[Ficlet] THE DAY

Screenshot_2016-07-31-16-00-37-2.png

©pic SAINT

Author

SweetCrush

Cast

Jeon Wonwoo ||OC

Rating

Teen

Length

Ficlet

Author’s Note :

“Hallo! Terhitung sudah berminggu-minggu /tsahh/ SweetCrush ga posting apa-apa di sini T.T /maafkan/, diawali karena UN dan tiba-tiba kena WB. Dan iseng-iseng pas lagi backtrack Shinning Diamond day 1 kepikiran aja pengen coba nulis sesuatu trus cast-nya Wonwoo berhubung doi juga baru comeback tuh /yeayyy/” Well, Enjoy~

Jeon Wonwoo lagi-lagi sudah siap merutuki dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Harinya sudah begitu padat dengan pekerjaan yang dikejar deadline, dan pertemuan yang dijadwalkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu dari staff kantor kepada dirinya.

Semalaman, ia sudah menyusun list hal-hal yang harus ia lakukan agar tak membuang waktu dan yang paling penting tidak melewatkan bis terakhir untuk pulang. Namun, sungguh nasib malang memang sedang ingin menyapanya, saat sedang mengantri untuk membeli segelas kopi seberangkatnya menuju tempat kerja, seorang gadis dengan –entah sengaja atau tidak- menabraknya dan menumpahkan segelas frape greentea mengenai jas kerja Wonwoo.

Ia masih ingat dengan jelas aroma minuman yang paling ia benci itu saat melekat di jasnya, dengan terpaksa ia harus kembali pulang, mengganti pakaiannya, dan hanya bisa berharap waktunya tak terbuang sia-sia. Satu jam tiga puluh menit telah terlewati begitu saja.

Ia terlambat sampai di kantor, terlambat mengumpulkan pekerjaannya, terlambat menemui client-nya, dan yang paling parah ia terlalu terlambat untuk mengejar bus terakhir yang melewati daerah perumahannya. Akibatnya, ia harus menyetop taksi di pinggir jalan, dan mengeluarkan ongkos lebih untuk pulang, lalu ketika taksi yang ia tumpangi mogok tiba-tiba, dengan segenap kekesalannya Jeon Wonwoo memutuskan untuk menempuh perjalanan pulang berjalan kaki.

Dan saat tinggal beberapa blok saja menuju rumahnya, kaki pria itu terhenti. Ia memandangi gelapnya gang kecil yang menjadi satu-satunya penghubung menuju rumahnya itu. Tak pelak, decak kesal mengalir dari dirinya.

Memang tak banyak yang tahu, tetapi Jeon Wonwoo benci kegelapan. Ya. Seorang Jeon Wonwoo begitu benci jika harus berurusan dengan tempat-tempat yang gelap, ia benci mendapati dirinya akan tiba-tiba menjadi panik saat berada di tempat yang gelap. Maka dari itu, ia menghindari hal tersebut sebisa mungkin. Dan, tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya. Karena selain tempat yang gelap, Wonwoo juga benci saat orang-orang mulai mengejeknya penakut.

Ia harus menemukan cara untuk bisa sampai di rumah. Jika saja ia sempat mengejar bus pulang, ia tak akan berakhir dengan problema seperti ini. Ini semua dimulai karena kejadian di kafe tadi pagi. Dan sekarang ia berakhir duduk di sebuah bangku kosong di pinggir jalan, satu-satunya tempat dengan pencahayaan cukup yang bisa ia temui.

“Hai,” Wonwoo terkesiap dari lamunanya, di dapatinya seorang gadis duduk tepat disampingnya dan menatap Wonwoo dengan senyuman terpatri di bibir.

Setelah cukup sadar dari keterkejutannya, Jeon Wonwoo mengambil sedikit jarak antara dirinya dengan gadis aneh disampingnya itu.

Beberap detik berselang dalam keheningan, dan senyumnya yang tak kunjung menghilang, gadis itu membuka suaranya.

“Hai,” Ulangnya sekali lagi, mengundang tatapan super aneh dari obyek yang di sapa.

“Kau takut gelap ya?,” Tembak gadis itu langsung mengenai sasaran. Alih-alih terkejut, Wonwoo merasa sangat terganggu. Sudahkah ia menyebutkan kebenciannya pada orang-orang yang mengejeknya?.

“Jika kau terkejut,” lanjut gadis itu “Aku melihatmu berhenti di depan gang yang gelap itu dan berbalik arah, jadi kusimpulkan kalau kau menghindari tempat-tempat yang gelap. Yah, itu hanya tebakanku saja. Apakah benar?,”

Wonwoo dengan cepat mengelak “Tidak.” Ia menghindari menatap hazel gadis itu.

Namun, telinganya bisa menangkap gelak tawa berirama dari diri sang gadis.

“Kau tahu… biasanya orang yang merasa aib mereka terbongkar, akan merespon secepat itu. Secepat yang kau lakukan.” ujarnya di sela-sela gelak tawanya yang begitu khas.

Selain cara untuk bisa sampai di rumah. Nampaknya, menghindari cemoohan gadis itu jadi salah satu yang harus ia cari jalan keluarnya. Tidak meyebutkan tawa gadis itu yang masih menggema, karena Wonwoo mendapati dirinya seakan tersihir karena iramanya.

“Begini ya, aku bukannya takut gelap… aku hanya mencoba menghindari tempat-tempat berbahaya seperti itu.” Ia terkejut mendapati dirinya mencoba menjelaskan hal tidak penting pada gadis berambut panjang yang kini nampak sudah bisa mengontrol dirinya.

Gadis itu mengangguk kecil seakan mencoba menerima alasan ‘paling masuk akal’ Wonwoo.

Lalu sebuah kalimat yang meluncur dari bibir itu selanjutnya mampu merebut seluruh atensi Wonwoo.

“Aku gadis yang tak sengaja menabrakmu tadi pagi,” Jelasnya pelan. Gambaran kesialan beruntun yang dialaminya hari ini kembali membanjiri pikiran Wonwoo.

“Kau-”

“Aku ingin berterima kasih padamu,”

“Apa?,” Wonwoo terkejut, ia baru saja ingin meluapkan kekesalannya. Berterima kasih setelah mengotori pakaian seseorang?. Tsk, memang gadis aneh.

“Pagi ini aku berencana pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Tapi, karena tak sengaja menabrakmu dan menumpahkan minumanku, aku terpaksa harus kembali ke rumah karena bajuku juga terkena noda cipratan kopi. Saat sampai di rumah, aku mendapati nenekku terpeleset dan pingsang di kamar mandi, syukurnya beliau belum terlambat di selamatkan. Jika saja bukan karena kejadian itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi,” Jelas gadis itu pelan dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya.

Jeon Wonwoo tertegun, ia mengingat kembali sudah berapa kali ia mengeluh karena hari ini tak berjalan sesuai rencananya, yang ternyata di sisi lain punya andil besar menyelamatkan jiwa seseorang.

“Bagimu mungkin terdengar konyol, tapi aku dengan tulus mengucapkan terima kasih.” Gadis itu menundukkan kepalanya. Lalu kembali tersenyum.

Lalu gadis itu menawarkan diri menemani Wonwoo menuju rumahnya, melewati gang gelap yang dihindari Wonwoo dan berpisah di ujung jalan.

“Aku harap jika kau mengalami hal buruk hari ini karena ulahku, kau bisa melupakannya,” gadis itu melambai dan berjalan menjauh, menghilang di balik bayangan gedung-gedung tinggi yang diterpa cahaya bulan.

Yah, tanpa diminta-pun seluruh kekesalan Wonwoo sudah meluap entah kemana. Tetapi, ia tak mungkin melupakan fakta bagaimana kesialannya ternyata punya arti lebih bagi orang lain. Lalu, tawa gadis itu yang masih terngiang jelas. Ia pun bersyukur.

Dan hari itu berakhir dengan lengkungan bahagia tersungging di bibirnya.

Jika ternyata hari berjalan sesuai rencananya, ia mungkin tak akan merasa sebaik ini.

Tapi, dari semua kebaikan yang terjadi, bagaimana mungkin ia lupa menanyakan nama gadis itu?

 

FIN

#WelcomeBackJeonWonwoo

One thought on “[Ficlet] THE DAY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s