keraguan, Jihoon terdiam sambil menatap bingkai yang tersimpan manis di mobilnya

waeyo Jihoonie?”

aniyo, hanya saja- Inha ya, kau tau? setiap kali aku menatap fotomu yang tersenyum manis seperti ini seakan membuat seluruh energiku terasa terisi kembali, selelah apapun diriku senyumanmu itu dapat mengembalikan energiku seperti semula. Kau ini bagaikan stimulan bagiku-”

“tapi tetap kau harus melepaskan foto itu” titah Inha membuat Jihoon terdiam

arasseo arasseo, aku akan melepaskannya” ujar Jihoon mengalah. Kini ia kembali fokus pada jalanannya tanpa melihat gadis yang sangat ia cintai sedari dulu.

uljima” lirih Inha singkat, dengan sekejap Jihoon segera menghapus jejak bulir bulir yang tanpa sadar jatuh dipipi kanannya

ani, aku tak menangis, hanya saja ada debu yang masuk kedalam mataku dan membuat mataku terasa perih”

“aku sangat beruntung bisa mengenal pria sebaik dirimu, aku sangat beruntung dapat dicintai pria sebaik dirimu. Kau pun pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dan lebih mencintaimu dari padaku” Jihoon masih menatap jalanan sesekali menghapus bulir bulir yang jatuh kepipinya

uljima Jihoonie, aku tak suka melihatmu menangis. Dan aku harap aku tak akan pernah melihatmu menangis seperti ini lagi”

“haha kau bercanda ya Inha, aku sama sekali tak menagis, untuk apa pria sepertiku menagis? Aku ini sangat kebal dalam hal apapun kau juga tau itu bukan? Aku ini bukan pria kecil yang suka menangis jika permenku direbut orang lain” ujarnya dengan percaya diri

“baiklah, aku percaya padamu Jihoonie” Inha sedikit menarik nafasnya dan membenarkan posisi duduknya

“aku harap dimasa mendatang kita bisa bertemu lagi dan bisa berteman dengan baik-“

gemmanhae Inha-ya, sudah ku bilang jangan mengatakan hal hal konyol seperti masa depan, aku tak ingin kata kata itu keluar dari mulutmu lagi”

mian

“lagi?, sudah berkali kali ku katakan untuk tak mengatakan kata ‘maaf’ didepanku, aku sungguh benci kau mengatakan itu padaku, seharusnya kau mengatakan kata terima kasih atau hal hal lainnya yang indah didengar”

“Eiss kau ini, banyak sekali peraturan yang kau buat, baiklah gomawo Jihoonie karna sudah mengisi hari hariku menjadi hari hari yang sangat mengesankan” itulah kata kata terakhir yang terlontar dari mulutnya sebelum ia memilih untuk bungkam dan membiarkan Jihoon fokus menyetir mobilnya, ia tak mau jika ia terlalu banyak omong salah salah akan membuat Jihoon tak fokus pada jalanannya dan terjadi sesuatu yang tak diharapkan.

Suasan semakin sunyi mengikuti suasana malam yang semakin larut. Jihoon menatap gadis disebelahnya yang kini sudah tertidur. Segera pula ia menepikan mobilnya sekedar mengambil beberapa kesempatan untuk memandang gadis yang amat dicintainya yang kini terlihat sangat damai.

“Inha-ya” saut Jihoon menatap lamat gadisnya itu

“apa kau tertidur?” tambahnya lagi, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Inha, ia terlalu lelap dalam tidurnya membuat Jihoon mengukir senyuman kecut diwajahnya. Ia menaikkan selimut yang sedari tadi terpajang ditubuhnya menutupi tubuh Inha hingga sepundak

“tidurlah yang nyenyak Inha-ya” sebelum itu satu kecupan ia berikan pada kening gadisnya yang masih tertidur sebelum ia benar benar keluar dari mobil.

Dengan kekuatan yang ada ia segera keluar dari mobilnya dan segera bersandar pada mobil membantunya untuk menahan berat badan yang sudah tak sanggup lagi melawan gravitasi bumi.

Egonya bahkan tak dapat ia kendalikan, air mata dengan derasnya membasahi seluruh pipi lembut milik Jihoon, ia terus berdiri dan berusaha menerima kenyataan bahwa gadis yang selama ini ia cintai dan selalu memberikan ia energi untuknya akan pergi untuk selama lamanya.

Jika saja tuhan memberinya pilihan pastilah ia meminta agar posisinya ditukar, ia tak tahan melihat kekasihnya itu menahan rasa sakit yang amat meyerangnya. Tumor diotaknya bahkan sudah meraja lela mengerogoti sebagian otaknya.

Baginya tuhan sangat tak adil, bagaimana bisa ia memberikan seorang gadis baik dan priang seperti Inha sebuah penyakit yang sangat mematikan?. Lebih baik ia yang merasakan seluruh kesakitan ini dibanding Inha yang harus merasakannya.

Tapi mau bagaimana lagi, maut sudah menjemput dan takdir sudah ditetapkan ia hanya dapat pasrah melihat kekasihnya yang sudah terlalu lelap dalam tidurnya dan benar benar meninggalkannya untuk selama lamanya.

-END-

Jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

Karena dari kritik dan sarannya bisa membantu aku untuk menilai ffnya juga hihi

Gamsahamnida..

Iklan

Satu pemikiran pada “[Oneshoot] Can I?

  1. huwaa puk puk untuk jihoon/? yang sabar ya dek uji hidup emang penuh cobaan :’) mending sama aku aja yuk sini /ga/
    menurut aku ff-nya bagus, apalagi bahasanya bikin feel-nya jadi dapet 🙂 keep writing yaa:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s