[Chapter 4] Mistake

MISTAKE

Previous Chapter

Prologue | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

“Kali ini, aku mohon keluarlah dari kamarku, Cheol.”

“Jeong—“

Bugh! Kalimat Seungcheol terpotong dengan pukulan Jeonghan dipipinya. Hal itu cukup membuat pipi Seungcheol berkedut sakit. Seungcheol menatap Jeonghan—mata Jeonghan menyiratkan rasa sedih, marah, kecewa yang bercampur menjadi satu. Seungcheol memegang pipinya, yang ia rasa sudah membiru sekarang.

“Jangan temui aku dulu. Pergilah.”

.

.

MISTAKE

Storyline by Sannihyun

Choi Seungcheol & Yoon Jeonghan

.

.

Seungcheol menutup pintu kamar Jeonghan dengan hati dan pikiran yang kacau. Ketika Ibu Jeonghan memanggilnya dengan nada lembut, Seungcheol mendongak kemudian tersenyum tipis. Ia berusaha bersikap biasa saja, seakan – akan tak ada hal yang ia pikirkan. Seungcheol memang jarang bermain di rumah Jeonghan, namun Ibu Jeonghan benar – benar wanita yang baik. Bahkan Ibu Jeonghan menyarankan Seungcheol untuk memanggilnya Ibu juga—Seungcheol senang, karena ia disambut baik oleh Ibu Jeonghan.

“Jeonghan baik – baik saja, ‘kan?” tanya Ibu Jeonghan dengan senyuman yang sama persis dengan senyuman milik Jeonghan. “Jangan terlalu khawatir, Seungcheol—ah.”

Seungcheol mengangguk, “Iya, Jeonghan baik – baik saja, Ibu.”

“Lain kali mainlah kemari. Sering – sering juga tak apa, Jeonghan tak akan keberatan.”

Seungcheol menyetujui perkataan Ibu Jeonghan. Ia pamit pulang pada wanita paruh baya yang telah melahirkan Jeonghan itu. Setelah Seungcheol benar – benar meninggalkan rumah Jeonghan, ia mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan pada kekasihnya—Jeonghan.

Kepada : Han

 

Han—ah, maafkan aku

Jangan pernah tinggalkan aku, kumohon

Seungcheol menghela nafas pelan. Ia sadar bahwa sebenarnya ia tak pantas meminta Jeonghan untuk tak meninggalkannya. Ia tahu ia adalah pemuda yang egois—ia tak bisa melepas Jeonghan. Membayangkan bahwa Jeonghan tak berada di sisinya lagi, adalah sebuah mimpi buruk baginya. Ya, dia memang pemuda yang egois.

Ponsel Seungcheol bergetar. Sebuah panggilan masuk—Seungcheol melihatnya tanpa minat. Ia mengabaikannya, memasukkan kembali ponselnya pada saku celananya. Berusaha untuk tak peduli dengan getaran yang tak berhenti itu. Namun, getaran itu tak berhenti – berhenti bahkan setelah Seungcheol sudah duduk di halte. Seungcheol mengumpat pelan, ia mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.

“Aku tahu ini semua ulahmu, brengsek.”

Terdengar kekehan dari seberang, “Dia sudah memberitahumu? Foto – fotomu dengan Doyoon—bagus kan?”

“Kau memang bajingan.”

Kekehan diseberang semakin keras ketika mendengar umpatan Seungcheol, “Sudah kukatakan sebelum aku memukulmu beberapa waktu lalu, Choi. Dia tak pantas untuk kau lukai.”

Seungcheol terdiam.

“Yang bajingan adalah kau, bukan aku.”

Dan sambungan ponsel itupun diputus sepihak. Seungcheol masih diam. Dalam hati ia mengakui bahwa dia adalah seorang bajingan bagi Jeonghan. Ya, Seungcheol sadar akan hal itu.

.

.

Seungcheol membuka pintu rumahnya pelan. Melepas sepatunya dan meletakannya di rak sepatu dekat pintu. Matanya kemudian menatap Wonwoo yang sedang duduk sambil menonton televisi. Seungcheol mendekati adiknya—ia duduk disebelah Wonwoo. Seungcheol menyandarkan kepalanya pada pundak Wonwoo—pemuda yang lebih muda diam, tak menolak.

“Jeonghan marah padaku, Won.” ujar Seungcheol dengan suara yang lirih. “Si brengsek itu berulah lagi. Ia mengirimkan foto – fotoku bersama Doyoon pada Jeonghan.”

Wonwoo menghela nafas, “Hyung, itu salahmu.”

“Aku tahu, Won—ah. Tapi aku tidak tega dan tidak bisa meninggalkan Doyoon begitu saja. Dia masih membutuhkanku.” Seungcheol menegakkan tubuhnya. Ia kemudian menatap Wonwoo, “Ketika Jeonghan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya—itu membuatku sakit hati.”

Wonwoo melihat kearah Seungcheol. Ia terkejut melihat bekas pukulan yang membiru diwajah Seungcheol, “Siapa yang memukulmu, hyung?”

Seungcheol tersenyum pedih, “Jeonghan.”

Wonwoo menghela nafas pelan, “You deserve that, bro.

Wonwoo berdiri. Ia berjalan menuju dapur, mengambil es batu yang ia letakan disebuah baskom. Kemudian tangannya mengambil sebuah kain yang digantung di dekat kamar mandi. Wonwoo menghampiri Seungcheol yang masih duduk didepan televisi. Wonwoo berjongkok dihadapan Seungcheol, ia mengambil beberapa kubus es batu—meletakannya diatas kain dan membungkusnya. Ia mengarahkannya pada luka lebam diwajah Seungcheol.

“Kau harus memilih, hyung—diantara Jeonghan—hyung dan Doyoon—hyung siapa yang lebih berharga untukmu. Kau tidak bisa egois.” ujar Wonwoo dengan tangan yang masih mengompres luka Seungcheol. Wonwoo menatap kakaknya iba, “Kau tahu keduanya menyukai—tidak, mencintaimu. Dan siapa yang lebih kau cintai?”

Seungcheol menatap adiknya, namun tak mengatakan sepatah kata apapun.

“Aku tahu, kau bahkan tak pernah mengucapkan cinta pada Jeonghan—hyung yang kau sebut kekasih itu, hyung. Sedangkan kau sudah tahu persis bagaimana perasaan Jeonghan—hyung padamu. Sadarlah, hyung—kau menggantungkan hubungan kalian tanpa adanya kepastian apakah kau mencintai Jeonghan—hyung atau tidak.”

“Aku mencintainya, Won. Kau tahu itu.”

Wonwoo mengangguk, “Lalu Doyoon—hyung? Perasaanmu pada Doyoon—hyung itu seperti apa, hyung?”

“Aku—aku juga mencintai Doyoon.”

“Kau tidak mungkin mencintai keduanya, hyung. Ada salah satu dari mereka yang sebenarnya tidak kau cintai.” ujar Wonwoo. Pemuda itu meletakkan kompresannya dimeja, “Istirahatlah, hyung. Aku akan mencoba bicara dengan Jeonghan—hyung.”

.

.

“Kau benar – benar pucat, Han.” Jisoo menatap sahabatnya dengan pandangan iba. Ia tidak suka melihat Jeonghan yang jatuh sakit seperti ini. “Jangan terlalu memikirkan Seungcheol. Kau butuh istirahat juga, Han.”

Jeonghan tersenyum pada Jisoo, “Aku—aku akan baik – baik saja, Jisoo—ya.”

“Kau mengatakan hal yang sama 2 hari ini, Tuan Yoon.” Jisoo menghela nafas kasar, ia masih menatap Jeonghan khawatir. “Tiga hari tidak masuk sekolah, kau benar – benar oke, Han?”

Jeonghan mengangguk. Sebenarnya, ia sudah merasa baikan—namun, ia masih tidak ingin bertemu dengan Seungcheol. Apalagi pemuda itu adalah teman sebangkunya—perlu digaris bawahi. Sudah dua hari Jeonghan tak membalas satupun pesan Seungcheol—satupun. Seungcheol juga menelpon dirinya, namun Jeonghan taka da niatan untuk menjawabnya. Seungcheol juga mengirimkan ucapan selamat malam, menyapanya saat pagi, mengingatkannya untuk minum obat, semuanya Seungcheol lakukan. Jeonghan sebenarnya sangat ingin membalas pesan kekasihnya itu, namun ia masih mengingat ucapan – ucapan maaf Seungcheol yang ternyata adalah ucapan maaf karena ia menduakan Jeonghan.

“—han, Jeonghan.”

Jeonghan sadar dari lamunannya karena panggilan Jisoo. Jeonghan menatap sahabatnya yang masih setia duduk disampingnya, “Kenapa?”

“Kau melamun, Han.”

Jeonghan menunduk, “Maafkan aku, Jisoo—ya.”

Jisoo menghela nafas pelan. Ia mengusap pundak Jeonghan dengan gerakan lembut, “Kau menghindari Seungcheol, ‘kan?” Jisoo dapat melihat bahu Jeonghan tiba – tiba menegang. Jisoo tersenyum kecil melihat hal tersebut, “Kau seharusnya tidak melakukannya, Han. Bicaralah baik – baik dengan Seungcheol. Kau belum tahu ceritanya dari sudut pandang Seungcheol bukan?”

Jeonghan mengangguk, “Tapi—kau tahu dia selalu meminta maaf padaku. Dia membohongiku, Jisoo—ya. Aku bukan orang yang suka dibohongi, kau mengerti ‘kan?”

“Aku mengerti—sangat mengerti, Jeonghan—ah. Tapi, Seungcheol punya kesempatan untuk menceritakan perihal dirinya dan Doyoon.” ujar Jisoo dengan nada yang lembut namun serius. “Aku tahu kau masih butuh waktu—tapi, menghindarinya bukan hal yang baik, Yoon Jeonghan.”

Jeonghan tersenyum kearah sahabatnya, “kau benar. Terima kasih, Jisoo—ya.”

“Sama – sama.” Jisoo ikut tersenyum. Ia melirik jam dinding yang ada di kamar Jeonghan, “Sepertinya aku harus segera pulang. Karena ini sudah terlalu sore, aku bahkan belum mengganti seragam sekolahku.”

“Aku mengerti.” kekeh Jeonghan.

Jisoo bangkit. Ia mengusap kepala Jeonghan, memberikan kelembutan yang kentara. “Istirahatlah lagi. Besok kita bisa berangkat bersama naik bus.”

Jeonghan mengangguk. Jisoo kemudian pamit dan berjalan keluar kamar Jeonghan. Jisoo memberikan senyuman manis sebelum menghilang dari balik pintu.

.

.

Seungcheol terdiam disebuah bangku café dengan vanilla latte dihadapannya. Ia tengah menunggu seseorang. Sudah sekitar sepuluh menit ia duduk disana, namun orang yang ia tunggu belum menunjukkan batang hidungnya. Seungcheol menghela nafas pelan—ia mengambil ponselnya yang ia letakkan begitu saja didekap cup vanilla latte miliknya. Ia membuka kotak pesan, melihat percakapannya dengan Jeonghan—yang sama sekali tak ditanggapi oleh Jeonghan.

Seungcheol maklum.

Ia tahu bahwa dirinya telah menyakiti Jeonghan—ya, dia memang brengsek. Seungcheol mengetik pesan singkat dan mengirimkannya pada Jeonghan. Ia sudah tidak berharap lagi jika Jeonghan membalas pesannya. Dirinya sudah tak pernah mengharapkan kebaikan Jeonghan seperti biasanya—karena kebaikan Jeonghan sudah ia injak – injak.

“Maaf jika membuatmu menunggu lama, Seungcheol—ssi.”

Seungcheol mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya kepada seseorang yang berdiri didepannya. Seungcheol meletakkan ponselnya, “Tidak apa – apa. Kau bisa memanggilku Seungcheol jika kau mau.”

Pemuda itu tersenyum. Ia mengambil tempat duduk dihadapan Seungcheol, “Baiklah, Seungcheol.”

“Tidakkah kau ingin memukulku, Jisoo?” ujar Seungcheol.

Jisoo—pemuda yang duduk dihadapan Seungcheol terkekeh pelan, “Aku ingin melakukannya. Tapi, Jeonghan pasti akan memukulku jika aku melakukan hal tersebut pada kekasihnya.”

“Masihkah aku pantas disebut kekasih Jeonghan?” Seungcheol terkekeh miris. “Aku sudah menodai kepercayaan dan cintanya padaku.”

Jisoo tersenyum maklum, “Aku tahu kau memilikki alasan dibalik ini semua. Everything happens for a reason, benar?”

Seungcheol mengangguk. “Oh ya, maaf jika aku lancang menghubungimu. Maaf jika hal ini membuatmu tak nyaman.”

“Tidak, aku tidak merasakan ketidaknyamanan dari panggilanmu.” Jisoo mengembangkan senyumannya. “Kau pasti ingin tahu keadaan Jeonghan bukan?”

Seungcheol mengangguk, “Pantaskah aku?”

“Tentu kau pantas, Seungcheol—ah.” ujar Jisoo. “Jeonghan baik – baik saja. Aku sudah berusaha memberikan pengertian padanya. Mungkin besok dia sudah masuk sekolah.”

Seungcheol lega. Kini ia bernafas dengan benar—mendengar kabar Jeonghan adalah hal yang sangat ia inginkan belakangan ini. Karena pemuda dengan surai sebahu itu tak pernah membalas pesannya atau megangkat panggilannya. Tanpa sadar, Seungcheol tersenyum—ia senang karena Jeonghan sudah baik – baik saja.

“Oh ya, terima kasih sudah menemani Jeonghan saat aku meninggalkannya beberapa hari yang lalu. Dan maafkan aku jika aku memberatkanmu.”

Jisoo menggeleng sembari tersenyum, “Tidak. Aku senang bisa membantu, Seungcheol—ah. Jeonghan adalah pemuda yang keras kepala. Susah sekali memberi pengertian padanya. Tapi, sebenarnya dia bukan orang yang tega—dia pasti akan memafkanmu, Seungcheol—ah.”

“Kau tahu, hanya dengan kata – kata bahwa Jeonghan baik – baik saja sudah membuatku senang. Aku ingin dia memaafkanku, namun—yah, aku tidak berharap banyak. Karena memang aku salah, aku mengerti akan hal itu. Tapi, aku akan berusaha lebih baik padanya.”

Jisoo mengangguk mengerti. “Ya, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Aku tahu kalau Jeonghan mencintaimu semenjak dia masuk disekolah yang sama denganmu. Dan ketika dia mengatakan bahwa kau menginginkan dia menjadi kekasihmu, Jeonghan sangat bahagia.”

Seungcheol tersenyum. “Aku juga bahagia ketika ia mau menjadi kekasihku, Jisoo—ya.”

.

.

Senyuman lebar tak pernah meninggalkan wajah Seungcheol selama langkah kakinya membawa dirinya untuk masuk kedalam kelas. Pagi ini, Jeonghan membalas pesannya. Seungcheol bertanya pada pemuda dengan surai panjang itu apakah ia akan masuk kelas—ajaibnya, Jeonghan membalas pesannya! Kutekankan sekali lagi, Jeonghan membalas pesannya. Seungcheol bahagia, walaupun hanya jawaban singkat—sangat singkat.

Seungcheol membuka pintu kelasnya, ia dapat melihat Jeonghan yang sudah duduk ditempatnya seperti biasa. Senyuman Seungcheol melebar—ia senang. Seungcheol melangkahkan kakinya mendekat kearah tempat Jeonghan—bangku mereka berdua. Segera saja Seungcheol duduk ditempatnya yang berada disebelah Jeonghan.

“Sudah baikan?” tanya Seungcheol dengan suara yang sangat lembut—senyuman masih melekat dibibirnya.

Jeonghan mengangguk dan membalas senyuman Seungcheol, “Aku baik – baik saja, Cheol.”

Seungcheol sedikit terkejut—ia berpikir Jeonghan akan bertindak dingin dan tak peduli padanya. Ia juga berpikir Jeonghan akan mendiamkannya. Tapi, hal itu tidak terjadi. Jeonghan tetap menjadi Jeonghan yang biasanya. Jeonghan yang selalu tersenyum kepadanya.

“Han—ah, kau—kau memaafkanku?”

Jeonghan menatap Seungcheol. Ia menggenggam tangan Seungcheol, “Just don’t talk about it anymore.”

Seungcheol terperangah—Jeonghan benar – benar seorang malaikat. Jeonghan bahkan memilih untuk tak memikirkannya lagi, padahal Seungcheol sudah menyakiti perasaannya. Bahkan sudah melukai kepercayaannya kepada Seungcheol. Dan Seungcheol merasa dirinya benar – benar tokoh antagonis dalam kehidupan Jeonghan.

.

.

Seungcheol masih mengenakan seragamnya—ia sedang berada dirumah Jeonghan. Ia menolak pulang, sejak sore tadi dia ada di rumah Jeonghan. Seungcheol dan Jeonghan menatap layar laptop Jeonghan dalam keadaan hening. Jeonghan terlalu fokus dengan film yang sedang ia lihat, sedangkan Seungcheol terus menatap Jeonghan dengan senyuman manisnya. Mata Seungcheol seakan – akan berkata bahwa Jeonghan adalah sumber kehidupannya, udara yang ia hirup setiap harinya.

“Sampai kapan kau akan terus memandangiku, Choi?” Jeonghan terkekeh pelan—namun matanya masih menatap layar datar laptopnya.

Seungcheol tersenyum, “Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku, Yoon. Bagaimana ini?”

Jeonghan tertawa lebih keras. Kali ini matanya memandang kedua manik mata Seungcheol yang sangat ia sukai. “Kau—Choi Seungcheol, pembual ulung.”

Seungcheol hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Ia mendekati wajah Jeonghan—hal itu sontak membuat tubuh Jeonghan menegang. Selama keduanya bersama, Jeonghan dan Seungcheol tidak pernah berjara sekecil ini—jarak wajah keduanya hanya satu kepalan. Jeonghan menahan nafasnya.

“Jeonghan—ah.”

Seungcheol memanggil Jeonghan dengan suaranya yang—sialan, seksi. Dia bersuara dengan rendah, namun indah. Itu bagaikan bisikan setan—bagi Jeonghan. Sedangkan Jeonghan tak membalas panggilan Seungcheol. Hal itu sontak membuat Seungcheol terkekeh pelan—sangat tampan.

“Aku benar – benar laki – laki yang kurang ajar ya,” entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Seungcheol masih bertahan memandang Jeonghan dengan jarak seminim itu. “—aku brengsek karena aku sudah membuatmu menangis.”

Seakan tahu arah bicara Seungcheol, Jeonghan menarik diri. Ia menjauhkan dirinya dari Seungcheol, “Bisakah kita tidak membicarakan hal itu, Cheol?”

Jeonghan mengalihkan pandangannya dari Seungcheol kembali ke layar laptopnya. Jeonghan tak ingin Seungcheol berbicara tentang hal itu—ia tak ingin Seungcheol membicarakan orang lain selain dirinya. Ia egois, Jeonghan sangat tahu—ia tidak ingin bertanya, karena ia belum ingin sakit hati lagi. Ia hanya ingin Seungcheol berada disisinya selama mungkin—entah sampai kapan.

Seungcheol tersenyum miris. Ia seakan mengerti dengan penolakan Jeonghan. Seungcheol menarik tangan Jeonghan, membuat pemuda dengan rambut panjang sebahu itu mendekat kearahnya. Seungcheol memeluk Jeonghan. “Aku tidak akan berbicara tentang hal itu lagi, sayang.”

Jeonghan terlihat kaku dalam pelukan itu—demi Tuhan, panggilan Seungcheol padanya membuat jantungnya berdetak dengan tidak normal. Jeonghan tak membalas apapun, ia hanya diam kedalam pelukan Seungcheol. Lama – lama, tangan Jeonghan terangkat untuk mengusap punggung Seungcheol—ia dapat merasakan tubuh Seungcheol yang tiba – tiba menegang.

Jeonghan tersenyum, ternyata Seungcheol sama saja dengannya—gugup. “Ini pelukan kita yang ketiga.”

“Kau menghitungnya, Han?” suara kekehan Seungcheol terdengar sangat jelas ditelinga Jeonghan—menenangkan.

Jeonghan mengangguk, “Ya, aku tidak sengaja menghitungnya.”

“Kali ini, aku akan memelukmu lebih sering. Namun, katakan padaku jika kau tak nyaman dengan perlakuanku, sayang.”

.

.

Seungcheol menatap malas pemuda yang ada didepannya dengan pandangan malas. “Kenapa kau ada didepan rumah Jeonghan?”

Pemuda yang ada dihadapan Seungcheol memandang Seungcheol dengan pandangan tak suka, “Apa yang kau lakukan padanya, Choi Seungcheol? Kenapa kau baru keluar dari rumahnya pada pukul sebelas malam?”

“Apa urusanmu?” tanya Seungcheol dengan desisan tak suka.

“Kau ingin kupukul lagi? Tidak cukupkah kau mendapat pelajaran dariku, Choi?”

Seungcheol mendecih, “Kau bisa memukulku lagi. Aku sudah tak peduli dengan hal itu. Yang kupedulikan sekarang adalah Jeonghan, bukan yang lain.”

Pemuda itu tertawa, ia menatap Seungcheol dengan pandangan remeh. Seungcheol ingin sekali memukul wajah menyebalkan itu, namun ia urungkan. “Lalu bagaimana dengan mantan kekasihmu? Kau sudah tidak peduli lagi dengannya?”

“Kau—“

“Ah, kau tidak mungkin sudah tidak peduli dengan pemuda itu—kau meninggalkan Jeonghan saat kalian kencan ketika maid mantan kekasihmu itu menghubungimu.” ujar si pemuda dengan nada merendahkan, “Wonwoo benar – benar informan yang sangat baik.”

Bugh! Seungcheol memukul orang itu tepat dipipinya. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Pemuda itu terhuyung kebelakang—namun tak sampai jatuh. Kemudian si pemuda berdiri tegak kembali, ia menatap Seungcheol remeh.

“Kau marah karena aku menyebutkan nama adikmu?”

Seungcheol menggeram, “Lepaskan adikku—jangan pernah mengganggunya lagi. Lepaskan dia dan jangan dekati dia.”

Pemuda itu menatap Seungcheol dengan pandangan menusuk. Ia menatap tajam mata Seungcheol yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama tajamnya. “Lepaskan dia, maka aku akan melepaskan Wonwoo. Gampang kan?”

“Kau brengsek, Kim Mingyu.” geram Seungcheol marah.

Well, memang.”

.

.

Hari ini Seungcheol memutuskan untuk bertemu dengan Jeonghan—ia sudah memberitahu pemuda itu bahwa ia akan menjemputnya. Hari minggu—Seungcheol memutuskan untuk mengajak Jeonghan kencan, sebagai ganti kencan mereka yang terganggu. Seungcheol menatap pantulan tubuhnya dicermin untuk terakhir kalinya sebelum ia berjalan keluar kamar. Ia dapat melihat Wonwoo yang sudah memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi.

“Wonwoo—ah, mau kemana?” tanya Seungcheol menghampiri sang adik.

Wonwoo menoleh kebelakang, “Aku akan menemui temanku, hyung. Kau akan kencan dengan Jeonghan—hyung, ya?”

Seungcheol menghela nafas pelan, “Aku tahu kau tidak akan menemui temanmu—kau akan menemi Mingyu, ‘kan?”

Wonwoo terdiam—perkataan Seungcheol memang benar. Ia berniat untuk bertemu dengan Mingyu karena pemuda itu menghubunginya untuk datang keapartemennya. Wonwoo tidak bisa menolaknya.

“Wonwoo—ya, kenapa harus Mingyu? Kenapa tidak orang lain? Kau—dia menyukai orang lain, dia hanya memanfaatkanmu sebagai pelampiasan saja. Sadarlah, Wonwoo.”

“Aku sadar, hyung—sangat sadar. Aku tidak lebih dari seorang pemuas dari seorang Kim Mingyu. Tapi, bagaimana aku bisa menolak keinginan dari seseorang yang aku cintai, hyung? Jangan munafik, kau juga tak bisa menolak permintaan Doyoon—hyung atau mungkin Jeonghan—hyung.”

Seungcheol menatap adiknya, “Wonwoo—ya, aku tahu—aku tidak bisa menebus kesalahanku dengan perkataan maaf. Tapi, aku akan membantumu untuk lepas dari penjara si brengsek itu. Aku akan mencoba unt—“

“Tidak perlu.” ujar Wonwoo memotong perkataan sang kakak. Wonwoo tersenyum tipis kearah Seungcheol, “Aku bisa mengatasi ini semua sendiri, hyung. Ini masalahku dan perasaanku—aku tahu kau memang merasa bersalah, tapi ini semua sudah terlanjur. Aku sudah jatuh pada di brengsek itu—terlalu dalam, sehingga aku tidak bisa merangkak keatas lagi.”

.

.

Jeonghan menatap genggaman tangan Seungcheol padanya—mereka bahkan sudah sampai disebuah café namun genggaman Seungcheol semakin mengerat. Jeonghan bukannya tidak suka—tapi beberapa orang memandangi mereka dan hal itu membuat wajah Jeonghan memerah, ia malu. Seungcheol menyuruh Jeonghan untuk duduk di salah satu bangku café, berkata akan memesan sesuatu untuk keduanya setelah menanyai apa yang Jeonghan inginkan.

Jeonghan menatap punggung Seungcheol yang berjalan kearah kasir. Ia dapat melihat Seungcheol berbicara dengan penjaga kasir tersebut—menyebutkan pesanannya. Kemudian Jeonghan mengalihkan pandangannya pada kesekitar. Café ini memang tidak luas, namun sangat nyaman dan hangat. Bau roti yang manis menggugah selera tercium saat pertama kali masuk. Jeonghan sangat menyukai dekorasi yang simple namun indah di café ini—minimalis namun terkesan sangat menarik dan berharga.

“Melihat apa, Han?”

Jeonghan mengalihkan pandangannya—ternyata Seungcheol sudah duduk dihadapannya, Jeonghan mengulum senyum. “Café ini bagus—kau tahu darimana tentang tempat ini?”

“Syukurlah jika kau menyukainya,” Seungcheol mengulas senyuman puas dan bangga, “Wonwoo yang mengatakannya padaku. Ia berkata ada café baru yang suasananya sangat menenangkan. Dan ini pertama kalinya aku kemari—dan itu bersama denganmu.”

Jeonghan bersemu, secara tidak langsung Seungcheol membuatnya melayang. Ia menjadi pertama bagi seorang Choi Seungcheol. Hal itu membuat Jeonghan senang dan berdebar. Seungcheol menatap Jeonghan terus menerus—seakan – akan ia tidak ingin mengalihkan padangannya barang sedetik saja dari Jeonghan. Ia takut Jeonghan akan menghilang saat ia mengalihkan pandangannya pada hal lain—Seungcheol tak ingin hal itu terjadi.

Seorang pelayan datang menghampiri keduanya—mengantarkan pesanan keduanya. Setelah menggumamkan terimakasih, Seungcheol menerima nampan dari tangan si pelayan. Seungcheol menyerahkan brownies dengan taburan keju diatasnya dan secangkir cappuccino pada Jeonghan. Sedangkan blueberry cake dan Americano untuk dirinya sendiri.

“Kau memesan Americano?” tanya Jeonghan.

Seungcheol terkekeh kecil, “Aku ingin tampak keren dihadapanmu, Yoon Jeonghan.”

Jawaban Seungcheol membuat Jeonghan tertawa—jawaban yang sangat polos dan jujur. Jeonghan menatap wajah Seungcheol yang melihatnya dengan pandangan yang jenaka. Jeonghan tak habis pikir dengan pemuda sangar dihadapannya—ternyata memilikki sisi lucu seperti ini. Jeonghan semakin jatuh pada pesona seorang Choi Seungcheol.

.

.

“Kau menjodohkan adikku dengan Kim Mingyu itu?” tanya Seungcheol pada Jeonghan yang tengah duduk disebelahnya dengan es krim ditangan kanannya. “Memang Kim Mingyu itu benar – benar menyukai Wonwoo? Kau tahu darimana?”

“Terlihat dari wajahnya yang gugup—demi Tuhan kau harus melihat mereka. Mereka benar – benar lucu dan polos.” ujar Jeonghan sengan senyuman lebarnya.

‘Kim Mingyu benar – benar aktor profesional.’—batin Seungcheol.

Jeonghan menoleh kearah Seungcheol, “Kali ini di danau, kau tahu dari siapa tempat – tempat seperti ini?”

Keduanya memang sedang berada dipinggir danau. Beberapa orang juga ada disekitar mereka, keduanya tak sendiri. Seungcheol tersenyum—ia kembali mengatakan bahwa ia tahu dari Wonwoo, namun kali ini Jeonghan tidak percaya. Karena sepertinya Wonwoo bukan orang yang menyukai tempat dengan banyak orang disana. Seungcheol mengaku, jika ia mencari di internet.

“Kau benar – benar tidak terduga, Seungcheol—ssi.” ujar Jeonghan sarkastik—namun terdengar nada jenaka didalam ucapannya.

Seungcheol tertawa, “Aku hanya ingin kencan kita hari ini sukses, Tuan Yoon. Jadi mencari referensi tidak apa – apa, ‘kan?”

Jeonghan hanya mengangguk menyetujui perkataan Seungcheol. Pemuda dengan rambut sebahu itu kemudian menghabiskan eskrimnya. Ia kemudian mendengar suara getaran ponsel dari arah Seungcheol—namun pemuda itu diam saja.

Jeonghan menepuk lengan Seungcheol, “Ada yang menghubingimu, Cheol.”

“Biarkan—aku tidak ingin memikirkan siapapun selain dirimu.”

“Siapa tahu itu penting, Seungcheol—ah.” ujar Jeonghan.

Ia mendesak Seungcheol untuk mengangkat panggilan itu—dan akhirnya Seungcheol menyerah. Seungcheol menarik ponselnya keluar dari saku celana, ia melihat siapa yang menghubinginya—tubuhnya sedikit menegang. Kemudian menghubungi seseorang yang tadi menelponnya—karena panggilan tadi sudah mati, tak terjawab olehnya. Seungcheol menunggu sambungan itu diangkat, setelah diangkat Seungcheol mengucapkan sapaan.

“Ada apa?” tanya Seungcheol pada sambungan seberang. Kemudian wajahnya tampak tidak baik – baik saja. “Baiklah, baiklah. Tenang dulu, Bibi Jang.”

Seungcheol kemudian mematikan sambungan telepon itu. Ia tampak gelisah dan tidak tenang. Kemudian ia menatap Jeonghan yang masih menatapnya—Seungcheol melihat kedua mata Jeonghan. Mata Seungcheol mengatakan segalanya, mereka harus kembali sekarang. Dari situlah Jeonghan menyesal menyuruh Seungcheol untuk mengangkat panggilan itu. Seharusnya Jeonghan diam saja—maka Seungcheol akan tetap bersama dengannya.

.

.

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s