[Ficlet] Shoulder To Lean

SHOULDER TO LEAN

girl,back,hair,photography-64dc6b9dc5785965d89a221ec0b720bb_h_large

 

ficlet by maginesu

starring SVT‘s Kim Mingyu, OC‘s CiQuenn Seo, OC‘s Lung Petal

rated T | friendship, angst, romance

disclaimer | I only own the plot, please do not plagiarize

.

.

.

.

.

 

 

 

 

“Petal!”

Senyum Mingyu mengembang kala orang yang dipanggil menoleh. Laki-laki tiang itu pun melangkahkan kaki ke depan pintu kelas 2-3—dimana gadisnya tengah berdiri. Ehem, gadisnya.

“Hei.” balas Petal kasual. “Kelasmu sudah selesai, ya?”

Mingyu hanya kembali menaikkan ujung bibir saat Petal bertanya. Toh, gadis bersurai cokelat itu hanya basa-basi—mereka sudah sama-sama hafal jadwal satu sama lain.

“Petal-“

“Eh, Mingyu. Hari ini ada rapat dewan sekolah. Aku akan pulang sore, kamu pulanglah dulu dengan Wonwoo dan CiQuenn.”

Belum juga kata lain tersalurkan dari lidah Mingyu, si kekasih sudah melontarkan kalimat permisi. Padahal—

“Tapi, Pe-“

Bye!”

—Mingyu punya hal lain hari ini, yang membuatnya ingin menghabiskan sisa sore bersama Petal, hanya bersama si gadis—bukan pergi bersama dua karibnya yang lain seperti biasa.

Namun apa daya, sosok Petal sudah semakin menghilang di ujung koridor, lantas berbelok ke lorong lain. Mingyu menghela napas pasrah. Jika bicara tentang urusan dewan sekolah, Petal tak akan pernah mau absen. Bisa dibilang, perempuan itu lebih rajin daripada ketuanya.

“Petal!”

Lamunan kilas Mingyu lantas dibuyarkan oleh suara perempuan lain yang kini berdiri di ambang pintu kelas, menatapinya dengan belah mata lebar.

“Loh, kok berubah jadi Mingyu?”

Mingyu hanya memasang wajah datar. “Petal sedang rapat dewan. Dia pulang sore.” ujarnya kemudian, menjawab tanda tanya tersembunyi di otak CiQuenn—gadis di depannya ini.

“Ooh…,” CiQuenn mengangguk pelan. “Ya sudah, ayo pulang.”

“Wonwoo?”

“Dia sedang mengerjakan tugas kelompok. Sudah, ayo pulang duluan. Nanti kita ketinggalan bus.”

 

….

 

Mingyu memainkan jemarinya dengan posisi kepala tertunduk dalam. Menunggu bus di halte bukan hal menarik yang bisa dijadikan penghibur di sela waktu senjangnya—terlebih saat ia tengah dalam suasana hati yang buruk seperti ini. Di sampingnya tengah duduk CiQuenn, melekatkan netra pada benda elektronik persegi panjang berwarna putih. CiQuenn memang seperti itu. Cuek, tak peduli, acuh tak acuh, bahkan terhadap pacarnya sendiri—Wonwoo.

Well, sepertinya relasi diantara mereka berempat butuh sedikit eksplanasi. Singkat saja, empat orang ini—Mingyu, Wonwoo, Petal, CiQuenn—bersahabat sejak SMP. Namun semenjak pertengahan kelas pertama di SMA, status mereka sedikit punya tambahan lantaran Mingyu menyatakan perasaan pada Petal. Sebenarnya mereka berempat sendiri sudah sangat tahu ada sesuatu diantara Mingyu-Petal dan Wonwoo-CiQuenn. Namun dipendam agak lama karena alasan takut terjadi perpecahan. Nyatanya, mereka tetap dekat-dekat saja sebagai sahabat hingga sekarang meski sudah menjadi dua pasang sejoli.

“Kenapa, Min?”

Mingyu refleks mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba CiQuenn memanggil.

“Kamu lesu sekali. Kenapa?”

Hm, baiklah. Mingyu merasa tertohok sendiri telah berpresepsi bahwa CiQuenn cuek. Faktanya, itu bohong. Mingyu sedang tidak mood, makanya jadi berkata-kata tidak jelas. Mingyu lebih tahu dari siapapun jika CiQuenn adalah gadis yang hangat dan pengertian di balik tampangnya yang sedikit….. garang.

“Hm, tak apa.”

Mingyu masih memerhatikan gerik CiQuenn kendati menjawab asal-asalan. Gadis itu kini memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu membalas tatapan sepihak sahabatnya.

“Kamu tahu kamu tidak bisa bohong.”

CiQuenn mengacak surai kecokelatan Mingyu, melontar senyum kemudian.

Mingyu masih tak bangkit dari suasana biru, namun diam-diam berpikir ada baiknya mengganti objek pencurahan masalah dari kekasih menjadi sahabat. Well, sebenarnya memang CiQuenn yang paling dekat dengannya dalam hal perkariban jika dibandingkan Petal atau Wonwoo.

“Ke taman sebentar, yuk, Ci.”

 

….

 

“Ini.”

Mingyu sedikit terjingkat saat tiba-tiba sesuatu bersuhu dibawah rata-rata mencium permukaan pipinya.

“Es krim biasanya membuatmu lebih baik.”

Mingyu menghela napas, menerima sebuah es krim cone dari tangan CiQuenn. Gadis itu pun mendudukkan diri ke samping Mingyu.

“Kamu ada masalah, ya, Min?” tanya CiQuenn perlahan. Pasalnya, Mingyu ini tipikal anak ceria yang selalu memendam masalah sendiri—sangat jarang membaginya dengan orang lain, jadi CiQuenn pikir ini kesempatan baik baginya untuk membantu si karib selagi dia mau.

“Hm.”

Mingyu mengendikkan bahu, tak tahu harus merespon seperti apa. Sejujurnya, dia belum begitu siap juga untuk bercerita. Lidahnya kelu. Dia tak ingin membicarakan masalahnya, tapi ingin beban di palung benaknya menghilang sejenak. Singkatnya, Mingyu hanya—

All I need is shoulder to lean, Ci.”

Dan akhirnya Mingyu pun menelengkan kepala, lantas menjatuhkan separuh atas beban badannya ke ceruk leher CiQuenn. CiQuenn tersentak sedikit atas kontak yang tiba-tiba, namun merilekskan diri segera. Dibenarkannya posisi duduknya sehingga Mingyu bisa dengan benar ‘lean to her shoulder’—like he said early.

Detik selanjutnya hening. CiQuenn kini mengerti Mingyu tidak punya keinginan bercerita. Dia hanya butuh ketenangan.

“Sini kukupaskan es krim-mu.”

CiQuenn meraih es krim yang masih terbungkus rapat dari tangan Mingyu, menanggalkan kertasnya satu persatu untuk diserahkan ke Mingyu lagi kemudian. Mingyu menerimanya dalam diam, melumerkannya ke lidah sedikit demi sedikit.

Mereka pun membiarkan sekon-sekon berikutnya dalam keadaan hening dengan posisi tak berubah. Diam-diam, Mingyu bersyukur dalam hati Tuhan telah menuliskan peristiwa bertemu dengan CiQuenn dalam suratan takdirnya. CiQuenn selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Dan jika dipikir-pikir, dirinya tak pernah punya waktu bersama CiQuenn lagi akhir-akhir ini. Yah, sebenarnya memang Mingyu dan CiQuenn yang pertama kali menjalin relasi persahabatan, sebelum akhirnya Petal dan Wonwoo bergabung. Tak dapat dipungkiri, Mingyu merindukan masa-masa dimana dirinya hanya punya CiQuenn seorang.

“Terimakasih, ya, Ci.”

CiQuenn hanya mengulas senyum, masih sambil menikmati es krimnya.

“Iya, sama-sama.”

 

….

 

“If you need a shoulder to lean, just lean on me. It’s okay to cry too, it’s okay.”

 

….

 

“Well, sometimes friend could be better choice than lover.”

 

 

 

 

-fin

.

.

.

.

Halo, semua. First and ultimately, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya, terkhusus buat kakak admin bikos aku baru nge-post ff hari ini despite udah keterima sbg crew sejak sebulan (atau lebih) yang lalu. Maaf dan terimakasih atas pengertiannya ><

Yang kedua, hem, well ini fic debutku, so, HI EVERYONE^^ Salam kenal semua, hyeon 01L here:)) Mari berteman dan mohon bimbingannya:)))

Lastly, thanks for reading (maaf lagi karena hyeon lagi disambar WB yang gak selesai-selesai shg fanfic ini tak beralur jelas, huhu) and do leave comments! THANKS!^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s