[Part 4] My Dorky Crush

1452142155956[1]

Author

Dee-kay

Cast(s)

Seventeen Woozi | Seventeen Mingyu | Han Hyosun (OC) | and others

Length

Chaptered

Genre

Romance | School Life | Teen

Rating

PG – 15

Read Part 3 ]

“Apa kau sangat dekat dengan Mingyu?”

“Jihoon-ah, sebenarnya…”

Jihoon menatap Hyosun dengan seksama, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Hyosun.

“Di kepalaku banyak sekali pertanyaan tentangmu,”

“Begitu?” tanya Jihoon yang segera disahut oleh anggukan Hyosun.

“Kalau begitu, nanti kau harus ikut aku,”

“Kemana?”

“Ah, jamkamman.” Jihoon menghentikan langkahnya. “Aku lupa dimana aku menyimpan ponselku.”

Hyosun hanya diam menatap Jihoon yang sibuk merogoh sakunya.

“Kau bawa handphone?” Tanyanya.

“Ya, aku bawa.” Hyosun mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya. Sontak, Jihoon segera mengambil ponsel Hyosun dan mengetuk-ngetuk layarnya–entah mengetik apa.

“Bagus. Aku dapat nomormu.” Jihoon menyerahkan kembali ponsel Hyosun dengan senyum puas.

Heol…” Hyosun menatap Jihoon dengan tatapan ‘apa-yang-kau-lakukan’. Jihoon tak merespon melainkan melanjutkan perjalanan menuju sekolah mendahului Hyosun, yang segera disusul olehnya.

My Dorky Crush

Setelah sampai di sekolah, Jihoon memisahkan diri dari Hyosun karena mereka berbeda kelas. Tanpa menoleh sedikitpun, Jihoon berjalan menuju kelasnya yang berjarak dua kelas dari kelas Hyosun.

-Hyosun’s POV-

Ruang kelas masih sepi saat aku berjalan memasukinya. Hanya ada tiga orang, sang ketua kelas, dan dua temanku yang memang selalu datang sepagi ini. Ya, ini memang tidak biasanya aku datang lebih awal seperti ini.

Atau tidak?

Beberapa saat setelah aku duduk di tempat dudukku, anak-anak yang lain mulai berdatangan. Tak sampai hitungan jam, kelas telah ramai dan penuh. Dan…

Kriiing

Tibalah saatnya bel masuk berbunyi.

Drrt drrt

You have a new message!

from: +82345xxxx

Ke halaman belakang sekolah. Sekarang. -Jihoon

Hah? Apa dia gila? Bel masuk baru saja berbunyi dan dia memintaku kesana?

Ada apa kira-kira? Apakah ini yang dia maksud ‘Kalau begitu, nanti kau harus ikut aku’?

Apa dia akan menceritakan tentang dirinya?

Baiklah, dengan bodohnya, aku menuruti permintaan dia. Sebelum  seonsaengnim memasuki kelas, aku berlari menuju taman belakang sekolah. Dan aku mendapati Jihoon sedang duduk di bangku dekat pohon dengan pesawat mainan yang digenggamnya.

Ya, pesawat mainan. Anak SMA mana yang masih main pesawat mainan?

Aku pun berjalan mendekati Jihoon.

“Ku kira kau takkan datang.” Ujarnya tanpa melihat ke arahku.

“Kenapa harus sekarang?” Aku duduk di sampingnya. “Ini kan sudah bel masuk.”

“Kau boleh kembali ke kelas kalau kau mau.” Jawabnya, dan lagi-lagi tanpa melihatku.

Arasseo. Cepat ceritakan sekarang.”

Mworeul?

“Tentang kau!” Lama-lama aku sedikit geram juga dengannya.

Sialnya, dia tertawa. Entah itu menggemaskan atau menyebalkan. Kupikir, keduanya.

“Kau benar.” Kini ia menoleh padaku. “Aku anak baru disini.”

Benar, kan? Sudah kuduga. Karena aku belum pernah melihatnya disini.

“Aku tadinya homeschooling. Tidak seperti yang lain.” Lanjutnya.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka lingkungan sosial. Mungkin, aku terlalu introvert?”

“Oh, geurae.” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Dan, tentang Mr. Jay,” Ia mengalihkan pandangannya lagi dariku. “Aku tau semua tentang dia. Lebih dari kau.”

Aku tercengang sesaat. Bagaimana bisa? Dia, Mr. Jay? Apa mereka…

“Dia ayahku.”

Aku masih tak bergeming. Tatapanku ‘apa-kau-serius’ padanya.

“Tidak perlu terkejut seperti itu.” Ia tertawa kecil.

“Baiklah, tapi…” Aku menelan ludah sesaat. “Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di kepalaku.”

Jihoon menatapku dengan tatapan ‘katakan-apa-itu’.

“Bagaimana bisa kita selalu bertemu seharian kemarin, dan juga hari ini?”

“Jodoh?”

“Aku sedang tidak bercanda!”

Lagi-lagi Jihoon tertawa. Membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Dan aku benci mengakui hal itu.

“Baiklah aku akan mengaku. Beberapa saat aku sempat mengikutimu.”

Mwo?! Ya! Apa kau byuntae?! Benar, kan? Untuk apa kau mengikuti aku?!” Aku benar-benar meledak mendengar pengakuannya. Orang ini benar-benar berbahaya.

“Kau ingat saat kau terjatuh karena kau terlalu terburu-buru berangkat ke sekolah? Sejak pertemuan pertama kita di halte saat itu, aku mengikutimu diam-diam sampai rumahmu.” Jelasnya.

Jinjja?!

“Kemarin, saat pulang sekolah, aku mengikutimu hingga ke bus. Dan tadi pagi, aku juga mengikutimu.”

“Bagaimana saat di perpustakaan? Dan juga saat kau memberiku plester dan obat lainnya untuk lukaku?”

“Aku tidak mau masuk kelas. Maka dari itu aku ke perpustakaan. Dan kebetulan bertemu denganmu. Soal plester dan obat-obatan itu, aku sudah pernah bilang kan, tadinya aku ingin mengantarkannya ke rumahmu, tapi ternyata kita bertemu di jalan.”

“Tapi, untuk apa kau terus mengikutiku?”

Jihoon terdiam sejenak sebelum seseorang yang ku kenal persis bayangannya datang menghampiri.

Ya! Hyotteon-ah!

Minggu-ya!” Sontak, aku terbangun dari duduk dan berlari menghampiri lelaki jangkung itu.

Kim Mingyu. Sahabat yang telah kukenal dari aku berumur 4 tahun. Lelaki yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Ia baru saja selesai mengikuti dispensasi selama seminggu untuk bertanding bola basket antarprovinsi.

Bogoshipeosseo?” Ia mengacak-acak rambutku.

Nae! Neomu-neomu!” Aku memukul bahunya pelan. “Bagaimana pertandingannya?”

“Tidak lolos. Tapi lumayan, lah. Masuk lima besar.” Jawabnya dengan senyum puas.

Gwenchana. Ah, kalau saja aku bisa melihatmu tanding bola basket. Pasti kau sangat keren.” Ujarku sambil tertawa yang disusul oleh tawanya.

“Sedang apa kau disini saat jam pelajaran seperti ini? Dan itu…” Mingyu melihat Jihoon yang ada di belakangku masih duduk di sana dengan pesawat mainannya.

“Oh, dia Jihoon. Ayo, kukenalkan ia padamu.” Aku menarik tangan Mingyu menuju Jihoon yang sedaritadi melihat tingkah kami dengan tatapan datarnya.

“Jihoon-ah, perkenalkan ini Kim Mingyu. Dan Mingyu-ya, ini Lee Jihoon. Murid baru di sekolah kita.”

“Bangapseumnida,”

“Nae, bangapseumnida,”

Jihoon dan Mingyu pun membungkukkan badan dan tersenyum satu sama lain dengan sangat canggung.

“Jihoon ini anak dari Miste–“

Jihoon menyenggol tanganku, memberi isyarat ‘jangan-katakan-itu’.

“Ah, ani, hahaha.” Aku tertawa canggung.

“Kalian berdua sedang apa disini?” Tanya Mingyu.

“Kita… Kita hanya sedang berdiskusi.” Jawabku sedikit berbohong.

Geojitmal. Kalian berdua pacaran ya?” Goda Mingyu. Aku dapat melihat Jihoon tertawa kecil.

Mwoya! Tidak, kami tidak pacaran!” Tegasku seraya memukul lengan Mingyu.

Aish. Apo!” Ia mengusap-usap lengannya sambil cengar-cengir.

“Kau sendiri, mengapa kau disini?” Aku balik bertanya.

“Sebenarnya hari ini hari terakhir aku mendapat dispensasi. Tapi aku ingin kesini. Karena, aku sudah terlalu rindu dengan–“

“Denganku?” Aku memotong omongannya.

“Dengan lapangan basket.” Jawabnya seraya menjentikkan jarinya di dahiku.

Aish…” Aku mengusap-usap dahiku.

“Baiklah. Kalian lanjutkan saja pacaran– maksudku diskusinya. Aku ingin main basket. Annyeong, Hyotteon-ah!” Ia berlari meninggalkan aku dan Jihoon menuju lapangan basket.

Aku melihat wajah Jihoon. Begitu datar dan masam. Apa aku terlalu mengabaikannya tadi ketika aku bersama Mingyu? Ah, aku benar-benar merasa bersalah.

Gwenchana?

Mwoga?

“Kau kenapa?”

“Aku tidak apa-apa.”

Syukurlah kalau dia merasa tidak apa-apa. Ah! Aku baru ingat. Ia belum menjawab pertanyaan ‘kenapa ia terus mengikuti aku’.

“Ah, ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Apa kau sangat dekat dengan Mingyu?” Ia yang kini melontar pertanyaan padaku.

“Ya, bisa dibilang begitu. Aku telah mengenalnya sejak aku umur empat tahun.”

Ah, geurae.” Jihoon menganggukkan kepalanya.

“Kapan kau akan menjawab pertanyaanku?”

“Tidak sekarang.” Ia bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkanku.

“Kenapa?”

“Nanti kau akan tau.” Jawabnya sambil terus berjalan dan tanpa menoleh sedikitpun.

Untuk kesekian kalinya, dan untuk kali ini aku sangat yakin, Jihoon ini adalah manusia paling aneh yang pernah aku temui.

Tunggu, Jihoon meninggalkan pesawatnya.

Ya! Jihoon-ah! Pesawatmu tertinggal!”

to be continued


**catatan: ‘Hyotteon’ dan ‘Minggu’ adalah nama Hyosun dan Mingyu yang disebut dengan menggunakan aegyo. Karena mereka adalah teman sejak kecil maka mereka terbiasa memanggil nama mereka berdua dengan panggilan itu.

Iklan

3 thoughts on “[Part 4] My Dorky Crush

  1. Jihoon-ah, jadi kamu introvert? Kamu suka modusin cewek buat dapet nomornya? Kamu stalker? Byuntae? /lalu saya di gampar dee-kay/

    Ini lucuu sumpah, ku suka karakter Jihoon disini yang bikin gemas tapi bikin jengkel juga.. dan oh JIHOON KU, SAINGANMU TERLALU TINGGI TJOY /maksudnya si Mingyu :v/

    Nampaknya ada aura-aura Hyo suka sama Gyu?
    /oke analisa macam apa ini/
    /digampar lagi sama author/😂😂

    Ditunggu next partnyaaa :3

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s