[Ficlet] Journey Of Love

LINE_1490788727430

Cr: The innocence

KaaiRaas Present

Journey Of Love

With

Seventeen’s Jun and Joshua X Victon’s Sejun

Romance X Slice Of Life

Teen/PG


Seburuk apapun rasanya, ketika yang kita inginkan menjadi tujuan kita, yang baru pun tak ada bedanya dengan yang lama.

“Yak! Jun-ah!”

Junhwi bukan pria sembarangan yang bisa-bisanya menyalahi aturan main kasus percintaan. Tapi kali ini tak bisa dibiarkan. Karena Sejun begitu ambisius dengan keinginan yang sama dengan dirinya. Ini tak bisa dibiarkan.
Cara apapun akan ia tempuh!

“Hei-hei! Joshua-ssi, kau menggangguku, asal kau tahu!” Joshua yang berdiri tegap menahan bahu Jun dengan tangan kanan memegang spidol, menerima peringatan agar pertetap diam dan tak mengganggu ‘acara’ pentingnya.

Baginya kisah ini perlu diperjuangkan ketimbang mengulang ujian bernilai merah.

“Ya, tapi, apa kau kira ini logis?”

“Sangat! Diamlah.”

Joshua mendesah lemah dengan apa yang ia perbuat. Satu lirikan tajam sampai pada Jun diakhiri langkah panjang dengan mengibas-ngibaskan kemeja putihnya tanda menyerah.

Meninggalkan Jun dengan caranya sendiri, adalah cara ter-ampuh.

“Ya-ya! Assaa!!”
Setelah yang diinginkan sampai pada tujuan, Jun pun keluar kelas. Lngkah don juannya membawa ia pada sisi lapangan berpenghuni siswa perempuan.

Bokongnya ia dudukkan dengan santai di baris penonton sambil bersenandung riang, bak ketua mafia menunggu mangsanya.

Satu menit hingga dua menit, belum ada yang terjadi.

Hingga sampai di menit ketiga, riuh-riuh terdengar dari sisi lapangan. Di dalam lapangan sendiri sudah di penuhi dengan banyak balon dan pernah-pernik merah muda yang indah.

“Baiklah teman-teman, pangeran kita hari ini telah tiba,” Pengeras suara dengan tetibanya terdengar nyaring. Di ujung sana ada Minki yang memegang mike,

“Kita sambut!! Sejun! Pria most wanted disekolah yang akan menyatakan cintanya pada wanita tercantik disekolah ini.”

Dari kelas terujung, muncul Sejun yang berjalan berbalik sehingga hanya punggung tegapnya saja yang terlihat.

Bajunya terlihat kusut dari belakang. Terlihat khas gaya orang yang baru bangun tidur. Jun yang sudah tidak sabar, sampai loncat-loncat dari kursinya.
Sejun telah sampai di dalam lapangan.

Masih posisi memunggungi para penonton, seketika ia berbalik lantas riuh-riuh penonton yang tadinya sangat memekakkan telinga,kini berangsur sunyi.

“Loh-loh?kau lihat dia? Itu Sejun atau orang gila?”

“Apa ia seberani itu masuk lapangan?”

Riuh kebahagiaan tergantikan dengan riuh bisik-bisik dari para penonton.
Minki yang memegang mike di ujung lapangan lantas menganga dengan tak indah.

Jun sudah begitu bahagianya. Ia lantas berdiri dengan tangan terangkat keatas, membawa koor mengagetkan, “Dia orang gila! Acara pernyataan cinta ini bukan punya Sejun. Usir dia!”

Koornya sempat tertahan di udara, selang beberapa menit, koor lain turut mendukung kata-katanya. Mendorong koor Jun hingga terbang ke langit. Sejun yang tak sadar dengan keadaan, memanggil seseorang di ujung lapangan.

“Bawalah wajahmu kedepan kaca dan lihat sendiri Sejun. Tak harus menjadi bodoh untuk menyukai seseorang.” Yang lain lagi-lagi menambah koor.

Sejun mendapat cermin dari seseorang. Setelah melihat keadaan wajahnya,dengan malu ia berlari cepat menuju kamar mandi.

Gadis yang di tunggu-tunggu datang memasuki lapangan. Wajah polos dengan make up alaminya menambah kadar kecantikannya berlipat.
Jun yang melihat itu dengan bergegas memasuki lapangan.

“Sejun bukan pangeran yang akan menjadikanmu putrinya. Akulah pangeran itu. Wen Junhui yang akan menjadi pangeranmu. Ayo berpacaran.”

Riuh-riuh menjadi semakin seru setelah yang Jun tunggu selama ini menjadi kenyataan.

Entah dari mana dia mendapat bunga mawar merah itu, tangan kekarnya menyodorkan setangkai bunga mawar hingga si gadis yang telah di peta-kan untuk datang kelapangan sedikit kebingungan. Tapi setelahnya, riuh-riuh yang berteriak kata ‘terima’ dengan kencang, membuatnya tak berpikir dua kali.

Dianggukannya kepala mungilnya hingga jawaban ‘ya’ menjadi akhirnya.
Riuh-riuh mengiringi pasangan baru itu.

“Dia itu pria gila dengan seribu satu cara. Dasar manusia Jun.” Joshua yang kembali datang, menduduki kursi penonton setelah melihat aksi kawan sepermainannya itu.

Tak ada yang lebih memuaskan ketika hasil sendirilah yang membuahkan keuntungan.

Jun bukan tipe orang yang putus asa, tapi tipe orang yang gila terhadap rencana.
Jatuh cinta seperti memakai sepatu baru kedalam lumpur.

Seburuk apapun rasanya, ketika yang kita inginkan menjadi tujuan kita, yang baru pun tak ada bedanya dengan yang lama.

fin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s