[Oneshoot] Gone

masjosh30

[Harimingyu FF Contest Finalist] : HFFC-14

Storyline by masjosh30

GONE

Seventeen Joshua x Jeonghan x S.Coups| YAOI , BOY X BOY , BROMANCE | Rating-Aman

“Setelah upacara kremasi. Lebih baik kita pulang, kau butuh menenangkan dirimu”

“Apa kau pikir aku bisa diam dirumah dan lebih tenang? Tidak! Aku akan mengantarnya sampai upacara pemakaman dan pelarungan abu selesai”

.

“Malas sekali !”

Pagi tenangnya hancur ketika seorang pria cantik mencoba berkonsentrasi pada, tugas harian yang sudah beranak pinak didepan wajahnya. Wajah Jeonghan mendadak Gusar saat ia merasa benar-benar malas untuk menyentuh lembaran demi lembaran tugas yang ditinggal cuti oleh Dosennya itu.

“eh” Jeonghan terkejut ketika sebuah tangan menyentuh bahunya

“Yak! kapan kau masuk Jisoo-ya?” tanya Jeonghan. Sipemilik nama Jisoo hanya tersenyum lalu sengaja duduk dibangku Jeonghan yang kosong.

“Aku kesepian, Seungkwan tak masuk hari ini” ucap Jeonghan sebelum Jisoo bertanya.

“Apa karena kesepian, kau tak menyentuh lembar kerjamu sama sekali?” tanya Jisoo. Jeonghan menggeleng

“Aku merindukanmu” Jeonghan tersenyum kearah Jisoo. Pria manis itu juga membalas senyuman kekasihnya sambil membelai rambut milik Jeonghan.

“Eh, bagaimana bisa kau datang kemari? Kau meninggalkan pasienmu? Kau menyusup?” Jeonghan dan Jisoo terkekeh

“Jurusan kedokteran memanggilku untuk mengisi seminar mereka. Aku tak sengaja melewati kelas ini dan melihat kau melamun. Jadi, aku menghampirimu sayang” Jisoo menyambar bibir cherry Jeonghan dengan kecupan singkat.

“Jeonghan-ah!” Panggil seseorang, Jeonghan dan Jisoo menoleh kesumber suara secara bersamaan

“Ada apa?” tanya Jeonghan

“Aku pergi, kerjakan bersama Wonwoo. Aku tak bisa membantu jurusan arsitek” Ucap Jisoo seraya ia berdiri meninggalkan Jeonghan setelah mendapat anggukan pasti dari Pria cantik itu.

“Ada apa Wonwoo-ya?” tanya Jeonghan

“Ada apa kepalamu! Hanya kau yang belum mengumpulkan lembar kerjanya!” Teriak Wonwoo dengan tatapan emonya. Jeonghan hanya cengengesan sambil mengulurkan lembar kosongnya pada Wonwoo.

“kau mau aku mengerjakannya untukmu?” tanya Wonwoo. Jeonghan mengangguk

“Jisoo tadi kemari”

“Ya aku tau” Jawab Wonwoo malas

“kerjakan ya? Ayolah” Jeonghan menggoyang-goyangkan bahu Wonwoo manja

“iya baiklah!” Wonwoo mengambil lembar kerja kosong itu dan mulai mengisi.

Awalnya, Jeonghan dengan tenang meletakkan kedua tangan untuk menyangga kepalanya. Menatap Wonwoo yang memang pandai dalam mata kuliah tersebut, mengerjakan tugasnya. Tapi lama kelamaan Jeonghan gelisah juga saat matanya menatap pintu kelasnya.

“mau kemana?” sergah Wonwoo saat Jeonghan hendak bangkit dari kursinya

“Jisoo menungguku didepan pintu” Jeonghan menunjuk sesuatu yang mengganggu Wonwoo.

“Yak! mau menunggu disini atau kurobek lembar tugasmu?” Ancam Wonwoo, Jeonghan mendelik. Ia menganggukkan kepalanya lemas.

“Aku …”

“pilih aku robek?” tanya Wonwoo. Jeonghan menggeleng

“Hoe! Jisoo yang sedang berdiri dipintu itu! Pulanglah! Jeonghan sedang butuh konsentrasi mengerjakan lembar tugasnya!” teriakan Wonwoo sukses membuat seisi ruangan menatap kearah pintu dan Wonwoo secara bergantian.

“kau gila?” protes Jeonghan sambil membungkam mulut Wonwoo.

“kau yang gila!” Wonwoo menimpali sambil kembali mengerjakan.

Jeonghan tersenyum canggung saat seisi ruangan menatapnya dan Wonwoo sambil berbisik satu sama lain. Ia menatap pintu kesal, saat melihat Jisoo yang berada diambang pintu itu terkekeh dan meninggalkan tempatnya berdiri tadi.

“Wonwoo-ya, boleh malam ini aku menginap dirumahmu?” tanya Jeonghan

“kau masih marah pada kakakmu?” tanya Wonwoo. Jeonghan menggeleng tanpa menatap pria disampingnya

“lalu?”

“Setiap bertemu dengan Nunna di rumah, dia menghindariku. Entah kenapa dia jadi tak menyukai Jisoo, dan melarang aku menjadi Gay setelah pertunangan kami”

“aku merasa bersalah pada Jisoo” tambah Jeonghan. Wonwoo menarik nafasnya pelan.

“Apa kau tak merasa bersalah juga pada Jin Ah Nunna?” tanya Wonwoo. Jeonghan terdiam, ia menundukkan kepalanya bingung.

“jeonghan-ah?” panggil Wonwoo menandakan ia menunggu jawaban Pria bersurai cantik itu.

“Kau tau Jisoo adalah pria yang baik kan? Aku akan tetap mempertahankan Jisoo dan meyakinkan Jin Ah Nunna”

“baiklah, aku pergi ke Ruang dosen untuk mengumpulkan tugas ini dulu. Jangan pulang dulu, pulanglah bersamaku hari ini” Jeonghan mengangguk sambil membiarkan Wonwoo berlalu dengan setumpuk kertas ditangannya.

Kadang memang tak ada yang pernah tau tentang apa yang Jeonghan rasakan. Dibalik senyumnya yang selalu mengembang dengan cantik. Ada keluh kesah yang ia bawa tanpa ada yang tau. Hanya Jisoo satu-satunya orang yang menjadi tempatnya bersandar. Sayangnya, semua orang termasuk Kakaknya tak menyukai hubungannya dengan Jisoo. Entah sejak kapan, karena sebelumnya semua baik-baik saja.

*****

Wonwoo menghentakkan kakinya beberapa kali, dan sudah beberapakali juga Jeonghan terkejut dengan kelakuan Wonwoo yang tengah tak sabar menunggu seseorang di parkiran Universitas Seoul.

“Yak! bersabarlah sedikit, apa kakimu tak sakit?” tanya Jeonghan

“Mingyu memang cari mati! Kita sudah berjanji untuk berada disini jam 2 tepat, sekarang jam berapa?” tanya Wonwoo pada Jeonghan. Pria cantik itu memeriksa jam tangannya.

“baru lewat 10 menit” jawab Jeonghan

“Sialan! 10 menit! Bagaimana bisa dia terlambat 10 menit!” protes Wonwoo

“Aku pernah menunggumu selama 30 menit saat kita berjanji untuk membeli alat praktek dulu” timpal Jeonghan sambil terkekeh. Wonwoo menggaruk tengkuknya salah tingkah.

“Yak ! Yoon Jeonghan! Kau berpihak pada Mingyu sekarang?” tanya Wonwoo sambil menatap emo kearah Jeonghan. Jeonghan masih terkekeh sambil menggeleng.

“kalian berdua ini lucu sekali. Bertengkar setiap bertemu, dan kau menangis seharian saat kalian benar-benar bertengkar”

“Kau tak mengatakan pada Mingyu jika aku menangisinyakan?” tanya Wonwoo serius. Jeonghan menggeleng

“Ah, kau memang yang terbaik Jeonghan-ah” Pria emo itu mengacungkan jempolnya kearah Jeonghan sambil tersenyum.

“Tapi, sepertinya Seungkwan memberitahu Mingyu. Kau tak berhenti menangis. Jadi, Seungkwan menelfon Mingyu saat itu” timpal Jeonghan. Senyum Wonwoo seketika luntur.

“pantas saja Mingyu selalu tertawa saat aku marah padanya. Sialan!”

“itu Mingyu, Mingyu-ya !!” Panggil Jeonghan sambil melambaikan tangannya.

“Yak! mau mati kau, KIM MINGYU!” kesal Wonwoo saat Mingyu sudah berada dihadapannya.

“Maaf terlambat, Aku harus menemaninya berkeliling kampus sebentar” ucap Mingyu sambil manik matanya mengarah pada seorang Pria asing disampingnya.

“Anyeonghaseyo” Pria itu membungkukkan tubuhnya. Jeonghan dan Wonwoo juga melakukan hal yang sama.

“Siapa?” tanya Jeonghan pada Mingyu.

“Dia Seungcheol, Mahasiswa transfer dari Busan”

“Wah Busan”

“kau dari Universitas Jangsin?” tanya Jeonghan

“Kyungsang” jawan Seungcheol. Jeonghan mengangguk.

“Seungcheol-ah, ini Wonwoo kekasihku” ucap Mingyu

“Aku Wonwoo, senang bertemu denganmu”

“maaf membuatmu menunggu Mingyu lama” ucap Seungcheol

“Ah, tidak apa-apa”

“Dan ini Jeonghan, dia Sahabat kami” ucap Mingyu lagi, memperkenalkan Jeonghan pada Seungcheol.

“Senang bertemu denganmu Seungcheol-ssi” Jeonghan membungkukkan tubuhnya.

“kau cantik sekali”

“eh”

“Apa?” tanya Jeonghan lagi.

“Ah, bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, rambutmu yang tak biasa bagi seorang pria, membuatmu terlihat cantik” jawab Seungcheol. Jeonghan tersenyum malu.

“mau ikut pulang bersama?” ajak Mingyu pada Seungcheol.

“aku membawa mobil sendiri” jawab Seungcheol. Tapi, manik mata pria itu tak henti-hentinya mencuri pandang pada pria yang ia katakan cantik tadi. “Yoon Jeonghan”.

“Baiklah kami pergi”

“hati-hati” ucap Seungcheol

“hati-hati Jeonghan-ssi” tambah Seungcheol saat Jeonghan berjalan didepannya. Pria cantik itu tersenyum sambil mengangguk pada Seungcheol.

Percaya Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya,Seungcheol tengah merasakan hal itu saat ini. Pria cantik tadi benar-benar menyita perhatiannya.

*****

Jeonghan hanya terkekeh mendengar celotehan Wonwoo didalam mobil. Tentu saja Mingyu dan Wonwoo sedang bertengkar lagi. Walau sebenarnya, hanya Wonwoo yang sedang mengoceh tak jelas. Pria cantik itu merogoh ponsel dari tas ranselnya. Ia memeriksa pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang ia tunggu.

“ada apa Jeonghan-ah?” tanya Wonwoo yang ternyata menatap Jeonghan dari kaca mobil.

“Hanya menunggu Jisoo menelfon” jawab Jeonghan, seraya memasukkan ponselnya kembali. Karena orang yang Ia tunggu tak menelfon atau mengirim pesan padanya.

“Mungkin dia sedang sibuk” timpal Mingyu, Wonwoo mengangguk.

“Dia sering menemuiku beberapa hari ini. Tapi, tak selama biasanya. Mungkin, dia tak enak hati dengan Jin Ah Nunna”

“dan Wonwoo” tambah Jeonghan. Wonwoo menelan ludahnya kasar dan langsung membalikkan tubuhnya mengarah pada kursi belakang mobil.

“Aku?” tanya Wonwoo

“Jisoo pernah bilang padaku, bahwa kau tak menyukainya” jawab Jeonghan

“Wonwoo-ya, kau tak boleh seperti itu pada Jisoo” ucap Mingyu. Wonwoo memberi glare pada kekasihnya itu

“Aku menyukainya. Bilang pada Jisoo, Aku menyukainya jika dia membuatmu bahagia”

Mereka bertiga terdiam cukup lama. Sampai pada akhirnya, Mingyu menghentikan mobilnya saat mereka sudah sampai didepan gerbang rumah Jeonghan.

“terimakasih” ucap Jeonghan

“Besok mau aku jemput?” tanya Wonwoo, Jeonghan menggeleng.

“Aku akan berangkat bersama Jisoo” jawab Jeonghan. Pria cantik itu berlalu masuk ditelan pintu gerbang rumahnya.

Wonwoo menatap Jeonghan berlalu sampai menghilang. Ia merespon ketika merasa, tangan besar Mingyu menyentuh bahunya.

“Jangan seperti ini pada Jisoo dan Jeonghan” ucap Mingyu.

“Tapi..”

“ssttsss” Mingyu memotong kalimat kekasihnya.

“Kita semua sudah berjanji untuk tidak mengungkit apapunkan? Kita sudah melakukannya dengan baik hampir 2 tahun lamanya sayang” Mingyu membelai surai Wonwoo pelan. Wonwoo mengangguk paham.

“Mau pergi menonton film?” tanya Mingyu

“Aku ingin makan” jawab Wonwoo

“baiklah, kita makan”

“Tiramisu” ucap Wonwoo lagi.

“Baiklah, tiramisu” jawab Mingyu sambil menginjak gas mobilnya. Wonwoo tersenyum sambil menatap Pria tower kekasihnya itu.

*****

“pulang bersama siapa? Jisoo lagi?” Pertanyaan seorang gadis cantik langsung menyambut Jeonghan ketika membuka pintu rumahnya.

“Ada apa jika dengan dan tidak dengannya?” tanya Jeonghan dingin

“Jika tidak dengan Jisoo, aku akan senang mendengarnya” jawab gadis itu. Jeonghan meremas tangannya kesal.

“Aku dengannya, Nunna mau apa?”

“Mau mengatakan padamu bahwa Dia”

“Jin Ah !!” teriakan dari arah lain memotong kalimat gadis bernama Jin Ah itu.

“Ibu”

“Masuk kau kekamar” Ucap sang Ibu kepada Jin Ah. Gadis itu tak menjawab apapun. Ia memilih untuk beranjak pergi menuruti Ibunya.

“Kenapa Nunna jadi begini?” tanya sendu Jeonghan pada Ibunya. Sang Ibu hanya tersenyum sambil merangkul pinggang anaknya itu.

“Jangan kau pikirkan. Mungkin, tugas akhir kuliah kakakmu membuatnya cepat marah” Ibu Jeonghan mencoba menenangkannya.

“Ayo, ibu antar kekamarmu. Istirahatlah dulu sebelum makan malam”

“Iya”

Mata Jeonghan berbinar, ketika ia membuka pintu kamarnya, dan mendapati seseorang tengah duduk menghadap meja belajarnya sambil membaca sebuah buku.

“kenapa ibu tak bilang jika Jisoo ada disini?” tanya Jeonghan. Jisoo yang tadinya duduk membelakangi Jeonghan, membalikkan tubuhnya lalu tersenyum.

“Kejutan sayang” Jawab Ibunya sambil membela surai lembut anaknya.

“Kejutan!” seru Jisoo dari arah meja belajar. Jeonghan tersenyum senang.

“Kalian berdua mulai kompak mengerjaiku ya”

“Sudah, istirahatlah bersama Jisoo. Ibu akan siapkan makan malam. Turunlah untuk makan jika Ibu panggil”

“Wah, Jisoo juga? Sudah lama kita tidak makan bersama” Jeonghan berbinar senang.

“tentu saja, Ibu akan menyiapkan banyak makanan malam ini”

“terimakasih Ibu” Timpal Jisoo

Jeonghan menutup pintu kamarnya, setelah Ibunya pergi untuk menyiapkan makan malam. Pria cantik itu menghampiri Jisoo dan segera memeluknya.

“Aku Lelah sekali, tak bisakah kau menginap hari ini?” tanya Jeonghan saat setelah ia melepas pelukannya.

“Tidak bisa Jeonghan-ah, Aku harus kembali kerumah sakit setelah makan malam” Jawab Jisoo

“baiklah, Dokter Muda yang sibuk!” kesal Jeonghan, Jisoo mengecup bibir Jeonghan yang mengerucut imut itu.

“Biasakan diri untuk tak bersamaku. Banyak hal yang bisa kau kerjakan tanpaku Jeonghan-ah. Jika kau bosan, jika kau sedih, dan jika kau kesepian. Ada banyak hal yang bisa kau pilih untuk menemanimu kecuali aku.”

“kenapa kau mengatakan hal jahat seperti itu? tanpamu aku tak bisa! Kau tak bisa mengubahnya. Aku tak bisa tanpamu Jisoo-ya”

“Iya, sudah jangan sedih. Maafkan aku megatakan hal itu” Jisoo mengusap pipi halus Jeonghan sambil tersenyum menenangkan.

“Jin Ah Nunna”

“Aku tau, tak usah kau khawatirkan. Jangan membencinya hanya karena Nunna tak menyukaiku dan tak menginginkan kita bersama”

“Aku membenci orang yang membencimu juga, Jisoo-ya”

“Kau tak bisa membenci Nunna yang menyanyangi adiknya. Dia hanya tak ingin kau terluka. Jadi, dia menjagamu” Jisoo membelai surai milik kekasihnya itu

“berjanjilah untuk menuruti semua perkataan Jin Ah Nunna hmm?” Jeonghan mengangguk menuruti perkataan Jisoo.

*****

“Mingyu!” Suara yang memanggil namanya membuat Pria tower itu menghentikan langkahnya,dan menoleh kesumber suara.

“Oh, Seungcheol. Ada apa? Kelas masih 3 jam lagi kenapa sudah datang?” tanya Mingyu

“Ada matakuliah yang belum aku isi kemarin, jadi aku datang untuk mengambil jadwal ulang. Lalu, kenapa kau juga sudah datang?” tanya Seungcheol

“tentu saja mengantar Wonwoo, kita kekantin bagaimana?” tanya Mingyu. Seungcheol mengangguk setuju.

Mereka berdua akhirnya memilih untuk duduk , dan memesan beberapa makanan ringan lengkap dengan minumannya. Sambil menunggu kelas mereka dimulai. Sebenarnya, ada hal lain yang ingin Seungcheol tanyakan pada Mingyu. Tapi, dia masih ragu untuk mengambil pertanyaan itu sebagai topik pembicaraan sepagi ini.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Mingyu

“Kau menyukaiku? Aku memang Gay! Tapi hatiku hanya untu satu pria, Wonwoo namanya” ucap Mingyu seenaknya.

“Yak!percaya diri sekali kau. Kalaupun aku gay, bukan kau yang aku pilih!” protes Seungcheol

“kau orang Busan. Tapi, logatmu cukup baik untuk anak Seoul”

“Aku lama berada di Seoul juga”

Mingyu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesekali pria tower itu memeriksa jam tangannya, dan meneguk minuman miliknya.

“Pria cantik, sahabatmu itu” Akhirnya Seungcheol memulai pertanyaannya.

“Jeonghan?” tanya Mingyu. Seungcheol mengangguk.

“bagaimana orangnya?” tanya Seungcheol

Mingyu mengrenyitkan keningnya. Seungcheol menyukai Jeonghan , dan itu bisa ia lihat dengan jelas. Pesona Jeonghan memang tak bisa diragukan lagi sebagai pria pengikat pria. Dulu, sebelum bersama Wonwoo, Ia juga sempat menyukai Jeonghan.

“Kau menyukai Jeonghan?” tanya Mingyu pada inti.

“Apa begitu terlihat jelas jika aku menyukainya?” tanya Seungcheol

“jelas sekali!” Mingyu terkekeh

“Bisa kau atur kencan buta antara aku dan Jeonghan?” tanya Seungcheol

“Uhukkk” Mingyu tersedak, Ia menatap Seungcheol tak percaya.

“kenapa? Apa aku terlalu agresif? Aku tak suka hal yang rumit sebenarnya” tanya Seungcheol. Mingyu menggeleng.

“Akan aku bantu untuk mendekatinya. Tapi, untuk kencan buta.”

“kenapa? Dia memiliki kekasih?” tanya Seungcheol kecewa

“bukan masalah dia memiliki kekasih atau tidak. Jeonghan adalah teman kami yang paling kami jaga di antara yang lain. Dia berbeda, dan Kencan buta? Jeonghan tak akan menyukainya”

“drrrddtt” Mingyu mengambil ponselnya yang bergetar.

“Aku berada dikantin, kemarilah sayang” mendengar Mingyu menyebut “Sayang” Seungcheol langsung menatap Mingyu penuh harap.

“Ajak Jeonghan juga” Seungcheol tersenyum senang saat Mingyu mengerti maksud tatapannya.

“Seungcheol-ah, jika kau hanya menyukai Jeonghan. Aku sarankan, kau lebih baik berhenti berharap padanya. Tapi, jika kau serius. Kau tak boleh meninggalkannya apapun yang terjadi”

“kenapa kalian begitu menjaganya?” tanya Seungcheol kebingungan.

“Sudah kubilang dia berbeda”

“Kenapa cepat sekali keluar?” Mingyu segera menghalihkan pembicaraan ketika Wonwoo sudah datang. Tentunya, dengan membawa Jeonghan juga bersamanya.

“Hanya mengumpulkan maket dan selesai” Jawab Wonwoo malas. Jeonghan tersenyum saat menarik kursi disamping Seungcheol.

“Mau pesan apa?” tanya Seungcheol memberanikan diri pada Jeonghan.

“Aku tidak lapar” Jawab Jeonghan seadanya. Pria cantik itu memilih mengambil ponsel dan terfokus pada ponselnya. Seungcheol sedikit kecewa karena diabaikan.

“Hansol-ah” Wonwoo melambaikan tangannya. Sesaat kemudian, dua orang pria sudah datang dan mengisi kursi yang kosong. Hansol menyeruput minuman didepannya tanpa tau minuman siapa yang sedang ia jarah.

“Siapa?” tanya Seungcheol

“Oh iya, Hansol satu jurusan dan satu kelas dengan kita. Hanya saja, kemarin dia tidak masuk” jawab Mingyu

“Dia mahasiswa Busan itu?” tanya Hansol, Mingyu dan Seungcheol mengangguk

“Senang bertemu denganmu Bung! Aku Hansol”

“ah, iya. Kita baru bertemu dan kau sudah menghabiskan setengah minumanku. Senang juga bertemu denganmu” Ucap Seungcheol. Hansol salah tingkah , dan semua terkekeh.

“Dia Seungkwan kekasihku” Hansol menunjuk Pria dengan Pipi chubbi itu.

“Kalian semua berpasangan dan bersahabat?” tanya Seungcheol

“Iya” jawab Seungkwan

“Wah, Indah sekali” Seungcheol menepuk-nepuk tangannya kagum.

Kantin yang tadinya sepi kini menjadi ramai karena ulah satu meja dengan sekumpulan pria itu. Candaan demi candaan terlontar. Obrolan demi obrolan menjadi topik yang mereka tertawakan bersama. Terkadang saling mengejek hingga pembicaraan mereka tak membosankan. Seungcheol sangat nyaman berada disana. Meski baru mengenal mereka. Tapi, mereka sangat bersahabat. Walaupun begitu asik bercanda. Manik mata Seungcheol, tak berhenti melirik Jeonghan yang hanya terdiam dan tersenyum saat semua tertawa. Pria cantik itu lebih memilih untuk menatap keluar jendela sedari tadi.

“Apa yang membuatmu menatap keluar jendela terus Jeonghan-ssi?” tanya Seungcheol. Seketika semua terdiam.

“yak! Seungcheo-ah” Hansol memijit pelipisnya

“Oh, aku sedang menunggu seseorang” jawab Jeonghan seadanya

“Kau tidak sakitkan?” Seungkwan ikut bertanya

“Aku mendengarkan kalian bercanda. Teruskan saja, tak usah pedulikan aku” jawab Jeonghan sambil tersenyum.

“siapa yang kau tunggu?” tanya Seungcheol

“Yak! anak ini!” protes Hansol lagi. Seakan tak memperbolehkan Seungcheol bertanya apapun pada Jeonghan.

“Seseorang” jawab Jeonghan. Jawaban yang tak bisa Seungcheol pahami membuat Pria itu ingin bertanya lagi.

“Siapa?”

“Mingyu-ya , apa kita bisa pesan lagi?” tanya Wonwoo mengalihkan pembicaraan

“Ah, ya. Aku ingin memesan sesuatu” timpal Hansol juga.

“Pesanlah sesuka hati kalian aku yang traktir” kesal Seungcheol karena pertanyaannya di jeda terus oleh mereka.

“Siapa yang kau tunggu Jeonghan-ah?” tanya Seungcheol lagi. Jeonghan tersenyum

“Tunanganku” jawab Jeonghan pada akhirnya, dan jawaban itu sukses membuat Seungcheol menyesal menanyakan hal itu.

Seungcheol ingat jika Mingyu mengatakan, bahwa Jeonghan tidak memiliki Kekasih. Mungkin tidak kekasih.Tapi, iya jika Jeonghan sudah bertunangan. Seungcheol patah hati. Ia menyesal tak berfikir dua kali saat memutuskan untuk jatuh cinta pada Pria secantik Jeonghan. Seharusnya dia tau pria secantik itu,tidak mungkin sendiri. Bukankah,terlalu disia-siakan jika tidak ada yang melihat kearah Jeonghan.

“…..”

“Aku pulang ya, Jisoo sudah menungguku dibawah” Ucap Jeonghan

“Jisoo?” batin Seungcheol. Ia yakin, itu nama tunangan Jeonghan.

“Minggu depan ?” tanya Seungkwan

“Akan aku tanyakan pada Jisoo dulu. Libur nasional biasanya aku habiskan bersamanya. Dia tak pernah mendapatkan libur sebagai dokter” Jawab Jeonghan

“JEONGHAN” Wonwoo menaikkan nada bicaranya. Pria itu hendak berdiri untuk mencegah Jeonghan pergi. Tapi, tangan besar Mingyu segera menahan kekasihnya itu.

“Baiklah, aku yang menentukan tempatnya, aku ingin kita semua kepantai” jawab Jeonghan cepat. Tanpa menunggu jawaban teman-temannya. Jeonghan membalikkan tubuhnya kembali, dan pergi begitu saja.

Semua menatap punggung Jeonghan yang meninggalkan kantin dengan bingung. Sekarang keramaian yang tadi membuat bising, menjadi lenyap dan tersisa hening. Sampai pada akhirnya Mingyu menggelengkan kepalanya kearah Hansol yang mengangguk mengerti.

“Kalian tak ingin memesan sesuatu lagi? Akan aku bayar sekarang” Ucap Seungcheol

“kau benar-benar menraktir kami?” tanya Hansol. Seungcheol mengangguk.

“Tapi, aku harus pulang. Aku ada urusan”

“kenapa terburu-buru?” tanya Seungkwan

“Minggu depan ikutlah kami kepantai” Ajak Wonwoo

“Kalian semua akan berpasangan? Apa aku akan berada dibagasi untuk menjaga barang bawaan kalian?” tanya Seungcheol . Semua terkekeh

“Lagi pula, Jeonghan akan membawa tunangannya juga” tambah Seungcheol kecewa.

“dia tak akan membawanya. Akan aku pastikan itu Seungcheol-ah” timpal Mingyu

“baiklah, akan aku usahakan. Aku pergi dulu ya” Seungcheol melambaikan tangannya dan berlalu.

Dia patah hati, sudah tak ada samangat untuk mengikuti kelas dan memakan sesuatu lagi. Sebenarnya, Seungcheol ingin melihat seperti apa tunangan Jeonghan. Tapi, dia terlalu malas . Bisa-bisa patah hatinya menjadi Cinta gila jika diteruskan. Lagipula, pasti akan ada hari-hari lain dimana dia akan melihat tunangan pujaan hatinya itu,dan pasti akan sangat sering. Jadi, Seungcheol harus melapisi hatinya dengan baja terlabih dahulu. Walau dia patah hati, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Jeonghan. Dia tak akan membiarkan perasaannya berkahir menyedihkan seperti ini.

******

“Bagaimana harimu sayang?”

“seperti biasa, ah aku akan ke pantai minggu depan. Apa boleh?”

“bersenang-senanglah”

“kau tidak ikut Jisoo-ya?” tanya Jeonghan

“kau butuh waktu bersama teman-temanmu” Jisoo membelai surai lembutnya. Jeonghan hanya tersenyum.

“Jeonghan-ah”

“oh, ibu”

“masuk kamarmu nak, istirahatlah” wanita paruh baya itu menghampiri putranya dengan Iba, mengelus surai rambutnya, mata sayu putranya itu benar-benar membuat Jeonghan terlihat sangat Lelah.

“tapi Jisoo sedang ada disini”

“Jisoo, pasti tau jika kau lelah, iyakan? Jisoo?”

“benar kata ibumu, kau harus istirahat dan tidur Sayang”

“JISOO LAGI JISOO LAGI !” Teriakan itu membuat Jeonghan terkejut

“PERGI KAU JISOO!” Jeonghan menatap Jisoo yang dengan menunduk pergi meninggalkan ruang tamu dengan sendu. Pria itu berlalu menuju pintu keluar ,dan menyisakan punggung yang lama-lama menghilang di balik pintu.

“Nunna!”

“Jin Ah !” Sergah sang Ibu melerai

“Jeonghan tak bisa seperti ini Ibu!” Teriak Jin Ah kesal

“bicarakan bersama Ibu”

“Apa yang tak bisa kalian bicarakan denganku? Bicarakan denganku sekarang!” teriak Jeonghan, matanya memanas dan berair. Dia menangis.

“Pergilah menemui Jisoo dan jangan biarkan dia kemari lagi”

“Apa salahnya padamu Nunna?” tanya Jeonghan

“Salahnya adalah padamu yang tak bisa tanpanya!” jawab Jin Ah

“Sudah cukup!! Jeonghan pergi kekamar!” Dengan mata berair dan pipi yang basah. Ia meninggalkan Ibu dan kakak perempuannya itu.

“Kau gila Jin Ah? Gila kau!” marah sang ibu. Gadis cantik itu menelan ludahnya kasar.

“dia yang gila ibu! Sampai kapan dia begini!” Teriak gadis itu, dan Jin Ah juga memilih untuk pergi kekamarnya.

Wanita paruh baya itu terduduk disofa. Memikirkan segala hal yang menyita tenaganya. Ia menangis dalam diam. Merasakan apa yang anak lelakinya itu rasakan. Ada beban berat yang harus Jeonghan pikul dan terasa sangat menyakitinya.

*****

Seungcheol kebingungan didalam mobil milik Mingyu. Tiba-tiba saja Mingyu mengiriminya pesan untuk mengajaknya pergi kesuatu tempat yang masih dirahasiakan olehnya, dan yang lebih membingungkan lagi. Di dalam mobil tak hanya Mingyu, disana ada Wonwoo, Hansol dan lengkap dengan Seungkwan.

“kalian menculik anak busan?” tanya Seungcheol memecah keheningan

“Kerugian menculikmu, kau tak akan laku kami jual” jawab Mingyu, semua terkekeh.

“kita akan kemana?” tanya Seungcheol

“kerumah Jeonghan” jawab Wonwoo singkat

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba?” tanya Seungcheol

“Mingyu sudah mengatakan pada kami bahwa kau menyukai Jeonghan” jawab Seungkwan

“jadi, kalian marah karena aku menyukai pria yang sudah bertunangan?” tanya Seungcheol. Semua menggeleng.

“untuk itulah aku mengajakmu” timpal Mingyu

“Apapun yang terjadi nanti, katakan yang sebaliknya disana” Ucap Wonwoo. Seungcheol kebingungan.

“Aku tau kau bingung, tapi kau harus menurutinya” Hansol menepuk bahu Seungcheol

“jika kau tak bisa mengerti dan menurut, akan lebih baik jika kau tururn disini” Hansol menambahi horor

“iya, aku mengerti”

Sekitar 2 jam yang lalu, Mingyu mendapat telfon dari Ibu Jeonghan. Jeonghan tak mau keluar kamar dan makan apapun karena bertengkar hebat dengan kakak perempuannya, Jin Ah Nunna. Ibu Jeonghan meminta agar teman-temannya datang untuk membujuk Jeonghan agar mau keluar dan makan.

“Nunna” Mingyu menyapa seseorang yang sudah menyambutnya dan yang lain ketika pertama kali memasuki rumah Jeonghan.

“yak ! Nunna tua kita ini, apa yang kau lakukan pada adikmu ha?” tanya Hansol. Jin Ah mengreyitkan keningnya kesal.

“hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan” ucap Jin Ah

“Nunna ini semakin tua semakin cerewet” goda Mingyu

“yak! kau mau mati ha? Wonwoo-ya, dia menggodaku! Kau harus membunuhnya nanti” Wonwoo hanya tersenyum sambil memberi glare pada Mingyu.

“dimana Bibi?” tanya Wonwoo

“menyiapkan makan besar untuk kalian, Oh. Dia siapa?” Tanya Jin Ah sambil menunjuk kearah Seungcheol

“teman baru kami” jawab Seungkwan

“Kalian masuklah, Jeonghan dikamar. Tapi, dia belum keluar sedari siang”

Seungcheol menatap kearah jam dinding. Ini sudah jam 8 malam dan Jeonghan belum keluar dari kamar sejak tadi siang. Seungcheol mulai khawatir.

“Yak! para uke, bantu aku dan Ibu menyiapkan makanan. Biarlah mereka bertiga membujuk Jeonghan keluar” Wonwoo dan Seungkwan mengangguk menuruti perkataan Jin Ah. Mereka berdua mengikuti Jin Ah dari belakang . Lalu,Seungcheol mengikuti Hansol dan Mingyu menuju kamar Jeonghan.

“Kalian akrab sekali dengan kakak perempuan Jeonghan”

“Tentu saja akrab, aku dan Hansol berteman dengan Jeonghan sejak kecil” jawab Mingyu.

“Jeonghan!” Panggil Hansol saat mereka sudah berada didepan sebuah pintu kamar.

“Ayo makan! Aku kelaparan!” teriak Mingyu

“Krek” Knop pintu berputar dan terbuka. Jeonghan berdiri didepan pintu dengan tatapan sendu.

“Ayo makan bersama” Ajak Seungcheol

“kau juga?”

“Ayolah” Mingyu menarik tangan Jeonghan keluar.

Makan malam sudah siap dimeja dengar rapi. Jeonghan tersenyum ketika Jisoo sudah duduk dikursi yang biasa Jisoo duduk i saat makan bersama. Tapi, senyumnya luntur ketika ia melihat ada sesuatu yang janggal.

“Wonwoo-ya” panggil Jeonghan. Wonwoo tersenyum dan menghentikan aktvitasnya

“Kenapa kau melewati tempat Jisoo? Kenapa kau tak meletakkan piring didepannya? Dia harus makan jugakan?” Tanya Jeonghan. Wonwoo mengangguk dan meletakkan alat makan lengkap ditempat itu. Seungcheol kebingungan, dia hanya diam dan mengikuti teman-temannya menarik kursi masing-masing.

“teman-temanmu sudah datang, makanlah yang banyak Jeonghan-ah” ucap sang Ibu lega. Jeonghan mengangguk.

“Tak usah menatapku begitu. Aku tak akan mengatakan apapun, aku hanya kan makan dengan baik” Ucap Jin Ah, saat sang adik menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan.

“Makanlah dengan baik Jisoo-ya” Jeonghan mengambilkan nasi untuk Jisoo lengkap dengan lauk pauknya.

Semua dengan tenang melahap makanan yang tersedia dimeja makan. Seungcheol dengan ragu juga melakukan hal yang sama. Meski ia tak henti-hentinya menatap Jeonghan yang sedang nampak berbahagia, dengan kursi kosong di samping pria cantik itu.

“Dia Seungcheol, teman baru kami” mendengar namanya disebut Seungcheol terbatuk.

“Uhukkk”

“Dia Jisoo, tunanganku Seungcheol-ah” ucap Jeonghan, Seungcheol tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“kenapa makanmu sedikit sekali jisoo-ya?” tanya Jeonghan. Jisoo tersenyum sambil menggeleng kearah Jeonghan.

“Ini sudah cukup sayang” jawabnya, Jeonghan tersenyum.

“Jisoo-ya, kau mau ikan?” tanya Jeonghan lagi sambil menyendokkan ikan kearah piring Jisoo.

“Jeonghan-ah” panggil Seungcheol. Merasa namanya dipanggil, Jeonghan menatap Seungcheol

“Apa yang kau lakukan dengan kursi kosong dan piring dengan setumpuk laukpauk itu?” tanya Seungcheol. Semua hening menatap Seungcheol, Jeonghan juga menatap pria Busan itu tanpa menjawab pertanyaannya.

“Kau tak melihat ada Jisoo disini?” Jeonghan menunjuk kursi sampingnya, seraya Ia menatap Jisoo yang terlihat kebingungan.

“Yak! Seungcheol !! Makan makananmu! Jangan bicara saat makan!” Protes Wonwoo

“Berhenti ” Jin Ah tak tahan, ia menghentikan aktifitas makan malamnya. Matanya memerah, gadis bernama Jin Ah itu menangis.

“Nunna, tenanglah” sergah Mingyu

“kalian semua gila! Dan kau Jeonghan!! Jisoo sudah mati! Dia mati hampir 3 tahun lalu lamanya! Jangan seperti orang gila yang terus menganggapnya ada, Jisoo, Jisoo dan Jisoo aku muak mendengar namanya! Dia sudah pergi, Jauh!”

“Dia ada disini, kenapa kau seperti itu?” tanya Jeonghan lirih, kerongkongannya panas. Seungcheol terlihat sangat bodoh.

“Wonwoo-ya, Mingyu-ya aku tidak gila! Jisoo ada dikursi ini! Dia sedang menatap kalian kecewa, dia sedih”

“tak ada siapapun dikursi itu” Ucap Seungcheol seadanya. Semua menatap Seungcheol lagi terkejut.

“Seungcheol! Mau mati kau!” Timpal Wonwoo tak terima. Ia kesal dengan kelakuan Seungcheol.

Jeonghan terduduk lemas dia menatap kursi disampingnya. Jelas ia melihat Jisoo sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Tak ada yang mengerti dirinya dan Jisoo.

“Pulanglah, aku ingin istirahat” Ucap jeonghan seakan tak ingin membahas apapun lagi.

“Ayo Jisoo, kita masuk kekamar saja”

“JEONGHAN-AH”

“PLAKKK!!” Jin Ah menghampiri adiknya dan menaparnya dengan cukup kuat.

“Jin Ah!”

“Yak! Nunna”

“biar dia sadar dengan kebodohannya” Gadis itu langsung pergi meninggalkan Jeonghan yang memegangi pipinya sakit.

“Sudah kubilang kalian pergilah” Ucap Jeonghan masih tersenyum

“Aku akan menginap” Ucap Wonwoo

“Aku juga” Seungkwan mengikuti Wonwoo

“Tidak”

“bibi, ayo kita rapikan” Ajak Seungkwan mengalihkan pembicaraan, Jeonghan tak peduli. Dia berjalan menuju kamarnya.

Mingyu, Hansol dan Seungcheol memutuskan untuk meninggalkan rumah Jeonghan. Mereka bertiga tak mengucapkan sepatah kata apapun didalam mobil. Seungcheol sedang menunggu mereka berdua mengatakan sesuatu padanya.

“Tak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Seungcheol

“bukankah sudah jelas tadi” jawab Hansol

“Jeonghan mengidap Delusional Disolder, Kekasihnya bernama Jisoo meninggal saat satu hari menjelang pertunangan mereka, 3 tahun yang lalu” timpal Mingyu

“apa darikalian tidak ada yang menyadarkan Jeonghan, bahwa tunangannya sudah meninggal?”

“Sudah, dan itu benar-benar diluar kendali Wonwoo mengatakan, bahwa Jisoo sudah meninggal dan Jeonghan mengamuk, dia mencoba bunuh diri dengan memutus urat nadinya, dokter menyarankan untuk tidak membahas ini dulu sampai Jeonghan bisa menerimanya sendiri. Kami dan ibu Jeonghan bersepakat untuk ikut menganggap Jisoo masih ada. Kecuali Jin Ah Nunna, dia tak ingin terlibat. Walaupun begitu, ini kali pertamanya Nunna mengungkit jika Jisoo sudah tidak ada, ditambah kau tadi yang megatakan tak ada siapapun dikursi itu” Mingyu meperjelas semuanya sambil mengemudikan mobil.

“Wonwoo dan Seungkwan menginap karena takut sesuatu terjadi pada Jeonghan” tambah Hansol

“bagaimanapun juga kita harus menyadarkannya, dia bisa gila jika terus seperti ini”

“Kau bilang jatuh cinta pada Jeonghankan? buatlah dia mencintaimu juga Seungcheol-ah” ucap Mingyu

Seungcheol mengangguk, lalu memikirkan banyak hal. Dia sungguh mencintai Jeonghan. Ia senang mendengar fakta bahwa Jeonghan sebenarnya tidak memiliki tunangan. Tetapi, hatinya juga ikut sakit mengetahui Jeonghannya sedang terluka.

 

‘Jeonghan tidak punya kekasih’

 

‘aku sedang menunggu tunanganku’

 

‘akan aku pastikan Jeonghan tidak membawa tunangannya’

 

Pria cantik itu membutuhkan orang yang bisa membuatnya berhenti berkhayal, dan itu adalah dirinya “Choi Seungcheol”

=FLASBACK=

“Aku lelah, iya kau juga lelah silahkan beristirahat”

Pip

“ada apa?”

“Banyak pasien, Jisoo tak bisa menjemputku lagi”

“dia sedang sibuk, sudahlah besok adalah hari pertunangan kalian. Ah, kau bisa pulang bersamaku” ajak Wonwoo. Jeonghan mengangguk setuju, dan mengikuti Wonwoo masuk kedalam sebuah taxi.

—–

Sebuah ferari merah mewah, melesat dengan cepat. Menerobos hujan yang sedikit menghalangi pandangan si pengemudi. Berkali-kali orang didalam mobil itu mencoba menghubungi nomor yang sama,dan tak ada jawaban. Setelah nomor itu memutus percakapan mereka secara sepihak.

“Jeonghan-ah, bisakah kau mengerti, aku sedang diperjalanan menjemputmu” Ucap pengemudi bermonolog sendiri.

Manik matanya tertuju pada sebuah wallpaper cantik di layar ponselnya. Seorang Pria dengan setelan tuxedo tersenyum. Yah, foto itu diambil saat dia dan kekasihnya Jeonghan, mencoba baju untuk pertunangannya besok, dia ingat betapa bahagia kekasihnya saat itu.

 

To : My Cheonsa

Jangan marah sayang, aku akan menjemputmu segera

Aku mencintaimu, selalu

 

Pria itu mengetuk tanda send sambil tersenyun

 

“TIIINNNNNNNNN”

 

“BRUAAAAKKKKKK”

 

“BYUUUUUURRRR”

 

Sebuah truk besar kehilangan kendali dan bagian belakangnya menabrak sebuah mobil merah tak berdosa, yang sedang melaju di pinggir. Hantaman, demi hantaman terjadi, hingga akhirnya mobil naas itu menghantam pembatas jembatan. Sampai mobil itu tercebur kedalam sungai.

Semua pengguna jalan berhenti setelah menyaksikan kejadian mengenaskan itu. Semua keluar dan segera menelfon ambulance serta polisi. Pengguna jalan tentu saja memikirkan pengemudi malang mobil itu.Beberapa menit kemudian, polisi dan almbulance datang mengondisikan jalan. mengamankan para korban selamat maupun tidak selamat. Dan Korban yang tak selamat sepertinya hanya satu. Pengemudi mobil yang tenggelam didasar sungai.

“tolong panggil anggota pemadam, sebuah mobil tenggelam di dasar sungai”

Semua sangat khawatir dengan kondisi mobil yang tenggelam. Ini sudah 30 menit proses efakuasi dan belum ada hasil. Bahkan semua mengklaim, jika pengendara pasti sudah tewas didalam sana. Udara sangat dingin, siapapun yang berendam didalam sungai ini akan membeku. Apalagi pengemudi itu tenggelam hampir setengah jam lamanya. Setelah 45 menit berlalu, mobil merah itu berhasil diderek dan salah seorang pengguna jalan berlari mendekat. Bukan 1 , tapi 2 orang sampai batas polisi, dan seorang polisi menghalangi mereka.

“itu mobil saudaraku” semburat khawatir menghinggapinya

“Hansol~ah apa kau yakin?” tanya seseorang lagi

“aku yakin itu Mingyu-ya, Itu mobil Jisoo”

“tolong masuk dan pastikan” polisi itu meminta Hansol dan Mingyu masuk melewati batas polisi agar lebih dekat dengan mobil naas itu. Seorang petugas ambulance segera mengefakuasi korban.

“seorang dokter” ucap salah seorang

“dia dari rumah sakit seoul”

Hansol mendekat dan segera menutup mulutnya. Benar yang dia takutkan, dan benar yang dia kira. Itu adalah Jisoo, begitu jelas Pria tampan yang akan bertunangan dengan Jeonghan memejamkan matanya disana. Ia tertidur dengan pucat, semua membiru. Dilihat jas putih yang begitu berwibawa dikanakan oleh Jisoo, basah dan terlihat begitu menakutkan. Name tag bernama “Dokter Umum Jisoo Hong” terbaca sendu oleh Hansol dan Mingyu.

Mingyu segera mengambil ponsel dari dalam saku jaket tebalnya. Ia menghubungi seseorang. Bukan Jeonghan, dia tak akan sanggup mengatakannya langsung.

“Wonwoo-ya”

‘yah’

“Jisoo, meninggal dalam sebuah kecelakaan”

‘jangan bercanda bodoh..!’

“Aku tidak akan bercanda dengan nada suara seperti ini”

‘bagaimana bisa?’

“Wonwoo,ada apa?”

Tak kuasa Wonwoo mengatakan hal itu pada sahabat disampingnya. Tapi, dia harus mengatakan itu segera kepada Jeonghan.

“ajjhusi, antar kami kerumah sakit seoul”

“kenapa kesana? Aku tidak ingin bertemu Jisoo!”

“kau harus bertemu dengannya Jeonghan!, untuk yang terakhir”

“maksudmu?” tanya Jeonghan

“Jisoo,meninggal dalam kecelakaa. Mingyu menelfonku”

“dasar, mereka pasti bersekongkol agar aku mau memaafkan Jisoo. Kau tau jisoo kan? dia memang seperti itu!. Aku mematikan ponselku sedari tadi”

Wonwoo menggeleng.

“Aku tidak akan bercanda dengan nada sepeti ini. Jeonghan-ah tolong terima ini”

Jeonghan hanya menggeleng tidak percaya sebelum dia melihatnya sendiri. Setelah sampai di rumah sakit. Jeonghan terkejut, semua orang menangis kecuali dirinya. Bahkan ibunya langsung memeluk Jeonghan ketika dia sampai. Ibu Jisoo juga memeluknya. Benar-benar hanya Jeonghan yang tidak menangis disitu . Sampai pada akhirnya, seeorang mayat keluar. Jeonghan melihat kakak perempuannya mendorongnya bersama dokter lain.

“Kau kuat Jeonghan-ah”

“Nunna”

Jeonghan memberanikan diri membuka kain penutup mayat itu. dengan perlahan namun pasti. Ia membukanya. Berharap ini hanya kebohongan atau sebuah mimpi. Benar-benar ia melihat Jisoo tidur dengan wajah damainya.

“sudah selesai kejutannya, kumohon bangun”

“aku memaafkanmu sungguh! Ayo bangun Jisoo! Maaf , mengatakan tidak ingin menemuimu lagi. Ayo bangun dan lanjutkan pertunangan kita besok..!!” Jeonghan mengguncang tubuh diam tak berdaya milik Jisoo.

“Hentikan Jeonghan ! dengarkan Nunna” Jin Ah kakak Jeonghan menangis sambil memegangi bahu Adik lelakinya itu.

“suruh Jisoo bangun Nunna, dia takut padamu, dia selalu menurutimu kan?”

“ayo nak, kita bersiap untuk pemakaman Jisoo. Sudah, semua sudah terjadi” ajak ibu Jeonghan menarik Jeonghan menjauh. Namun, Jeonghan berontak

“JISOO BANGUN..!!!” teriak Jeonghan sampai pada akhirnya, Pria cantik itu lemas dalam dekapan Jin Ah kakak perempuannya.

Prosesi pemakaman berlangsung dengan penuh tangisan. Jisoo adalah dokter muda hebat semasa hidupnya, dan dia harus pergi di hari dimana seharusnya dia bersiap untuk pertunangannya. Jeonghan hadir dalam pemakaman. Tapi, dia pingsan beberapa kali,dan ibunya membawa Jeonghan pulang untuk istirahat.

“ting”

Ponsel Jeonghan berbunyi, saat setelah dia mengaktifkannya,

 

“from : My Jisoo

Jangan marah sayang, aku akan menjemputmu segera

Aku mencintaimu, selalu

 

“Kau berjanji menjemputku kan?” tanyanya dalam hati

“Jisoo”

Jeonghan terkejut ketika dia merasa sebuah tangan mengusap kepalanya, dan orang yang dia rindukan sedang duduk disisi ranjangnya.

“kenapa kau belum tidur?” tanyanya

“aku kira kau”

“tidak, tidur bersama?” tanya Jisoo menawarkan diri. Jeonghan tersenyum dan memeluk tubuh kekasihnya itu. ia membuat Jeonghan masuk kedalam dada bidangnya

“besok kita akan bertunangan jadi istirahatlah”

Jeonghan mengangguk dalam dekapan Jisoo, yang dirasa sangat nyata itu. Ia tertidur dan melupakan semua kejadian yang terjadi. Baginya, dia telah bertunangan ,dan bersama Jisoo sampai sekarang.

-Flasback OFF-

Sudah beberapa minggu ini Seungcheol tak menemukan Jeonghan berada diantara Mingyu, Wonwoo , Hansol dan Seungkwan. Setelah kejadian makan malam dan berujung dengan Seungcheol yang mengetahui cerita mengejutkan. Seungcheol sangat sulit menemui Jeonghan.Ditambah lagi Wonwoo yang marah padanya karena kejadian malam itu.

“Seungcheol! Ada yang mencarimu” Ucap teman praktik lapangannya

“Siapa?” tanya Seungcheol

“Aku” Sahut seseorang yang cukup Seungcheol kenal. Pria itu tersenyum saat orang yang mencarinya itu tersenyum juga padanya.

“Jeonghan-ah”

“Iya” jawab Jeonghan singkat sambil menghampiri Seungcheol.

“Apa aku mengganggu praktik lapanganmu?” tanya Jeonghan. Seungcheol menggeleng

Mereka berduapun memilih untuk duduk dikursi taman yang cukup teduh tak jauh dari halaman Universitas mereka. Seungcheol tak membahas apapun. Padahal, banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Jeonghan. Pria cantik itu juga terdiam dan terlihat sedang menarik nafasnya beberapa kali, seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Kejadian malam itu..” Jeonghan menggantungkan kalimatnya.

“tak perlu kau bahas jika kau tak ingin membahasnya” sahut Seungcheol

“tapi aku ingin”

“Aku tau, Jisoo sudah meninggal. Aku tau semuanya” tambah Jeonghan. Seungcheol yang terkejut langsung menatap Jeonghan yang kebetulan juga sedang menatapnya. Mata mereka bertemu, Jeonghan tersenyum.

“Saat mendengar teman-temanku menceritakan tentang kekasihnya setiap hari, Saat aku merasa ranjangku terlalu kosong dan Saat aku merasa ponselku dingin tanpa ada pesan atau panggilan dari seseorang yang aku tunggu. Saat itu juga aku tau Jisoo tak ada lagi bersamaku” nada suara Jeonghan berubah sendu. Tapi, Seungcheol tak melihat Pria itu menangis.

“Lalu, kenapa kau seperti ini?” tanya Seungcheol

“Meskipun hanya bayangan dan mimpi buruk sekalipun. Selama itu Jisoo, aku tak akan bisa menolaknya”

“kau membuat semua orang sedih dengan apa yang kau lakukan, Kakakmu, Ibumu dan teman-temanmu” imbuh Seungcheol

“Wonwoo marah padamu?” tanya Jeonghan

“Sepertinya iya” jawab Seungcheol

“Aku ingat saat aku mencoba bunuh diri dulu. Wonwoo adalah yang paling kecewa padaku. Percayalah, Wonwoo marah bukan karena tak menyukaimu”

“Aku tau”

“Karena aku sudah lelah. Jadi, aku datang kemari untuk menemuimu. Seungcheol-ah, aku rasa aku menyukaimu”

“eh”

“Apa terlalu cepat? Aku hanya ingin mengatakan ini padamu”

“Jeonghan-ah”

“Aku pergi ya” Jeonghan tersenyum. Sebelum ia meninggalkan Seungcheol dan pergi. Pria cantik itu mengecup bibir pria itu singkat.

Seungcheol hanya mematung saat Jeonghan pergi meninggalkannya. Ia tersenyum saat mengingat bagaimana Jeonghan mengecup singkat bibirnya. Pria itu memegangi bibirnya sambil terduduk dikursi taman.

Dikejauhan Jeonghan juga membalikkan tubuhnya untuk melihat Seungcheol yang menunduk. Pria cantik itu tersenyum simpul. Sampai ia merasa sebuah tangan menggenggam tangannya.

“Sudah?” tanya seseorang. Jeonghan mengangguk sambil tersenyum.

“hari ini, kau datang untuk menjemputkukan? Jisoo-ya” Tanya Jeonghan, Jisoo menggeleng. Pria cantik itu menatap Jisoonya kecewa

“Kau sudah berjanji”

Jeonghan menatap Jisoo penuh harap. Pria itu tak menjawab apapun. Jeonghan melihat Jisoo berjalan mendahuluinya. Ia mengikuti Jisoo dari belakang. Kepalanya tiba-tiba pusing. Jeonghan berhenti untuk memegangi kepalanya.

“jisoo-ya berhenti”

Ia mencoba menjangkau Jisoo yang semakin menjauh dari pandangannya. Kepalanya benar-benar pusing. Jalannya terseok-seok tak tentu arah, sambil tangannya yang terus memijat pelipisnya. Matanya berair, pandangannya kabur. Ia melihat punggung Jisoo yang semakin hilang karena buram.

Sebuah benda terjatuh dari tangan Jeonghan yang tak ia gunakan untuk memegangi kepalanya. Benda seperti plastik itu terjatuh bersamaan dengan Jeonghan yang terjatuh juga. Pria itu tersungkur. Ia mencoba membuka matanya dengan susah payah. Ia tak melihat Jisoo menjemputnya.

“Aku disini”

Jeonghan memejamkan matanya sambil tersenyum saat mendengar suara yang selalu menenangkannya sejak dulu.

“sudah aku bilang, aku tak bisa tanpamu Jisoo-ya”

“kenapa orang lain menatap kita Aneh? Seolah-olah kita pengganggu? Kita hanya saling mencintai! Jisoo-ya”

******

“Setelah upacara kremasi. Lebih baik kita pulang, kau butuh menenangkan dirimu”

“Apa kau pikir aku bisa diam dirumah dan lebih tenang? Tidak! Aku akan mengantarnya sampai upacara pemakaman dan pelarungan abu selesai”

“Wonwoo-ya, lihat dirimu! Jeonghan tak akan suka dengan kau yang seperti ini” ucap Mingyu

“Berhentilah bicara, sudah aku bilang. Aku tak akan pulang sebelum ini selesai”

Jeonghan ditemukan tak sadarkan diri dijalanan yang cukup sepi. Tak jauh dari Universitas tempatnya biasa belajar. Saat ditemukan tak bernyawa lagi, ditemukan juga plastik obat penenang dengan dosis tinggi yang kosong disamping Jeonghan terjatuh. Dokter mengatakan, Jeonghan overdosis. Selain karena Ia mengonsumsi obat penenang dengan jumlah banyak secara bersamaan. Jeonghan juga telah meminum obat penenang yang merusak jantungnya itu berkali-kali. tanpa dosis dokter ,dan tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya selama ini.

“Maafkan aku Ibu. Semua ini salahku, seandainya saja aku bisa menahan emosiku lebih lama lagi. Semua ini tak akan terjadi”

“Bukan salahmu Jin-Ah”

Air mata yang keluar begitu saja tanpa suara tangisan. Membuat suasana menjadi semakin sendu. Orang yang hanya diam dan menatap foto Jeonghan adalah Seungcheol. Ia melihat foto yang dikelilingi bunga itu tengah tersenyum. Senyum yang sama saat terakhir kali ia bertemu dengan Jeonghan.

“Kenapa pergi dengan menyedihkan seperti ini? Kau seperti orang bodoh” batin Seungcheol

Semua teman-teman dan keluarga mengikuti acara terakhir. Pelarungan abu Jeonghan. Jeonghan sangat suka pantai. Jadi, keluarga memilih pantai sebagai tempat dimana abu Jeonghan akan disebar. Tangisan tak dapat ditahan lagi. Semua menangis, semua tak menyangka secepat ini semua berakhir.

“Kita benar-benar pergi kepantai” Ucap Seungkwan

“Dia mengatakan ingin kepantai karena ini?” tanya Hansol

“Dasar Jeonghan bodoh” Wonwoo tersenyum dalam tangisnya.

*****

“Aku menemukan amplop ini dikamar Jeonghan” Mingyu menunjukkan sesuatu ditangannya saat semua berkumpul di rumah Jeonghan.

“Apa isinya?” tanya Ibu Jeonghan

“Sebuah surat, bisa aku bacakan?” Tanya Mingyu. Semua mengangguk setuju

Untuk semuanya, Orang-orang yang aku susahkan selama ini.

Maaf membuat kalian sedih. Ibu, Nunna dan teman-teman.

Nunna, Maaf membuatmu marah setiap melihatku.

Meski aku tau, setiap kau marah dan berteriak “Jeonghan!” itu, kau lakukan

hanya karena ingin aku menatapmu dan melupakan Jisoo. Aku tau semuanya.

Aku tau, kau ingin aku menceritakan segala hal padamu seperti dulu. Aku tau.

Terimakasih , kau adalah kakak perempuan terbaik. Ini bukan salahmu.

Wonwoo-ya, Aku tau kau tak sepemarah ini. Aku tau kau hangat sekali

Kau berubah dingin karena kecewa pada dirimu sendiri, karena

aku tak bisa menuruti kata-katamu. Maafkan aku, Jangan marah pada

Seungcheol atau Mingyu. Kau yang terbaik!

Dan untuk Seungcheol, Terimakasih sudah mengatakan hal itu padaku

Semenjak Jisoo meninggal, semua mengatakan hal yang manis saja

“tidak apa-apa” “semua akan baik-baik saja”. Aku menyukaimu.

Semuanya, terimakasih. Mungkin terlambat untuk mengatakannya

Maaf untuk segala hal yang membuat kalian kecewa. Jadi, jangan bersedih

Aku sungguh baik-baik saja.

Bersama Jisoo, Aku akan baik-baik saja.

END

Jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

Karena dari kritik dan sarannya bisa membantu aku untuk menilai ffnya juga hihi

Gamsahamnida..

4 pemikiran pada “[Oneshoot] Gone

  1. Masjosh ku kira jisoo doang yg mati trus jeonghan bahagia sama seungcheol ternyata dia lebih milih bahagia sama jisoo :’) ku suka alur ceritanya, diksi nya juga, jadi dapet feel nya

    Suka

  2. Sakit banget baca ff ini..
    Terlebih gila-nya jeonghan dapet banget menurut gw..
    Nemuin ff jihan susah.. ada, cuma dikit..
    Lanjutkan ke karyamu berikutnya ya chingu.. fighting 🙌🙌🙌

    Suka

  3. dan angel menemukan fic jihancheol seperti ini kyaaaaaaa. syedih sumpah gakuat hati ini 😦 plotnya rapi, kirain jisoonya bakal meninggal di pertengahan cerita ga taunya emang udah mati dari awal u.u ternyata summarynya buat kematian jeonghan bukan jisoo hehe daebak >.< saran aja penulisannya lebih rapi lagi ya, perihal tanda titik di kalimat langsung dan hal-hal yang lainnya 😀 semangat!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s