[Twoshoot] His Ponytail [2/2]

PicsArt_04-20-08.54.58

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>Part Sebelumnya<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

 

 

Gelap. Pandangannya gelap. Matanya di tutupi oleh kain hitam dan mulutnya di tutup oleh plester besar berwarna coklat. Tubuh kurusnya didudukkan di atas kursi kayu dan kedua tangan dan kakinya di ikat menjadi satu, masing-masing tangan dan kaki. Dengan keadaan setengah sadar, Jeonghan mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia tidak tau pasti berapa banyak orang itu tapi yang pasti lebih dari dua orang.

“arh!” erang Jeonghan ketika plester di mulutnya di buka dengan paksa dan membuat bulu halus di sekitar bibirnya tertarik. “cih begitu saja sakit.” Ucap seseorang yang menuruh Jeonghan dia seorang perempuan.  “kau siapa?” tanya Jeonghan langsung cukup keras sambil berusaha melepaskan diri.

 

Gadis di hadapan Jeonghan menyeringai, “kau tanya aku siapa?” ucapnya mengangkat dagu Jeonghan dan membuka ikatan mata Jeonghan. Dengan kening berkerut, Jeonghan menatap gadis bermake up tebal itu dengan tatapan tidak mengerti. Gadis itu menyeringai lalu membuang wajah Jeonghan dengan kasar. “ku akui kau cantik.” ucapnya sambil berbalik dan mengitari Jeonghan.

 

Jeonghan melihat sekitarnya, tidak hanya gadis itu, masih ada gadis-gadis lainnya yang sebenarnya akan terlihat manis jika mereka tidak melipat tangan di depan dada dan menatap Jeonghan dengan jengis. “tapi.. bukan berarti kau bisa menggoda Seungcheol kami.” Bisik gadis itu di telinga Jeonghan sambil tangan kirinya menjambak rambut panjang Jeonghan dengan kasar.

 

“aku tidak- arh!” Jeonghan mendapat satu tamparan dari gadis itu. “jangan mencoba mengelak, kami tahu semuanya!!” ucap perempuan itu nyaring dan menggema di area kolam renang sekolah, ya mereka membawa Jeonghan ke area kolam renang sekolah, satu-satunya tempat yang tidak mereka datangi di musim dingin ini, jadi tidak ada yang tau mereka di sana.

 

Jeonghan menarik nafas berat dan memejamkan matanya. Dadanya sesak penuh rasa dongkol, ia sudah muak dengan segala yang terjadi padanya seminggu penuh ini. dari awal, Jeonghan sadar sumber masalah ini adalah dia, ya dia, karena perasaan bodohnya ini mencoba mendekati Seungcheol walaupun dengan cara aneh!

 

Sejak awal, Jeonghan tau kalau Seungcheol adalah berandal, Jeonghan tau Seungcheol adalah heartbreaker kelas kakap, Jeonghan tau Seungcheol punya banyak penggemar, dan sejak awal.. sejak ia masuk ke SMA ini dua tahun yang lalu, Jeonghan sudah tau kalau anak laki-laki yang datang terlambat di upacara penerimaan murid baru dan mengendap-ngendap lalu duduk di sampingnya dan menaruh telunjuk di bibirnya-isyarat agar tetap diam- kemudian tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya yang membuat Jeonghan jatuh hati.

 

Sayangnya, Jeonghan tak bisa jujur dengan perasaannya, menurutnya Seungcheol sangat jauh untuk di gapai. Juga karena Jeonghan bukan orang yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya, sehingga rasanya mengutarakan perasaan itu sangat sulit.

 

Ingat kejadian Jeonghan memasukkan kotak coklat di mulut Seungcheol, Jeonghan sebenarnya tidak marah karena Seungcheol melempar kotak itu sembarangan mengenainya tetapi, Jeonghan hanya tidak suka melihat Seungcheol tidak menghargai gadis yang memberikan hadiah itu padanya. Karena Jeonghan tau bagaimana betapa sulitnya mengutarakan perasaan pada orang yang kau sukai bukan?

 

“apa hubunganmu dengan Seungcheol??” gadis itu kembali meneriaki kuping Jeonghan tetapi Jeonghan hanya diam dan tidak mau menjawab. Yang Jeonghan tidak menyangka adalah, ia tidak tau Seungcheol memilik fans yang mengerikan seperti mereka. Jeonghan hanya menunduk, ia tidak tau harus berbuat apa lagi.

 

Plak.

 

Gadis itu menampar Jeonghan lagi kali ini lebih keras. Gadis itu menyeringai, “itu untuk seorang penggoda sepertimu..” ucapnya membuat dada Jeonghan semakin sesak. “menjijikan.” Komen salah satu gadis lainnya yang ada di sana.

 

“kalian ingin melakukannya sekarang?” tanya gadis itu pada teman-temannya.

 

“Ya!!” sahut teman-temannya bersemangat.

 

“lakukan.. sekarang!!” seru gadis itu, saat itu juga mulai dari satu butir telur hingga tidak terhitung jumlahnya terus di lemparkan pada Jeonghan. Tidak hanya telur, tomat, buah, dan makanan busuk lainnya di lemparkan pada Jeonghan dalam jumlah banyak. Tidak hanya melempar, mereka mengiringinya dengan kata-kata kasar.

 

“dasar b*nci!”

 

“Penggoda!”

 

“Menjijikkan!”

 

“Menjauh dari Seungcheol dasar lac*r!”

 

Tetapi Jeonghan tetap diam tak berkutit, bagaimanapun, secantik apapun dia, dia tetap laki-laki dan yang ada di hadapannya adalah perempuan. Ia tumbuh di keluarga berpendidikan, hanya laki-laki yang tidak mengenyam pendidikan budi pekerti dengan baik lah yang berani melawan perempuan, walaupun para perempuan yang di hadapan Jeonghan ini sudah keterlaluan.

 

Byuur.

 

Satu ember air yang entah sudah di campur apa karena baunya sangat menyengat itu disiramkan pada Jeonghan. Gadis yang menyiramkan itu ternyata belum puas, ia kembali menumpahkan ember berisi tepung kepada Jeonghan hingga membuat debu dari tepung itu bertebaran dan menghalangi pandangan.

 

“uhuk uhuk akh apa ini?” suara berat di bibir pintu membuat semua orang yang ada di sana menoleh, Jeonghan tidak bisa membuka matanya karena tertutup oleh tepung dan tangannya di ikat ia tidak bisa menyingkirkan tepung-tepung itu.

 

“s-Seungcheol oppa..” ucap gadis itu tergagap-gagap melihat Seungcheol berjalan mendekat, mereka semua mundur dan terlihat kaget juga panik. Seperti sengatan listrik, dada Jeonghan berdegup kencang mendengar gadis itu mengucapkan nama Seungcheol.

 

Seungcheol memasang wajah datarnya dan mengibas-ngibaskan tangannya menyingkirkan sisa debu tepung yang masih bertebaran. “apa-apaan ini?” tanya Seungcheol datar menatap gadis itu, datar dan menusuk.

 

“a-aku bisa jelaskan oppa, aku-“ Seungcheol menyiram gadis itu dengan air kolam yang berjarak beberapa meter darinya menggunakan ember yang sama dengan ember yang di gunakan gadis itu untuk menyiram Jeonghan. Tidak hanya gadis itu tetapi teman-temannya juga kena oleh siraman air dari Seungcheol.

 

“ini baru tahap awal, kalian akan menerima kelanjutannya nanti, aku masih banyak urusan.” Ucap Seungcheol melepaskan ikatan tangan Jeonghan dan membawa Jeonghan menuju kamar bilas laki-laki. Sementara para gadis itu hanya tercengang dan ketakutan.

 

.           .           .

 

Seungcheol menarik Jeonghan ke salah satu bilik bilas dan menghidupkan shower di sana. Ia menaruh Jeonghan di bawah guyuran shower. Seungcheol meninggalkan Jeonghan di sana sementara ia menyiapkan baju ganti untuk Jeonghan.

 

Beberapa menit kemudian, Jeonghan sudah selesai dan sudah terlihat bersih. Walaupun masih ada beberapa luka di wajahnya akibat tamparan juga pukulan dari para gadis beringas itu. Seungcheol menghampiri Jeonghan dan duduk di sampingnya.

 

“maafkan aku..” ucap Seungcheol lirih. Jeonghan hanya diam sambil mengeringkan rambutnya. Seungcheol mengambil kotak p3knya dan menggeser tubuh Jeonghan agar menghadapnya. “biar aku saja.” ucap Jeonghan menahan tangan Seungcheol yang membuka p3k tetapi Seungcheol menggeser tangan Jeonghan kemudian tersenyum lembut melihatkan lesung pipinya yang khas itu.

 

“aku selalu membersihkan lukaku sendirian setiap habis berkelahi jadi aku sudah mahir, percayalah.” Ucapnya menenangkan Jeonghan yang terlihat takut. Dengan pelan ia mengobati luka Jeonghan, yang di obati beberapa kali meringis kesakitan. “maafkan aku maaf.” Ucap Seungcheol sambil menempelkan plester di pipi Jeonghan.

 

“sudah..” lanjutnya tersenyum lega menatap plester bunga bunga di pipi Jeonghan. “sudah kuduga, bunga memang cocok denganmu.” Ucap Seungcheol menatap Jeonghan yang tersipu malu menunduk.

 

Seungcheol mengangkat dagu Jeonghan, menatap lurus dua manik bening yang menatapnya takut. “jujur saja, aku tidak ada urusan dengan gadis-gadis itu..” ucap Seungcheol tetapi Jeonghan masih menatapnya takut.

 

“terror-teror itu bukan aku yang melakukannya ya kecuali bunga yang ku lempar tiap hari dari jendela.” Ucap Seungcheol lagi mengakui.

 

“saat aku memanggilmu ‘pacarku’ aku tidak main-main Jeonghan, aku bersungguh-sungguh.. aku menyukaimu.” Lanjut Seungcheol menangkup kedua pipi Jeonghan. Jeonghan tersentak mendengar pernyataan itu, ia tidak percaya Seungcheol bisa menyatakan perasaannya semudah itu.

 

“aku yakin kau juga menyukaiku kan?” tambah Seungcheol. Jeonghan membulatkan matanya, dan melepaskan tangan Seungcheol yang menangkup pipinya. “kenapa kau begitu yakin kalau aku juga menyukaimu?”

 

Seungcheol terkekeh pelan, “kau kira aku tidak tau siapa yang menaruh obat-obat luka itu di lokerku setiap aku habis berkelahi?” Seungcheol mendekatkan wajahnya ke wajah Jeonghan membuat Jeonghan memundurkan wajahnya yang memerah itu. “l-lalu..”

 

“kalau kau tidak menyukaiku tidak mungkin sekarang wajahmu memerah dan..” Seungcheol mengangkat tangannya dan menaruhnya di dada Jeonghan. “dengar, jantungmu berdetak kencang hahaha.” Seungcheol tertawa membuat Jeonghan mengerutkan keningnya dan menepis tangan Seungcheol yang seenaknya memegang dadanya. “tidak lucu!” bentak Jeonghan tetapi itu tidak menghentikan tawa Seungcheol yang semakin menjadi.

 

“dasar gila!” tambah Jeonghan lagi tetapi Seungcheol malah merangkulnya dan menciumi rambutnya. “ya aku gila, gila karena mu..” bisiknya di telinga Jeonghan membuat jantung Jeonghan hampir mencelos keluar. “sial.” Umpat Jeonghan pelan. Seungcheol kembali terkekeh, tangannya merogoh saku jaketnya mengeluarkan seutas karet rambut.

 

“berbaliklah.” Perintah Seungcheol. “untuk apa aku berbalik??” sahut Jeonghan. “sudahlah berbalik saja.” perintah serungcheol lagi lalu membalikkan badan Jeonghan. Mau tidak mau Jeonghan berbalik badan membelakangi Seungcheol.

 

Seungcheol tersenyum senang melihat Jeonghan menuruti perintahnya, ia merapikan rambut panjang Jeonghan dan mengikatnya jadi satu menjadi kuncir kuda kemudian ia tersenyum bangga. Setelahnya, Seungcheol memeluk Jeonghan dari belakang. “kau telihat lebih cantik dengan kuncir kuda.” Bisiknya di telinga Jeonghan.

 

Pipi Jeonghan kembali memerah, “berisik.” Sahut Jeonghan sinis. Seungcheol terkekeh lalu mencium pipi kanan Jeonghan dan memeluk Jeonghan lebih erat.

 

“setelah ini aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyakitimu..” ucap Seungcheol membenamkan wajahnya di ceruk leher Jeonghan. Tidak ada sahutan, hanya tetesan air dari bilik bilas yang mengisi keheningan.

 

“berjanjilah..” gumam Jeonghan menjawab pernyataan Seungcheol. Dengan begini, mereka resmi sepasang kekasih.

 

.           .           .

 

 

FIN

 

.           .           .

 

 

MIANHAE MIANHAE KALAU YANG SEUNGHAN INI CERITANYA BELIT DAN GAK BERASA><

Author lelah akhir-akhir ini kehabisan kata-kata:”

Maafkan author huu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s