[Oneshot] Pretty Brother

Pretty Brother

Pretty Brother

By : Febby Fatma

Drama, Family, little bit Humor

PG

Oneshot

Main Cast :

Yoon Bomi Apink

Yoon Jeonghan SEVENTEEN

Yoon Bora SISTAR

Yoon Doojoon BEAST

Other Cast :

Baekhyun EXO

Eunji APink

Disclaimer : Ide dan isi asli punyaku. Cast milik kita bersama. Mohon untuk tidak Copy-Paste atau Plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

Klik. Ddak.

“Aku pulang.”

“Selamat datang.”

“Oh, selamat siang.”

“Siang.”

Tiga teman sekelasnya yang sedang duduk bersama dengan Bomi di ruang tamu kini terfokus pada Jeonghan. Padahal adik laki-laki Bomi itu terlihat tidak perduli dengan keberadaan mereka.

Salam Jeonghan dan sikap ramah anak itu tadi, Bomi yakin, pasti hanya formalitas.

“Hey Bomi-ya.”

“Apa?”

“Semakin sering aku bertemu adikmu itu, aku rasa dia semakin cantik.”

Bomi yang tadi bersikap tidak perduli dengan tingkah teman-temannya langsung membanting kasar pensil di tangannya. “Dia anak laki-laki, harusnya kau bilang dia tampan, bukan cantik.”

Temannya mendelik jengah. “Nyatanya dia terlihat cantik.” Dua teman yang lain mengangguk setuju dengan itu. “Bahkan lebih cantik dari kakaknya.”

“Benar.”

“Aku setuju.”

Bomi sudah biasa mendengar ocehan itu. Terlalu biasa sampai rasanya benar-benar menyebalkan jika harus dengar lagi, lagi dan lagi.

“Terserah lah.” Bomi bangun dari tempatnya, berdiri santai sambil bertolak pinggang. “Sisanya kalian yang urus. Aku telpon Baekhyun oppa dulu.”

Setelah mengambil ponselnya di meja ruangan itu yang mereka sulap menjadi meja belajar bersama, Bomi pergi ke dapur. Menemui ibunya yang sedang sibuk membuat camilan untuk teman-temannya.

“Jeonghan mana, Bu?”

“Di kamarnya.”

Bomi memainkan ponsel di tangannya sambil memperhatikan sang ibu. Wanita cantik yang selalu jadi primadona dimanapun dia berada itu adalah pemberi gen yang membuat adiknya selalu populer dimanapun juga.

“Nyonya Yoon Bora, apa yang sedang anda masak?”

Bora, ibunya tersenyum, menunjukan loyang berukuran sedang yang baru keluar dari oven. Aroma asam-manis apel menyeruak di seisi ruangan. Dan tanpa butuh jawaban dari sang ibu, Bomi sudah tahu apa yang Bora buat. Tapi,

“Kenapa Ibu selalu buat pie apel setiap Eunji datang? Sesekali buat salad atau pisang goreng biasa saja kan bisa.”

Bora menggeleng. “Eunji bilang pie apel Ibu enak. Jadi Ibu suka membuatnya.”

Aish.”

“Habis,” Bomi sudah tahu apa yang akan dia dengar selanjutnya. Dia tahu tapi ingin mendengarnya. “Putri Ibu sendiri tidak pernah memuji masakan Ibu.”

Bomi meringis mendengar keluhan itu. Dia mengambil satu garpu di meja tapi belum sempat Bomi menyungkil pie di loyang itu garpunya direbut. Adik laki-lakinya yang melakukan.

Jeonghan menyungkil pie itu dan memakannya. Ikut duduk di samping Bomi saat dia berkomentar. “Ini terlalu manis.”

“Benarkah?”

Bomi merampas balik garpunya dan mengambil apa yang ingin dia ambil tadi. Setelah selesai mencicipi dia memberikan garpunya pada Jeonghan lagi.

“Ibu terlalu banyak menambahkan gula.” Tambah Bomi santai.

Noona, kenapa kau di sini? Eunji noona dan teman-temanmu yang lainnya sudah pulang?”

Bomi menggeleng. Dia mendesah kesal karena ingat Eunji yang membandingkan wajahnya dengan wajah adik laki-lakinya tadi.

Sungguh, Bomi sudah terbiasa dengan hal itu. Hanya rasanya menyebalkan saja.

“Kapan kontrakmu berakhir?”

“Hah? Aku?”

Jeonghan menunjuk wajahnya.

Bomi mengangguk malas. Dagunya dia tumpukan pada satu tangan. Matanya memperhatikan sang ibu yang masih sibuk dengan pie apel kemanisan tadi. Bersikap seolah dia tidak perduli dengan keberadaan Jeonghan.

“Kenapa memangnya?”

Bomi tidak langsung menjawab. Dia memberi jeda yang lama untuk sebuah jawaban singkat. Hanya saja jawaban itu terasa memalukan bagi Bomi.

“Rambutmu..”

“Ah,” Jeonghan langsung memegang rambutnya. Dia tersenyum menahan tawa sambil memainkan rambut panjang miliknya. “Aku juga ingin sekali memotongnya.”

Yah, Bomi tahu. Nyatanya Jeonghan memang tidak begitu suka dengan rambut panjang. Kalau bukan karena kontrak iklan yang dia tanda tangani, Bomi yakin adiknya itu pasti lebih suka berambut pendek.

“Eunji noona bilang apa kali ini?”

Bomi menoleh. Mengeluarkan satu ikat rambut karet dari saku celananya dan mengerakan Jeonghan untuk membelakanginya. Dia mengikat rambut panjang adiknya saat menjawab, “Katanya kau lebih cantik dariku.”

Tawa Jeonghan pecah begitu saja. Bora yang tadi sibuk dengan pie juga ikut tertawa.

Menyebalkan! Itu yang hati Bomi teriakkan.

Noona, kau marah?”

“Untuk apa aku marah?”

“Tapi wajahmu mengatakan itu.”

“Aku tidak marah.”

“Hanya kesal.” Bomi dan Jeonghan sama-sama menoleh saat ibu mereka ikut menjawab. “Rasanya pasti sangat menyebalkan.”

Bomi mendesah. Lebih baik dia pergi dari tempat itu sebelum rasa kesalnya bertambah parah.

Noona.”

“Apa lagi?”

Dia terpaksa menoleh. Kini wajah adiknya tampak lebih baik bagi Bomi. Rambut Jeonghan yang tadi dia ikat memberi perubahan yang signifikan untuk wajah Jeonghan.

“Katakan pada Eunji noona kalau aku lebih suka disebut tampan. Cantik bagi seorang laki-laki itu terasa sedikit.. yah, noona mengertilah.” Lalu anak itu tersenyum penuh arti.

“Hem, akan aku katakan lagi nanti.”

Yoon Jeonghan.

Nama itu tertulis jelas, walau dengan ukuran kecil di bawah gambar seorang laki-laki berambut panjang yang memeragakan seragam sekolah.

Majalah yang Bomi pegang adalah majalah fasion bulanan yang baru dibelikan ibunya tadi pagi. Tapi foto Jeonghan di sana terasa tua untuk Bomi.

Pasalnya Bomi tahu kapan adiknya mengambil gambar itu. Dan ada sedikit masalah dengan pose Jeonghan di sana.

“Jeonghan-ah, sini.”

“Ada apa?”

Jeonghan mendekat dan langsung Bomi tunjukan gambar yang bermasalah tadi. “Kau terlihat seperti anak sekolah tahun 90-an.”

“Ah, itu bukan aku yang mau. Itu arahan stylist yang merek itu kirim. Aku sendiri tidak suka dengan gambar itu.”

Dia membalik halaman lain. Di sana ada Jeonghan yang memeragakan beberapa ransel sekolah dan kuliah.

“Apa kau bisa dapatkan tas ini untukku?”

Noona suka tas laki-laki?”

“Untuk Baekhyun oppa, maksudku.”

Jeonghan mendesah mendengar itu. “Harga tas yang itu mahal. Mereka tidak mungkin mau memberikannya gratis.”

“Tapikan kau model mereka. Masa minta satu saja tidak bisa?”

“Kenapa noona tidak beli saja. Nanti akan aku mintakan voucher discon untukmu.”

“Tidak-tidak, aku maunya gratis.”

“Ah, noona~”

Bomi memperhatikan adiknya yang merebut majalah dari tangannya. Wajah tampan tapi cantik milik adiknya tampak sebal, tapi Bomi tahu kalau dia akan dapat jawaban yang dia mau.

“Akan aku coba nanti.”

“Yey!” Bomi memeluk Jeonghan senang. Dia bahkan mencium pipi Jeonghan gemas. Membuat Jeonghan mengeluh karena sikap itu.

Noona benar-benar pelit.” Bomi tidak ambil pusing hal itu. Sudah banyak yang mengatakannya seperti itu. Jeonghan sendiri sudah ribuan kali mengatakannya.

“Terserah apa katamu. Yang penting dapatkan tas itu untukku.”

“Bahkan untuk kado ulang tahun kekasihmu sendiri, kau masih memanfaatkan aku untuk dapat barang secara gratis.”

“Hitung-hitung itu balas budimu padaku.” Jeonghan mulai mengeluh lagi dan kali ini Bomi tertawa mendengarnya. “Kalau bukan karena aku, kau tidak akan jadi model brand mereka.”

“Yah-yah, lalu mau sampai kapan noona buat aku terus berhutang budi?”

Dulu, Bomi sempat membenci kecantikan Jeonghan. Sangat membencinya, bahkan.

Harusnya Bomi yang menjadi model brand itu. Sebuah brand yang lumayan terkenal di Korea karena tas, seragam, sepatu dan berapa barang yang biasanya seorang siswa kenakan. Yah, harusnya Bomi kalau saja Jeonghan tidak ikut dengannya waktu itu.

Hari itu, ada audisi untuk model tetap sebuah brand terkenal tapi kedua orang tuanya justru meminta Bomi untuk menjemput Jeonghan.

Adik laki-lakinya itu bersekolah di SMP khusus laki-laki yang berasrama, tapi karena sedang ada sedikit kekacauan di sekolah, Bomi terpaksa menjemput adiknya sepulang sekolah.

“Ayah dan ibu sedang di Jepang.” Itu adalah jawaban Bomi saat Jeonghan menanyakan keeberadaan orang tua mereka.

Jeonghan waktu itu adalah anak laki-laki yang tidak perduli dengan penampilannya. Rambut panjang, bajunya berantakan tapi wajahnya tetap tampan.

Untuk fakta yang terakhir, Bomi benar-benar tidak bisa membantahnya. Nyatanya itu justru menjadi senjata kebanggaan Bomi.

Memamerkan seorang adik yang tampan lengkap dengan tubuh tinggi, altetis dan otak pintar adalah hal yang menyenangkan untuk Bomi.

“Kau mau langsung pulang?”

“Memangnya noona mau kemana?”

“Ah, itu..” sambil berjalan meninggalkan sekolah Jeonghan, Bomi menjelaskan jadwalnya. Tentang audisinya, tentang janjinya dengan Baekhyun yang saat itu masih belum menjadi kekasih Bomi dan tentang acara belanjanya.

“Kau mau ikut?”

“Aku ikut.”

“Oh hebat, tumben kau tertarik dengan kesibukanku?”

“Aku hanya tidak tahu harus apa di rumah sendirian.”

Selanjutnya hari itu Bomi pergi ditemani Jeonghan. Kebetulan tempat audisi model itu tidak jauh dari daerah sekolah Jeonghan.

Yoon Jeonghan bagi seorang Yoon Bomi adalah sebuah perhiasan yang bisa dia pamerkan, harus dia jaga dan menyebalkan jika hanya benda itu yang bagus di dirinya.

Noona, aku boleh ikut masuk?”

“Memangnya ada yang bilang tidak boleh?”

Jeonghan memamerkan giginya saat tersenyum. Sebelum masuk ke dalam ruang pendaftaran Bomi menarik Jeonghan untuk mengikat rambut adiknya itu.

Ini jadi kebiasaan aneh Bomi sejak Jeonghan tidak sempat memotong rambutnya setiap bulan. Mengikat rambut Jeonghan agar adiknya itu tampak seperti seorang laki-laki.

“Kau tunggu sini.”

Jeonghan mengangguk. Anak laki-laki itu mendudukan diri di salah satu bangku tunggu yang ada di sana. Memainkan aplikasi di ponselnya sambil sesekali memperhatikan Bomi.

Ada sekitar tiga puluh peserta audisi di tempat itu termasuk Bomi.

Dari yang Jeonghan tahu, ini sudah masuk audisi tahap kedua. Di tahap pertama mereka mengirim foto dan yang lolos tahap kedua baru bisa ikut audisi langsung. Nantinya akan di pilih dua orang model. Tidak perduli laki-laki atau perempuan. Yang pasti pemenangnya nanti adalah dua orang.

“Kau peserta audisi?”

Jeonghan menoleh kaget. Seorang pria berdiri di sampingnya. Menatap Jeonghan seolah Jeonghan adalah objek pameran yang menarik baginya.

“Aku hanya mengantar kakakku.”

“Oh.”

Jeonghan kembali memperhatikan Bomi di tempat pengambilan gambar. Kakaknya itu tampak senang walau belum menang. Yah, Jeonghan tahu apa alasan kakaknya senang.

Modeling adalah impian seorang Yoon Bomi.

“Kenapa tidak ikut saja?”

“Aku tidak begitu tertarik.”

“Tapi kau punya tubuh dan wajah yang bagus. Rambut panjangmu juga menarik.”

Pria itu membuat Jeonghan risih karena tatapan mata yang menelisik.

“Kau pasti bisa menang.”

Jeonghan hanya mengangguk acuh tak acuh. Pandangannya kini mengarah pada Bomi yang sedang berjalan modeling di sepanjang karpet biru.

Ada beberapa laki-laki yang ikut audisi itu. Bahkan Jeonghan yakin kalau ada siswa dari sekolahnya yang ikut audisi itu juga. Tapi Jeonghan benar-benar tidak tertarik.

“Lagi pula aku tidak ikut seleksi pertama, mana bisa aku menang.”

“Tidak perlu. Kau hanya harus ikut babak ini.”

Pria itu menarik Jeonghan mendekati seorang pria lain dengan kamera.

“Photografer Cho, aku titip anak ini.” Pria itu menarik Jeonghan untuk menatap si photograper. Dan tanpa jawaban ya si photograper langsung meminta Jeonghan berjalan di sepanjang karpet biru. Berpose.

“Tapi aku,”

“Lakukan saja.”

Jeonghan menoleh pada Bomi yang berdiri tidak jauh dari sana. Memberi sinyal SOS yang justru di balas dengan bisikan “Semangat!”

Terpaksa Jeonghan melakukan apa yang sejak tadi hanya dia lihat. Berjalan dan berpose ke arah kamera.

“Lepas saja ikat rambutmu.”

Sekali lagi Jeonghan menoleh pada Bomi dan kali ini Bomi hanya mengangguk. Mengiyakan perintah tadi.

“Wah, kau beruntung sekali.”

Jeonghan justru mendesah mendengar kalimat Bomi itu. Tepukan Bomi di punggungnya justru membuat Jeonghan resah akan sesuatu.

“Semoga saja kita berdua bisa lolos. Akan seru jika kita yang menjadi modelnya.”

“Yah, semoga.”

Yah, Semoga.

Tapi harapan itu hilang saat surat yang datang ke rumah mereka justru di tujukan hanya untuk Jeonghan. Pengumuman resmi di web juga memberi keputusan yang sama. Hanya Jeonghan yang lolos.

Bomi tidak.

Lima hari setelah itu Bomi masih baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja dia jadi sensitif. Apalagi tentang kecantikan Jeonghan. Dia bisa berteriak marah dan membanting pintu kamar hanya karena itu.

Itu juga keresahan yang Jeonghan rasa sejak awal.

Jeonghan lolos bersama seorang laki-laki lain untuk brand itu. Jeonghan jadi ganti dari model perempuan karena kecantikannya. Model untuk beberapa barang yang pantas untuk perempuan dan laki-laki.

Bahkan di bulan pertama, sepatu dan tas yang Jeonghan kenakan di pemotretan perdananya menjadi barang paling laris terjual. Baik online atau offline.

Dan itu alasan kenapa Bomi jadi sedikit sensitif. Baiklah, bukan sedikit tapi benar-benar sensitif.

Noona.”

Jeonghan datang dengan tiga paper bag besar dengan logo brand yang dia bintangi. Sebuah tas model terbaru dari brand itu menjadi hadiahnya untuk sang kakak.

“Ini untukmu.”

Bomi tidak menerimanya, dia hanya menatap tas berwarna pink-hitam itu dengan pandangan datar.

“Mereka memperbolehkan aku membawa ini. Awalnya hanya satu, tapi karena ingat denganmu dan Baekhyun hyung, aku minta dua lagi.”

Tas berbentuk sama beda warna keluar dari dua paper bag itu untuk Jeonghan tunjukan. Biru-hitam dan putih-hitam.

“Pink untuk noona, yang biru untuk Baekhyun hyung.”

Bomi masih tidak mau menerimanya. Dia membuat senyum senang adiknya berubah menjadi senyum kecut kurang dari semenit.

“Ah, ya. Bulan depan akan ada diskon besar untuk produk sepatu. Noona mau aku mintakan diskon tambahan?”

“…”

“Ah baiklah, aku ke kamar dulu. Ini akan aku taruh di kamar noona. Jangan lupa berikan pada Baekhyun hyung ya?”

Bomi baru menoleh setelah suara langkah kaki yang di seret menjauh darinya. Jeonghan benar-benar menaruh dua tas tadi di kamarnya. Tapi Bomi bahkan tidak bisa berkata ya, terima kasih atau sekedar meledek adiknya.

Rasa kesal dan egonya mengendalikan Bomi menjadi sosok yang sinis pada Jeonghan.

Bomi senang adiknya terpilih, tapi perasaan iri benar-benar membakar dirinya hingga menjadi sosok yang menyebalkan seperti ini.

“Bomi-ya, ayo makan.”

Bahkan saat makan malam bersama Bomi masih tidak bisa membuang sikap menyebalkannya. Untuk beberapa minggu terakhir dia adalah alasan kenapa makan malam keluarga mereka terasa sedikit aneh.

Bomi bersikap seolah Jeonghan pencuri yang mengambil segalanya dari dia.

Noona, minggu depan ada bazar di dekat sekolahku. Noona mau datang denganku?”

Bomi tidak menjawabnya.

Noona.”

Dia masih diam dan sibuk dengan makanannya.

“Yoon Bomi adikmu bertanya.”

“Aku malas.” Jawaban itu baru keluar setelah ayahnya menegur. Tapi nada sinis masih menjadi pemisah antara dirinya dan Jeonghan.

“Oh baiklan. Mungkin lain kali.”

Jeonghan menunduk, ikut diam seperti halnya Bomi.

“Kenapa tidak mengajak ibumu?”

“Hah?”

“Ayah yakin kalau ibumu mau ikut.”

Jeonghan menatap Bora dan sebuah anggukan disertai segaris senyum menjadi jawaban untuk Jeonghan, yang bahkan belum bertanya.

“Ibu sudah lama tidak belanja, dan sepertinya asik jika bisa kencan dengan anak muda.”

“Oh-oh nyonya Yoon Bora, anda tidak bisa berselingkuh dariku.”

“Kenapa tidak? Tuan Yoon Doojoon, apa anda lupa kalau anda juga sering kencan dengan gadis itu?”

Gadis Itu menjadi kata ganti untuk Bomi yang masih menunduk pada makan malamnya.

“Dia itu hanya teman sementara.”

“Tetap saja aku tidak terima.”

“Lalu kau maunya apa.?”

“Biarkan aku berselingkuh dengan laki-laki tampan ini.”

Jeonghan tersenyum simpul mendengar perdebatan aneh kedua orang tuanya. Matanya melirik pada Bomi di samping, tapi sepertinya tidak ada yang berubah. Bomi masih tampak tidak menikmati kebersamaan mereka.

Itu berlanjut hingga Jeonghan membuat keputusan untuk tidak pulang ke rumah.

Keputusan itu jelas di tentang orang tuanya. Bahkan ibunya mengancam akan memindahkan Jeonghan ke sekolah lain yang tidak berasrama. Tapi keputusan Jeonghan sudah bulat. Dia tidak suka menjadi alasan kakaknya berubah.

Tidak ada yang bisa menahannya.

Bomi baik-baik saja walau sedikit merasa bersalah dan merindukan adiknya. Melihat Jeonghan di majalah bulanan bahkan tidak bisa membuat rindu itu hilang. Dan Bomi tahu ayahnya juga sama.

Yang berbeda itu ibunya.

Jeonghan biasa pulang seminggu sekali atau paling lama dua minggu sekali. Jadi begitu sampai tiga minggu Bora langsung terlihat urung-uringan. Mengeluhan Jeonghan yang menolak pulang.

Di minggu ke lima Bora mulai berisik dengan semua kecemasannya. Lalu di minggu ke tujuh dia berhenti untuk mengurus rumah. Mogok menjadi seorang ibu.

“Apa tidak ada satupun dari kalian yang mencemaskan Jeonghan? Dia baru 15 tahun, tapi sudah tidak pulang ke rumah hampir dua bulan.”

Baik Bomi dan Doojoon, ayahnya, tidak ada yang berani menjawab. Satu saja jawaban keluar, itu akan memancing hal lain keluar dari mulut Bora.

Di minggu selanjutnya Bora jatuh sakit. Rasa cemasnya pada Jeonghan membuat Bora kurang memperhatikan diri sendiri.

“Kau mau terus berpura-pura tidak mengerti?” Doojoon mendatangi kamar Bomi setelah kembali dari rumah sakit dengan Bora. Istrinya itu menolak di rawat inap. Jadi malam itu Doojoon bisa langsung mendatangi Bomi. Menegur putrinya itu.

“Telpon adikmu dan suruh dia pulang. Kalau perlu jemput dia.”

“Kenapa harus aku?”

“Karena kau alasan dia tidak mau pulang.”

“Cih, seperti anak kecil saja. Memangnya aku melakukan apa?”

Doojoon bertolak pinggang. Menatap marah putrinya. “Bukannya kau yang seperti anak kecil? Adikmu menang dan kau kalah jadi kau jauhi dia. Bersikap seolah dia sudah mengambil semuanya darimu.”

Bomi menunduk. Mengalihkan pandangannya pada sisi lain ruangan.

“Kau yang menyuruhnya menerima kontrak itu, tapi kau juga yang marah dan iri padanya. Jadi maumu apa? Siapa yang seperti anak kecil?”

“…”

“Ayah tidak mau tahu. Malam ini juga, pastikan kalau Jeonghan pulang.”

Blam!

Setelah pintunya kembali tertutup dengan bantingan tadi Bomi mengambil ponselnya. Mencari nama Jeonghan di kontaknya dan menekan tombol dial.

“Ya?”

“Malam ini juga pulanglah. Ibu sakit karena merindukan putranya.”

“Tapi,”

“Pulang selagi aku masih memintamu. Jika tidak aku bisa jadi lebih dari sebelumnya. Dan..”

“…”

“Ayah dan aku juga bisa sakit seperti ibu jika kau tidak pulang malam ini. Kau mengerti?”

Bib.

Bomi keluar kamarnya. Mengambil dua payung sebelum keluar rumah. Satu payung itu dia gunakan untuk berjalan menuju halte terdekat dari rumahnya. Satu lagi untuk Jeonghan yang akan dia jemput di halte.

Malam itu Jeonghan benar-benar pulang. Ternyata anak itu juga mengkhawatirkan ibu mereka. Tanpa Bomi ancampun sepertinya Jeonghan akan pulang demi Bora.

Noona, bulan depan ada pemilihan model perempuan untuk majalah KLine. Mau aku mintakan formulirnya?”

“Hah benarkan?”

Jeonghan mengangguk santai melihat seberapa bersemangatnya Bomi mendengar kabar itu.

“Mau?”

“Ah tidak usahlah.”

“Loh kenapa?”

Jeonghan duduk di samping kakaknya. Sama-sama menonton acara di tv dengan satu bungkus besar chiki di antara mereka.

“Aku malas, majalah itu tidak seperti majalah yang lain. Terlalu banyak produk cosmetiknya.”

Ah ya, itu benar.

“Tapi banyak brand terkenal yang bekerja sama dengam mereka.”

“Pokoknya tidak usah. Aku masih trauma.”

Jeonghan membungkan mulutnya dengan chiki karena jawaban itu. Trauma yang Bomi katakan jelas sangat dia pahami. Walau sudah hampir setahun berlalu, Bomi masih sedikit sensitif tentang audisi model.

“Aku ingin jadi idol saja. Suaraku tidak buruk, aku juga bisa menari.” Bomi mengambil satu tissu dan mengelap bersih tangannya.

Dia membalik kan badan Jeonghan agar memunggunginya. Mengeluarkan dua ikat rambut karet dari sakunya dan mulai menata rapih rambut adiknya.

Ini adalah saat yang Jeonghan suka dari Bomi. Karena rambut panjangnya Jeonghan selalu jadi punya waktu ini. Saat Bomi membalik tubuhnya dan mengikat rambutnya.

Bomi itu kakak yang baik. Secerewet apapum dia, walau sering menyebalkan, tukang mengatur tapi dia perhatian. Bahkan untuk sekedar ikat rambut.

Tidak seperti Jeonghan yang malas mengurus rambutnya sendiri, Bomi justru senang melakukannya untuk Jeonghan saat di rumah.

“Ibu bilang, kau akan dipindahkan ke sekolahku. Kau mau?”

“Ibu mengancam akan minum racun kalau aku tidak mau keluar dari sekolah yang sekarang.”

Bomi tertawa mendengar itu. Ayah dan ibu mereka memang cukup eksentrik dan lucu.

“Kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak mau ibu sakit lagi karena itu.”

“Uoh, Yoon Jeonghan. Kau seperti tuan Yoon Doojoon saja.”

“Akukan putranya.”

“Haha, kalau begitu selamat bergabung di sekolah umum. Mulai minggu depan kau akan punya teman perempuan lagi.”

“Hem.”

“Hati-hati, jangan mencoba untuk mencolok jika ingin sekolah dengan tenang.”

“Aku tidak melakukan apapun juga sudah mencolok. Gelar sebagai adik dari seorang Yoon Bomi sudah cukup menarik perhatian mereka untuk melihatku.”

“Ah ya, kau benar juga. Maaf jika aku terlalu terkenal di sekolahku sekarang.”

Jeonghan tersenyum menahan tawanya. Begitu juga dengan Bomi.

“Tidak apa-apa, aku sudah biasa jadi pusat perhatian.”

“Dasar!”

“Ah noona!”

Curhat Dikit :

Asal idenya dari fakta bahwa kadang Jeonghan bisa jadi lebih cantik dari idol cewek. Jadi pengen bikin yang kaya gini.

Oh ya, ini FF SERIES. Jadi pasti bakal ada Sequelnya nanti. Kalau mau ada yang nunggu, silahkan saja.

Yoon Family buatanku juga rada aneh, tapi gak apa-apakan?

Jangan lupa ninggalin jejek ya?

Kalau begitu Febby pamit. Bye–

 

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshot] Pretty Brother

  1. kyaaaaaaaaaa kafeb angel mau pingsan >.< jadi baper pengen liat jeonghan balik ganteng kayak jaman predebut diriku kudu gimana ㅠㅠ tobatlah mami sebelum babeh dan om plus bang mingyu semakin menggila /apa ini/ wkwk 😀 mangatz kafeb ❤

    Disukai oleh 1 orang

    • eh jangan-jangan pingsan Njel, ntar ditinggal loh /plak/
      iya, kangen dia rambut pendek, tapi pengen dia tetep pake rambut panjang /kek anak SMP/labil akut/
      haha, makasih udah mamper Njel.. semangan UN juga buat kamu 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s