[Vignette] Let Me Run For You

LET ME RUN FOR YOU

90ff882e227f786605ea8c78d4d8fc8b

 

vignette by maginesu

starring SVT’s Jeon Wonwoo, BTS’ Jeon Jungkook | supporting SVT’s Kim Mingyu, GOT7’s Kim Yugyeom

rated PG-13 | brothership, family

disclaimer | I own the plot, don’t plagiarize

.

.

.

Aku akan berlari untukmu

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wonwoo memutar kenop pintu kayu di depannya pelan agar tak menimbulkan derit bunyi. Didorongnya sedikit untuk membuat celah. Laki-laki itu menyisipkan pandangannya ke dalam ruangan diam-diam.

‘Brak!’

Wonwoo berjingkat saat tiba-tiba suara bising yang timbul akibat jatuhnya beberapa benda dari meja belajar di dalam ruangan itu menginterupsi aksinya. Untung saja Wonwoo tidak berteriak atau apa. Dia bisa ketahuan di sekon pertama pengintipannya.

Si anak sulung Jeon bersaudara itu kembali menilikkan netra ke ruang tidur Jungkook. Dikitarkannya tatap, dan mendapati si bocah sembilan belas tahun duduk di kursi meja belajarnya. Benda-benda yang diperkirakan masih tertata rapi di atas meja lima detik lalu, kini tergeletak berceceran di lantai, menemani suasana parau yang tengah merasuki jiwa Jungkook.

Wonwoo menghela napas dalam. Malangnya anak itu. Wonwoo sudah bisa membayangkan seperti apa menyedihkannya raut wajah Jungkook meski hanya menatap punggungnya. Wonwoo pun yakin bahwa aliran air dari manik cokelat Jungkook sudah membentuk arus sungai di pipinya. Memangnya siapa yang tidak depresi jika dalam waktu sehari sebelum pertandingan lari tiba-tiba kakimu tersandung dan mengalami fraktura kecil sehingga dinyatakan tidak bisa menggerakkannya berlebihan selama beberapa waktu ke depan? Tentu Wonwoo bisa memaklumi itu semua. Dia tidak biasa melihat Jungkook sedih bahkan menangis, sangat jarang. Wonwoo membencinya—realitanya. Namun jika sudah begini, dirinya yang notabene seorang kakak sudah seharusnya bisa melakukan sesuatu.

“Kook?”

Wonwoo mengambil selangkah maju, memasukkan tubuhnya ke dalam ruangan setelah beberapa menit melamuni punggung Jungkook dari celah pintu. Jungkook tak menoleh, dan Wonwoo juga sudah tahu kenapa.

“Pergi. Aku ingin sendiri.”

Bukannya mengikuti komando, si laki-laki yang lebih tua setahun itu duduk di ranjang Jungkook, mengalihkan tatap ke jendela dengan tetap melontar celoteh.

“Aku muak melihatmu seperti ini, Kook.”

“Kubilang pergi, Kak.”

“Kamu seperti pecundang. Sekali diberi cobaan, sudah menyerah hidup saja.”

“Bisakah kamu menghargai waktuku? Aku ingin sendiri saja, jadi pergilah!”

Wonwoo mengulas senyum lebar saat atensi Jungkook kini sepenuhnya dikuasai. Anak itu menoleh ke belakang, menghadap si sosok kakak tanpa lepas kuncian kontak mata.

“Waktumu tidak berharga, Jungkook. Hanya untuk menangisi sesuatu yang sudah terjadi, sama sekali tidak berharga.”

Bekas air mata masih nampak jelas di pelupuk mata Jungkook, diabaikannya untuk menarik diri dari posisi duduk—mendekati Wonwoo dengan tatap nanar. Jungkook berdiri tepat di depan Wonwoo, menusuknya dengan binar tajam. Melihat Wonwoo tak tergerak, Jungkook lantas menarik kerah si kakak, tak lagi peduli akan aturan tata krama. Wonwoo pun terpaksa berdiri, namun membiarkan adiknya itu mencekik lehernya secara tidak langsung.

“Apa urusannya denganmu? Berharga atau tidak, memangnya hakmu untuk ikut campur?” Jungkook berkicau parau, suaranya serak sehabis menangis. Jemarinya kuat menggenggam kain kemeja Wonwoo, semakin menahan pernapasan laki-laki itu meski tak begitu mengganggu. “Pergi saja, kamu, brengsek!”

Alih-alih mendaratkan kepal ke wajah atau perut Wonwoo, Jungkook hanya mendorong kakaknya keluar kamar, lalu cepat-cepat membanting pintu tepat di muka Wonwoo. Yang diusir tanpa ampun hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu kata-katanya memang terlampau menyebalkan—terutama untuk orang yang tengah dalam masa depresi—namun ia lebih tahu bahwa Jungkook tak kenal kalimat lembut, suara lunak, atau pernyataan bela sungkawa.

“Tenang saja, Jungkook! Aku akan berlari untukmu!”

“Enyahlah ke neraka, kamu keparat!”

Wonwoo hanya terkekeh pelan mendengar sahutan Jungkook.

 

 

Seorang mahasiswa bersurai cokelat tampak asyik sendiri di pinggir lapangan, meregangkan otot-ototnya untuk persiapan lomba lari yang akan segera dimulai. Kepalanya terteleng ke sekitar, memeriksa suasana dan apa yang dilakukan pelari lain. Laki-laki itu sendiri, tak punya teman atau sekedar rekan mengobrol untuk mengisi waktu. Yah bagaimana lagi, perlombaan seperti ini memang lebih banyak diikuti mahasiswa-mahasiswa baru—seperti Jungkook.

“Jungkook, ya?”

Baru saja nama itu terpaut ke lamunan Wonwoo, tiba-tiba ada suara lain yang menyebutnya. Refleks pemuda jangkung itu menoleh ke sumber suara. Tampak dua anak yang berpakaian olahraga—layaknya dirinya—tengah larut dalam perbincangan ringan. Wonwoo sendiri bukan tipe orang yang selalu ingin tahu apa yang dibicarakan orang lain, namun akibat rungunya yang menangkap beberapa kali penyebutan nama adik setahunnya, Wonwoo pun melayangkan tatap intens ke arah mereka.

“Iya, dia tidak ikut perlombaan. Tiba-tiba saja menghilang sejak dua hari lalu. Membolos di setiap kelas, melewatkan jadwal latihan, serta tidak ada yang tahu dia dimana.” ucap salah satu dari dua orang disana—Wonwoo rasa namanya Yugyeom. Sedangkan yang satunya lagi, tak usah ditanya—siapa yang tidak kenal dengan berandalan nomor satu di kampus—tak lain adalah Kim Mingyu.

“Tch. Brengsek, pecundang. Dia takut padaku. Lomba yang dia menangi sebelumnya, tak pernah ada aku di sana. Itulah alasan kenapa si bayi cengeng Jeon itu bisa menang.” Mingyu menimpali kemudian, disambut tawa dari Yugyeom.

Wonwoo tak sadar kenapa, telapaknya sudah terkepal keras dan kepalanya memanas. Ingin sekali diproklamirkannya bahwa Jungkook tidak ikut lomba karena luka kakinya. Orang-orang itu sama sekali tidak pantas membicarakan adiknya tanpa tahu sebab yang benar. Merekalah yang brengsek, pecundang, pengecut, tukang gosip pula. Aih, Wonwoo yakin nama tengah Mingyu adalah preman.

“Sudah, tak usah dipikirkan lagi. Yang penting, sebentar lagi popularitas si bocah itu akan pudar, justru namamu yang akan terus mengambang.”

Mingyu menyeringai, “Dia memang hanya cari popularitas. Aku tak butuh yang seperti itu, tanpa berbuat apapun juga aku sudah terkenal.”

“Terkenal sebagai berandalan kurang ajar, ya, memang benar.”

Wonwoo tak tahu, tak sadar, dan benar-benar bingung. Mulutnya tiba-tiba bergerak sendiri tanpa izin, melontar kata-kata berfrekuensi medium hingga membuat dua figur menjulang itu menoleh ke arahnya, membunuh dengan tatap nanar.

Oh, crap.

Dan Wonwoo yakin dirinya menyesali telah menguntit konversasi mereka kala itu.

 

 

Jungkook belum berhenti menganga, dengan kedua mata terbelah lebar, menatap tanpa kata piala berukuran sedang di atas meja ruang tamu. Sudah lebih dari semenit, atau bahkan dua menitan Jungkook mematung dalam posisi seperti itu. Sudah seperti manekin saja.

Wonwoo yang duduk di seberangnya pun tampak sudah mulai muak. Dia tak tahu apa yang ada di pikiran Jungkook—dan benar-benar ingin tahu. Tapi sudah berpuluh sekon lamanya, Wonwoo masih tak mendapat jawaban. Ia pun menghela napas pasrah.

“Iya, iya, aku tahu, kok, jika kamu ikut akan dapat juara satu. Tapi ayolah, aku bukan kamu, Kook. Juara tiga, memang terlalu jelek?”

Wonwoo mengeluh penat. Sudah lelah-lelah dia memohon ke panitia lomba—yang untungnya adalah  karib dekatnya, Jun—agar menerima formulir pendaftarannya, malah setelah membawa pulang piala, pun, masih diabaikan oleh Jungkook. Dia tahu seluruh piala koleksi Jungkook bertuliskan angka satu, tapi Wonwoo pun punya keterbatasan. Bisanya juara tiga, ya sudah, lah. Tidak bisa, ya, Jungkook menghargai usahanya sedikit? Yah, pengecualian untuk kenyataan yang tidak disampaikan Wonwoo bahwa yang menduduki peringkat pertama adalah si berandal brengsek Kim Mingyu.

“Sudah, ah, terserah. Kalau mau dibuang, ya buang saja. Aku mau istirahat.”

Si kakak pun menyerah. Dijejakkannya kaki ke lantai terburu-buru, segera ingin beranjak dari pandangan Jungkook. Inginnya segera melangkah pergi, namun yang ada justru badannya tersungkur ke samping sofa ruang tamu.

“Aduh!”

Wonwoo merintih pelan, akhirnya merebut atensi Jungkook dari kegiatan melamunnya. Jungkook pun segera mengalihkan posisi mematungnya dan membantu Wonwoo berdiri. Entah kenapa, dia baru sadar akan beberapa luka di wajah Wonwoo.

“Hei, Kak? Apa yang terjadi denganmu?”

Wonwoo tak menjawab, masih kesal akibat diabaikan Jungkook beberapa menit lalu. Jungkook mendesis, serasa luka Wonwoo merambat ke kulitnya.

“Ayo, kuobati dulu.”

 

 

“Aduh!”

Rintihan pelan Wonwoo berubah menjadi pekik melengking kian waktu. Jungkook tampak tak peduli, masih teguh memberikan antiseptik ke luka-luka di paras Wonwoo—dengan sangat tidak lembut.

“Pelan-pelan, Kook! Sudah, tidak usah—“

“Sebenarnya apa sih, yang kamu lakukan? Apa yang kamu pikirkan saat mendaftar? Kamu bahkan tidak suka berlari. Memangnya kamu pikir aku senang kalau kamu ikut menggantikanku? Tidak bisa juara satu pula. Dipukuli juga. Siapa? Pasti Mingyu dan Yugyeom, kan?”

Belum sempat protes, Jungkook sudah memotong kata-katanya dengan ujar beruntut. Ada jeda sebentar, inginnya Wonwoo membalas gugat panjang si adik, tapi diinterupsi lagi.

“Kenapa kamu tak melawan sih, Kak? Kamu itu lebih tua, seharusnya lawan saja mereka. Masa iya kamu takut? Mereka seumuran aku, Kak. Pukul saja mereka seperti saat kamu sedang kesal denganku.”

Yang benar saja. Enak saja Jungkook berkata demikian seperti dia tidak tahu tingginya Mingyu bak Namsan Tower. Wonwoo benar-benar ingin melontar protes lain, tapi Jungkook tidak bisa diganggu saat sedang ingin bermonolog—dia mengabai penuh pada fakta bahwa yang ia ceramahi adalah kakaknya.

“Kakimu juga ditendang, diinjak, dan itu semua terjadi sebelum perlombaan? Dan parahnya, kamu masih memaksa ikut juga. Dasar. Kamu sudah gila. Sejak kapan kamu seperti ini? Sekarang jangan mengeluh kalau tidak bisa jalan selama seminggu. Kakimu lebih parah dari milikku, tahu. Hah, Jeon Wonwoo is going out of mind, for real. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, pokoknya kamu sudah gila. Ini juga tak berguna.”

Wonwoo meringis. Tangan Jungkook yang memegang kapas masih menginvasi kulit robeknya. Sekali lagi, dengan kasar. Setidaknya Jungkook berhenti mengeluh.

“Aku kemarin hanya terkejut saja saat tiba-tiba dokter bilang aku tidak bisa ikut perlombaan. Itu memang perlombaan besar, tapi, ah, ya sudahlah jika memang tidak bisa ikut. Aku hanya kesal, aku sedang ingin menenangkan diri tapi kamu malah menggangguku. Kamu ini benar-benar, seperti tidak tahu aku saja.”

Sadar tak bisa membalas perkataan Jungkook, Wonwoo hanya memutar bola matanya.

“Sudah.”

Wonwoo menghembus napas lega saat kapas-kapas mengerikan itu sudah lepas kontak dari lukanya. Jungkook yang sedari tadi menatap fokus kulit bercoreng warna merah milik Wonwoo, sekarang mengalihkan pandang untuk mengunci kontak mata dengannya.

“Kak.”

“Hm?”

Wonwoo tak bisa—tak mau—berkata-kata lebih, tak ada gunanya juga. Jungkook sepertinya masih tak ingin mendengar suaranya. Sebentar lagi anak itu akan—

“Terimakasih, Kak.”

Wonwoo melebarkan matanya saat tiba-tiba bocah ingusan di depannya itu memeluk dirinya, lantas menyandarkan kepala ke pundaknya.

“Terimakasih, Kak, terimakasih. Aku hanya ingin mengatakan itu daritadi, tapi tak tahu harus bagaimana mengatakannya. Kamu membuatku merasa canggung—aw!”

Jungkook mengaduh keras saat Wonwoo mendorongnya dari posisi berpelukan yang sangat aneh itu, membuatnya terjatuh dari pinggir ranjang.

“Dasar! Kalau jomblo, ya sudah jomblo saja! Jangan membuatku menjadi—ih! Dasar, Jeon Jungkook, menjijikkan!”

Kini Jungkook yang memutar bola matanya. “Sensi sekali, sih.” Ia pun beranjak, kembali duduk di atas ranjang, membuat Wonwoo menggeser posisi untuk menjauhinya.

“Sudah, sudah, sekarang aku yang canggung. Aku pergi dulu, tak usah berkata apa-apa.”

Wonwoo lekas berdiri, tak ingin mendengar kata-kata Jungkook yang semakin kesini semakin aneh. Namun keinginannya sama sekali tak terkabul—persis seperti tadi—tubuhnya kembali tersungkur. Well, kakinya belum sembuh dan Wonwoo tak menyadari itu.

“Tck, merepotkan saja.”

Scene beberapa menit lalu pun kembali terulang—Jungkook membantu Wonwoo berdiri. Wonwoo tersenyum kecut. Wonwoo tahu dirinya tak suka mengingkar janji, mengumbar kata tanpa berpikir terlebih dahulu. Dia sudah bilang akan berlari untuk Jungkook, ya terjadilah demikian. Satu-satunya yang ia sesali adalah saat mulutnya tak terkendali dan satu kalimat terkutuk membuat tubuhnya remuk di tangan si berandal Mingyu. Ah, paling tidak, Jungkook sudah bisa berjalan—dan tersenyum juga.

.

.

.

-fin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s