That Specific Girl

THAT SPECIFIC GIRL

 

oneshot by imaginesugar

starring SVT’s Choi Seungcheol, APINK’s Jung Eunji | supporting SVT’s Kim Mingyu, EXO’s Oh Sehun, BTS’ Jung Hoseok

rated PG-13 | friendship, school-life, romance

disclaimer | I only own the plot, be good not to plagiarize

.

.

.

“Jadi menghajar Seungcheol, tidak?”

.

.

.

.

.

Seorang laki-laki ber­balut mantel merek mahal–kendati lapisan di dalamnya hanya kain seragam Sekolah Menengah Atas–dengan sepasang headphone dan tablet berwarna merah di genggaman masih tak jengah menyamankan posisi duduk di atas gelondong kayu berukuran raksasa yang tergeletak di sisi lain tanah lapang tak terawat–pun memang tak terpakai. Kedua netra tak lekang dari layar benda elektronik itu, sudah hampir setengah kali enam puluh menit siluetnya terpampang di ujung tempat umum yang tak begitu luas tersebut.

Di atas name-tag-nya tertoreh tiga suku kata berhuruf hangul yang terbacakan ‘Choi Seung Cheol’.  Parasnya bisa dikata rupawan, palet kulitnya putih bersih dipantuli sinar keemasan mentari, manik bundarnya cokelat gelap terpaut indah dengan hidung bangir di bawah teduh surai bersemir terang. Outfit-nya pun menarik kesan dalam pada setiap orang yang melihat–sekali lagi, kendati hanya seorang siswa biasa yang baru menapak kehidupan selama delapan belas tahun–bahwa finansial keluarganya lebih di atas rata-rata.

Dari sekian konklusi di atas, mungkin akan timbul pernyataan lain yang sekiranya bereksplanasi tentang alasan dirinya berada di tempat tak elit yang jelas bukan dimana orang berduit biasa singgah. Kegiatannya pun tak jelas, dengan alis sesekali bertemu saat mata menangkap hal tak kasual di layar tablet.

“Choi Seungcheol!”

Kendati alunan musik yang mengalir ke dalam rungunya,–syukurnya–Seungcheol masih dapat menangkap suara panggil berkesan berat dan kasar yang tertuju untuk dirinya. Refleks mendongak, dilihatnya beberapa sosok berfigur menjulang yang berseragam sama halnya ia di ujung lain tanah lapang, menatapnya nanar menukik dengan lengan masing-masing dilipat di depan dada.

Seungcheol melepas headphone putih yang masih mengambil alih indera pendengarannya, lantas bersahut pelan pada tiga insan yang memantau tiap sekon gerik miliknya. “Ya, ada apa?”

Tak sampai sedetik mulutnya mengatup tetanda berakhir kalimat pintas itu, Seungcheol dapat mendengar decak sebal dan tawa kasar yang diselingi bunyi ludah yang diujarkan ke tanah berumput–menghina dirinya terang-terangan.

“Apa maksudmu dengan ‘ya, ada apa’ itu, hah? Dasar, sialan!”

Salah satu dari mereka–yang canine-nya mencuat saat bicara–mengawali konversasi dengan kata umpat berintonasi tinggi, membuat antusias Seungcheol naik setingkat dari yang tadi–akhirnya menjejakkan tegak tubuh dan otomatis menjatuhkan ujung mantel cokelat selutut kesayangannya.

Belum sampai laki-laki seratus tujuh puluh delapan senti itu melontar ucap untuk membalas, kekehan dari dua orang lain–yang berdiri agak di belakang sosok menjulang ber-canine–menginterupsi pergerakan bibirnya.

“Kamu mau apa dengan pakaian mewah berjuta-juta won itu, huh? Jadi model?”

Serentet gelak tawa dari tiga figur tak begitu dikenal itupun mengudara dalam oksigen di sekitar Seungcheol. Jika ia tipe orang sensitif, bisa saja langsung dipangkas jarak dua meteran diantara mereka dan dilukiskan cairan merah pun bekas luka di tiap-tiap wajah menyebalkan di ujung sana. Namun sayang, Seungcheol tak rela mengotori pakaian yang dikata mewah itu hanya untuk memberi kepal tinju pada orang-orang tak berkepentingan, totally not his style.

“Ada urusan apa kalian denganku? Jika tidak penting, pergi saja. Waktuku lebih berharga dari milik kalian.”

Mungkin sudah lelah tertawa dan melontar ejek, si laki-laki yang paling tinggi–didapati dari papan kecil di atas sakunya, bernamakan Kim Mingyu–mengambil gerak pertamanya. Tiga langkah berkesan sengit milik tungkainya diikuti dua sosok di belakang yang sepertinya bersandangkan posisi anak buah. Alis terangkat tunggal, tatapan Mingyu mengintimidasi penuh, tajam menembus netra Seungcheol–yang tak mengkonsidernya sebagai gertak barang sekalipun.

“Waktumu berharga, ya?” Sebuah decak yang agaknya lebih serius berseling dalam tutur kata Mingyu. “Lalu kenapa kamu menghabiskan waktu berhargamu itu hanya untuk tebar pesona di sekolah, mengambil kemudi atas kekuasaan kami yang sudah setahun lamanya kami pegang? Anak baru yang kaya sepertimu, cih, brengsek sekali. Aku bahkan tak bisa melempar ludah ke arahmu.”

Kalimat panjang Mingyu lantas disoraki kecil-kecilan oleh dua karibnya, menebar kesan kemenangan mental sebelum pertumpahan darah utama. Namun sayang,–lagi–musuh di ring yang berlawanan tak ambil pusing atasnya. Disibakkan beratus helai rambut pirang hasil pewarnaan yang memayungi parasnya, Seungcheol berseringai kilas–hampir menyuarakan cibir terhadap ultimatum tak berkelas milik Mingyu.

“Jadi itu yang membuat kalian datang padaku?” Mengambil jeda satu-dua sekonan, aksi Seungcheol benar-benar kelewat dramatis. “Kenapa? Sebegitu takut terkalahkan olehku?”

Sebuah percik umpatan terdengar lagi dari lisan Mingyu. Sudah akan berlari ke arah Seungcheol dan melayangkan tanda perang padanya akibat ujar barusan, pergerakannya ditahan dua orang lain di belakang–berpasal dirinya akan langsung jatuh harga jika tak dapat menahan emosi.

“Kalau mau berkelahi, aku terima-terima saja.” Seungcheol menunjukkan jari pada kedua orang lain yang juga tampak gusar–menggugat presensi mereka. “Tapi keroyokan? It’s not cool, man. Such a coward mental you have.

Benar-benar sudah penat akan drama tak berujung yang berlakon musuhnya sendiri, Mingyu melepas jerat lengan kedua orangnya yang membatasi tiap-tiap kehendak darinya. Kini air muka marahnya merendah, namun masih penuh akan dendam kesumat terhadap kata-kata terkutuk Seungcheol.

“Baiklah.” Laki-laki itu menceloskan napas rendah sebelum kalimat sepakatnya berkontinyu. “Besok kita bertemu lagi di sini. Satu lawan satu.” Hembus mencela dari Seungcheol menyedak sebentar sebelum Mingyu menghabiskan tutur lisannya berucap. “Aku tidak butuh kata setuju atau tidak darimu. Kalau kamu kabur, lihat saja apa yang akan terjadi di sekolah. Your pride and that accursed face will surely go down to the hell.”

Membalas vokabulari inggris milik Seungcheol, pria tiang itu tampak puas–berakhir menyudahi tapak kakinya di atas rerumputan tanah lapang, beranjak bersama dua orang lain–yang sekedar for your information, pun sudah Seungcheol lirik identitas di seragamnya; yang sama tingginya dengan Mingyu dan berkulit pucat itu Oh Sehun, serta yang tak begitu menjulang dan berpakaian benar-benar berandal bernamakan Jung Hoseok. Pria tunggal yang berdiri di dengan sepaket alat elektronik kesayangan di tangan itu pun menghela napas pelan, lantas kepala tergerak ke kanan dan kiri untuk sekedar menghapus rasa pusing atas orang-orang di sekolah barunya yang tak absen dari kelakuan aneh.

Takut? Oh, jangan pernah sekalipun kata itu terlintas di benak kalian saat melihat Seungcheol. Posturnya kecil memang, dengan warna kulit terang yang membuatnya terkesan lemah. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa seperangkat alat gym yang terjejer di ruang pribadinya itu terlampau sering menemani waktu luangnya. Jadi, konklusinya juga sudah jelas tanpa perlu ada eksplanasi berlanjut.

 

….

 

Merentangkan kedua lengan tinggi-tinggi, Seungcheol melepas rasa penat yang tak kunjung ternyatakan berakhir daritadi. Duduk di sofa mewah kepemilikan keluarga Choi, dirinya sungguh terbosan akan kesoloan eksistensinya di ujung ruangan. Ditengokkan kepala ke segala penjuru arah, Seungcheol hanya mendapati pemandangan tanpa konversi sejak berbelas menit yang lalu. Berada di reuni keluarga besar–hingga ruang tamu super luasnya dipenuhi kelebatan manusia–bukan hal favorit yang diinginkan Seungcheol untuk mengisi malam Sabtu-nya, namun elak macam apa juga yang dapat dilemparnya sebagai jawab atas pasal beruntut dari kedua orang tua. Disinilah laki-laki itu sekarang, duduk sendiri tanpa teman–Seungcheol tak kenal dengan orang-orang yang bersilsilahkan keluarganya itu–di pojok ruang terdalam di tempat, terlampau jenuh akan kegiatan yang dalam pola pikirnya sama sekali tak penting ini.

Masih melihat-lihat keadaan yang berjalan di udara lingkungannya, Seungcheol tak langsung sadar saat tiba-tiba ada presensi lain mengambil alih kekosongan tempat duduk di sampingnya. Begitu didaratkan pandang pada orang itu, Seungcheol keburu ingin mengadu dalam hati akan bagaimana tanpa tata kramanya orang tak dikenal seenaknya duduk bersisi dengannya. Namun hal tersebut berfakta tak terturut, pasalnya impresi pertama yang merasuk ke serebrum Seungcheol tentang orang itu lantas menghapus segala tuduhan tanpa sebab yang sepersekian detik lalu terus menyeruak.

Menunduk hingga surai panjang lurus cokelat itu berjatuhan menutup paras, tampak seorang gadis bergaun kasual–tak begitu mewah dengan pernik di sana-sini–tengah mengulurkan jari pada sepatu ber-hak-nya. Seungcheol tak ingin peduli akan masalah yang terjadi dengan alas kaki yang membalut telapak si gadis, namun kenihilan alasan lain untuk memulai konversasi memaksa dirinya berucap pelan.

“Sepatumu kenapa?”

Dan Seungcheol hampir merutuk dirinya sendiri saat dua patah kata sederhana itu menarik atensi si gadis, membuatnya mendongak dan kini berkunci tatap dengan Seungcheol. Bukan apa-apa, hanya saja degup jantung miliknya–tanpa alasan–bertambah laju, naik berkali lipat hingga alir oksigen ke paru-parunya terhambat. Yah, diakuinya gadis itu cantik,–siapa, sih, laki-laki yang tidak suka gadis feminim bergaun dan bersurai panjang–tapi nyatanya Seungcheol sendiri bisa menghapus kata-kata ‘tanpa alasan’ saat didapati manik milik gadis itu menyerobot setiap inci sel sarafnya, pun dengan ulas senyum kilas terhias dalam wajah rupawan itu.

“Eng, itu, hak-nya lepas.”

Jawaban pintas tersebut entah kenapa tak diserap neuron Seungcheol dengan baik, justru otaknya memutar ulang suara lunak si gadis terus-menerus, yang dilansir dapat membuat Seungcheol jatuh hati pada pandangan pertama jika berlama-lama seperti itu.

Menggeleng pelan,–untuk mendistraksi pikiran dalamnya tentang sosok bak dewi lambang kesempurnaan di depannya–Seungcheol akhirnya melayangkan tatap ke arah sepasang sepatu berwarna perak, yang mana salah satu benda tambahan penyangga tinggi badan dari keduanya tergeletak  di samping.

“Tidak bisa dibenarkan?”

Alih-alih terus-terusan memuja kecantikan dan kelembutan audio yang berasal dari gadis itu, Seungcheol berusaha bertindak normal. Yah, kendati kedua netra tak bisa lekang akan pertukaran kontak dengan milik si gadis.

“Hehe, sepertinya tidak.”

Seungcheol masih terus melekatkan tembus manik pada gadis itu saat ia mengalihkan pandang sejenak–menatap pilu pada benda kesayangan para perempuan itu yang kini tak dapat dipakai lagi.

“Aku mau duduk di sini saja, boleh? Berkeliling diantara puluhan orang yang tak kukenal pun melelahkan.”

Kuesion peminta permisi itu bak angin segar melintas di sekitar surai Seungcheol, begitu menyejukkan. “Tentu, tentu.”

Ujung bibir si gadis lantas terangkat lagi seusai respon positif Seungcheol menjawab, mau tak mau menambah eskpresi persis pada raut Seungcheol. “Omong-omong, aku Seungcheol. Kamu?”

“Eunji. Jung Eunji.”

Dan predikat membosankan serta menyita waktu berharga yang akan ditetapkan Seungcheol atas malam itu pun tak menjadi. Apa lagi jika bukan dengan alasan sederet nomor berbubuhkan nama Jung Eunji di ponselnya? Kelahiran Eunji pada bulan Agustus hari ke delapan belas di tahun yang lebih dulu dua digit dari miliknya—oh, Seungcheol bahkan bisa menghafal setiap kata yang terucap dari bibir berpoles gincu merah muda sepupu jauhnya itu—dirasanya adalah hari seorang malaikat diturunkan ke dunia. Kendati kenyataan bahwa harusnya ia menyisipkan panggilan ‘kak’ di awal nama Eunji, detak jantungnya tak juga menjinak acap kali memorinya bertemu dengan paras bidadari gadis itu. Tak perlu diragukan, Seungcheol memang jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

….

 

Menilik arloji berwarna keemasan yang melingkar di pergelangan kanannya, Seungcheol mendecak untuk yang kesekian kali lantaran sosok yang dinanti daritadi tak juga menampakkan batang hidung. Kim Mingyu sialan, sebenarnya siapa yang pengecut? Sudah tiga puluh menit berlalu sejak waktu yang disepakati, namun teman sekelas menjulangnya itu belum menunjukkan tanda-tanda eksistensi juga. Sebenarnya tak terlalu penting, sih, bagi Seungcheol,–pasalnya Seungcheol memang suka menghabiskan waktu di tanah lapang ini–namun harga diri, ya, tetap harga diri. Patokan tinggi pada nama Choi Seungcheol, tidak bisa dibiarkan anjlok hanya akibat berandalan Kim Mingyu yang brengsek itu. Ow, that’s irritating, man.

Kaki Seungcheol pun terpanggil untuk menapak pada tanah, segera beranjak dari tempat akibat pembatalan sepihak atas perjanjian tumpah darah oleh Kim Mingyu. Dibersihkannya mantel cokelat kesayangan yang sedikit tertempeli debu sebelum tungkainya bergerak maju.

“Hai, Choi!”

Belum sempat satu kali langkah terjamahkan, tiga figur yang kini familiar bagi Seungcheol muncul dari balik dinding di sisi lain tanah lapang. Seungcheol mencibir keras, benar-benar terganggu akan permainan tak bermutu milik Kim Mingyu. Ia pun merotasi badan untuk menghadap Mingyu dan komplotannya dengan benar.

“Dasar brengsek. Kamu yang pengecut, muka keparat. Keterlambatan tiga puluh menit atas suatu perkelahian bukan hal yang dapat kutoleransi.” Kata-kata Seungcheol meledak-ledak, palet wajahnya pun merah padam dengan suhu diatas rata-rata. “Dan kamu yang kemarin bilang satu lawan satu. Nah, masih bawa anak buah juga? Apa kamu sungguh tak punya malu, Kim Mingyu?”

Beberapa ‘cih’ beruntut dari tiga orang di sana menginvasi pendengaran Seungcheol sejenak–terlampau biasa baginya. Laki-laki bermata bundar itu sudah akan merutuk mereka dengan umpat berintonasi tinggi lagi saat Mingyu angkat bicara.

“Tenang saja, Seungcheol. Yang akan kamu hadapi bukan kami. Kami terlalu berat bagimu, jadi bersyukurlah karena kuberi kamu sedikit keringanan.”

Seungcheol pun benar-benar terpancing emosi. Yang benar saja? Sudah terlambat, pun membawa orang lain? Kim Mingyu memang tidak bisa ditolerir lagi.

“Ups, jangan marah dulu. Kamu ini terlalu emosional, tahu.”

Tawa dari ketiganya tergelar lagi di oksigen Seungcheol. Ingin sekali cepat-cepat melayangkan tinju pada Mingyu, namun Seungcheol keduluan tunjukan jemari anak itu ke arah belakangnya.

“Itu, dia sudah datang.”

Entah refleks atau apa, Seungcheol membalik lagi hadap tubuhnya kendati kepalan tangan yang sudah meraung minta disodorkan. Terbayang akan figur menjulang lain dengan tindik dan rantai, pemandangan akan sosok yang difokusi Seungcheol kini lantas membuatnya ternganga tanpa bahasa.

“Kak Eunji, bocah sialan ini yang membuat masalah di sekolah kami.”

Sebelumnya agak ragu jika perempuan yang dilihatnya kini–dengan kain jas diikat di pinggang dan lengan panjang seragam dilinting hingga siku–adalah gadis ber-hak yang kemarin malam dipuja alam mimpinya, Seungcheol yakin seratus perseratus saat Mingyu menyebutkan panggil, ditambah dengan ekspresi tak berbeda dengan miliknya yang terpaut di air muka perempuan itu.

“S-Se-Seungcheol?”

Sebuah kata tergagap dari lisan Eunji menularkan mimik muka terkejut kepada tiga figur di belakang Seungcheol. Lantas setiap orang yang berdiri di atas tanah lapang berumput itu saling memandang dengan tatap penuh tak percaya. “Kak Eunji kenal?”

Mengabai penuh akan presensi tak penting milik Mingyu, Sehun, atapun Hoseok di belakang yang masih terus melontar kata tanya, Seungcheol masih membisu saat fokus retina miliknya dirasa berdusta. Dirinya masih tak dapat menerima realita bahwa perempuan dengan kesan berandal di sekujur tubuh yang berdiri di depannya ini adalah gadis yang sama yang memakai gaun dan sepatu tinggi di reuni keluarga beberapa hari sebelumnya. Kendati demikian, toh, faktanya tak bisa berubah, dan Seungcheol menyadari penuh hal itu saat Eunji mengusap wajahnya terus-terusan dan senantiasa menggigit bibir bawah guna menutupi kegugupan yang meraut di paras rupawannya.

Eh, tunggu? Paras bak dewinya bahkan masih terpaut di wajah itu. Binar manik tak terhias barang setitik benda bernama make-up, pun bibir tak terpoles padatan merah muda, namun Seungcheol tak bisa berdusta bahwa detak jantungnya kembali berpacu akan presensi gadis tersebut.

“Jung Eunji, kan?”

Seungcheol hilang kendali, kedua ujung bibirnya terangkat jelas saat menyadari bahwa gadis ber-outfit tomboi di depan matanya ini adalah orang yang membuat atensinya tercuri penuh. Pun dirinya sendiri tak tahu alasan mengulum senyum lebar, namun yang mengalir di otaknya sekarang ini adalah seutas kalimat tak bermakna ganda yang diyakini akan terus menghantui di hari-hari selanjutnya –Dia memang cantik, dalam keadaan bagaimanapun. Sepertinya kini Seungcheol mengerti alasan gaun Eunji yang kasual serta lepasnya hak sepatu di malam itu.

“Eng, aku, anu Seungcheol, bukan, eh, anu, iya.” Gelagap pasrah milik Eunji pun memecah hening kilas yang mengudara, sebelum gadis itu melongok ke belakang untuk melayangkan kepalan tangannya simbolik. “Hei! Kalian, brengsek! Kenapa tidak bilang kalau-“

Kekehan pelan milik Seungcheol atas kata-kata Eunji yang total berkebalikan dari impresi pertamanya menghentikan aksi liar tersebut. Eunji pun menurunkan kepal tangannya dengan kikuk–tak tahu harus bagaimana lagi.

“Mereka temanmu?”

Yang ditanya merasa semakin terintimidasi–sangat berbeda dari Seungcheol yang kini justru kesenangan lantaran mengetahui sisi lain dari orang pujaannya.

“Ak-aku, ti-tidak, i-iya, aku, aku, anu, Seungcheol, sebe-sebenarnya, aih!” Seungcheol pun hampir tak bisa menahan tawa kecilnya melihat polah Eunji yang sudah tak karuan. Pipi bersemu merah alami yang menghias raut rupawan itu pun tak absen dari penglihatan Seungcheol. “Ak-aku, ak-aku, aku duluan!”

Alih-alih memastikan kalimatnya terkontinyu, Eunji tiba-tiba melenggang pergi dari hadapan empat insan itu, berlari sekuat tenaga untuk sesegera mungkin menghilang dari hadapan Seungcheol. Agak terkejut di sekon pertama, Seungcheol kini hanya bisa mengulangi kekehan demi kekehan, benar-benar sudah terlupa akan eksistensi makhluk-makhluk lain di belakangnya.

Melangkahkan kakinya mengikut milik Eunji, Seungcheol kian menyuarakan teriak panggil pada gadis yang tak lama lagi ia yakini bisa disebut sebagai miliknya.

“Eunji! Tunggu aku!”

Dan kemalangan terburuk ada pada diri seorang Kim Mingyu serta dua anak buah Oh Sehun dan Jung Hoseok lantaran masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Jadi menghajar Seungcheol, tidak?”

 

 

-fin.

©imaginesugar, 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s