[Oneshoot] Paper Heart

 

paper heart.jpg

[Harimingyu FF Contest Finalist] : HFFC-12

Storyline by ay_rjsjjvj

Seventeen Wonwoo & Park Taesoo | Romance

“iya, kau kekasihku sekarang.”

Pagi ini terlihat cerah. Wonwoo mengayun sepedanya sepenuh hati. Dia ingin sampai di sekolah sepagi mungkin. Wonwoo melirik jam tangannya. Pukul 05.49. Wonwoo mengayun sepedanya semakin keras. Entah kenapa Wonwoo ingin berangkat pagi-pagi sekali hari ini.

Sesampainya disekolah, Wonwoo langsung memarkirkan sepedanya di tempat parkir. Setelah itu Wonwoo langsung berlari memasuki gedung sekolah. Sesampainya dilorong dimana loker-loker berada, Wonwoo terlihat mencari sesuatu.

Wonwoo menelusuri lorong tersebut sambil membaca nama yang ada di pintu loker yang dia lewati. Dia berhenti disebuah loker dengan tulisan ‘Park Taesoo’ di pintunya.

Wonwoo merogoh saku jasnya mencari sesuatu. Dari saku kanan berpindah ke saku kiri. Alis Wonwoo menyatu, yang dicarinya tak ada sama sekali. Wonwoo berganti merogoh i tasnya. Wajahnya terlihat lega saat yang dicarinya ketemu. Sebuah kertas lipat berbentuk hati berwarna pink.

Wonwoo menempelkannya dipintu loker tersebut. Dibawah tempelan nama. Setelah berhasil menempelkan kertas itu, Wonwoo tersenyum dan pergi dari tempat itu.

‘annyeong’

Wonwoo sedang berjalan dikoridor sekolahnya sambil membawa dua gelas float dari kantin. Wonwoo berjalan menuju lorong loker lagi. Dia berhenti di loker itu lagi. Wonwoo meletakkan satu gelas float itu diatas loker.

Tak sengaja mata Wonwoo melihat sebuah kertas di bawah tempelan nama loker itu. ‘annyeong ^-^’. Wonwoo mengambil kertas itu dan membanya lari jauh jauh dari tempat itu.

Wonwoo berhenti saat sampai di taman belakang. Wonwoo melihati kertas itu sambil tersenyum senang. Pipinya terlihat merah. Wonwoo menyeruput floatnya lalu menatapi kertas itu lagi.

‘dia membalasnya.’ Serunya dalam hati.

Wonwoo menciumi kertas itu. Lalu melompat-lompat tak jelas. Wonwoo tak ingat kalau tangan satunya sedang memegang segelas float. Dan float itu menumpahi jas nya sendiri.

“aish..”

Wonwoo terlihat memasuki sebuah toko bunga. Dia memilih-milih bunga yang ada disana. Wonwoo memilihnya dengan cari menciumi aromanya satu persatu. Saat sudah mendapatkan bunga yang menurutnya bagus, Wonwoo langsung mengambil beberapa tangkai dan membawanya ke kasir. Wonwoo mengambil ujung tangkai bunga lili biru.

Keesokan harinya Wonwoo berangkat pagi-pagi sekali seperti kemarin. Tangan kanannya menggenggam sebuket bunga lili biru sambil menyetir sepedanya.

Lagi-lagi Woonwoo pergi ke lorong loker dan berhenti didepan loker ‘itu’. Wonwoo melihat diatas loker itu sudah tak ada segelas float yang dia taruh kemarin. Wonwoo meletakkan buket bunga itu diatas loker.

Wonwoo melihat ada kertas hati lagi di tempat yang sama. Kali ini isinya berbeda ‘kau tahu aku suka float.’. Wonwoo mengambil kertas itu dan mengganti yang dia punya. ‘kau suka bunga? Bunga lili biru?’. Setelah itu Wonwoo berjalan meninggalkan loker ‘itu’.

Dikelas, Wonwoo sendirian. Teman-temannya belum ada yang datang. Wonwoo mengambil sebuah buku berawarna hijau tosca. Seperti buku diary. Wonwoo membuka halaman pertama. Ada tempelan kertas hati yang kemarin dia dapat. Dan Wonwoo menempelkan kertas hatinya yang baru dia dapat. Wonwoo membuka halaman belakang. Disana ada foto Taesoo. Wonwoo tersenyum.

‘kapan kita bisa dekat?’ tanyanya dalam hati.

Wonwoo sedang berdiri didepan mesin minuman dikantin sekolahnya. Wonwoo sedang memilih minuman mana yang biasanya diminum Taesoo. Jujur saja, Wonwoo hanya tahu kalau Taesoo suka float.

Akhirnya pilihan Wonwoo jatuh ke banana milk. Wonwoo mengambil dua banana milk itu. Setelah itu Wonwoo pergi darisana. Wonwoo masih ragu kalau Taesoo akan meyukai ini. Tapi siapa tahu kan.

Wonwoo sedang duduk di sebuah kursi di koridor yang menghadap ke lapangan basket. Kedua tangannya masing-masing menggenggam banana milk. Wonwoo belum menaruh banana milk itu ke loker Taesoo. Karena saat kesana lorong loker terlihat sangat ramai.

Dilapangan basket sedang ada murid perempuan sedang berlatih basket. Tanpa sengaja mata Wonwoo menemukan Taesoo sedang duduk di tepi basket. Dan saat itu juga mata Wonwoo malas untuk memandang ke arah lainnya.

Bel masuk berbunyi. Wonwoo langsung berlari menuju lorong. Wonwoo melihat keadaan lorong dari balik tembok. Sudah merasa sepi, Wonwoo langsung berjalan dilorong dan berhenti di loker Taesoo.

‘aku suka bunga ini. Terimakasih.’

Wonwoo tersenyum senang dan mengambil kertas hati itu. Tak lupa Wonwoo menaruh dua botol banana milk itu diatas loker Taesoo dan menempelkan kertas hatinya sebelum berlalu pergi.

‘aku tak tahu yang kau suka selain float. Jadi aku membeli ini.’

Keesokan harinya Wonwoo menaruh bekal nasi buatannya sendiri. Ini pertama kalinya dia memasak. Dia rela bangun pukul 3 pagi untuk berkutat di dapur. Dia membuat kimbab, telur gulung dan nasi goreng kimchi. Dan Wonwoo lupa tidak mencobanya tadi.

“aku harap kau tetap hidup setelah memakan ini.” Kata Wonwoo sambil menempelkan kertas hati ditempat biasanya. Sebelum menempelkan kertas hatinya, Wonwoo mengambil kertas hati balasannya yang kemarin.

‘aku tak suka susu. Tapi tetap aku minum J. Aku suka kopi. Coffe latte.’

‘ini pertama kalinya aku memasak. kau harus jujur bagaimana rasanya.’

Kadang Wonwoo merasa dia adalah pecundang. dia tak berani mendekati Taesoo sama sekali. Kebanyakan para lelaki di dunia ini akan mendekati yang dia suka dan mengajaknya kencan. Tapi Wonwoo lebih suka melihat Taesoo dari kejauhan.

Dulu Wonwoo pernah berancana mendekati Taesoo. Mengajaknya kencan. Mengajaknya jalan-jalan ke taman fantasi. Membayangkannya saja membuat Wonwoo senang bukan main. Tapi saat Wonwoo akan pergi ke kelas Taesoo, Wonwoo melihat Taesoo sedang mengobrol dengan seseorang. Dan itu laki-laki.

Wonwoo mengira itu pacar Taesoo. Karena waktu itu Wonwoo diberi bunga dan menerimanya. Setelah berhari-hari merasa sakit hati yang mendalam, akhirnya Wonwoo bisa tersenyum kembali dan sakit hatinya hilang.

Tak sengaja saat di kantin Wonwoo mendengar percakapan Taesoo dan teman-temannya.

“jadi, apa kau menerimanya?” Tanya teman Taesoo.

“tidak. Dia bukan tipeku.” Jawab Taesoo.

Wonwoo terus mengumpat. Pasalnya Wonwoo lupa membawa ‘something’ yang akan dia berikan ke Taesoo hari ini. Dan sialnya dia baru ingat saat dia sudah sampai di depan loker Taesoo. Dan juga lupa menulis di kertas hati itu.

‘apa yang terjadi padaku semalam sampai lupa mempersiapkan semuanya.’ Rutuk Wonwoo dalam hati.

Wonwoo mengambil pen dan kertas hati di dalam tasnya. Dia menuliskan sesuatu disana. ‘aku lupa membawakan sesuatu untukmu.’ Sebelum menempelkannya diloker, Wonwoo melihat ada dua kertas hati. Wonwoo mengambilnya lalu membacanya.

‘kenapa kau tak jadi koki saja. Ini enak sekali, sungguh.’

‘aku mau kau bawakan seperti ini lagi.’

Aduh, rasanya Wonwoo ingin terbang ke langit sekarang juga. Wonwoo tak kepikiran kalau seperti ini jawaban dari Taesoo. Dia terus memikiran jawaban yang buruk dari Taesoo. Wonwoo berjanji akan sering-sering membuatkan Taesoo masakan ini.

Wonwoo menempelkan kertas hatinya lalu pergi dari tempat itu. Wonwoo berjalan menelusuri lorong loker itu. Entah dapat pikiran darimana, tiba-tiba Wonwoo ingin sekali membuka lokernya yang berhari-hari dia lupakan.

Wonwoo membalikkan arah tujuannya. Dia berhenti didepan lokernya. Wonwoo memegang knop loker itu dan membukanya perlahan. Saat Wonwoo membukanya sesuatu jatuh dari sana. Setoples permen jatuh dan toples itu pecah.

Dengan terburu Wonwoo membersihkan toples yang pecah iu. Saking terburunya, telapak tangan kanan Wonwoo tergores kaca itu. Darah keluar dari telapak tangannya. Wonwoo meringis. Itu sakit sekali pasti.

Tanpa mempedulikan rasa sakitnya, Wonwoo menutup lokernya lagi dan membersihkan toples yang pecah itu dan membuangnya ketempat sampah. Wonwoo berlari menuju ruang kesehatan.

Sesampainya disana Wonwoo hanya duduk di tepi kasur. Tak mengobati lukanya ataupun sekedar memberhasikannya saja. Wonwoo melihat lukanya. Darahnya sampai mengenai celananya. Dia menghela nafas.

‘membolos sehari saja tak apakan?’

Wonwoo menidurkan tubuhnya. Memejamkan matanya dan meletakkan tangannya yang terluka diatas dahinya. Wonwoo tak sadar kalau darahnya sampai mengenai dahinya sendiri.

Wonwoo terbangun karena merasa ada yang sedang mengutak-atik tangannya. Saat membuka matanya, Wonwoo melihat ada seorang perempuan sedang memasangkan perban ditangannya.

Perempuan itu belum sadar kalau Wonwoo sudah terbangun dan masih melanjutkan kegiatannya memasang perban di tangan Wonwoo dengan telaten. Sedangkan Wonwoo terkejut setelah sadar kalau perempuan itu adalah Taesoo. Taesoo menolehkan kepalanya ke arah Wonwoo setelah selesai memsangkan perban. Dia tersenyum. Dan Wonwoo sedang asyik mengumpati dadanya yang bergemuruh itu.

“bagaimana bisa darahnya sampai ke wajahmu?” Tanya Taesoo. Taesoo mencondongkan wajahnya dan mulai membersihkan darah di wajah Wonwoo menggunakan tisu.

Wonwoo tak ingin terbangun dari mimpi indahnya. Sayangnya ini adalah kenyataan, dan kau tak perlu untuk bangun, Wonwoo. Kontrol saja dadamu yang terus bergemuruh semakin kencang.

“untung ada aku. Kalau tidak mungkin kau sudah kehilangan banyak darah.” Kata Taesoo.

Wonwoo masih setia dengan diamnya. Dia tak ingin mengucapkan sepatah katapun. Bukannya tak mau, tapi tak bisa. Dia ingin mengatakan terimakasih, tapi mulutnya terkunci begitu saja. Wonwoo hanya mengedipkan tanda dua kali sebagai kata terimakasih yang tak bisa dia ucaokan secara langsung. Tak peduli Taesoo memahaminya atau tidak.

“kalau begitu, aku mau istirahat disebelah sana.” Taesoo menunjuk kasur paling pojok.

Wonwoo mengangguk pelan. Matanya terus mengawasi Taesoo sampai dia tidur di kasur paling pojok. Wonwoo baru sadar kalau tangan Taesoo sangat dingin saat bersentuhan dengan kulitnya tadi.

“apa dia sakit?” Tanya Wonwoo lirih.

Wonwoo terus memandangi Taesoo yang tidur sambil memunggunginya. Raut mukanya terlihat khawatir. Wonwoo mulai memikirkan sebab-sebab Taesoo bisa sakit.

‘semalam hujan. Apa dia sedang keluar dan kehujanan saat pulang?’

‘apa dia kelelahan?’

‘apa dia kurang tidur?’

‘jangan-jangan dia tidak makan sejak pagi?’

Wonwoo memikirkannya sampai dia tertidur,

Seperti biasanya, Wonwoo datang sangat pagi. Sekarang dia sudah berdiri didepan loker Taesoo. Tangan kanan Wonwoo masih terbalut perban. Tangan kirinya membawa kantong plastic berisi makanan dan obat.

‘padahal aku menginginkan masakanmu L’

Entah kenapa Wonwoo tertawa kecil membaca tulisan Taesoo. Wonwoo menaruh kantong plastik itu keatas loker. Dia meletakkan tasnya dibawah. Wonwoo mengambil kotak bekal dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas loker. Wonwoo mengambil bolpoin dan kertas hatinya dan menulis dengan susah payah. Wonwoo menulis dengan tangan kirinya.

“sepertinya kau kesusahan.”

Wonwoo menoleh. Dengan buru-buru Wonwoo memasukkan kertas hatinya dan bopin ke dalam tasnya. Dia berniat untuk kabur saat itu juga karena Taesoo sedang berdiri disampingnya.

Wonwoo ingin melangkahkan kakinya untuk berlari, tapi sebuah tangan menarik jas bagian belakangnya yang membuatnya berbalik badan. Wonwoo melihat Taesoo tersenyum padanya. Wonwoo ingin menghilang saat itu juga. Dia belum siap mengatakan semuanya.

“kenapa kau pergi? Kau belum menyelesaikan tulisannya.” Kata Taesoo.

Wonwoo bingung harus menjawab apa. “eumm.. aniyo.”

“aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu padaku. Terlihat dari raut wajahmu.”

Tas Wonwoo jatuh. Wonwoo melangkahkan kakinya mendekati Taesoo. saat jaraknya sudah dekat Wonwoo langsung memeluk erat Taesoo.

“aku mencintaimu sejak lama.” Ucap Wonwoo.

Taesoo membalas pelukan Wonwoo. “kau yang setiap hari menempelkan kertas itu? Membuatkanku masakan yang lezat itu? Memberiku minuman favoritku?”

Wonwoo mengangguk.

Taesoo melepas pelukannya. Dia menatap mata Wonwoo yang sedang menatapnya juga. Taesoo masih ingat, Wonwoo adalah orang yang dia obati tangannya kemarin.

Tangan Wonwoo terangkat dan menempelkannya di dahi Taesoo. Dia merasa dahi Taesoo sangat panas. Tentu saja Wonwoo langsung panik setelah itu.

“gomawo.” Ucap Taesoo. “aku sangat beruntung saat tahu yang memberiku ini semua adalah kau. Aku sudah menyukaimu sejak lama juga. Tapi aku menyimpannya sangat rapi. Bahkan teman dekatku saja tidak tahu kalau aku menyukaimu.”

“kau masih ingat orang yang selalu memberimu setoples permen di dalam lokermu? Itu aku.” Lanjut Taesoo. “jika kau ingin…”

“kita bicarakan nanti. Kau harus istirahat penuh. Kau demam.”

“jika kau ingin, aku mau menjadi keaksihmu.”

Hati Wonwoo semakin berdegub. Dia tak tahu kalau keadaannya akan seperti ini. Wonwoo masih khawatir, Taesoo sedang sakit sekarang. Tapi Taesoo malah membuat dirinya terlihat baik-baik saja.

“iya, kau kekasihku sekarang.”

Taesoo tersenyum.

“aku akan membawamu ke ruang kesehatan.”

Wonwoo langsung menggendong tubuh lemas Taesoo dan membawanya ke ruang kesehatan. Walaupun Wonwoo tahu, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi Wonwoo benar-benar lega. Sekarang dia sudah memiliki Taesoo.

—fin—

Jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

Karena dari kritik dan sarannya bisa membantu aku untuk menilai ffnya juga hihi

Gamsahamnida..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s