[Vignette] Hunting On You

My OC and Jeon Wonujpg (8)

Hunting On You

 

Project 26

 

By : Febby Fatma

Drama, Romance, Mysteri, Action,

PG-15

Oneshoot

 

Cast :

Jeon Wonwoo SEVENTEEN

Jung Ari – My OC

Kim Mingyu SEVENTEEN

Kwon Soonyoung / Hoshi SEVENTEEN

Jun SEVENTEEN

Chan /Dino SEVENTEEN

 

Disclaimer : OC dan ide milikku. Wonwoo milik aku juga temen-temen yang suka sama dia. Mohon tidak Copy-Paste atau Plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

 

 

 

 

“Aku melakukan ini untuk menemukanmu.”

 

 

Gadis dengan seragam bebas yang sedang duduk di balik meja kerjanya itu terus memperhatikan apa yang bawahannya bicarakan saat ini. Katakan saja seperti itu karena Ari—nama gadis itu, tidak ingin disebut menguping.

“Divisi Dua dapat tugas unik lagi. Tugas lemparan dari Divisi Tiga.” Kira-kira itu kalimat awal yang membuat Ari memilih untuk melepas fokusnya dari beberapa berkas laporan yang sedang ia garap.

Di kantor Detektif Kepolisian Negara Seoul ada tiga divisi inti yang masing-masing dipimpin oleh dua orang detektif. Satu senior dan satu junior. Ari sendiri ada di divisi andalan; Divisi Satu. Divisi yang selalu kebagian kasus lemparan. Maksudnya kasus yang divisi lain gagal tangani, kasus yang dianggap sulit.

Jadi saat mendengar ada divisi lain yang dapat kasus unik, kasus aneh, kasus keren, atau pujian dalam arti terselubung lain, Ari tahu kalau nanti kasus itu akan dilempar pada divisinya. Ah ya, kebetulan Ari adalah detektif senior di divisinya, jadi bisa dikatakan kalau Ari adalah pemimpin utama Divisi Satu.

“Kasus apa kali ini?”

“Seorang laki-laki menculik enam gadis dalam sebulan ini. Semua gadis itu tidak mengalami apapun kecuali diharuskan untuk makan dan tidur di rumah si penculik lalu dipulangkan beberapa hari kemudian. Barang bawaan gadis-gadis itu tidak diambil, tidak ada kekerasan fisik atau seksual. Yang aneh hanya semua gadis itu tidak bisa ingat siapa laki-laki yang menculik mereka.”

“Wah, baru kali ini aku dengan kriminal seperti itu.”

“Mungkin dia punya penyimpangan psikologi yang membuatnya melakukan itu. Semacam sugesti negatif atau trauma kecil, mungkin.”

“Bisa jadi, sih.”

“Tapi dari seberapa baiknya perlakuan pelaku dan hilang ingatan para korbannya, pasti ada motif di balik kasus itu. Kalau hanya penyimpangan psikologi kenapa repot-repot membuat korbannya lupa?”

Ari dari tempatnya juga mulai memikirkan apa yang detektif juniornya katakan.

“Oh ya, dari kabar katanya pria itu tampan. Pantaslah untuk jadi model bahkan aktor.”

“Dengan wajah tampan kenapa harus menculik? Merayu saja pasti para gadis mau menemaninya. Sedikit menipu dia juga pasti dapat lebih.”

“Tapi seberapa tampannya kita juga tidak tahu. Barang kali tampan untuk model majalah memancing dan aktor untuk film lawak. Bisa jadikan?”

“Iya juga.”

“Apa lagi tidak ada yang tahu wajahnya.”

“Sudah-sudah.” Ari memukul-mukul mejanya pelan untuk mengalihkan perhatian rekan dan bawahannya. Kalau dibiarkan tiga laki-laki itu bisa ada di kelas yang sama dengan ibu-ibu arisan dalam hal menggosip.

“Dari pada kalian terus bergosip akan lebih baik kalian beri aku laporan tentang kasus kemarin. Habis makan siang hari ini aku akan memberikannya pada atasan.”

Tiga laki-laki itu membubarkan diri. Dua dari mereka kembali ke meja masing-masing, yang satunya justru meninggalkan meja kerjanya dan mendekat pada Ari.

“Ini laporanku.”

Laki-laki yang berstatus juniornya itu adalah teman sekelas Ari semasa SMA, tapi karena dia kuliah hukum dulu dan baru masuk akademi dia kini menjadi junior Ari. Kwon Soonyoung namanya. Laki-laki yang kadang tidak tahu kapan untuk melucu dan serius. Laki-laki yang mengenal Ari cukup baik.

“Kau dengar semuanyakan?”

“Tentu saja. Kalian terlalu jelas saat bergosip. Lain kali berbisik agar aku tidak mendengarnya.”

Soonyoung mengisi satu dari dua kursi di hadapan meja Ari. Laki-laki itu tertawa pelan tapi sarat dengan jutaan ejekan.

Katakan saja Soonyoung adalah provokator terbaik, Ari tidak akan membantah itu. Nyatanya kini hanya karena tawa laki-laki itu Ari merasa begitu terhina, kesal dan hampir marah.

“Kenapa kau hentikan? Bukannya kau ingin tahu lebih tentang kasus itu?”

“Sebentar lagi aku bisa tahu lebih lengkapnya tanpa perlu mendengar gosip tidak penting kalian tadi.”

“Haha, percaya diri sekali.”

Tapi apa yang Ari katakan memang benar. Seminggu setelah Ari dengar gosip tentang kasus unik dari Divisi Tiga untuk Divisi Dua, kasus itu kembali dipindah tangankan pada pihak ketiga; Divisi Satu.

Minimnya informasi tentang penculikan itu adalah alasan kenapa kasusnya belum juga terselesaikan. Belum lagi jumlah korban yang meningkat dalam seminggu terakhir. Itu adalah alasan kenapa Divisi Satu sekarang begitu sibuk.

“Detektif, lokasi GPS dari tiga korban terbaca.”

“Dimana?” —Sunyoung.

“Distrik Songpa, titik 829 KM, Jalan Jangji.”

“Ada di satu tempat?” Kali ini baru Ari yang bertanya.

“Iya. Semuanya ada pada satu tempat.”

Ari justru diam karena informasi itu. Dia membuat bawahannya dan Soonyoung menunggu perintahnya cukup lama.

“Ada apa? Cepat istruksikan yang lain.”

“Ini sedikit aneh.”

“Bukan itu yang penting sekarang. Menyelamatkan tiga korban adalah prioritas kita. Ada kemungkinan pelaku akan kabur melihat posisinya saat ini.”

Memang benar. Ada kemungkinan itu, mengingat lokasi GPS tiga korban ada pada satu titik yang sama. Tapi ada kemungkinan lain yang bisa terjadi.

“Bisa jadi itu hanya pengalih agar pelakunya bisa kabur melalui jalan lain.”

“Sekalipun itu jebakan, kita tetap harus memastikannya.”

“Baiklah.” Ari menghadap pada para bawahan di ruang khusus Divisi Satu yang kali ini sama sibuknya dengan kantor menejemen yang artisnya digosipkan berpacaran dengan artis lain.

“Semua bersiap. Kita akan menuju lokasi yang koordinat GPS korban tunjukan. Chan dan Jun, aku ingin kalian berdua datang dari arah berbeda. Mingyu, kau ikut aku dan Soonyoung kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?”

Setelah anggukan dari Soonyoung semua nama yang tadi disebut bersiap untuk pergi. Beberapa kepala yang namanya tidak disebut tetap di sana.

“Tugas kalian adalah memantau pergerakan GPS, menghubungi kantor polisi terdekat dari sana dan meminta semua jalur ditutup sementara kami bergerak.”

“Baik.”

 

 

“Kali ini kau yang akan datang padaku.”

 

 

“Ada yang aneh dari kasus ini.”

Ari menyuarakan itu dan membiarkan Mingyu yang memegang kendali mobil mereka mendengarnya. Bahkan wajah seriusnya kali ini terlihat terlalu jelas. Dia menunjukan kebingungannya begitu nyata.

“Dari awal kasus ini memang aneh.”

“Tidak. Bukan ini maksudku.”

“Maksudnya?”

“Dari awal kasus ini pelaku selalu hati-hati agar tidak meninggalkan jejak. Menghapus ingatan para korban, mematikan ponsel dan pelacak GPS korban, dan tidak meninggalkan sedikitpun sidik jari. Lalu kenapa sekarang dia membiarkan tiga GPS itu menunjukan posisinya?”

“Jadi yang ingin noona katakan adalah si pelaku sengaja melakukannya?”

Ari mengangguk.

Pandangan menatap ke depan, pada jalan yang ada di hadapan mereka. Tapi siapapun tahu kalau Ari tidak sedang memandang jalan itu. Pikiran gadis itu membawa kabur fokus Ari dari hanya sekedar memperhatikan jalanan.

“Yang jadi pertanyaan selanjutanya adalah apa tujuan si pelaku melakukan itu?”

“Kemungkinan pertama karena dia ingin mengalihkan perhatian kita agar bisa kabur dengan bebas.”

“Lalu kemungkinan kedua?”

“Dia ingin berhadapan langsung dengan kita.”

“Kemungkinan lain?”

“Itu hanya jebakan untuk bermain-main dengan kita.”

Mingyu di sampingnya mengangguk-angguk santai. Laki-laki berstatus asisten detektif itu adalah ikon kebanggaan Divisi Satu, kecuali Jung Ari dan Kwon Soonyoung tentunya.

“Kalau menurut noona sendiri, yang mana tujuan si pelaku dari tiga kemungkinan tadi?”

“Yang kedua.”

“Kenapa begitu? Kenapa dia ingin berhadapan dengan kita yang mungkin akan menjadi akhir darinya?”

“Aku juga tidak tahu. Tapi,” Ari menoleh pada Mingyu. Menarik pistol yang tersimpan di balik jaket laki-laki itu. “Pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada kita. Jadi hal seperti ini akan kita tinggal di sini.”

Ari memasukkan pistolnya dan pistol Mingyu pada dashbord mobil mereka.

“Tapi itu belum pasti.”

“Si.pelaku melakukan kejahatannya sama sejak awal sampai sebelum kasusnya pindah pada kita. Di hari pertama penyelidikan kita tiba-tiba saja dia membuat sesuatu yang berbeda dengan menculik dua gadis sekaligus. Menahan sampai akhirnya dia kembali menculik dua gadis lain. Korbannya bertambah sampai tujuh dan hanya empat yang dia bebaskan. Lalu tiba-tiba dia menunjukan lokasinya, apa menurutmu itu tidak aneh?”

“Untuk penculik yang selalu melakukan kejahatannya secara terstuktur sejak bulan lalu, itu cukup aneh memang.”

Segaris senyum muncul karena Mingyu yang paham pada maksudnya.

“Tapi itu belum pasti.”

“Penjahat kali ini memang pintar, tapi kepintarannya dia sembunyikan dan berpura-pura bodoh. Dia membuat dirinya sendiri mudah dibaca. Itu artinya dia ingin menyampaikan sesuatu.”

 

 

Ari memberi tanda dengan gerakan tangan pada Jun dan Chan untuk masuk ke dalam satu-satunya rumah yang ada di wilayah itu. Melihat dari titik koordinat GPS para korban, rumah itu pasti rumah yang mereka cari.

Soonyoung ada di pintu lain rumah itu, mengantisipasi kemungkinan si pelaku kabur dari pintu lain. Sedangkan Ari dengang Mingyu masih menunggu tanda dari Jun dan Chan.

Dor! Dor!

Setelah dua suara tembakan itu seorang pria dengan seorang gadis berlari keluar menerobos Ari dan Mingyu dengan gerakan cepat dan lincah.

“Soonyoung, kau lihat siapa yang tertembak di dalam. Aku dan Mingyu akan mengejar pelakunya.”

Soonyoung pada pushtalk mereka mengiyakan sementara Ari dan Mingyu sudah berlari mengejar si pelaku. Sial bagi mereka karena polisi dari daerah itu belum juga datang untuk membantu. Jadi saat si pelaku mendorong jatuh korban yang dia bawa, Ari terpaksa mengejar pelaku itu sendiri dan meminta Mingyu mengurus si korban.

“Sial! Di mana dia?”

Ari kehilangan jejak laki-laki misterius itu. Laki-laki dengan pakaian hitam lengkap dengan topi hitam, masker hitam, bahkan sepatu hitam itu hilang saat Ari sampai pada bagian belakang sebuah gudang tua. Entah gudang apa, tapi di belakang gudang itu ada sebuah bukit kecil. Tanpa ragu Ari berjalan ke sana.

Ari yakin kalau si pelaku pergi kesana. Ini namanya insting seorang detektif. Keyakinan kuat yang akan membawa Ari pada si pelaku.

Tapi di luar dugaan. Bukannya menemukan laki-laki misterius tadi, Ari justru disuguhkan dengan pemandangan luar biasa di balik bukit itu. Sebuah danau kecil yang lengkap dengan pepohonan mapel berdaum kuning kecoklatan. Pemandangan indah yang Ari tidak tahu kalau masih ada tempat seperti itu di Seoul.

Letaknya yang di dekat perbatasan Seoul dengan provinsi lain dan juga di balik bukit belakang gudang tua mungkin membuat tempat seindah ini tersembunyi dari khalayak banyak.

“Ari, Detektif Jung Ari.”

“Ya, aku di sini.” Soonyoung kembali menghubunginya dengan pushtalk.

“Kau dimana?”

“Aku ada di balik bukit dekat gudang tua di ujung jalan. Aku kehilangan jejak pria itu. Bagaimana di sana? Jun dan Chan baik-baik saja?”

“Mereka dibius. Suara tembakan tadi berasa dari pistol Jun yang digunakan si pelaku untuk mengalihkan perhatian kita.”

“Lalu Mingyu dan para korban?”

“Mereka di sini baik-baik saja. Aku dan Mingyu akan segera menyusul setelah Mingyu mengambil pistolnya.”

“Baik.”

Bruk! Byur!

Seseorang menabraknya dan membuat mereka sama-sama tercebur ke dalam danau kecil di sana. Walau tidak besar, ternyata danau itu cukup dalam. Ari kesulitan untuk berenang naik karena berat pakaiannya dan sepatunya, belum lagi laki-laki misterius yang menunubruknya berusaha untuk membuat Ari tenggelam.

“Ah!”

Laki-laki itu mengejar Ari yang berenang menyelamatkan diri menuju sisi lain danau. Samar Ari bisa melihat wajah laki-laki itu. Dan saat sampai di pinggir Ari langsung mengenali laki-laki yang mengejarnya itu.

“Aku menemukanmu.”

Seluruh tubuh Ari serasa membantu saat laki-laki yang di kejarnya tadi mulai naik dari atas air. Mendekat pada Ari yang hanya bisa diam dengan menatap mata laki-laki itu.

“Apa kabarmu Jung Ari?”

Ada sedikit penekanan pada nama Ari yang laki-laki itu sebut.

“Kau, kau,”

“Aku Jeon Wonwoo, kau tidak mungkin lupa padaku, kan?”

“Kenapa kau ada di sini?”

Ari buru-buru bangun dan menjauh dari laki-laki itu; Wonwoo. Mempertahankan jarak amannya.

“Dimana yang kau maksud? Di Seoul? Di Korea atau di dunia ini?”

Mata Ari membelo seolah akan keluar dari rongganya karena pertanyaan Wonwoo. Nafasnya tercekak hanya karena melihat laki-laki itu tersenyum padanya.

“Tapi bagaimana bisa kau..”

“Aku baik-baik saja. Aku sehat dan masih gesit seperti biasa, kau melihatnya tadi.”

Ari menggeleng kuat.

“Bukan, bukan itu. Kau harusnya tidak di sini.”

“Kenapa? Aku ke sini untuk menemuimu seperti janji kita dulu. Kau meminta aku menemuimu lagi bukan?”

Ari masih berusaha menjaga jarak amannya dari Wonwoo. Setiap Wonwoo melangkan maju, maka Ari akan melangkah mundur.

“Aku mencarimu kemana-mana, apa kau tahu itu? Aku takut kau menderita, atau apalah tapi ternyata kau di sini. Di tempat yang tidak aku duga akan menerimamu.”

“Apa maksudmu?”

“Apa maksudku? Bukannya kau tahu betul maksud perkataanku?”

“Jangan memancingku.”

“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Mencari gadis yang aku cintai dan mengajaknya ikut denganku, seperti sebelumnya. Aku harus menjaganya, iyakan?”

Ah, ternyata dugaan Ari sejak awal benar. Penjahat yang dikejarnya memang ingin menyampaikan sesuatu padanya. Penjahat terpintar yang pernah Ari temui ini adalah orang yang seharusnya tidak Ari temui lagi.

Tidak lagi, setidaknya setelah apa yang pernah terjadi di antara mereka dulu.

“Aku tidak mau ikut denganmu lagi.”

“Kenapa?”

“…”

“Karena sekarang kau detektif terhebat yang ada di kesatuan? Atau karena ada Kwon Soonyoung di sisimu?”

“Tidak keduanya. Aku tidak mau ikut denganmu karena kau bukan kau yang dulu.”

Laki-laki itu berhenti melangkah dan tertawa, menertawakan Ari tentu.

“Kau juga bukan Ari yang dulu. Sekarang kau adalah Jung Ari Si Detektif Sndalan. Detektif yang berhasil memecahkan semua kasus lemparan dari divisi lain. Aku dengar juga kau akan segera naik jabatan menjadi ketua kantor di Gwangju.”

Laki-laki bertepuk tangan dan menunjukan senyum sinis pada Ari.

“Kau berubah banyak bukan.”

“Tapi perubahanku jadi lebih baik.”

“Berhenti buat alasan.”

“Itu bukan alasan. Itu kenyataan. Aku berubah lebih baik sedangkan kau justru sebaliknya.”

Tangan Ari tertangkap karena tidak bisa menghindari gerakan cepat Wonwoo. Tubuhnya terkurung karena pelukan Wonwoo. Nafasnya sempat berhenti dan kini jantungnya berdebar keras, itu juga karena Wonwoo.

“Aku melakukan semua ini untuk menemukanmu. Kenapa tidak bisa kau hargai usahaku ini?”

“Lepas!”

“Tidak. Aku tidak mau melepasku.”

“Lepas kataku!”

“Kau harus ikut aku.”

“Kau yang harus ikut aku.” Wonwoo melepasnya. “Kau melakukan kejahatan dan harus menerima hukumanmu. Ikut aku secara baik-baik akan membuatmu dapat pengurangan hukuman.”

Wonwoo tersenyum sinis. Laki-laki itu menatap Ari dengan mata yang seolah tertawa sinis. Tanpa sempat Ari hindari, lagi Ari tertangkap olehnya. Lengan Ari dicengkram kuat oleh laki-laki itu. Tidak perduli bagaimana Ari meringis kesakitan, Wonwoo terus mencengkram lengan gadis itu.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau pikir kalau aku ikut denganmu hanya aku yang akan mendapat hukuman? Kau pikir apa yang sudah kau lakukan padaku dimasa lalu bukan sebuah kejahatan?”

“…”

“Aku datang mencarimu karena aku masih mencintaimu. Aku datang karena aku ingin melindungimu. Tidakkah kau berpikir seperti itu?”

“…”

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tangkap aku dan akan aku katakan semuanya yang terjadi dulu. Biar semua orang tahu kalau kau menjadi detektif karena sudah hampir membunuh detektif divisimu.”

Dor!

Mata Ari membelo saat suara tembakan itu. Wonwoo di hadapannya juga melakukan hal yang sama. Tapi begitu Wonwoo jatuh tersungkur di hadapannya dan menunjukan siapa orang yang menembak mati Wonwoo mata Ari kembali menyipit.

Segaris senyum muncul di wajah gadis itu.

“Kau tidak bisa melakukan itu, hyung. Ari noona harus tetap ada agar semuanya berjalan lancar.”

“Kau dengar itu, Detektif Jeon? Bahkan adikmu tidak ingin kau kembali ada. Mati adalah pilihan terbaik untukmu.”

Ari dan Mingyu, orang yang menembak mati Wonwoo dengan satu tembakan di kepala, sama-sama tersenyum melihat bagaimana Wonwoo sekarat.

“Setidaknya dengan begitu kau tidak perlu masuk penjara dan menderita. Tidak perlu khawatirkan kami juga, karena kami akan hidup bahagia tanpamu. Kami akan saling mencintai. Iyakan, Gyu?”

Mingyu mengangguk.

“Dilaporan nanti katakan saja dia hampir membunuhku dan kau terpaksa menembak matinya.”

“Aku mengerti, noona.”

 

 

“Gila, akhir film ini benar-benar di luar ekspektasiku.”

“Akting kalian bagus, Won-Gyu. Bahkan Ari bilang kalian membuatnya yang artis sungguhan merasa iri.”

“Terima kasih banyak.”

“Terima kasih.”

“Kalau seperti ini, kita bisa menang dan terlepas dari tudingan curang karena ada Ari di tim kita.”

“Sejak awal kita memang pemenangnya, Chan. Kita punya Wonwoo dan Mingyu. Ari itu hanya bonus.”

 

 

 

 

 

 

Sedikit tentang OC : Sebenernya Jung Ari itu tokoh yang aku buat untuk ngebuli tokoh OC lain yang namanya Song Hana. Dia aku buat sebagai sepupunya Jung Ilhoon, cucu dari pemilik yayasan tempatnya sekolah, tergila-gila sama Oh Sehun dan kasar sama orang lain. Songong. Dia emang antagoni, dan bagiku, dia itu antagonis kesayanganku selain Jeon Jian.

Penggambarannya tubuh kaya Irene, tapi mukanya lebih kesadis kaya Yeri. Rambutnya hitam panjang dan kulit putih. Kaya ibu tirinya Snow White gitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s