[Oneshoot] Chained Up

@sweetiesugar_

[Harimingyu FF Contest Finalist] : HFFC-19

Storyline by sweetiesugar_

CHAINED UP

Seventeen Jeonghan, S.Coups, etc | (implisit) smut, genderswitch | T+

Summary Jeonghan pikir Seungcheol hanya terobsesi padanya. Membuat dirinya terbelenggu dengan perasaannya sendiri. Tapi nyatanya?

.

Awalnya hidupku baik-baik saja, tanpa ada masalah yang berarti, tapi beberapa bulan ini semua menjadi hancur karena kesalahan yang aku lakukan. Aku melangkah ke dalam jurang yang membawa kehidupan normalku yang tenang menjadi kacau dan menyedihkan. Aku membawa diriku pada seseorang yang membelengguku tanpa membiarkanku bernafas sedikitpun. Menahanku tanpa ingin tahu apakah aku masih sanggup dan ingin untuk berada di sisinya atau tidak.

Ku akui semua memang kesalahanku, aku yang dengan mudah terjerat ke dalam pesonanya, terperosok begitu dalam terhadap dirinya. Tapi aku tidak tahu jika pesona yang ia miliki ternyata hanyalah topeng yang ia pergunakan sebelum akhirnya menunjukkan wajah aslinya yang jauh dari kata mempesona.

“Han-ah” panggilan lembut itu membuat sekujur tubuhku menegang. Nada suaranya memang terdengar lembut, sangat lembut malah. Tapi itu bukanlah pertanda baik untukku. Walaupun sebenarnya apa pun yang ia lakukan adalah yang sama buruknya untukku.

“W-waeyo?” aku menggigit bibir bawahku dengan tegang, tanpa sadar aku mendudukkan diriku jauh darinya, dan itu salah satu kebodohanku. Aku benar-benar tidak bisa menutupi kalau aku begitu takut dengannya. Meskipun aku akan selalu tersenyum di depan teman-teman kami ketika kami bersama, tapi ketika aku hanya berdua dengannya aku tidak bisa mempertahankan senyumku. Rasanya sangat buruk.

“Kenapa menjauh?” suaranya memang lembut tapi aku tahu bahwa ia merasa tersinggung, terlihat jelas dari kilatan matanya yang tajam.

“Tidak Seungcheol-ah” aku menarik kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyum yang aku yakini tidak akan pernah bisa menolongku darinya. Tapi bodohnya lagi ketika ia akan menyentuh tanganku, aku kembali menjauh darinya. Kebodohan fatalku.

Benar saja, setelah aku membalas ucapannya, ia menarikku dengan kasar, membuatku berdiri dari posisi dudukku dan membawaku ke ruangan yang menjadi saksi bisu betapa kejamnya Seungcheol. Kamar ini, ketika pertama kali aku masuki terasa begitu nyaman, membuatku benar-benar merasakan bahwa aku akan menjadi seorang putri seperti cerita dongeng yang sering aku baca. Tapi dongeng tetaplah dongeng, karena semua berbanding terbalik dengan kenyataan yang sedang aku hadapi.

Seungcheol mendorongku ke atas ranjang, membawa dirinya berada di atasku. Menatapku dengan nyalang sebelum akhirnya ia membawaku pada ciuman kasarnya. Aku tidak membalasnya ataupun menolaknya. Tubuh, hati dan pikiranku sudah benar-benar lelah untuk menghadapi Seungcheol. Ia seolah membutuhkanku hanya untuk memenuhi obsesinya terhadapku.

Rasanya benar-benar menyakitkan. Aku memang sangat mencintainya, tapi disisi lain, hanya menjadi boneka baginya membuatku ingin berhenti. Akan lebih mudah bagiku meninggalkannya jika saja perasaan cintaku ini dapat kuganti dengan rasa benci. Tapi, sekeras apapun aku mencobanya, aku tidak bisa membenci Seungcheol.

Diamku ternyata membuat Seungcheol semakin marah. Dia menarik gaun selututku dengan kasar, bahkan tidak segan-segan merobeknya membuatku dapat merasakan hawa dingin menyapa kulitku. Aku memalingkan wajahku ketika ia memandang tubuhku yang hampir telanjang.

Setelahnya tidak kurasakan sentuhannya lagi padaku. Aku menatapnya yang hanya terdiam. Matanya sedikit banyak menunjukkan bahwa ia kaget melihat tubuhku. Aku berpaling pada tubuhku. Tubuhku yang penuh dengan memar biru yang ia berikan padaku beberapa hari lalu hanya karena aku mengatakan ingin pergi bersama Wonwoo dan Hyunki. Beberapa dari memar itu tampak sudah pudar, tapi sebagian banyak memang memar baru.

“Apa aku yang melakukan semua ini Han-ah?”

Pertanyaan bodohnya. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan padanya bahwa aku benar-benar muak berada di sisinya, aku ingin pergi darinya, aku membencinya, aku tidak bisa untuk bersama dengannya lagi. Aku tidak kuat. Tapi itu hanya keinginan pikiranku, hatiku bahkan tidak sanggup pergi darinya.

“Han-ah, jawab aku” Seungcheol membawaku ke pangkuannya. Ia menatapku sembari menghapus jejak air mata di pipiku. Aku bahkan tidak sadar jika aku sudah menangis sedari tadi.

“Maafkan aku sayangku”

Dan aku kembali lemah hanya karena permintaan maafnya itu. Katakanlah aku bodoh karena aku mengorbankan semuanya hanya agar aku dapat bersama dengan Seungcheol. Membiarkanku jatuh ke dalam jurang itu berkali-kali, membiarkan diriku akan mati membusuk bersama hati dan perasaanku.

 

 

Pesta. Aku memang menyukai pesta, sangat-sangat menyukai pesta. Sebelum bersama Seungcheol, aku memang sering pergi ke pesta entah siapa bersama sahabat-sahabatku. Menghabiskan malamku dengan pergi minum dan bercumbu dengan satu-dua orang laki-laki. Jangan beranggapan kehidupan normal yang kujalani sebelumnya adalah kehidupan normal yang ada dalam pikiran polos kalian. Tapi kehidupan normalku adalah tidak jauh-jauh dari pesta.

Dan karena kecintaanku pada pesta itulah yang membawaku pada kehidupan menyedihkanku sekarang. Aku benar-benar tidak dapat menikmati pesta yang sudah berlangsung hampir 1 jam ini. Sangat-sangat tidak menikmatinya, karena semua itu hanya mengingatkanku pada pertemuanku dengan Seungcheol.

Saat itu aku sedang menghadiri pesta peresmian cabang perusahaan keluarga Seungcheol di Jepang, aku hanya datang menggantikan kakak lelakiku. Tapi secara tidak sengaja aku dan Seungcheol terlibat obrolan yang membuatku jatuh ke dalam pesonanya.

Kami bertukar nomor ponsel, dan mulai berkencan beberapa minggu kemudian. Semua baik-baik saja selama tiga bulan kami berkencan. Seungcheol bahkan sangat romantis, ia memenuhi semua keinginanku, membiarkanku datang ke apartementnya dengan sesuka hatiku. Membiarkanku menempati ranjangnya dan bersikap penuh perhatian.

Tapi hari sial itu datang juga padaku. Aku yang sedang pergi bersama Hyunki—sahabat sekaligus kekasih sepupuku, Wonwoo—tidak sengaja bertemu dengan Seungcheol yang tengah rapat di café yang kami kunjungi.

Awalnya Seungcheol masih bersikap baik terhadapku ataupun Hyunki, tapi ketika kami pulang—aku terpaksa meninggalkan Hyunki—Seungcheol mulai bersikap kasar. Ia mengatakan padaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Hyunki. Dan untuk pertama kalinya, ia menarik rambut panjangku dan memukulku. Aku benar-benar tidak dapat melawan. Dan malam itu dengan kasar ia merebut hal yang paling berharga bagiku. Merebut harga diriku dan membuatku layaknya pelacur.

Ia menyiksaku, tidak hanya fisikku tetapi ia juga menyiksa batinku. Menyebutku sebagai pelacur, menyebutku wanita murahan, menyebutku jalang. Ia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang Hyunki. Ia hanya terus-terusan mendorong dirinya pada kepuasaannya. Membawa hasratnya memuncak dan memuntahkannya di dalamku. Hari itu, kusadari bahwa kehidupanku benar-benar berubah. Bahwa hidupku bukan lagi milikku, tapi milik Seungcheol.

“Jeonghan-ah” suara lembut Seungcheol membuatku menoleh padanya.

Ia menatapku dengan alis yang menukik. Aku yakin ia akan marah padaku lagi kali ini. Tentu saja, malam ini aku mengenakan gaun yang memperlihatkan bahuku, membuat beberapa laki-laki melirikku dengan terang-terangan bahkan mengabaikan sosok Seungcheol yang berdiri di sebelahku.

“Apa kau sengaja ingin menggoda para lelaki itu?”

“Iya! Apa itu masalah bagimu?” Entah keberanian dari mana mulutku mengucapkan kata-kata itu, aku sendiripun tidak mengerti. Sesuatu dalam diriku seolah memerintahku untuk melakukannya.

Aku menepis lengan Seungcheol ketika ia mencoba menarikku. Dan itu membuatku benar-benar kaget. Seungcheol-pun hanya menatapku dengan sendu, senyum miris tersungging di wajahnya.

“Tak apa sayang, hanya saja, cuaca malam ini sangat tidak baik jika kau menggunakan pakaian terbuka seperti itu.” Setelah mengatakan kalimat itu, Seungcheol melepas jas yang melekat di tubuhnya dan memasangkannya di bahuku sebelum akhirnya ia meninggalkanku sendiri setelah mengecup lembut pipiku. Seungcheol-ku kembali?

Laki-laki itu, apakah ia kembali menjadi Seungcheol-ku yang baik? Seungcheol-ku yang perhatian? Tidak Jeonghan! Jangan terlena, mungkin saja setelah ini kau akan disiksanya lagi. Terlalu sibuk dengan pikiranku, aku tidak sadar seseorang menabrakku dari belakang dan membawaku dalam dekapannya. Apa dia gila?

Aku mencoba meronta untuk melepas pelukannya. “Lepaskan aku, kau siapa?”

“Oh, Jeonghanku sayang” aku seperti mengenal suara laki-laki itu. Hyunki?

“Lepaskan aku Hyunki-ah, jangan macam-macam denganku! Hey!”

Bukannya melepaskanku, laki-laki itu semakin mengeratkan dekapannya, membuat aku sulit untuk bernafas. Perutku pun terasa benar-benar sakit karena dekapannya ini. Apa ia ingin membunuhku?

“Kenapa kau meninggalkanku dan pergi pada si sialan Seungcheol itu?” laki-laki itu mengendus leherku. Tangannya mengulurkan sebuah pisau yang ia arahkan tepat di sisi kanan perutku. Membuat peraasaanku menjadi kalut.

“Ada apa denganmu Hyunki-ah? Lepaskan aku!”

Suara tawa laki-laki itu membuatku menegang. Suara tawanya terkesan pelan dan sangat rendah. Bukan seperti Hyunki yang aku kenal. “Aku mencintaimu sudah sejak lama Jeonghan-ah, tapi kau tidak bisa melihatku lebih dari sekedar sahabat. Dan karena itu, tidak ada siapapun yang bisa memilikimu jika aku tidak bisa memilikimu”

Aku bisa merasakan benda tajam dalam genggamannya menggores pinggangku sebelum akhirnya Hyunki mendorongku ke depan dan membuatku tersungkur dengan cukup keras. Laki-laki itu lari begitu saja dengan beberapa orang yang mengejarnya. Aku tidak tahu yang terjadi karena telingaku seperti tuli ketika pisau itu berhasil menembus kulitku. Meskipun begitu, aku masih dapat melihat dengan jelas bahwa Seungcheol datang menghampiriku dengan wajah khawatir.

“Cheol-ah…”

“Sayangku, diamlah, kita akan kerumah sakit sekarang.” Seungcheol menggendongku dengan lembut. Membawaku dalam dekapannya yang hangat.

Seungcheol-ku yang tampan. Apakah ini maksud dari sikap kasarnya selama ini? Aku baru sadar, Seungcheol bersikap kasar padaku ketika aku mulai membela Hyunki atau mengatakan aku ingin pergi bersama Hyunki. Selebihnya ia bersikap seperti Seungcheol-ku. Seungcheol hanya berniat melindungiku. Aku yang bodoh.

 

 

“Cheol-ah, kenapa tidak mengatakannya langsung?” tanyaku ketika dokter selesai mengobati lukaku. Dokter mengatakan pada kami, lukaku tidaklah parah, hanya goresan kecil dan aku bersyukur semua dalam keadaan baik-baik saja. Aku mengelus pipi Seungcheol dengan lembut membuat Seungcheol tersenyum padaku, walau kentara sekali kalau wajahnya terlihat khawatir.

“Tidak sayang”

Aku hanya tersenyum padanya dan mengecup bibirnya dengan lembut. “Aku mencintaimu Cheol-ah, sangat mencintaimu.”

“Aku juga sayang, dan kumohon, jangan membuatku khawatir.” Seungcheol mengecup lagi bibirku. “Dan terimakasih, telah menjaga anak kita.”

Kehidupan yang kukatakan telah hancur, kehidupanku yang aku pikir adalah kesalahan. Ternyata hanyalah kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang benar-benar diluar akal sehatku. Seungcheol hanya terlalu bodoh. Ia membuatku… ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkannya.

Dan kejutannya, aku hamil.

.

.

.

Jangan lupa berikan kritik dan sarannya ya ^^

Karena dari kritik dan sarannya bisa membantu aku untuk menilai ffnya juga hihi

Gamsahamnida..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s