[Oneshoot] Call me Oppa

PicsArt_02-27-03.13.15

[Harimingyu FF Contest Finalist] : HFFC-17

Storyline by yuznia_a

CALL ME OPPA

Seventeen Mingyu, S.Coups, Jang Hyejin, etc | Tragedy, Romance | PG-15

“…. kumohon bangunlah”

.

[Inceon international airport]

Seoul, Korea selatan

02.32 PM.

“Cepat cari ke seluruh area, jangan lewatkan celah Sedikitpun! Kita harus menemukan Kim Doryeonnim (tuan muda) !!”

“YEEE!!!!…”

drap.. drap.. drap..

drap.. drap.…

“KIM DORYEONNIM!!”..

Dibelakang pohon, tak jauh dari sana..

huhhh…huhhh…huhhh…

“Sial, kenapa mereka bisa tau aku kembali ?”

“KIM DORYEONNIM!!”..

Mwoya? Kim Doryeonnim? siapa itu DORYEONNIM?

“Yak! Namaku Mingyu! Kim Mingyu!!”

Saat itu, andai aku tak mengatakan protesku. Mungkin, aku bisa lolos dari mereka. Sungguh, aku tak tau bahwa suaraku telah merendam suaranya.

 

BUKK!

 

KRAK.. KRAK..

 

Aku menoleh kebelakang. Sepersekian detik sebelum aku melihat wajahnya, tanganku telah terkunci Borgolnya dan tubuhku jatuh tertunduk ditanah. Sial, siapa dia?

“Jeosomnida….”

Suaranya, dia wanita?

“Yak! Lepas! Lepaskan aku! LEPAS !”

Aku berteriak marah, dia pikir aku ini siapa? Buronan?

“Jeosomnida, Doryeonnim.”

Doryeonnim? Ah, jadi wanita ini salah satu dari mereka? Wah.. sekarang kakek tua itu juga memperkejakan wanita rupanya.

“Yak! Kau siapa? Lepaskan aku! Kau tak tau siapa aku hah? Kau, kau akan kena masalah karena ini!”

Wanita itu diam dibelakangku, tak menjawab. Masih menahan kakiku agar menunduk ditanah dengan lututnya. Sial, ini memalukan. Aku kalah dari seorang wanita. menyebalkan. Kucoba memberontak, tapi wanita ini tak bergeming. Hingga akhirnya ia membekapku. Aku menghirup baunya. Hanya sebentar, namun saputangan itu membuatku tak sadar.

***

Aku terbangun keesokan harinya dengan pemandangan yang paling Membuatku pusing. Puluhan ibu-ibu berseragam hitam putih seperti sales keliling, berjajar membawa barang-barang mewah yang terlihat sedikit berlebihan dimataku.

“Anda sudah bangun Doryeonnim.”

Aku menoleh kesamping, seorang Pria dengan senyum menawannya menyapaku. Siapa dia?

“Nuguseo?”

“Hong Jisoo imnida. Saya kepala pelayan baru keluarga Kim.”

“Tuan Hong, ini dimana?”

Bodoh, aku tau ini pertanyaan yang bodoh. Tapi, aku masih berharap akan mendengar jawaban yang berbeda dari benakku.

“Ini Villa baru kakek anda. Beliau telah menunggu anda di ruang pribadinya. Saya diminta menyiapkan segala keperluan anda. Silakan..”

Sial..Sial..Sial… ternyata benar, kakekkulah dalang dari semua ini.

***

Aku berjalan dibelakang Tuan Hong. Kami melewati banyak lorong berliku. Sebenarnya ini Villa atau istana? Kenapa luas sekali. Setelah itu kami tiba disebuah ruangan berpintu kayu mahoni sederhana.

Pintu itu mulai terbuka, menampilkan seseorang yang tengah memandang tajam kearahku. Beliau terduduk dikursi kebesaranya. menatapku, tak berkedip, tanpa senyum, benar-benar datar.

“Anak nakal. kenapa kau lari dari penjagaanmu, kau tau kan ini semua demi keselamatanmu. kalau saja kau sadar mingyu-ya kakek melakukan hal ini untukmu.”

Aku masih berdiri diseberang ruangan, disapa seperti itu setelah hampir 7 tahun kami tidak bertemu. Membuatku sadar dia memang kakekku. Kakekku sangat menyayangiku. Walau dia mengatakan hal buruk padaku, aku tau bahwa sebenarnya itu ungkapan kasih sayangnya.

“Haraboeji, Bogoshipeoso….”

Beliau masih terduduk dikursi kebesaranya, dengan senyum mengembang aku memeluknya.

“Aigo, aigo.. Cucukku.. berat sekali, aduh berdirilah, kumohon.”

“Andwee.. Kakek tidak kangen aku ?”

“Hah.., tentu saja kakek kangen padamu tapi kau bukan anak kecil lagi Mingyu-ya, umurmu sudah 21 tahun. Cepat duduklah, ada yang ingin kakek bicarakan denganmu.”

“Apa itu kek? Apa yang ingin kakek bicarakan?”

“Tinggallah di daegu.”

“Daegu?”

“Ya, tak aman bila kau tinggal didekatku Mingyu-ya.”

“Mwo? Owe?”

“Hanya dirimulah yang kakek miliki. Kakek tak ingin suatu terjadi padamu, seperti orang tuamu dulu. Mereka meninggal karena kakek tak bisa melindungi mereka.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian mingyu-ya. Daegu tempat yang damai, kampung halaman kita, lagipula kau bisa sering mengunjungi makam orang tuamu. Tinggallah di rumahmu yang dulu. Akan ada seseorang yang menjagamu disana.

“Seseorang? Nugu?”

“Gadis yang menangkapmu.”

“Mwo? gadis gila itu? shireo! Kenapa harus seorang gadis, kek? Itu memalukan. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Apa, gadis gila? Dia lebih kuat darimu. Jangan meremehkanya. Lagi pula dia Hye Jin, Mingyu-ya.”

“Hye Jin atau siapalah itu aku tak peduli kakek.”

“Jinja? kau sudah lupa pada Hye Jin rupanya. Bukankah dulu kau yang maminta kakek menjaganya.”

“Tunggu, apa maksud kakek dia Hye Jin yang itu? Jang Hye Jin ? Uri Hye Jin?”

“Tentu saja Hye Jin yang itu, memang siapa lagi? Kau tidak mengenalinya?”

“Ani, aku tidak melihatnya. Sekarang ia dimana kek?”

“Di sini, tapi dia..”

“Baiklah aku akan mencarinya, Sampai nanti kek.”

“Tunggu, mingyu-ya..”

***

Kutelusuri tiap ruangan di rumah ini. Sial, kenapa Villa ini begitu luas. Aku harus segera bertemu Hye Jin. Ini sudah ruangan ke 13 yang kubuka. Namun nihil, aku tidak menemukanya. Dimana dia? Tepat setelah pertanyaanku, aku mendengar sesuatu.

“Hye Jin-ah…”

“Seongchol oppa, wae geure?”

Aku menoleh ke arah jendela, diluar sana kulihat seorang namja dan yeoja memakai baju hitam khas bodyguard berdiri berhadapan. Gadis itu apa mungkin Jang Hye Jin. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju halaman rumah ini.

Dia masih sama. Aku mengingatnya. Senyumnya, suaranya, sorot matanya. Dia memang Jang Hye Jin ku yang dulu.

“Hye Jin-ah..”

Ia menoleh kearahku. Pandangan matanya syarat akan keterkejutan, aku tersenyum melihatnya.

“Hye Jin-ah. Naya(ini aku). Kim Mingyu, neon oppa.”

Dia masih diam, tak merespon perkataanku. Alisnya bertaut, dia terlihat kebingungan.

“Jeosomnida Doryeonnim, sepertinya anda salah orang. Saya permisi dulu. Kajja Seungcheol oppa”

Aku terpaku, dia pergi dengan menggenggam tangan lelaki itu. Apa mungkin Hye Jin membenciku? Kenapa sikapnya sangat dingi

***

Keesokan harinya, aku lebih banyak diam. Rasanya tenagaku habis hanya untuk memikirkan gadis bernama Jang Hye Jin itu.

“Mingyu-ya. Kajja, kita berangkat”

Hari ini kakek mengantarku ke stasiun. Sesuai permintaan beliau, aku akan tinggal di Daegu selama dikorea. Aku sangat mengerti kenapa kakek melakukan ini. Tapi, sikap Hye Jin yang dingin padaku membuatku ragu akankah dia nyaman tinggal bersamaku.

Di dalam mobil..

“Apa yang mengganggu pikiranmu Mingyu-ya?”

“Apa kakek tau, apa yang terjadi pada Hye Jin?”

“Dia tidak mengenalimu?”

“Jadi kakek tau.”

“Kemarin sebelum kau pergi aku sudah ingin memberitahumu. Tapi kau malah buru-buru pergi. Kakek ingin memberitahumu bahwa dia mengalami amnesia.”

“Amnesia? Bagaimana mungkin?”

“Kecelakaan mobil. Tepat satu bulan setelah kau pergi ke amerika. Saat itu, menurut orang kepercayaan kakek, seseorang sengajan melakukanya.”

“Mwo? Kenapa dia melakukanya dan kenapa kakek tidak memberitahuku?”

“Orang itu mengira Hye Jin adalah cucu kakek. Kakek yakin, dia membenci JH Grup. Banyak orang yang mendendam dalam duani bisnis Minggyu-ya. Apalagi JH Grup adalah perusahaan yang besar. Kakek tidak mau mengganggu belajarmu Mingyu-ya.”

Aku masih diam, berusaha mencerna semuanya. Jadi Hye Jin telah melupakanku, ani tapi tidak bisa mengingatku.

“Lalu, kenapa kakek malah menjadikanya bodyguard kakek?”

“Untuk melindunginya, Mingyu-ya. Dia yatim piatu, kau memperlakukanya seperti saudaramu sendiri. Meskipun kakek tidak begitu mengenalnya. Kakek percaya dia gadis yang sangat berarti untumu. Lagi pula, ia anak almarhum sahabat ayahmu. Karna itu kakek menahanya, menjadikanya bodyguard agar tak ada musuh kakek yang menyakitinya lagi.”

“Menurut kakek, apa tidak apa-apa membiarkanya bersamaku?”

“Bukankah itu bagus, kau bisa mulai membantunya mengingatmu dan kenangan kalian. Tapi dia tidak sendirian, akan ada banyak orang yang berada disekitarmu untuk menjagamu.”

“Ne, araseo.”

Kami tiba distasiun kereta api terdekat. Setelah mengucapkan selamat tinggal, kakek menyuruhku segera naik kereta.

***

Butuh dua jam perjalanan menuju daegu. Setelah tiba di stasiun daegu, aku disambut oleh pengawal-pengawal kakekku. Oh, tidakkah ini berlebihan?

“Doryeonnim, anda sudah sampai?”

Aku menoleh kesamping. Hye Jin, dia ada disini? Bukankah kemarin dia masih ada rumah kakek.

“Ah.. Ye, Hye Jin-ah. Ani, maksudku Nona Jang bukankah kemarin kau masih di seoul?”

“Ne Doryeonnim, saya berangkat kemarin. Silakan… mobil anda sudah siap.”

Mobil marcendes hitam menungguku dipintu keluar stasiun. Hye Jin duduk dikursi samping penumpang, berkali-kali aku mencuri pandang kearahnya berharap ia memandangku juga. Namun Hye Jin yang sekarang tak mungkin melakukan hal itu. Dia bahkan mungkin tak tau namaku, karena dia selalu memanggilku Doryeonnim.

“Ekhhmm”

Hye Jin melihatku melalui kaca spion mobil, aku tersenyum memandangnya. Namun, ia hanya menundukan kepala padaku.

“Hye Jin-ssi.”

“Ne Doryeonnim.”

“Jangan memanggilku begitu! Panggil saja Mingyu, atau oppa juga boleh.”

“Joseomnida Doryeonnim, hal itu tidaklah mungkin.”

Aku harus lebih berusaha keras agar dia mengingatku kembali. Kami sampai dirumah sederhana milik keluargaku dulu. Aku ingin segera mengunjungi orangtuaku. Tujuh tahun di amerika, aku hanya bisa mendoakan mereka.

“Kamar anda ada diatas mari saya antar.”

“Tunggu, aku ambil barang-barangku dulu.”

“Biar saya ambilkan Doryeonnim.”

Suara itu berasal dari kursi kemudi.

“Neon?”

“Ne, Anyeonghasimnika, Choi seungcheol imnida. Saya akan menjadi supir pribadi anda selama di korea.”

Apa? Jadi sedari tadi ia yang menyetir mobil ini, dan aku tidak menyadarinya.

“Geure.. Senang bertemu denganmu Seungcheol-ssi. Naega Mingyu imnida.”

“Saya juga senang bisa menjadi supir pribadi anda Doryeonnim.”

Entah kenapa, aku merasa senang ketika ia memanggilku doryeonnim. Setelah itu kami masuk ke dalam rumah, disana terdapat seorang namja dan yeoja paruh baya. Mereka bilang akan mengurusi segala keperluanku disini. Jadi rupanya aku tak hanya berdua dengan Hye Jin dirumah ini. Ohh…Kasihan sekali aku.

“Doryeonnim mari kita kekamar anda.”

“Ani, aku sudah tau dimana kamarku. Sekarang, aku akan pergi kemakam orang tuaku. Apa kau mau menemaniku?”

“Tentu saja Doryeonnim.”

Kami berjalan kaki sekitar 10 menit, namun rasanya hanya beberapa detik bila bersamanya. Ini menyenangkan. Makam orangtuaku berada diatas bukit jadi aku menyuruh Hye Jin menungguku dibawah.

“Eomma, Appa. Bagaimana kabar kalian? Anak kalian yang jarang berkunjung ini datang, kalian pasti senangkan? Appa, Eomma. Hye Jin datang bersamaku, kalian merindukanya jugakan? Jangan khawatirkan kami, aku akan menjaga uri Hye Jin. Semoga kalian berbahagia disana. Aku akan sering-sering kemari.”

Ketika kembali kebawah aku melihat Hye Jin tengan bicara dengan supirku itu. Mereka terdengar akrab, membuatku kesal melihatnya.

“Seungchol-ssi kau disini?”

“ah..Ye, saya mengikuti anda tadi hanya untuk berjaga bila terjadi sesuatu.”

“Begitu, kalo begitu kajja kita kembali.”

***

Aku kelelahan malam ini, tadi setelah melihat Hye Jin tertawa dan tersenyum karena sopirku membuat moodku menurun drastis. Aku mengurung diri di kamar seharian. Seperti anak kecil memang, tapi mau bagaimana lagi aku terlanjur cemburu padanya. Berkali-kali Hye Jin mengetuk pintu kamarku, menyuruhku makan. tapi aku tak berselera jadi aku tidak menjawab tawaranya. Namun malam harinya perutku memberontak kelaparan, jadi diam-diam aku pergi ke dapur siapa tau masih ada makanan.

Srak..Srakk..

“Dimana dia menaruh makananya? kenapa gak ketemu-temu sih? Buka lemari es udah, buka bupet udah, bawah meja udah. Apa karena gelap jadi gak keliatan.”

Srakk..Srakk..

Clek…

Lampu dapur menyala. Sial, sepertinya aku ketauan.

“Doryeonnim?”

“Ah.. Nona Jang.”

“Anda, sedang apa? anda mencari makanan? ”

“Oh.. dimana makanannya?”

Rasanya sangat malu. Sudah ketauan, sekarang pake ngomong jujur segala.

Kim mingyu kau memang orang baik.

“Jeosomnida, saya membuang makanannya karena takut basi. Eotteokaji?”

“Dibuang, sayang sekali. Tapi tak apa, kau sendiri kesini mau apa Hye jin-ssi?”

“Ne? Saya ingin membuat kopi.”

“Mau kubuatkan? Aku jago loh dalam membuat kopi, kau pasti suka.”

“Ania, saya bisa membuatnya sendiri tuan muda.”

“Sudahlah akan aku buatkan, jadi kau tunggu saja sebentat.”

“Andwe Doryenn..”

“Ssstttt.. sudah tunggu saja.”

Aku sangat tau Hye Jin menyukai kopi yang sedikit pahit. Butuh beberapa menit buatku meracik secangkir kopi spesial.

“Ini..”

“Anda tidak perlu melakukan ini tuan.”

“Jangan protes. Coba cicipi dulu.”

Aku menunggu dengan hati berdebar, sruputt… dia sudah meminumnya.

“Eotteo?”

“Mashita, bagaimana anda tau aku suka kopi pahit?”

“Aku tau segalanya tentangmu.”

“Ne?”

“Ahh.. ania, sekarang mana bayaranku?”

“Bayaran?”

“Iya bayaran, tak ada yang gratis di dunia ini nona jang.”

“Kalau begitu saya ambil dompet dulu.”

Aku tersenyum melihat tingkah polosnya. Sebelum ia berlari keluar dapur, aku menarik tanganya.Ia terdiam. Senyumku makin mengembang, ketika melihatnya salah tingkah berkat genggaman tanganku.

“Aku tidak menyuruhmu membayar dengan uang nona Jang.”

“Lalu apa?”

Aku semakin mempererat genggaman tanganku padanya. Mencondongkan tubuhku padanya, lalu berbisik tepat ditelinganya. Dapat kurasakan, Hye Jin membeku di tempatnya.

“Tubuhmu…. Mungkin?”

“MWO? ANDWE!!”

Dia mendorong tubuhku menjauh. Senang rasanya bisa menggodanya lagi seperti dulu. Saat ini, tangannya sudah tersilang didepan dada. Aku tak bisa menahan Tawa melihatnya.

“HAHAHAHAHAHA. Kau sangat polos Nona Jang. Hahahah..”

“Apa? Anda mengerjaiku? Jadi, anda tidak serius?”

“Tentu aku serius, tapi tidak untuk sekarang.”

“Apa maksud tuan?”

“Aku hanya bercanda. Lupakan saja. Tapi soal bayaran itu aku serius.” Aku berhenti tertawa.

“Aku akan membayarnya tuan, tapi jangan dengan itu. Hal lain saja, eoh? ”

“Emhh.. Apa ya? Oh, panggil aku Oppa!”

“Ne? Itu tidak mungkin.”

“Panggil aku oppa, maka semua hutangmu lunas.”

“Jeosomnida..”

“Sulit sekali ya bagimu memanggilku oppa? kalau begitu biarkan aku memanggilmu Hye Jin-ah.”

“Tapi..”

“Tak ada tapi-tapian Hye Jin-ah..”

Kruyukkkk…

Perut sialan. Kenapa harus bunyi disaat seperti ini sih?

“Hye Jin-ah..”

“Ne?”

“Ikut aku makan diluar.”

Tanpa sadar aku menarik tanganya keluar. Rasanya begitu hangat, menggenggam tangan mungilnya. Dia tak berusaha melepaskan genggamanku, mungkinkah dia merasakan hal yang sama?

Memang itulah yang terjadi, hye jin merasakan apa yang Mingyu rasakan ketika tangan mereka bertautan.

Hangat, kenapa tangan ini begitu hangat. Siapa kau sebenarnya Tuan muda.

***

Tak mudah menemukan kedai malam hari di daerah sekitar sini. Tapi bukan berarti tak ada sama sekali. Aku masih menggenggam tangan Hye Jin ketika akhirnya kami menemukan kedai kecil dengan beberapa pelanggan yang kebanyakan lelaki. Aku memilih duduk di pojok kedai, jauh dari pelanggan lain.

“Ahjumma kami pesan Kamjaguk(Sup kentang) 2.”

“Ne…”

Hye Jin terus menunduk sejak duduk dikursinya. Kenapa dia?

“Hye Jin-ah.. waegeure?”

“Ne? anio.. gwenchana..”

Dia bicara informal padaku? Apa ini sebuah kemajuan?

“Kau ingin pesan yang lain.”

“Anio Doryennim, saya akan menemani anda saja.”

“Kau kedinginan?”

Ia menggeleng perlahan, kenapa dia? Apa dia sedang memikirkan sesuatu? apa mungkin dia memikirkanku?

Setelah selesai makan kami kembali ke rumah, suasana begitu hening diperjalanan. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi aku merasa nyaman berjalan berdua bersamanya.

***

Tok..Tok..Tok..

“Tuan muda sarapan sudah siap, anda bisa turun kebawah. Tuan muda?”

Tok..Tok..

Eungghh… siapa pagi-pagi berisik. Eunghh…

“Tuan muda.. saya masuk.”

Cklekk..

“APA? Chamkan..”

“AAAAAAA…”

BRAKKK

“Aku kan sudah bilang tunggu dulu Hye jin-ah, aku belum memakai bajuku.”

Huaa… Sungguh pagi yang ramai, ini hari pertamaku bangun di kamar tidurku yang dulu. dari luar kamarku aku mendengar suara Hye Jin.

“Jo.. Joseomnida Tuan muda, saya tunggu dibawah.”

Aku tersenyum.. Uri Hye Jin, jinja kyeoptta. Kenapa kakek bilang dia kuat?

***

Kami makan dalam diam. Sedari tadi Hye Jin menundukan kepala, fokus pada makananya. Aku terus saja memandangnya, Pemandangan pagi hari ini yang terbaik sepanjang hidupku. Menatap Hye Jin dengan pipi merah dan wajah bersalah itu sangat menyenangkan. Hingga aku tak menyadari kalau bukan hanya aku dan dia disini, ada Choi seungcheol juga.

“Hye Jin-ah ada apa? apa terjadi sesuatu?”

Kulihat raut khawatir diwajah pak Choi. Setelah ia bertanya, tanganya menepuk pungungg Hye Jin lembut. Arghh.. Choi Seungcheol sialan.

Hye Jin menoleh kearahnya, tersenyum kecil. Lalu menggeleng, apa ini? apa mereka pacaran? Ya! ada orang disini, jangan dianggap dunia milik berdua dong!

“Ekkhmm.. Hye Jin-ah.”

“NE!”

“Kenapa kau semangat sekali? Aku mau tanya apa yang harus kulakukan hari ini?”

“Ne? Nan molla…”

“Molla?”

“Ne, Tuan Kim JiHoon hanya menyuruh saya menjaga anda.”

“Kakek memang orang baik. Kalau begitu aku akan bekerja hari ini.”

“Untuk apa anda bekerja tuan muda?”

“Untuk apa? Tentu untuk menggaji kalian. Jangan pikir aku anak manja yang cuman bisa jalan-jalan eoh.. Aku ini bukam pengangguran.”

“Oh.. dan jangan terima uang apapun dari kakekku. Ara?”

Mereka berdua saling lirik, mungkin tak menyangka aku akan berkata begitu.

“Araa..?”

“Ne Doryeonnim.”

“Kalau begitu, Hye Jin-ah temani aku bekerja.”

“Ne?”

***

“Wahh.. Daegu, daebak!”

Saat ini aku berada Gunung Palgong, untuk bekerja tentunya. Oh.. dan berkencan mungkin, karena aku bersama Hye Jin. Hanya berdua, aku memyuruh Choi seungchol menunggu di mobil.

“Hye Jin.”

“Ne.”

“Bisa kau berdiri disana.”

Aku menunjuk kearah tepi jurang yang berlatar awan.

“Untuk apa tuan muda? anda ingin mendorong saya?”

“Ya! mendorongmu jatuh, kau pikir aku bisa hidup setelah itu.”

“Ne?”

“Kau jadi model dadakan, jadi berdirilah disana sekarang!”

“Tapi saya tidaklah..”

“Cantik? kau sudah sangat cantik Hye Jin-ah. Apalagi dengan baju yang kupilih untukmu itu.”

Seketika semburat merah menghiasi pipinya, ohh.. kenapa gadis ini yang katanya kuat terlijat pemalu sekali eoh?

“Baiklah kalau menurut tuan begitu.”

“Jangan terlalu dekat jurang! Kau bisa jatuh.”

“Ne, doryeonnim.”

Ckrek..Ckrek..

“Gaya lain Hye Jin-ah.”

Ckrek..Ckrek..

Kalian pasti sudah tau apa pekerjaanku, aku seorang fotografer. Sebenarnya ini hanya hobi, namun banyak majalah yang menyukai jepretanku. Tapi saat ini, hanya hal itu yang bisa kulalukan. Aku belum lulus kuliah manajemen bisnis universitas Oxvord. San sekarang aku sedang cuti kuliah.

“Bagus Hye Jin-ah..Kemarilah, lihat hasilnya.”

“Bagaimana tuan?”

“Bagus, tentu. Lihatlah.”

Aku menyerahkan kamera SLR itu padanya.

“Kenapa aku terlihat chubby begini? Wah, yang ini harus dihapus doryeonnim.”

“Andwe!”

Aku berusaha merebutnya, tapi Hye Jin tiba-tiba saja berlari menjauhiku. Ruapanya ia mau bermain kejar-kejaran denganku!

“Ya! kembalikan, jangan berlari begitu. kau bisa jatuh Hye Jin-ah..”

“Aku harus menghapus ini tuan. Tapi bagaimana caranya?”

“Jangan dihapus, itu milikku. Kalau sampai tertangkap, jangan salahkan aku kalau kau mendapat hukuman.”

“Tapi ini foto saya tuan..” Ia terus berlari.

“Tunggu jangan kesana.. Awas, HYE JIN!!”

BRUAK..

Aku bisa meraihnya. Kami terjatuh bersama, jurang ini tidaklah dalam. Kami

Berguling menabrak batu-batu kecil, dan berhenti berkat pohon Jati besar disisi jurang.

Sayangnya, kepala Hye Jin terbentur sebelum kami terhenti.

“Hye Jin-ah ireona.. Hye Jin-ah kau bisa mendengarku?”

Tak ada Sahutan dari mulutnya. Aku benar-benar takut, kubawa tubuhnya denagn lenganku. Ia harus sadar, aku tak ingin kehilangan dia.

***

Tiga minggu kemudian..

Rumah sakit Hyeonpoong, daegu.

Kamar 313

Sudah tiga minggu Hye Jin tak sadarkan diri. Dokter bilang benturan di kepalanya menenai titik fital otak kirinya. Apalagi Hye Jin pasien amnesia, kemungkinan terjadi amnesia yang lebih parah sangat besar. Namun itu hanyalah perkiraan, siapa yang tau apa yang akan terjadi.

Aku hanya bisa mendoakanya. Sesekali menggenggam tanganya, menyalurkan sedikit kehangatan yang kumiliki. Sungguh aku menyesal mengejarnya saat itu. Jika tau hal ini akan terjadi aku lebih baik menggantikan posisinya.

Perasaan itu berbalas. Dalam tidurnya, Hye Jin selalu mendengar perkataan Mingyu. Tanpa sadar hal itu telah memberinya kekuatan untuk sadar kembali. Sungguh bahkan meski kita tak mengingatnya. Cinta itu tak pernah terlupalan.

“Hye Jin-ah..”

Ne..Mingyu oppa

“Ireonna.. Ohh..? Jangan tinggalkan aku.”

Kupererat genggaman tanganku, ingin rasanya membuatnya terbangun karena hal ini membuatnya malu.

Hangat.. oppa, kenapa kau begitu hangat

“Mianhae, aku tidak memberitahumu dulu.. Aku, aku sangat merindukanmu Hye Jin-ah.”

Nado oppa..

“Aku bahkan tak tau kau mengalami masa sulit disini karenaku.”

Ania oppa, aku senang oppa kembali..

“Hye Jin-ah..Bogoshipeoso.. kumohon bangunlah..kau gadis yang kuat bukan?”

Tunggu aku oppa, aku akan lebih berusaha..

“Hikss…hikss.. kenapa kau harus menderita karenaku Hye Jin-ah..”

Uljima oppa, aku bahagia bertemu dengan oppa..

“Hikss..hikss..”

Aku akan berusaha bangun. oppaaa.. uljimayo!! Aku, aku akan berusaha lebih keras. Kumohon jangan menangis.

Saat itu, setetes air mataku jatuh dipergelangan tangannya. Air mata ini jatuh setelah 3 minggu aku menahanya. Sungguh, dosa apa yang telah kuperbuat, kenapa aku selalu membuatnya menderita…

Saat itu kurasakan genggaman tanganku bergerak, aku tersadar dari kekalutanku. Tangan Hye Jin terus bergerak, kuseka air mataku. Aku tak ingin terlihat buruk didepanya.

“Hye Jin-ah.. kau sadar..?”

Kelopak matanya perlahan membuka, mata indah itu terbuka. Aku tidak percaya ini, hye jin sadar dalam genggaman tanganku.

“Hye Jin-ah..”

Ia memaksakan diri tersenyum, dan setelah itu kata pertama yang terucap dari bibirnya membuat jantungku berdetak tak karuan.

“Mingyu oppa..”

Berakhir sudah…

THE END

 

NB :

  1. Yang dicetak Tebal itu Author POV.
  2. Yang dicetak Tebal+Miring itu Perasaanya Hye Jin.

 

®BONUS®

 

Keesokan harinya..

“Kau sudah mengingatku?”

“Ne oppa.”

“Kalau begitu aku akan mengetesmu.”

“Silakan saja.”

“Siapa aku?”

“Kim Mingyu, naega oppa. Pewaris tunggal JH Grup.”

“Kau siapa?”

“Nan Jang Hye Jin, dua tahun lebih muda dari oppa.”

“Kau salah Hye Jin-ah.”

“Mwo? Jinja? Apa kesalahanku oppa?”

“Bukan Jang Hye Jin, tapi Kim Hye Jin.”

“Mwo? sejak kapan margaku berubah? Memang bisa diubah semaunya?”

“Sejak sekarang. Bisa diubah jika kita pergi ke KUA sekarang.”

“KUA? Apa maksud oppa? Akukan masih 19 tahun.”

“Kau sudah bisa hamilkan? Jadi boleh-boleh saja kita kesana.”

“Ya! Neo micheosseo?”

“Ani, Hye Jin-ah. Kajja kita ganti nama margamu.”

“…….” isilah titik-titik ini dengan jawaban yang paling tepat.

 

 

 

SEKIAN DAN TERIMA KASIH..

Jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

Karena dari kritik dan sarannya bisa membantu aku untuk menilai ffnya juga hihi

Gamsahamnida..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s